
"Bimo..." panggil Bu Akarsana.
Seketika tubuh Bimo menegang ketika mendengar suara yang selama ini dia rindukan.
"I.. Bu.. " Bimo berdiri dan mematung melihat Ibu dan Bapaknya sudah berdiri di dekat mereka.
"Bimooo.... " panggil Bu Akarsana lagi. Suaranya terdengar tercekat karena menahan tangisan.
Bimo masih diam menatap wajah Bapaknya kemudian bergantian menatap wajah Ibunya.
Tetesan air mata mulai berjatuhan dipipi Bu Akarsana membuat Bimo tidak tahan melihatnya. Wanita yang telah dia lukai perasaannya sepuluh tahun lalu.
Wanita yang telah melahirkannya dan saudara kembarnya, wanita yang menjaga dan mengasuhnya sedari kecil dengan penuh kasih sayang. Wanita yang mempunyai harapan yang cukup besar kepadanya selaku anak pertama dalam keluarganya.
Namun dengan begitu saja dia menyakiti hati dan perasaan wanita lembut itu. Pasti hati Ibunya itu hancur karena melihat putranya lebih memilih pergi dengan wanita yang dia temui setelah remaja.
Bimo segera berlutut di hadapan Bapak dan Ibunya.
"Paaaak.. Bu... maafkan Bimo" dengan suara yang bergetar.
Air mata Bu Akarsana semakin deras mengali bahkan saat ini sudah menangis terisak.
"Maafkan aku Bu.. aku memang anak durhaka melawan kepada Bapak dan Ibu dan tidak mau mendengarkan ucapan kalian. Bimo salah, Bimo salah Bu.. Paaaak.. maafkan Bimo" Bimo juga mulai menangis bersimpuh.
Bu Akarsana menarik tubuh putranya. Melihat wajah Bimo sekaligus mengobati rasa rindunya pada kedua putranya. Bimo dan Bima karena mereka saudara kembar.
"Bimo" Bu Akarsana langsung memeluk tubuh Bimo.
Bimo membalas pelukan Ibunya. Mereka saling berpelukan beberapa menit. Kemudian saling melepas, kini Bimo menatap wajah Bapaknya.
"Paaak" panggil Bimo.
Plaaaak.... Wajah Bimo ditampar Pak Akarsana. Seketika Kinan menutup mata putranya Salman agar tidak melihat kejadian itu.
Bimo pasrah dan menundukkan kepalanya. Dia tau Bapaknya pasti masih sangat marah kepadanya. Orang tua pasti akan memberikan harapan yang sangat besar kepada anak pertamanya
"Kamu tidak berubah masih saja keras kepala" bentak Pak Akarsana.
Istrinya yang berada di sampingnya masih belum berhenti menangis.
"Lihat apa yang kamu dapatkan sekarang? Bukan hanya bernasib buruk pada dirimu sendiri tapi juga saudaramu" ucap Pak Akarsana.
__ADS_1
Bimo semakin deras menangis.
"Maafkan Bimo Pak.. Semua salah Bimo.. Pukul Bimo Pak, pukul saja Bimo. Bimo ikhlas. Bimo tau seribu pukulan Bapak tidak akan bisa membuat Bima kembali. Maafkan Bimo Pak" jawab Bimo sambil tersedu.
"Mengapa kamu tidak pernah kembali?" bentak Pak Bimo.
"A.. aku.. aku takut Pak. Takut kalau Bapak masih sangat marah dan membenciku" ucap Bimo melemah.
Pak Akarsana langsung meraih tubuh putranya dan memeluknya erat.
"Kamu masih sekeras dulu Nak, setiap Bapak marah kamu tidak pernah berusaha membujuk atau mencoba mendekati Bapak. Kamu malah memilih menjauh. Kamu tahu, apapun yang dilakukan seorang anak, walau itu sangat menyakiti hati kami sebagai orang tua tapi rasa sayang kami tidak akan pernah pudar. Mengapa kamu hilang tanpa kabar, mengapa kamu tidak berusaha kembali, mengapa harus seperti ini Bimo" Pak Akarsana mulai terisak.
Bimo semakin merasa sedih karena dia tidak pernah melihat Bapaknya serapuh ini. Sikap keras kepala dia dan Bima turun dari Bapaknya, hanya saja sikap Bima masih bercampur dengan sifat Ibunya. Hanya dia yang benar - benar meniru sifat keras Bapaknya.
"Bertahun - tahun Bapak menanti kamu pulang Nak.. Berharap kamu akan datang membawa istri kamu tapi malah jadi seperti ini akhirnya" sambung Pak Akarsana.
Pak Akarsana melepas pelukannya dan memeriksa tubuh putranya.
"Apakah kamu sehat, bagaimana kamu hidup, apa kami disakiti mereka?" tanya Pak Akarsana.
Pak Akarsana melihat tanda lahir di tangan bagian kanan putranya. Benar, dia adalah Bimo. Putra sulungnya yang selama ini menghilang selama sepuluh tahun.
"Sudah.. sudah.. yang penting kamu baik - baik saja. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, asalkan kamu memang benar - benar ingin memperbaikinya. Seburuk apapun yang telah kamu lakukan Bapak selalu mendoakan kamu agar kamu kembali ke jalan yang benar dan kembali bersama kami. Mungkin inilah jalannya kamu kembali lagi nak" ujar Pak Akarsana.
Bimo memeluk kedua orang tuanya berbarengan.
"Terimakasih Pak, Bu.. kalian sudah memaafkan anakmu ini" balas Bimo.
Bimo menetap lembut Ibunya.
"Ibu sehat? Bagaimana dengan kaki Ibu yang dulu sering sakit, apakah Bela bisa menggantikanku dengan baik memijit kaki Ibu?" tanya Bimo penuh kasih sayang.
Yaaah sejak dulu dia yang paling sering memijit kaki Ibunya. Walau dia pulang dari mana saja, walau selelah dan sangat ngantuk sekali tapi dia selalu tidak tega melihat Ibunya sedang memukul kakinya karena pegal.
"Ibu sehat Nak.. Ibu sehat.. Pijitan Bela tidak pernah sebaik pijitan kamu" jawab Bu Akarsana.
"Biar nanti aku marahin Bela ya.. padahal aku kan sudah mengajarkan kepadanya bagaimana cara memijit kaki Ibu" ucap Bimo.
Mereka berpelukan sambil tersenyum tapi air mata tetap tak berhenti mengalir.
"Kita duduk yuk Bu, nanti kaki Ibu pegal karena kelamaan berdiri" ajak Bimo lembut.
__ADS_1
Mereka duduk di meja makan yang sudah di pesan Refan. Sekarang perasaan mereka sudah terhubung dan tersampaikan.
Ada perasaan lega di hati mereka masing - masing karena rencana
pertemuan mereka ini berjalan dengan lancar.
"Ayo Pak duduk" ajak Bimo.
Bimo duduk di tengah - tengah Bapak dan Ibunya. Mereka duduk berhadapan dengan Refan, Kinan dan Salman.
"Uncle Bimo duduknya seperti aku diapit Papa dan Mama. Padahal Uncle Bimo kan sudah besar" ujar Salman.
Semua tertawa mendengar perkataan Salman.
"Uncle kan kangen sama Bapak dan Ibu Uncle karena sudah lama tidak bertemu" jawab Bimo.
"Makanya Uncle jangan nakal lagi. Biar gak di pukul eyang lagi" nasehat Salman.
"Sayaaaang.... " ucap Kinan mengingatkan putranya.
"Gak apa Kinan. Salman memang benar, aku sangat nakal makanya Bapak memukulku tadi. Aku pantas mendapatkannya bahkan harusnya lebih banyak lagi karena kesalahanku sangat besar" ujar Bimo.
"Berarti sekarang Uncle beneran sudah baik donk?" tanya Salman polos.
"InsyaAllah sayang" jawab Bimo.
Kata - kata Bimo barusan sontak membuat Bapak dan Ibu Akarsana juga Kinan dan Refan terkejut.
"Kamu?" tanya Pak Akarsana terputus.
"Aku sudah kembali Pak, setelah kematian Bima aku sadar aku harus pulang. Aku sudah terlalu jauh tersesat" jawab Bimo.
"Alhamdulillah naaaak" ucap Bu Akarsana dan dia kembali memeluk Bimo dengan perasaan haru.
"Jadi bagaimana kamu mengetahui keberadaan Kinan dan Salman dan sejak kapan kamu mulai mengikuti mereka?" tanya Pak Akarsana.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1