
"Cin.... cin.....?" ucap Reni.
Bimo menatap Reni sambil tersenyum.
"Mas ada cincin di es krim ku, coba panggil pelayan. Mungkin cincin mereka terjatuh ke dalam es krim ku" ucap Reni panik.
"Cincin itu tidak terjatuh dan tidak juga punya para pelayan. Cincin itu punya kamu" jawab Bimo.
"Punyaku?" tanya Reni bingung.
Bimo berdiri dan menghampiri Reni. Dia meraih tisu yang berisik cincin dari mulut Reni.
"Mas ko.. tor" ucap Reni.
Bimo membalasnya dengan senyuman. Bimo membukanya dan memegang cincin itu. Kemudian Bimo meraih tangan Reni dan berlutut di samping Reni.
"Maaf membuat kamu lama menunggu. Tapi perlu kamu tau aku lebih dulu menyukai kamu hanya saja otakku terlalu lama berfikir dan tak mau mendengarkan kata hatiku. Aku sibuk memikirkan ketakutan - ketakutan yang sebenarnya tidak pernah terjadi pada kamu. Reni Adinata maukah kamu menikah denganku? Aku tidak bisa menjanjikan tidak akan pernah ada air mata dalam hubungan kita tapi aku akan berusaha membuat kamu tersenyum dan bahagia. Saling menguatkan dalam susah dan senang dan ingatkan ketika aku salah dan lalai dan maukah kamu menjadi pendamping hidupku sampai kita tua kelak dan hanya maut yang bisa memisahkannya" ungkap Bimo.
"Ma.. Maaas... " Reni menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Tak kuasa menahan haru sampai air matanya menetes di pipinya.
"Maaas apa yang sedang kamu katakan? Mas sedang mempermainkan aku ya?" tanya Reni masih tidak percaya.
"Apa pernah aku bermain sejahil ini Ren? Aku rasa aku bukanlah pria iseng lagi seperti saat remaja. Pahitnya kehidupan merubah aku menjadi pria yang serius sehingga tak sempat lagi memikirkan hal - hal iseng seperti ini. Aku serius dengan semua ucapanku tadi" jawab Bimo.
"Oh ya Allah.... " sambut Reni.
"Sekarang, apakah kamu mau menerima lamaranku ini. Karena maaf mungkin karena faktor usia membuat aku tidak kuat lagi berlama - lama seperti ini" canda Bimo sambil tersenyum.
"Aaah Mas Bimo... " tanpa sadar Reni memukul bahu Bimo untuk menutupi rasa malunya.
"Bagaimana Dek Reni Adinata?" tanya Bimo lagi.
Reni menghapus air matanya.
"Iya Mas.. aku menerimanya" jawab Reni.
Bimo memasangkan cincin indah yang baru dia beli tadi ke jari manis Reni.
"Terimakasih Ren.. terimakasih kamu sudah menerima dan membalas perasaanku" ujar Bimo.
"Tapi Mas" ucap Reni terputus.
"Tapi apa? Kamu gak mau menarik kata - kata kamu kan?" tanya Bimo khawatir.
Reni tersenyum melihat wajah panik Bimo.
"Nggak Mas aku hanya mau bertanya sesuatu. Tadi saat di awal Mas bilang, maaf membuat kamu lama menunggu. Tapi perlu kamu tau aku lebih dulu menyukai kamu. Kenapa Mas berkata seperti itu apakah Mas tau kalau aku.... " pertanyaan Reni terhenti.
__ADS_1
"Ya.. Mas sudah tau" jawab Bimo lega.
"Sejak kapan?" tanya Reni.
"Tadi malam, saat Mas cerita pada Bela tentang perasaan Mas pada kamu. Bela bilang kamu juga menyukai Mas" jawab Bimo.
"Be.. Bela bilang begitu? Aku gak pernah bilang begitu pada Bela?" tanya Reni pada Bimo.
"Kata Bela semua sudah tau tentang perasaan kita. Bela, Ela, Aril bahkan Refan dan Kinan juga sudah tau kalau kita punya rasa yang sama hanya saja kita sama - sama malu untuk mengungkapkannya" jawab Bimo.
"Semua sudah tau Mas?" tanya Reni.
Bimo menganggukkan kepalanya.
"Iya, semua sudah tau. Dan mereka hanya menjadi penonton. Pemeran utamanya tetap kita" jawab Bimo.
"Terus kenapa baru tiba - tiba Mas mengutarakan perasaan Mas sekarang? Apa sebenarnya dan alasannya?" tanya Reni.
"Mas takut ditikung Gery. Sepertinya dia juga suka sama kamu" ungkap Bimo.
"Gery itu sahabat aku Mas. Kan aku sudah bilang dari kemarin" ujar Reni.
"Iya tapi Mas gak suka dia dekat banget sama kamu. Nanti kalau kita menikah dia suruh jauh - jauh ya dari kamu" ucap Bimo.
"Hahaha... Mas cemburu ya. Yang mau ngajak Gery bisnis properti siapa? Kan Mas yang mau dekat - dekat terus sama Gery" goda Reni.
Reni bisa bernafas lega. Yang penting dia dan Bimo ternyata sama - sama saling suka. Dan dia sangat bahagia hari ini Bimo sudah melamarnya.
Kecemburuan Bimk tadi hanyalah bumbu cinta, Reni tau kok Bimo tidak akan melakukan hal itu. Pasti Bimo tidak akan melarang dia dan Gery tetap berteman.
"Apakah kita sudah bisa kembali? Jam istirahat kamu sudah hampir habis?" tanya Bimo.
Reni melirik jam tangannya.
"Iya, yuk Mas kita balik" jawab Reni.
Bimo memanggil pelayan dan segera membayar tagihan makan siang mereka. Setelah itu Bimo dan Reni kembali ke mobil. Bimo membuka kan pintu mobil untuk Reni. Kemudian Bimo membuka pintu bagasi mobil dan masuk ke dalam mobil.
Saat duduk di depan kemudian Bimo menyerahkan kepada Reni semua barang - barang yang tadi dia beli untuk mereka berdua.
"Apa ini Mas?" tanya Reni bingung.
"Buka saja" jawab Bimo.
Reni membuka satu persatu bungkusan yang dia pegang. Pertama Reni membuka bungkusan yang berisikan ponsel.
"Handphone terbaru? Ini... inikan yang mau aku minta sama Mas Aril?" ucap Reni.
"Sudah aku belikan jadi kamu jangan minta sama dia lagi ya. Minta sama Mas apapun yang kamu inginkan" sambut Bimo.
__ADS_1
"Kok ada dua?" tanya Reni.
"Satu untukku dan satu untuk kamu jadikan handphone kita kembar sama seperti perasaan kita" jawab Bimo sambil tersenyum.
"Oooo Mas Bimo ternyata so sweet banget" goda Reni.
Reni membuka satu bungkusan lagi yang berisikan jam tangan. Reni menatap Bimo dengan tatapan bertanya.
"Masak kamu gak tau itu apa? Itu jam tangan? Kamu minta itu kan dari Romi, Mas juga beli dua. Jam tangan couple.. karena mulai hari ini kita adalah pasangan" jawab Bimo.
Reni kembali tersenyum, sungguh dia tidak menyangka kalau Bimo akan bertingkah seperti anak remaja kembali.
Reni membuka bungkusan terakhir.
"Waaah tas... bagus banget Mas" puji Reni.
"Yang ini kan permintaan kamu sama Riko. Mas sudah penuhi semuanya, sekali lagi mintakah apapun yang kamu inginkan hanya pada Mas" jawab Bimo.
"Tapi kalau mereka mau memberi aku hadiah lagi gimana Mas, aku kan gak enak menolaknya?" tanya Reni.
"Minta mentahnya saja hahaha" canda Bimo
"Aaah Mas Bimo bisa aja. Makasih ya Mas. Aku sangat senaaaang sekali" ucap Reni dengan ceria.
Kebahagiaan Reni menular kepada Bimo. Bimo juga sangat senang sekali ketika melihat Reni sangat senang dengan semua pemberiannya.
"Ayo donk di pakai jam tangannya" ajak Bimo.
"Lepas dulu jam tangan Mas" perintah Reni.
Bimo melepas jam tangan yang ada di tangannya. Ini adalah jam tangan pemberian istrinya saat dia ulang tahun terakhir ketika Elliah masih hidup.
Selamat tinggal Elliah, selamat tinggal masa lalu. Izinkan aku meraih kebahagiaanku untuk masa depan. Ucap Bimo dalam hati.
Reni memasangkan jam tangan di tangan kiri Bimo. Setelah itu gantian Reni yang membuka jam tangannya. Kemudian Bimo memasangkan jam tangan couple mereka ke tangan kiri Reni.
Mereka saling pandang dan tersenyum bahagia.
"Handphonenya nanti malam kita pakai sama - sama ya" ujar Reni.
"Dengan senang hati bidadari surgaku" balas Bimo.
Wajah Reni langsung bersemu merah mendengar jawaban Bimo.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1