
"Ngapain kamu? Kalau mau tidur ya sudah naik ke tempat tidur. Ini malah mondar - mandir, pusing aku melihat kamu" ucap Refan.
Kinan ragu - ragu untuk naik ke tempat tidur. Tapi dia tidak berani tidur di lantai, takut sakit mengingat penyakit maag membuat dia mudah untuk masuk angin.
Akhirnya dengan berat hati Kinan naik ke atas tempat tidur tepat di samping Refan yang sedang asik memainkan laptopnya.
"Mmm.. maaaas.. maaf ya kalau aku tidurnya hadap ke sini memunggungi kamu" ucap Kinan.
"Heeeem.... " balas Refan.
Mau tidur aja harus repot minta - minta maaf. Ya tidur aja sesuka hati kamu. Batin Refan.
Kinan mencoba memejamkan matanya tapi rasanya sangat sulit. Dia belum merasa ngantuk dan matanya masih segar. Rasanya ingin sekali membalikkan badannya ke sisi yang lain tapi dia enggan.
Akhirnya setengah jam dia bertahan dan tubuhnya keram.
Duh tanganku jadi pegal banget ini. Gimana jadinya, apa yang harus aku lakukan? Batin Kinan.
Perlahan - layan Kinan meraih ponselnya dan memutar Murrotal Al-Quran dengan volume yang pelan. Lama kelamaan dia pun tertidur.
Di alam bawah sadarnya Kinan memutar tubuhnya menghadap ke arah Refan. Kini Refan bisa melihat kalau Kinan sudah tidur dengan lelapnya.
Baru Refan bisa mematikan laptopnya dan menutupnya. Kemudian dia meletakkan laptop itu pelan - pelan di atas nakas dekat tempat tidur.
Refan melambaikan tangannya tepat di hadapan Kinan untuk memastikan Kinan tidak berpura - pura tidur. Kinan ternyata sudah tidur lelap.
Refan memandangi wajah Kinan yang tidur dengan tenang. Wajah yang polos tanpa ada sentuhan make up atau perawatan wajah.
Dulu Renita sebelum tidur terlebih dahulu ritualnya membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah, setelah itu memakai vitamin wajah dan cream malam di wajahnya. Setelah selesai baru dia naik ke atas tempat tidur dengan memakai lingerie sexy yang hendak menggoda pertahanan Refan.
Wanita ini hanya membasahi wajahnya dengan wudhu. Karena sebelum naik ke tempat tidur tadi Kinan terlebih dahulu shalat sunnah. Baru kemudian Kinan berjalan mondar - mandir serba salah mau tidur di mana. Sampai Refan menyuruhnya naik ke atas tempat tidur.
Dia memakai daster rumahan, Refan mendekat ke wajah dan tubuh Kinan. Mencoba mengendus wangi parfum Kinan.
Wangi.. tapi sangat lembut tidak seperti wangi parfum. Wangi apa ini ya? Tapi... aku suka. Batin Refan.
Penampilannya sederhana tapi mengapa aku penasaran dan... tiba - tiba Refan merasa panas. Dia mengipaskan baju kaosnya ingin mencari udara.
__ADS_1
Gawat kalau terus seperti ini bisa - bisa aku gak bisa tidur. Fikir Refan.
Refan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Dia menyalurkan hasrat yang tadi dia pendam, buang air kecil. Setelah selesai baru Refan kembali naik ke atas tempat tidur.
Refan merebahkan tubuhnya tepat di samping Kinan dan wajah mereka saling pandang. Baru saja Refan hendak menutup matanya tiba - tiba tangan Kinan bergerak dan berhenti tepat di dekat pinggang Refan.
Kinan memukul pelan tubuh Refan sambil bergumam.
"Ssssttt... sst..... " Kinan seperti sedang menidurkan anaknya dengan menepuk - menepuk panta*nya.
Sial.. apa dia fikir aku ini anaknya Salman atau Naila ya, mau tidur harus tepuk - tepuk panta* dulu. Batin Refan.
Refan menarik tangan Kinan perlahan dan meletakkannya di tengah tepat diantara tubuh mereka. Refan kembali menatap wajah Kinan.
Duh gawat, aksi dia tadi kok jadi membangunkan sesuatu yang tidur di bawah sana.
Huuuuf.. Refan berusaha mengatur nafasnya dan tidur telentang.
Jadi panas lagi nih ruangan. Ucap Refan.
Tiba - tiba Kinan dalam keadaan mata tetap tertutup meraba tempat tidur dan mencari selimut. Dia menarik selimut sampai ke pinggangnya tapi Refan bisa melihat di tangan Kinan bulu kuduk nya sedang berdiri.
Tanpa sadar Refan tersenyum.
Hahaha... kamu pasti kedinginan kan? Rasain, bukan aku sendiri disini yang tersiksa. Kita impas, aku kepanasan sementara kamu kedinginan. Umpat Refan dalam hati.
Refan kembali ingin menutup matanya, lagi - lagi tiba - tiba Kinan merapatkan tubuhnya ke tubuh Refan dan memeluknya erat. Kini wajah Kinan bersembunyi di balik dada Refan.
Refan mencium wangi shampo dari rambut Kinan dengan jelas.
Ya Tuhaaaan... apalagi ini Kinan. Mengapa sih kamu gak bisa diam aja tidurnya. Refan jadi kesal karena tubuhnya semakin panas.
Perlahan - lahan dia raih batal guling di dari belakang tubuh Kinan dan menggantikan tubuhnya dengan guling untuk di peluk Kinan.
Kinan memeluk bantal guling dengan erat kembali tidur dengan nyenyak. Wajahnya benar - benar tenang, sesekali Kinan tersenyum dan Refan melihatnya dengan jelas.
Manis... baik.. sholehah... pintar masak... bisa urus anak.. meladeni suami.. dan membuatku panaaaaaaaas....
__ADS_1
Akh... aku bisa gila kalau seperti ini. Refan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Akhirnya Refan kembali ke kamar mandi dan mengambil wudhu.
Setelah itu dia melaksanakan shalat sunah dua rakaat sebelum tidur untuk mendapatkan ketenangan tidur. Baru setelah itu Refan kembali naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya.
Tak lama kemudian Refan pun sudah tertidur nyenyak di samping Kinan. Kinan tersentak ketika mendengar suara Naila menangis.
Dia membuka matanya dan melihat tubuhnya kekar yang sedang memeluknya. Ah tidak... mereka saling berpelukan dan Kinan berada tepat di dada Refan. Rasanya sangat hangat sekali.
Kinan mencoba melepaskan pelukannya dan juga pelukan Refan tapi sayang Refan langsung tersadar. Mata mereka saling tatap dan begitu dekat.
Keduanya sama - sama terkejut dan dengan refleks langsung saling menjauh. Kinan segera turun dari tempat tidur dan mencoba menggedor pintu penghubung antara kamar Refan dengan kamar yang sedang di tempati Mama dan Mama mertuanya.
"Ma.. buka Ma.. biar aku saja yang menggendong Naila" Pinta Kinan.
"Sudah Kinan biasa ini.. Naila cuma haus. Kamu pergi tidur aja lagi" tolak Mama mertuanya.
Kinan berbalik dan kembali menatap Refan, tapi Refan pura - pura tertidur membelakangi Kinan. Tak lama suara tangis Naila berhenti. Mungkin memang benar Naila sedang haus.
Akhirnya Kinan kembali naik ke atas tempat tidur dan mereka tidur saling membelakangi. Tak lama kemudian keduanya sama - sama tertidur lagi.
Sayup - sayup terdengar suara orang mengaji dari pengeras suara mesjid pertanda azhan subuh sebentar lagi akan di kumandangkan.
Refan membuka matanya, begitu dia membuka mata wajah Kinan lah yang pertama dia lihat. Wajah teduh, penuh keibuan dan lembut. Wajah Kinan sedikit tertutup oleh rambutnya.
Tanpa sadar Refan mencoba menyelipkan rambut tersebut di balik telinga Kinan agar dia bisa memandang wajah Kinan dengan leluasa. Nyenyak sekali tidurnya.
Mengapa dulu aku tega sekali menyakiti hati wanita ini? Memang aku akui kalau aku sangat mencintai Renita sehingga aku menutup mataku pada wanita lain. Dengan sengaja aku membuatnya terluka dengan semudah itu membatalkan rencana pernikahan kami. Kalau dulu pernikahan itu terjadi, sudah seperti apa ya rumah tangga kami? Ah... mengapa aku jadi berandai - andai. Batin Refan.
Kinan mulai bergerak, perlahan matanya terbuka. Sontak Refan kembali menutup matanya dan berpura - pura tidur. Kinan menatap wajah teduh suaminya yang sedang terlelap.
"Kalau kamu diam seperti ini kamu tampan sekali Mas. Tapi kalau bibirmu sudah terbuka, sungguh kata - katamu itu sangat menyakitkan hati. Sampai kapan kita akan terus terbelenggu masa lalu. Aku juga sama denganmu, kehilangan suami yang sangat aku cintai. Aku tau bagaimana terlukanya hatimu karena aku juga merasakan hal yang sama. Tapi takdir Allah untuk kita telah ditetapkan Mas. Kini kita sudah menjadi sepasang suami istri. Haruskah kita terus egois mempertahankan perasaan kita dan mengorbankan anak - anak. Haruskah kita terus mempermainkan rumah tangga ini?"...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1