
"Semua makanan ini kamu yang masak?" tanya Refan.
Duuuh... gimana nih, aku gak bisa bohong lagi. Mas Refan sudah curiga dengan makan siang ini.
"I.. iya Mas. Ka.. kamu gak suka?" tanya Kinan.
"Suka.. tapi kamu kan sedang sakit. Tidak perlu di paksakan. Ada Bik Mar yang bertugas untuk mengurus semua keperluan rumah ini" jawab Refan dengan dingin. Dia melanjutkan makannya.
Sebenarnya aku pengen bilang masakannya ini enak tapi nanti dia jadi besar kepala. Lagian aku tak mau tergantung padanya. Cukup Naila saja, itu pun karena dia masih kecil. Kalau tidak aku tidak akan mau berhutang budi dengan Kinan. Aku tau dia juga terpaksa menjalani pernikahan ini. Batin Refan.
Apa lagi maksud Mas Refan kali ini. Dia suka masakanku tapi sepertinya dia melarang aku untuk memasak lagi. Mana mungkin Mas? Aku tau tugasku sebagai istri adalah mengurus semua kebutuhan suaminya. Jadi sebisa mungkin aku akan menyiapkan semua yang kamu butuhkan termasuk memasak. Batin Kinan.
"Emmmm... enak Ma.. Mama sering - sering donk masak makanan seperti ini. Aku suka" ucap Salman senang.
"Iya sayang, nanti kalau Mama libur, Mama masak makanan seperti ini lagi ya" jawab Kinan.
Kinan melihat piring Refan sudah hampir kosong.
"Mau tambah lagi Mas?" Tanya Kinan menawarkan.
"Boleh, sedikit lagi. Aku masih lapar" jawab Refan.
Kinan mengambilkan nasi, ikan dan sayur ke dalam piring Refan sambil tersenyum. Refan memperhatikan semua tingkah laku Kinan.
Cih jangan besar kepala kamu. Aku memang sangat lapar. Ucap Refan dalam hati.
Semoga kamu terus menyukai semua masakanku ya Mas. Doa Kinan.
Refan melanjutkan makan siangnya. Dia menyantap habis makanan yang ada di dalam piringnya tanpa bersisa. Saat Refan hendak berdiri dan keluar dari meja makan Kinan menahannya sesaat.
"Tadi aku buat dessert juga, apa Mas mau?" tanya Kinan.
"Antar saja ke kamar, aku mau shalat dulu. Nanti setelah shalat baru aku makan" jawab Refan.
"Baik Mas" jawab Kinan sambil tersenyum.
Refan berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian dan setelah itu dia melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah selesai makan Kinan bergantian menjaga Naila agar Bik Mar dan Bik Nah bisa makan siang juga.
Setelah selesai shalat Dzuhur Refan keluar dari kamarnya. Kinan teringat perkataan suaminya tadi. Dia lupa membawa dessert yang dia masak tadi ke kamar Refan.
__ADS_1
"Maaf Mas aku lupa bawain dessertnya ke kamar kamu karena aku gantian sama Bik Nah gendong Naila" ucap Kinan begitu Refan menghampirinya.
Refan mengambil Naila dari gendongan Kinan.
"Ya sudah bawain aja sekarang. Aku sudah selesai shalat" jawab Refan.
Kinan langsung bergegas ke dapur dan mengambil dessert di dalam kulkas. Kinan membuat agar - agar melon yang disiram dengan fla jagung.
Kinan memotong agar - agar itu dan meletakkannya di dalam piring kecil kemudian menaburinya dengan fla jagung di atasnya. Kinan juga membawa segelas air putih untuk minum Refan.
Setelah itu baru Kinan membawanya kedepan dengan sebuah nampan.
"Ini Mas dimakan" ucap Kinan setelah meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas meja di ruang TV.
"Sebentar, aku masih mau menggendong Naila" jawab Refan.
"Sayang udah siang.. waktunya tidur siang, yuk ke kamar" Kinan mengajak Salman.
"Tapi aku mau temani adek Ma" jawab Salman.
"Adeknya biar sama Papa aja, kamu tidur ya" potong Refan.
"Oke Pa" jawab Salman patuh.
Bik Nah yang sudah selesai makan mengambil Naila dalam gendongan Refan.
"Sini Den Naila nya biar Biar Bibik gendong" pinta Bik Nah.
Refan menyerahkan Naila kemudian duduk di sofa untuk memakan dessert yang dimasak Kinan.
Mmmm... makanan ini juga enak. Apa dia memang pintar memasak ya. Batin Refan.
Refan memandang wajah Bik Nah.
"Bik.. " panggil Refan.
"Ya Den" jawab Bik Nah.
"Jawab jujur ya.. Apakah Kinan sering memasak di rumah?" tanya Refan.
__ADS_1
"Mm.. anu Den.. Iya.. Sejak Non Kinan menikah dengan Den Refan. Non Kinan selalu menyempatkan memasak di rumah kecuali dia sedang sakit atau telat pulang. Tapi sejauh ini, Non Kinan tidak masak saat dia sakit kemarin" jawab Bik Nah jujur.
"Trus tugas Bik Mar apa?" tanya Refan lagi.
"Bik Mar membantu Non Kinan juga di dapur, nyiapin bahan - bahan, bersihin ikan yang mau di masak dan lain sebagainya" ungkap Bik Nah.
"Kalau aku kerja, dia mau gak jagain Naila?" selidik Refan.
"Kalau Non Kinan sudah pulang dia langsung pegang Naila Den setelah dia bersih - bersih dan ganti pakaian" jawab Bik Nah jujur.
Hem... berarti dia gak pencitraan. Selama aku kerja dia memang urus Naila dengan baik. Sepertinya dia memang istri yang tau akan tugasnya.
Refan kembali teringat istrinya dulu, pulang kerja dia langsung ke kamar untuk bersih - bersih kemudian tiduran sampai menunggunya pulang kerja. Renita tidak pernah ke dapur kecuali saat makan dan ingin mengambil sesuatu di dapur.
Renita hanya bisa berdandan, mengurus Refan dan rumah saja dia tidak bisa. Bahkan Refan yang sering membawakan makanan untuk Renita kalau Renita malas untuk makan di luar kamar. Renita sangat - sangat manja tapi karena Refan mencintainya dia tidak pernah mempermasalahkannya.
Lagi - lagi Refan membandingkan Kinan dengan Renita. Dan semakin dia bandingkan Refan semakin melihat kelebihan - kelebihan yang Kinan miliki.
Tapi mengapa hatinya sulit sekali menerima Kinan. Apalagi sebenarnya dia sangat membutuhkan keberadaan Kinan saat ini karena Kinan dengan tulus mau mengurus dan merawat anaknya seperti anaknya sendiri.
Kinan keluar dari kamarnya sambil membawa botol susu Naila
"Sini Bik Naila nya saya gendong" pinta Kinan.
Kini Naila sudah berpindah tangan dari Bik Nah ke Kinan.
"Anak Mamaaaa mau bobok ya.. Du.. du.. sayaaang kita bobok siang ya" Kinan mulai menggendong Naila dan memberikan susu kepada Naila.
Sambil makan dessert Refan kembali memperhatikan tampilan Kinan yang sedang menggendong Naila. Setelah Kinan melepas Jilbab saat di rumah Refan juga melihat Kinan semakin cantik.
Rambutnya panjang dan semua yang ada di tubuhnya alami. Tidak ada sulam alis, sulam bibir dan yang lainnya.
Refan mengingat selama dua minggu ini hidup bersama Kinan, Dia tidak pernah permisi mau ke salon. Untuk perawatan wajah, rambut, dan tubuhnya.
Tapi semua yang Kinan miliki tak jauh dari Renita rutin bersolek. Hanya warna kulit mereka saja yang sedikit berbeda. Kinan kulitnya lebih gelap dari Renita. Tapi itu memang bawaan alami. Sejak dia mengenal Renita, kulit Renita memang sudah putih dari sananya bukan karena dia rutin ke salon.
Akh.. aku semakin larut dalam membandingkan mereka berdua.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG