
Refan segera meninggalkan ruang kerjanya dan melangkah menuju kamarnya. Saat dia masuk ke dalam kamar, Refan melihat Naila sudah tidur terlelap. Air mata Refan kembali mengalir deras.
"Nak.. Papa sudah tau siapa Papa kandung kamu Nak? Papa sudah tau semuanya.. Kamu bukan anak Papa. Apa yang harus Papa lakukan pada kamu? Apa yang tersisa lagi dari masa lalu Papa. Hanya kamu yang Papa miliki, sanggupkah Papa berpisah dengan kamu Nak? Sembilan bulan kamu dalam kandungan Namamu aku sudah mulai mencintai kamu. Aku sudah menyayangimu bahkan aku sudah tak sabar menanti kahadiranmu. Tapi mereka jahat Nak.. mereka jahat kepada kita. Mereka menipu kita. Kamu bukan anakku.. Kamu bukan anakku... "
Refan terduduk bersimpuh di depan box Naila sambil menangis terisak. Perlahan - lahan Kinan mendengar suara tangisan lalu dia membuka matanya.
Kinan meraba tempat tidur di sampingnya tapi dia tidak mendapati Refan tertidur di sampingnya.
Ah iya aku lupa, setelah makan malam tadi Mas Refan mengurung dirinya di dalam ruang kerjanya sampai sekarang belum kembali. Eh tapi suara apa itu? Aku mendengar suara orang menagis tapi itu bukan suara Naila. Seperti suara orang dewasa daaan... laki - laki. Mas Refan? Batin Kinan.
Kinan segera bangkit dari tidurnya dan duduk mencari keberadaan Refan. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Refan duduk bersimpuh di depan box Naila sambil menangis terisak.
"Maaaas... Mas Refaaaan" panggil Kinan.
Kinan segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Refan yang masih menangis. Kinan ikut duduk di hadapan Refan dan segera memeluk tubuh Refan dengan penuh kelembutan.
"Maaas apa yang terjadi?" tanya Kinan.
Tapi Refan tidak berhenti menangis, dia masih terus terisak seperti anak - anak.
"Maaas cerita padaku apa yang terjadi? Mengapa Mas nangis seperti ini?" Bujuk Kinan.
"Naaaaan... aku sudah tau siapa Papa kandungnya Naila hiks... hiks... " ucap Refan sambil menangis.
__ADS_1
"Oh ya Allah.... " Kinan memeluk Refan erat, dia tau pasti saat ini perasaan Refan hancur sehancur - hancurnya.
Seorang pria jarang yang bisa menangis apalagi di depan wanita, dia pasti punya harga diri yang tinggi. Tapi kalau sudah seperti ini pasti dia memang sudah tidak bisa menahan rasa di hatinya. Pasti hatinya sangat sakit saat ini. Dan Kinan sangat mengerti apa yang saat ini sedang di alami Refan.
Kinan membiarkan sesaat Refan menangis dalam pelukannya. Agar perasaan Refan lebih lega dan lebih tenang. Kinan dengan sabar menunggu sampai Refan siap untuk bercerita kelanjutannya.
Setelah puas menangis dalam pelukan Kinan akhirnya perlahan - lahan tangis Refan pun reda. Dia menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Maaaas" panggil Kinan lembut sambil membelai rambut Refan dengan penuh kasih sayang.
"Aku sudah tau siapa Papa kandung Naila" ujar Refan.
"Dari mana kamu tau?" tanya Kinan.
"Aku tadi sudah membuka semuanya, aku sudah membuka laptop Renita, sudah membuka handphone Renita dan terakhir aku sudah membaca diary Renita walau belum sampai habis karena aku sudah tidak kuat lagi membacanya" ungkap Refan.
"Boleh aku tau siapa pria itu? Siapa Papa kandungnya Naila?" tanya Kinan hati - hati.
Refan menganggukkan kepalanya.
"Boleh, kamu boleh mengetahui semuanya. Aku tidak ingin merahasiakan apapun dari kamu. Kamu berhak tau semuanya tentang Naila" jawab Refan.
Kinan menarik tubuh Refan agar tidak duduk di lantai lagi. Kini mereka sudah duduk di pinggir tempat tidur masih saling berpegangan tangan. Kinan menatap mata Refan dan menunggu Refan bercerita.
__ADS_1
"Ternyata selama ini dia masih tetap meminum Pil KB Nan, diam - diam dibelakangku dia terus meminum Pil KB makanya dia tidak kunjung hamil. Tapi setahun yang lalu aku juga baru ingat. Saat itu dia pamit kepadaku akan pergi ke luar kota selama dua minggu karena kata Renita perusahaannya ingin memperluas bisnis mereka di kota itu dan akan membuka cabang perusahaannya di sana. Jadi dia harus menemani bosnya untuk survei ke lapangan langsung. Aku yang saat itu juga sedang disibukkan dengan perusahaanku yang baru mengeluarkan produk baru tidak keberatan dengan kepergian Renita. Karena aku merasa itu lebih baik dari pada Renita menungguku setiap malam di rumah karena aku selalu pulang lembur sampai larut malam. Lebih baik dia juga pergi urusan kantor sekalian dia bisa liburan. Makanya aku mengizinkannya pergi pada saat itu. Karena dia bilang mereka perginya ramai-ramai satu tim. Jadi tidak maslah bagiku dan aku juga tidak berpikiran macam - macam padanya saat itu" ujar Refan mulai bercerita.
Kinan dengan setia mendengarkan cerita Refan sambil terus menggenggam hangat tangan Refan.
"Ternyata dua minggu itu mereka gunakan untuk pergi berdua seperti honeymoon di pulau terpencil dan Renita lupa membawa pil KB. Padahal pada saat itu adalah masa suburnya Renita dan mereka melakukannya setiap hari. Akhirnya Renita hamil, bodohnya aku yang sangat senang ketika mengetahui Renita hamil. Mereka telah mengelabuiku Nan, dan mungkin mereka juga sudah menertawakan kebodohanku" Wajah Refan kembali terlihat sedih.
"Mereka berencana setelah Renita melahirkan baru dia akan menuntut cerai padaku karena kalau dia meminta cerai saat hamil pasti sudah tentu tidak akan bisa. Jadi mereka sepakat menunggu sampai Naila lahir baru mereka akan bersatu. Selama sembilan bulan aku yang selalu menjaga Naila saat di dalam perut Renita Nan. Saat dia hamil muda, dia mual - mual dan muntah, aku yang selalu menjaganya. Hampir setiap malam dia meminta makanan terkadang makanan yang aneh dan sulit untuk didapatkan tapi dengan sabarnya aku memenuhinya Nan. Ternyata.. ternyata.. anak itu bukan anakku" Refan kembali lagi meneteskan air matanya.
"Tapi yang membuat aku sangat sedih, pria itu tau kalau Naila putrinya Nan. Bagaimana.. bagaimana kalau suatu saat nanti Naila dia bawa. Naila diambil dari kita Nan. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Refan.
Kinan terdiam, dia juga sering bertanya seperti itu pada dirinya sendiri tapi dia tidak mendapatkan jawabannya. Dia juga sudah terlanjur menyayangi Naila.
"Kamu sayang pada Naila kan Nan?" tanya Refan.
Kinan menganggukkan kepalanya.
"Sama Nan, aku juga sangat menyayangi anak itu. Selama sembilan bulan dia ada di dalam kandungan Renita aku sudah menyayanginya sejak saat itu. Aku menjaganya tetap tumbuh sehat di dalam perut Renita bahkan aku sudah sangat tidak sabar menantinya lahir. Berapa bahagianya aku ketika melihat dia lahir ke dunia ini Nan.. Lalu kalau dia pergi dariku apa lagi yang aku punya Nan..?" tanya Refan.
Kinan menarik nafas panjang.
"Maaas, aku juga sering bertanya seperti itu pada diriku sendiri akhir - akhir ini dan aku juga belum menemukan jawabannya. Aku hanya bisa pasrah Mas dan menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada Allah karena hanya DIA lah yang tau mana yang terbaik untuk kita semua. Kalau memang Naila nanti tetap tinggal dengan kita alhamdulillah, aku akan membesarkan dan menyayanginya dengan sepenuh hati dan menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tapi jika dia memang harus pergi.. Mungkin memang itulah yang terbaik Allah pilihkan untuk kita semua. Yakinlah dan percayalah hanya kepada Allah Mas.. DIA yang paling tau mana yang terbaik untuk kita semua" jawab Kinan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG