
"Ngapain kalian berdua saja tadi di dalam kantor? Sementara yang lain sudah pada pulang? Kalian pacaran?" tanya Refan dengan nada marah.
"Astaghfirullah Mas itu gak benar. Jangan asal nuduh gitu ah" protes Kinan.
"Aku gak asal nuduh Nan, aku bicara sesuai fakta. Kamu dan Fadlan hanya berdua saja kan di dalam kantor. Semua sudah pada pulang ngapain coba Fadlan bersama kamu kalau bukan ada sesuatu antara kalian" tudung Refan.
"Fadlan tadi nemani aku nungguin kamu Mas, dan kami tidak melakukan apa - apa hanya ngobrol aja tentang hubungan persaudaraan kalian" jawab Kinan.
"Ah alasan itu, bilang saja kalian memanfaatkan kesempatan yang ada mumpung tidak ada orang di kantor" ujar Refan.
"Di kantor ada CCTV lho Mas mana mungkin kami berbuat aneh - aneh, lagian di luar ada security" Kinan membela diri.
"Dia hanya menemani aku karena kasihan liat aku sendirian nungguin kamu di kantor" sambung Kinan.
"Cih.. baik sekali dia mau jagain istri orang" ejek Refan.
"Ya dia memang baik orangnya" sambut Kinan.
"Oh kamu sudah mulai memuji pria lain di depan suami kamu" tantang Refan.
"Bu.. bukan maksud aku pribadi dia memang baik aku bukan memujinya. Dia menemani aku karena menganggap aku ini adalah istri dari saudaranya Mas yaitu istri kamu" ucap Kinan mencoba menjelaskan.
"Jadi maksud kamu hanya Fadlan yang baik sama kamu, aku tidak gitu?" tanya Refan lagi.
"Tidak Mas, kamu juga baik. Aku gak ada bilang kamu jahat dan aku juga gak bilang kau hanya Fadlan yang baik sama aku. Banyak kok yang baik padaku di kantor, malah ada yang lebih baik lagi" jawab Kinan.
"Oh jadi banyak yang baik sama kamu di kantor, hebat ya banyak yang suka" sindir Refan.
__ADS_1
Duh salah lagi ngomongnya. Gimana sih menghentikan mulut pedasmu Mas...? jerit Kinan dalam hati.
"Maaaas kok jadi lari kemana - mana omongannya. Baik kan bukan berarti suka Mas. Selama kita baik sama orang, orang pasti akan berbuat hal yang sama pada kita" jawab Kinan.
"Oh jadi menurut kamu karena aku selama ini tidak baik sama kamu jadi kamu membalas hal yang sama pada aku sekarang?" tanya Refan.
"Ya Allah Maaaaas salah terus ucapan aku. Sekarang begini aja deh Mas, aku gak mau bertengkar dengan kamu. Yang penting aku sudah jelaskan sama kamu apa yang sebenarnya terjadi. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Kan sudah aku katakan dalam rumah tangga itu yang paling penting adalah kepercayaan, kalau rasa percaya tidak ada rusak Mas sebuah rumah tangga. Mas kan bisa nilai sendiri aku ini tipe wanita seperti apa? Apakah tipe wanita genit yang suka menggoda pria - pria di luar sana. Terserah Mas deh menilai aku seperti apa. Kalau Mas gak percaya percuma aku berkata jujur. Pasti Mas tetap tidak akan percaya" tegas Kinan.
Refan memukul setir mobilnya dengan kesal.
"ukh.... " ucapnya.
Membuat Kinan terlonjak kaget, gak percaya Refan akan semarah ini padanya hanya karena Fadlan menemaninya di kantor menunggu kedatangan Refan menjemputnya.
Fadlan juga tadi sudah aku usir berulang kali tapi tetap kekeh mau nemani aku nungguin Mas Refan. Begini nih jadinya. Umpat Kinan dalam hati.
"Aku ingin kamu jaga jarak sama Fadlan. Aku tidak mau melihat kamu dekat - dekat lagi sama dia. Kamu harus sadar Nan kalau sekarang kamu ini sudah menjadi istri orang bukan janda lagi" ujar Refan.
"Kamu mau kita bahas itu lagi? Bukannya aku sudah berulang kalo bilang kalau aku akan berubah. Aku sedang dalam proses memperbaiki diri Nan. Tadi malam didepan seluruh keluarga aku, aku sudah perkenalkan kamu sebagai istri aku. Apa masih kurang?" tanya Refan.
Refan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Ma.. maaf Mas bukan maksud aku ingin berkata seperti itu habisnya Mas gak percaya sih dengan apa yang aku katakan. Aku kan sudah cerita pada Mas kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan Fadlan. Aku tadi sudah beberapa kali menyuruhnya duluan pulang tapi dia tetap bersikeras ingin menemani aku dengan alasan kalau aku ini adalah istri dari saudaranya jadi harus dia jaga. Aku sudah berusaha menjauhinya Mas, bagaimana lagi aku harus katakan pada Mas agar Mas percaya?" tanya Kinan dengan suara merendah.
Refan menarik nafas panjang.
Kinan takut - takut melirik ke arah Refan. Dalam hati dia terus berdoa semoga Refan mempercayai semua perkataannya. Dan semoga Allah meredakan amarah suaminya.
__ADS_1
"Mulai besok aku akan antar jemput kamu ya, kamu tidak boleh menolaknya dan aku tak mau saat aku menjemput kamu, aku melihat dia ada bersama kamu. Terserah bagaimana cara kamu untuk mengusirnya. Aku tidak mau melihat dia dekat dengan kamu, tak perduli walau dia itu saudara jauh aku" tegas Refan.
"Tapi Mas" bantah Kinan.
"Aku tidak mau mendengar penolakan Nan. Aku ini suami kamu, aku akan bertanggung jawab pada kamu. Aku akan mengantar dan menjemput kamu besok ke kantor setiap hari" ulang Refan.
"Ba.. baik Mas" jawab Kinan pasrah.
Mending aku turuti aja deh apa maunya Mas Refan dari pada dia marah. Nanti pelan - pelan setelah marahnya reda baru aku bujuk dia lagi untuk pergi dan pulang sendiri naik mobil ke kantor. Batin Kinan.
Gila.. aku bisa semarah ini pada Kinan hanya karena gara - gara aku melihat dia bedua bersama teman kerjanya. Padahal sebelumnya dengan Renita aku tidak pernah sampai seperti ini. Bahkan Renita dulu sering sekali pergi bersama Bosnya bahkan sampai ke luar kota. Mengapa hatiku sangat panas melihat dia di dekati Fadlan. Pria itu juga, suka sekali mendekati istriku? Batin Refan kesal.
"Ya sudah kita lanjut pulang" jawab Refan.
Refan kembali menyalakan mobilnya dan mobil mulai berjalan kembali menuju arah pulang. Saat ini mereka saling diam di dalam perjalanan. Tidak ada satu kata yang keluar dari bibir mereka berdua.
Pertengkaran yang kedua masih karena alasan yang sama Refan marah Kinan dekat dengan Fadlan. Sebuah pelajaran yang sama - sama mereka petik dari peristiwa ini.
Refan semakin takut kehilangan Kinan. Api cemburu semakin besar menyala begitu melihat Kinan bersama dengan pria lain.
Sedangkan Kinan semakin mengerti batasan menjadi istrinya Refan. Ternyata Refan tidak suka kalau Kinan dekat - dekat dengan pria lain. Dan perlahan Kinan merasa memang sudah ada yang berubah dari sikap Refan. Walau Kinan belum benar - benar yakin kemarahan Refan adalah karena cemburu atau hanya karena tidak ingin sesuatu yang sudah dia miliki diusik orang lain.
Walau ini adalah pernikahan kedua bagi mereka tapi mereka kembali mengenali sifat pasangan mereka masing - masing. Sejatinya memang dalam rumah tangga pertengkaran dan perbedaan pendapat akan selalu ada. Tinggal bagaimana kita berdamai pada suatu masalah.
Kalau setiap masalah terus diperuncing pasti perpisahan yang akan terjadi akhirnya. Hidup akan terus berjalan, masalah pasti datang silih berganti. Tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan menghadapi masalah itu bersama - sama, saling menguatkan dan saling percaya itu yang utama.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG