Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 153


__ADS_3

"Saat itu Bima sedang tugas ke Bandung. Biasanya Bima selalu melalui jalan tol tapi karena ada beberapa pekerjaannya yang harus dia pantau ke daerah-daerah sehingga Bima memilih jalur jalan lintas. Mobil Bima masuk ke dalam jurang. Bima mengalami kecelakaan yang sangat parah sehingga polisi memastikan saat itu Bima meninggal di tempat kejadian kecelakaan. Tubuh Bima mengalami benturan yang sangat kuat dan dia mengalami pendarahan yang sangat berat" ungkap Pak Ardianto.


"Apakah saat itu Bima sendirian Pa? Tidak temannya?" tanya Refan.


"Ya Bima hanya sendirian saat itu. Saat itu sudah malam, Papa dan Mama sedang makan malam tiba - tiba dikejutkan dengan telepon Kinan. Dia bertelepon sambil menangis dan mengatakan kalau dia baru mendapat kabar Bima kecelakaan. Kami segera datang ke rumah Kinan dan sama - sama berangkat ke Rumah Sakit" ungkap Pak Ardianto.


"Kondisi tubuh Bima saat di rumah sakit bagaimana Pak? Apakah bisa di kenali?" selidik Refan.


"Bisa, wajahnya bisa dikebali. Di bagian wajah tidak ada luka berat tapi kepalanya yang berdarah dan seluruh badannya" jawab Pak Ardianto berat.


"Pasti Kinan sedih banget ya Pa saat itu?" tanya Refan. Dia juga ikut sedih membayangkan keadaan Kinan pada saat itu.


"Sedih banget, bahkan saat pertama kali Kinan melihat Bima di rumah sakit, Kinan langsung pingsan" jawab Pak Ardianto.


Sangat sakit kehilangan orang yang paling kita sayangi. Refan pernah merasakan saat - saat itu. Saat dia kehilangan istri tercintanya, Renita. Saat itu dia belum mengetahui pengkhianatan Renita sehingga dia sangat terluka saat Renita meninggal. Hanya Naila lah yang saat itu bisa membuatnya kuat.


Mungkin seperti itu juga Kinan, saat dia terluka karena meninggalnya Bima ada Salman yang menguatkannya. Mudah - mudahan saat ini Kinan bisa lebih kuat menerima kenyataan kematian Bima yang sebenarnya karena sekarang ada dirinya di samping Kinan. Itulah doa Refan.


"Mudah - mudahan kita bisa mencari tau siapa pengirim pesan tersebut dan apa maksud dan tujuannya melakukan itu" ujar Refan.


"Papa harap juga begitu. Apa tindakan yang akan kamu ambil?" tanya Pak Ardianto.


"Saya akan menyuruh seseorang untuk mencari informasi nomor tersebut. Kita akan mencari tau siapa pemilik nomor itu. Setelah itu apa hubungannya dengan Bima ataupun Kinan baru setelah itu kita akan melakukan negosiasi, mencoba mendekatinya dan menyakan apa tujuan dia mengirim pesan itu. Apakah itu hanya pesan iseng atau memang ada tujuan tertentu untuk mengirimkan pesan kepada Kinan" jawab Refan.


"Mudah - mudahan tidak ada tujuan buruk dibalik semua ini" ujar Pak Ardianto.


"Aamiin" sambut Refan.


Mereka sudah sampai di rumah. Refan segera masuk ke kamarnya untuk melihat keadaan Kinan. Ternyata Kinan sedang mengaji.


Refan mendengar sesekali Kinan menyeka air matanya. Mungkin Kinan sedang mengirimkan doa untuk Bima. Pikir Refan.


Kinan menyudahi aktivitasnya dan menutup Al-Quran yang ada di tangannya. Refan mendekati Kinan.


"Mengirim doa untuk Bima?" tanya Refan.


Kinan menganggukkan wajahnya kemudian meraih tangan Refan dan menciumnya takjim.


"Iya Mas. Mas aku minta maaf ya" ujar Kinan dengan tatapan merasa bersalah.


"Gak apa - apa yank, Bima kan memang pria yang baik. Dia pernah ada dalam hidup kamu menjaga dan menyayangi kamu. Dia juga Papanya Salman, wajar kalau kamu kirim doa ketika mengenangnya" jawab Refan.


"Terimakasih Mas sudah mengerti keadaanku saat ini" balas Kinan.


"Iya yank, yuk kita siap - siap keluar makan malam bareng Papa dan Mama" ajak Refan.


Dengan sabar Refan memegang dan menuntun Kinan turun dari tempat tidur dan merangkulnya jalan keluar kamar dan ikut bergabung dengan orang tua mereka dan juga Salman.


"Gimana keadaan kamu Nan?" tanya Papa Kinan.

__ADS_1


"Udah baikan kok Pa" jawab Kinan.


"Besok priksa ke dokter ya.. Mama khawatir kamu tadi sempat pingsan" pesan Suci.


"Iya Ma, besok kami memang udah jadwal ke dokter" jawab Kinan.


"Udah empat bulan kan? Udah bisa lihat jenis kelaminnya kalau begitu" sambut Dhisti.


"Iya Ma. Mudah - mudahan adeknya Salman besok gak malu nunjukin jenis kelaminnya" balas Kinan.


"Ma.. Pa.. aku besok ikut ya. Aku mau lihat adek" pinta Salman.


"Iya sayang, besok kita pergi bareng ya" jawab Refan.


"Hore.... aku bisa lihat adeeek" sorak Salman senang.


"Sudah.. makan dulu ya sayang" perintah Kinan.


"Iya Ma" jawab Salman.


Malam ini mereka makan malam bersama walau perasaan mereka sedang gelisah karena peristiwa sore tadi. Setelah makan malam mereka istirahat dengan cepat karena sudah lelah seharian ini di acara syukuran dan doa bersama menyambut kehamilan Kinan.


Kinan dan Refan kini sudah beristirahat di kamar mereka. Refan memeluk istrinya dengan mesra. Tak lupa sesekali dia mengelus perut Kinan.


"Besok Papa bisa melihat kalian sayang.. Jangan malu - malu ya kalau Papa, Mama dan Kakak kamu mau lihat ya sayang - sayangnya Papa" Refan berbicara di dekat perut Kinan.


"Iya Papa" jawab Kinan dengan menirukan suara anak kecil.


Refan tersenyum mendengar suara Kinan yang lucu.


"Kamu pengennya anak kita laki - laki atau perempuan Mas?" tanya Kinan.


"Apa aja yank, yang penting mereka sehat" jawab Refan.


"Pengennya?" desak Kinan.


"Aku sudah punya Salman, anak laki - laki kita. Kalau boleh semoga mereka perempuan ya agar lengkap rumah kita" jawab Refan.


"Aamiin... Yang penting mereka semua sehat" sambut Kinan


Akhirnya Kinan dan Refan memutuskan untuk segera beristirahat dan tidur.


*********


Keesokan harinya.


Refan


Yank siap - siap ya, sebentar lagi aku sampai.

__ADS_1


Kinan


Iya Mas, aku dan Salman udah nunggu dari tadi


Refan


Okey


Refan mengirim pesan saat dia dalam perjalanan menuju rumahnya. Sore ini dia sudah janji dengan Kinan dan Refan untuk pergi ke Dokter kandungan mengecek kandungan Kinan sesuai jadwal.


Tak lama kemudian Refan sudah sampai di rumah. Dia menekan klakson mobilnya sehingga Kinan dan Salman segera keluar rumah dan langsung masuk ke mobil.


"Ma kami pergi ya.. Assalamu'alaikum" ucap Refan dan Kinan.


"Wa'alaikumsala.. Hati - hati ya" jawab Suci.


Mobil melaju menuju ke Rumah Sakit tempat praktek dokter langganan mereka. Sebelumnya Kinan sudah mendaftar sehingga tidak perlu ikut antrian yang cukup lama.


Tak lama setelah mereka sampai di ruang praktek Dokter. Sang perawat langsung memanggil nama Kinan.


"Ibu Kinan Adhisti" panggil sang perawat.


"Ya saya" sahut Kinan.


Dengan bantuan Refan dan Salman yang terus menggenggam tangan Kinan, mereka bertiga masuk ke dalam ruang praktek Dokter.


"Selamat sore.. Gimana kabarnya Bu Kinan? Silahkan duduk" sapa Dokter ramah.


"Sore Dok, alhamdulillah saya sehat" jawab Kinan.


"Tapi kemarin sore istri saya sempat pingsan Dok. Ketepatan kemarin kami mengadakan syukuran kirim doa bersama anak - anak dari panti asuhan. Mungkin istri saya kelelahan" sambut Refan.


"Baik, silahkan naik Bu ke atas tempat tidur biar kita periksa" perintah dokter.


Kinan naik ke atas tempat tidur dan dokter langsung melakukan pemeriksaan.


"Alhamdulillah anak - anak Bapak semuanya sehat dan aktif" ujar Dokter.


"Dok apakah bisa melihat jenis kelamin anak saya yang ada di dalam kandungan?" tanya Refan.


"Bisa - bisa sebentar ya.. " Dokter menggerakkan alat di atas perut ajinan untuk melihat jenis kelaminnya.


"Alhamdulillah kelihatan.. Nah selamat ya Pak.. Bu.. anak kaliaaaaaan..... "


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2