
Akhirnya Aril, Bimo dan Reni sudah sampai di bandara. Mereka langsung cek ini dan masuk ke ruang tunggu. Tiket Reni sudah di kirim melalui email dari sekretaris Aril.
"Mas tunggu sebentar ya, aku mau cari sesuatu" ujar Reni.
"Jangan jauh - jauh Ren, nanti Mas gak tanggung jawab ya kalau kamu ketinggalan pesawat" sambut Aril.
"Emangnya aku anak kecil yang bisa kesasar" jawab Reni cemberut.
Lagi - lagi Bimo tertawa melihat pertengkaran mereka dan melihat wajah lucunya Reni.
"Terserah kamu deh" balas Aril cuek.
Reni melangkah meninggalkan Aril dan Bimo.
"Kenapa kamu senyum - senyum Bim?" tanya Aril penasaran.
"Aku heran melihat kalian selalu saja bertengkar" jawab Bimo.
"Sorry Bim, maklum aku anak tunggal jadi gak pernah ngerasain punya saudara. Ketika aku ketemu Reni pertama kali aku sudah menyayanginya dan menganggapnya saudara. Sejak saat itu aku juga suka mengganggunya. Wajahnya lucu kalau lagi kesal dan cemberut" ujar Aril.
"Iya, aku benar. Wajah Reni lucu kalau sudah ngambek" timpa Bimo.
"Cantik kan?" Aril mecoba menjebak Bimo dengan kata - katanya.
"Cantik, dia gadis yang cantik" jawab Bimo jujur.
"Gak pengen menikah lagi?" tanya Aril.
"Lho kok lari ke pernikahan?" tanya Bimo bingung.
"Gak lari kok Bim, masih berhubungan. Kalau kamu pengen menikah lagi. Reni bisa jadi kandidat istri yang baik. Aku tau pergaulan Reni dari dulu. Dia gadis yang baik, walau suka iseng tapi dia penurut. Selalu ikut pada perintah Mama dan Kakaknya" jawab Aril.
Bimo menarik nafas panjang.
"Entahlah Ril, aku belum memikirkan menikah lagi. Apalagi saat sekarang ini, saat semua belum jelas. Aku gak mau kalau aku menikah, bukan hanya jiwaku saja yang terancam tapi istriku juga. Mereka bisa merubah target lain untuk menghancurkanku" ungkap Bimo.
"Benar juga kata kamu Bim. Aku gak mikir jauh ke situ. Bisa bahaya hidupnya Reni" ungkap Aril.
Tak lama Reni datang dengan membawa dua kantong plastik.
"Nih Mas untuk kalian" Reni memberikan satu kantong plastik untuk Aril dan Bimo.
"Apa ini?" tanya Aril.
"Jadwal keberangkatan kita nanggung Mas. Mau makan dulu takut gak sempat. Nih buat ganjal perut biar gak kena asam lambung" jawab Reni.
"Uh so sweet setan kecil, pengertian banget" goda Aril.
"Berhenti mengejekku dengan panggilan kecil Mas Aril" ujar Reni kesal.
"Aku akan berhenti memanggil kamu setan kecil kalau kamu nanti sudah menikah tapi setelah itu aku akan memanggil kamu kuntilanak" goda Aril.
__ADS_1
"Gak lucu. Nyesal aku belikan Mas makanan" Reni merampas kembali kantong plastik yang tadi dia berikan pada Aril. Setelah itu dia berikan kepada Bimo.
"Nih Mas Bimo habisin aja semua, jangan kasih Mas Aril. Biar dia kelaperan" ujar Reni.
Bimo tersenyum melihat dengan jelas wajah cemberut Reni.
"Makasih Ren, wajah kamu semakin lucu kalau cemberut seperti itu" balas Bimo.
Sontak Reni merubah mimik wajahnya. Entah mengapa dia jadi malu kalau harus cemberut di hadapan Bimo.
Kenapa aku jadi panas dingin dan salah tingkah begini? Batin Reni.
Reni kembali duduk tapi dia tak mau lagi duduk dekat Aril karena masih kesal. Akhirnya Reni duduk di samping Bimo.
Tak lama kemudian mereka sudah masuk ke dalam pesawat. Ketepatan tiket pesawatnya Reni duduk disebelah Bimo sedangkan Aril di sisi yang lain.
Waaah pas banget ini. Batin Aril.
Awalnya Bimo dan Reni merasa canggung tapi mau bagaimana lagi. Mereka tak bisa berganti posisi.
Lima belas kemudian Reni sudah tertidur disamping Bimo. Mungkin karena kelelahan setelah pulang kerja belum sempat istirahat dan langsung bersiap ke Bandara membuat Reni cepat terlelap.
Tanpa dia sadari kepalanya bersandar di bahu Bimo. Wangi parfum Reni sangat jelas tercium Bimo.
Wanginya enak. Batin Bimo.
Bimo tak enak kalau menolak kepala Reni dan meletakkannya ke sisi jendela. Dia melihat Reni sudah benar - benar terlelap. Akhirnya Bimo membuat posisi yang nyaman untuk Reni tidur.
Perasaan apa ini? Mengapa aku merasa hangat padahal di dalam pesawat ini sangat dingin sekali. Dan mengapa aku merasa sangat nyaman dia bersandar di bahuku. Bahkan aku sangat takut dia terbangun karena gerakan tubuhku. Batin Bimo.
Aril melirik ke arah Bimo dan Reni, dia tersenyum melihat interaksi mereka.
Sedikitpun Bimo tidak berani bergerak sampai satu jam kemudian terdengar pemberitahuan kalau mereka sudah sampai di Bandara Internasional Juanda.
Bimo segera membangunkan Reni.
"Deeek.. dek Reni... " panggil Bimo.
Reni masih nyenyak tertidur. Bimo sekali lagi membangunkan Reni dengan menggelus kepala Reni lembut.
"Dek Reeeen bangun. Kita sudah sampai" ujar Bimo.
Reni mulai tersadar dan terkejut dengan interaksi mereka berdua juga dengan dekatnya tubuhnya kepada tubuh Bimo. Wajah Reni langsung bersemu merah karena malu. Bukan Bimo yang mengambil kesempatan tapi dia sendirilah yang mendekatkan tubuhnya tanpa sadar disamping Bimo. Malah kepalanya bersandar di bahu Bimo.
"Astaghfirullah.. Ma.. maaf Mas, aku gak sadar" ucap Reni dan langsung duduk tegak.
Bimo tersenyum kepada Reni.
"Gak apa Ren, aku mengerti. Kamu kecapekan pasti tadi di kantor makanya tertidur di sini" sambut Bimo.
"Sudah sampai ya Mas.. Gak terasa ya, cepat banget" ujar Reni.
__ADS_1
"Karena kamu nyenyak sekali tidurnya. Kalau aku sih sangat terasa Ren satu jam bahuku dijadikan bantal" goda Bimo sambil tersenyum tipis.
"Maaf.. maaf Mas" ulang Reni lagi.
"Hahaha aku cuma bercanda Ren" sambut Bimo.
Reni menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab untuk menutupi rasa malunya dan mulai bersiap karena sebentar lagi mereka akan turun.
Tak lama kemudian Aril, Bimo dan Reni turun dari pesawat. Mereka dijemput supir dari kenalan Aril di kota ini.
Bimo menghirup udara dengan panjang.
Sudah lama sekali aku tinggalkan kota ini.. Sepuluh tahun berlalu.. Batin Bimo.
Mereka sengaja tidak memberikan kabar kepada Bapak dan Ibu Akarsana juga Bela akan kedatangan mereka ke Surabaya karena mereka ingin buat kejutan.
"Mas kita makan malam dulu yuk, aku laper banget" rengek Reni pada Aril.
"Duuuh habis tidur dan mimpi indah setelah bangun laper ya.... " goda Aril.
"Aaaah Mas Ariiiiil.... " protes Reni dengan wajah merah merona.
Bimo tersenyum tipis, sebenarnya dia sedikit merasa malu karena itu artinya Aril tadi memperhatikan interaksinya bersama Reni.
"Ya sudah kita makan aja dulu Ril. Kasihan Dek Reni lapar" sambut Bimo.
"Okey... ku punya referensi, tempat makan yang enak Bim?" tanya Aril.
"Sudah lama sekali Ril. Sudah sepuluh tahun berlalu. Kota ini juga sangat banyak berubah. Aku tidak tau mau makan dimana lagi sekarang" jawab Bimo.
"Ya sudah nanti kita tanya Pak Supir aja dan minta dia carikan kita tempat makan yang enak di sini" sambut Aril.
Mereka masuk ke dalam mobil yang menjemput. Aril duduk di depan disamping Pak Supir sedangkan Reni dan Bimo duduk di belakang. Lagi - lagi mereka duduk berdekatan.
Pak Supir membawa mereka makan malam di salah satu Restoran setelah itu baru mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bimo.
Akhirnya sampailah mereka di rumah Bapak dan Ibu Akarsana. Bimo turun lebih dulu dan terdiam terpaku menatap rumah orang tuanya. Matanya tampak berkaca - kaca..
Rumah ini.. di rumah ini dia lahir dan dibesarkan. Rumah dengan gaya bangunan lama tapi tetap berdiri kokoh. Ada beberapa perubahan memang di depan rumahnya mungkin mengikuti perkembangan zaman atau memang sudah di renovasi karena waktu.
Bimo membuka pintu pagar dan berjalan mendekati pintu rumahnya. Tak lama kemudian dia mengetuk pintu rumahnya.
Tok... tok.. tok...
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Mas Bimoooo.... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG