
Hari yang di tunggu - tunggu oleh keluarga kecil Refan akhirnya tiba juga. Walau mereka masih bersedih karena sudah seminggu berpisah dengan Naila tapi mereka bersama - sama saling menguatkan untuk tetap menjalani hidup mereka dengan ceria.
Bagaimanapun hidup terus berjalan. Kita tidak boleh terus menatap ke belakang dan tarikat dengan masa lalu. Membuat kita akan sulit melangkah ke depan dan maju menuju masa depan yang lebih cerah.
Pagi - pagi semua barang - barang mereka sudah di angkat oleh petugas yang membantu jasa pindah rumah sehingga Refan dan keluarganya tidak perlu repot dan capek untuk mengurus semua kepindahan mereka.
Mereka hanya tinggal duduk manis di dalam mobil dan sekarang sedang menuju rumah baru. Suci dan kedua orang tua Kinan juga ikut serta.
Kedua orang tua Kinan akhirnya tau tentang masalah rumah tangga Refan dulu dan akhirnya mereka juga tau kalau Naila bukan anak Refan. Selaku mertua dari istri Refan yang sekarang mereka tidak berani memberikan komentar apapun.
Mereka takut akibat sebuah perkataan yang salah dan keliru bisa membuat masalah yang besar. Mereka cukup mendoakan agar rumah tangga Kinan dan Refan yang sekarang bahagia dan mereka benar - benar bisa lepas dari belenggu masa lalu rumah tangga mereka sebelumnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Refan dan Kinan yang baru.
"Wah besar sekali ya rumah kalian" puji Papa Kinan.
"Aku memang sengaja mencari yang seperti ini Pa, agar keluarga besar bisa muat kalau kumpul semuanya" jawab Refan.
"Kamar untuk kalian juga ada lho Dhis" ucap Suci kepada Mama Kinan.
"Oh ya?" tanya Dhisti.
"Iya di samping kamarku. Nanti deh aku tunjukin" jawab Suci.
Mereka masuk dan berjalan - jalan mengelilingi rumah baru Refan dan Kinan. Rumah Refan kali ini memang sangat besar terdiri dari dua lantai dimana di lantai satu terdapat satu kamar utama, 3 kamar anak dan kamar tamu, 1 ruang kerja Refan dan dua kamar di belakang untuk kamar asisten rumah tangga.
Dilantai dua terdapat tiga kamar yang nantinya untuk kamar anak - anak Refan dan Kinan. 1 ruang fitnes yang berisi alat - alat olahraga Refan dan ruangan yang sangat besar untuk tempat berkumpul dan bermain anak - anak Refan nantinya.
Di halaman belakang rumah terdapat kolam renang yang lumayan besar yang sengaja Refan buat untuk tempat bermain anak - anaknya nanti.
Rumah kali ini memang Refan konsep untuk keluarga besar karena dia berharap dengan Kinan dia akan mempunyai banyak anak. Dia ingin rumahnya ramai dengan suara tawa anak - anaknya.
Semua perabotan di rumah sudah terisi, khusus untuk kamar Refan dan Kinan, Kinan sendiri yang memilih perabotannya. Refan memberikan brosur perabotan terbaik, Kinan hanya tinggal memilih model yang mana yang dia inginkan.
Refan mengabulkan semua permintaan Kinan. Yang paling istimewa adalah dapur. Refan memesan peralatan lengkap untuk masak memasak karena dia tau Kinan sangat suka memasak.
Dia ingin bakat Kinan dapat tersalur dengan baik, toh dia juga yang senang suguhi makanan - makanan yang enak oleh Kinan. Kini Refan tidak perlu takut gemuk karena di rumahnya sudah dilengkapi dengan ruang fitnes. Refan bisa tetap berolahraga di rumahnya untuk merawat tubuh dan stamina agar selalu sehat Bugar.
"Siang ini kita masak apa Mas?" tanya Kinan.
__ADS_1
"Terserah kamu aja deh" jawab Refan.
"Tapi belum ada bahan makanan apapun kan Mas di rumah" ujar Kinan.
"Siapa bilang?" balas Refan.
"Kita kan baru pindah, belum sempat belanja" jawab Kinan.
"Kamu cek sendiri gih di dapur" perintah Refan.
Kinan langsung berjalan ke dapur dan benar saja semua isi kulkas penuh, stok makanan juga penuh untuk sebulan.
"Bik bagaimana ini semua bisa terisi?" tanya Kinan kepada dua asisten pribadinya.
"Kemarin Den Refan meminta kami daftar belanja bulanan rumah setiap bulannya Non. Bibik rasa Den Refan sudah menyuruh seseorang untuk berbelanja semua keperluan dapur kita" jawab Bik Mar.
Kinan tersenyum dan semakin bahagia menjadi istri Refan. Refan benar - benar sudah berubah dan begitu memanjakan dirinya.
"Yuk kita masak sekarang Bik" ajak Kinan.
Kinan mulai masak di dapur dibantu oleh Bik Mar dan Bik Nah. Sedangkan Mama dan mertuanya masih berkeliling rumah. Refan dan Papanya Kinan duduk di teras belakang dekat kolam. Salman sudah asik bermain di kamarnya.
"Mmmm... wangi sekali Nan. Kamu masak apa?" tanya Mama Dhisti.
"Aku masak soto Mas" jawab Kinan.
"Wah enak tuh" sambut Suci.
Suci benar - benar tenang sekarang melihat rumah tangga anaknya bahagia seperti ini. Dia sangat yakin almarhum suaminya di sana juga sudah tenang menyaksikan kebahagian Refan saat ini.
Apalagi pilihan mereka memang tidak salah. Kinan adalah istri yang terbaik untuk Refan.
"Tunggu sebentar ya Ma, bentar lagi masak. Mama tunggu aja di ruang keluar atau gabung sama Papa dan Mas Refan di dekat kolam renang. Nanti kalau aku sudah selesai masak aku panggil" ujar Kinan.
"Iya deh. Yuk Dhis" ajak Suci
Dhisti dan Suci meninggalkan dapur dan berjalan menuju teras belakang dimana Refan dan Papanya Kinan sedang asik ngobrol.
"Ma.. aku barusan bilang sama Papa, minggu depan aku dan Kinan mau jalan ke Bali. Aku titip Salman ya.. Mama dan Papa.. kalian semua tinggal aja di rumah kami selama aku dan Kinan pergi. Cuma seminggu kok" ungkap Refan.
__ADS_1
"Ada urusan pekerjaan Fan?" tanya Dhisti.
"Nggak Ma, aku cuma pengen bawa Kinan jalan - jalan sekalian menghibur dia karena sedih terus pisah dari Naila" jawab Refan.
"Oo.. jadi ceritanya kalian mau honeymoon lagi nih?" goda Suci.
Refan tersenyum malu menjawab pertanyaan Mamanya.
"Yah begitulah Ma kira - kira" jawab Refan.
"Iya gak masalah Fan, kalian santai aja honeymoon nya, gak usah mikirin Salman dia aman kok tinggal sama kami" sambut Dhisti.
"Papa juga bilang begitu Ma. Dulu kalau Kinan pergi ke luar kota, dinas dari kantor Salman sering dititipin ke kami" ujar Papa Kinan.
"Maaas, Ma, Pa yuk makan" ajak Kinan yang datang dari arah dapur.
"Udah siap masaknya?" tanya Refan.
"Udah. Bik tolong panggilin Salman di kamar ya" perintah Kinan.
"Iya Non" jawab Bik Nah.
Refan, Kinan dan orang tua mereka berjalan ke ruang makan dan mulai menikmati masakan yang Kinan buat. Salman juga sudah ikutan makan bersama mereka.
"Mmm.. enak sekali yank masakan kamu" puji Refan.
Eeeh tadi Mas Refan bilang apa ya? Yank apa Nan ya.. kok aku kurang jelas dengarnya. Batin Kinan.
"Syukurlah kalau Mas suka. Ayo tambah lagi makannya" Kinan menambahkan nasi dan yang lainnya ke piring Refan.
Tiba - tiba ponsel Refan berdering. Dia segera meraih ponselnya dari saku celananya dan mengangkat panggilan telepon.
"Assalamu'alaikum.. Fan maaf mengganggu.. Papa tadi sudah mampir ke rumah kalian tapi sudah kosong, gak ada orang. Papa panik jadinya, Papa mau bilang kalau saat ini Naila sedang di rawat di Rumah Sakit" ucap Reno begitu Refan menerima panggilan teleponnya.
"Apa Pa, Naila masuk Rumah Sakit?"...
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG