Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 262


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Jelita saat dia tiba di Hotel. Malam ini dia ingin tidur bersama Mama dan adik bungsunya Reni. Jelita ingin melepas rindu pada keluarganya.


Apalagi malam ini adalah malam terakhir Reni sebagai seorang gadis, besok pagi dia akan menikah dengan Bimo dan akan menyandang status sebagai istri dari Bimo Akarsana.


Selesai makan malam Jelita masuk ke kamar Mama dan adiknya. Dengan penuh kasih sayang Jelita duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit kaki Mamanya.


"Mbak mau tanya pada Bimo tapi gak enak Ren. Kamu bilang status calon suami kamu duda karena istrinya meninggal kecelakaan. Apakah istri Bimo itu Elliah?" tanya Jelita penasaran.


"Iya Mbak" jawab Reni sambil membersihkan wajahnya sebelum tidur.


"Ya Tuhan... Mereka kan beda agama. Bagaimana bisa?" tanya Jelita tak percaya.


"Mas Bimo ikut keyakinan istrinya dulu Mbak. Dia meninggalkan keluarga dan agamanya" jawab Reni.


"Astaghfirullah... Itulah yang kami takutkan dulu. Mbak dan Bang Tagor sejak awal sudah sering mengingatkan Bimo. Akan sulit untuk mereka bersatu kalau salah satu diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Bimo bilang kalau keluarga Elliah sangat punya kekuasaan di kampungnya jadi tak mungkin dia ikut keyakinan Bimo. Tapi Mbak sungguh tidak menyangka kalau akhirnya Bimo yang ikut keyakinan Elliah" ucap Jelita terkejut.


Reni tertunduk antara sedih dan malu kepada Jelita dengan kenyataan tentang calon suaminya.


"Jadi sekarang Bimo gimana?" tanya Jelita.


"Alhamdulillah dia sudah kembali dan memperbaiki diri. Kan tadi kamu sudah dengan cerita Refan, kalau dia dan para sahabatnya termasuk Bimo sudah membuat satu grup pengajian yang rutin mereka lakukan seminggu sekali" potong Bu Suci.


"Alhamdulillah... Memang sejak tamat kuliah Mbak kehilangan kontak Bimo. Mbak dan bang Tagor sering bertanya pada teman - teman yang kamu temui saat reuni tapi tidak ada yang tau keberadaannya" sambut Jelita.


"Mas Bimo pindah ikut istrinya ke Papua dan berganti nama menjadi Ricardo Jacob, mungkin karena itu Mbak dan Bang Tagor gak pernah mendengar kabarnya" ujar Reni.


Jelita masih asik memijit tubuh Mamanya.


"Mbak... " panggil Reni.


"Yup" sahut Jelita.


"Mbak kenal baik Elliah?" tanya Reni.


"Lumayan... Bimo dulu sering cerita tentang dia dan beberapa kali kami sering pergi bareng" jawab Jelita.

__ADS_1


"Gimana orangnya?" tanya Reni penasaran.


"Elliah anak yang baik, penurut apa kata Bimo. Sangat baik meladeni Bimo dan juga sangat mencintai Bimo" jawab Jelita.


"Dia cantik banget ya Mbak?" tanya Reni sedih.


Jelita menghentikan pijitan tangannya di tubuh Bu Suci. Bu Suci ternyata sudah terlelap dari tadi. Jelita bangkit dan duduk di dekat Reni.


"Cantik, Elliah memang cantik. Di kampus banyak anak cowok yang menyukainya. Karena kecantikannya jugalah Bimo mencintainya. Mbak dulu pernah bilang sama Bimo. Jangan tergoda Bim, masih banyak wanita lain yang cantik tapi seakidah. Jangan pernah memulai, karena kalau kamu mencintainya semakin dalam akan sulit untuk melepaskannya. Ternyata kekhawatiran Mbak benar dan Bimo yang mengalah demi Elliah" jawab Jelita.


Jelita menatap wajah adik bungsunya tampak raut kekhawatiran disana.


"Kamu takut bersaing dengan Elliah?" tanya Jelita pada adik bungsunya.


Reni menunduk dan mengangguk. Jelita menyentuh tangan Reni dan menggenggamnya.


"Cantik itu relatif Ren tergantung dari sudut pandangnya. Ada yang cantik dari tampilan ada juga yang cantik dari hatinya. Kamu gak perlu khawatir akan kalah bersaing dengan Elliah. Dia juga sudah tiada" ungkap Jelita memberi semangat.


"Tapi Mas Bimo pasti masih sering mengingatnya" ujar Reni.


Jelita menarik nafas panjang.


Reni hanya diam mendengarkan.


"Kamu masih bimbang menikah dengannya?" tanya Jelita.


Reni mengangguk sedangkan Jelita tersenyum berusaha menghibur hati adiknya. Jelita kemudian merangkul tubuh Reni.


"Kamu jangan khawatir, Bimo pria yang sangat baik. Mbak sangat lega kamu mendapatkan suami seperti Bimo. Dia pria yang bertanggung jawab. Dia tidak akan menyakiti kamu. Percaya pada Mbak. Dia pasti sudah melupakan Elliah makanya dia ingin menikahi kamu. Lagian Elliah sudah lama meninggal kan? Sudah dua tahun, pasti Bimo sudah move on" ujar Jelita bijaksana.


"Makasih Mbak.. " jawab Reni singkat.


"Hei pengantin wanita tidak boleh bersedih. Ini malam kamu terakhir berstatus single, besok kamu akan menyandang status Nyonya Bimo Akarsana. Buang jauh - jauh kekhawatiran kamu dan berbahagia lah. Sambut hari esok dengan suka cita dan penuh kebahagiaan. Jangan fikirkan hal - hal yang buruk di kepala kamu" hibur Jelita.


"Iya Mbak" jawab Reni.

__ADS_1


"Sekarang kita tidur ya besok pagi bisa telat bangun karena begadang. Lagian gak baik pengantin wanita begadang, besok pas di rias wajahnya layu. Kasihan donk Mas Bimonya kecewa melihat wajah istrinya" sambung Jelita.


Reni menarik nafas panjang, mencoba yakin dengan semua perkataan Jelita. Bagaimanapun Kakaknya itu pernah dekat dengan Bimo pasti dia lebih banyak mengenal sifat Bimo.


Sejauh ini juga sikap Bimo tidak pernah menyakiti hati Reni. Bimo selalu memberikan perhatian penuh dan lemah lembut kepada Reni.


Jelita dan Reni tidur di samping Mamanya yang sudah lebih dahulu tidur terlelap. Mereka harus istirahat karena besok masih banyak acara yang harus mereka lalui.


*****


Pagi - pagi sekali seluruh keluarga sudah bangun dan bersiap untuk akad nikah Reni dan Bimo. Reni sudah di make up oleh MUA yang sudah disediakan pihak Hotel. Tentu saja dengan perintah Bimo sebelum mereka sampai di pulau ini.


Saat - saat penting dalam hidup Reni akhirnya tiba juga. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruangan khusus di Hotel ini yang telah di rancang Bimo dengan sangat sempurna.


Reni dibawa ke ruangan khusus dan ditemani oleh Ela, Bela, dan Dini. Dari tempat mereka berada Reni bisa mendengar suara microphone pembawa acara.


Acara telah dimulai dan kini tibalah ijab kabul pernikahan mereka Bimo sudah duduk berhadapan dengan Refan. Tangan mereka sudah saling berjabat dengan erat.


"Bimo Akarsana" panggil Refan.


"Ya, saya" sahut Bimo.


"Aku nikahkan kepada kamu adik kandungku yang bernama Reni Adinata binti Adinata dengan mahar satu set perhiasan emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai" ucal Refan tegas.


"Saya terima nikahnya Reni Adinata binti Adinata dengan mahar satu set perhiasan emas dan seperangkat alay shalat dibayar tunai" sahut Bimo tak kalah tegasnya.


"Bagaimana saksi?" tangan kadi nikah.


Pak Ardianto dan Galuh suami anita yang menjadi saksi menjawab dengan lantang.


"Sah" sahut mereka dengan lantang.


"Barakallah.... Alhamdulillah... " sambut suara semua orang yang ada di ruangan itu.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2