
'Perkenalkan aku Bimo" ucap Bimo sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Romi, Riko dan Bagus para sahabat Aril dan Refan.
Riko, Romi dan Bagus menyambut hangat ukuran tangan Bimo dan membalasnya.
"Riko"
"Romi"
"Bagus, silahkan duduk" ucap Bagus.
Mereka berlima duduk di depan meja yang sama.
"Pelayan" teriak Romi memanggil pelayanan Cafe.
Tak lama kemudian pelayan Cafe datang menghampiri mereka dengan membawa buku daftar menu makanan.
"Silahkan pesan makanan dulu Bim, udah waktunya makan siang kan" perintah Romi.
Bimo dan Aril memesan makanan yang mereka inginkan. Kemudian pelayan tersebut mencatat pesanan Aril dan Bimo.
"Kalian sudah pesan?" tanya Aril.
"Sudah, mungkin sebentar lagi pesanan kami datang" jawab Riko.
"Jadi kamu saudara kembarnya almarhum suami Kinan? Yang katanya penyebab kecelakaan karena salah sasaran?" tanya Bagus.
"Iya, kalian tau ya ceritanya?" tanya Bimo.
"Maaf bukan maksud ingin mencampuri. Saat itu Refan sedang buntu dan bertukar pikiran dengan kami bagaimana cara mengatasi masalah rumah tangganya. Kami sarankan saat itu untuk segera cari pengacara dan laporkan ke polisi" jawab Bagus.
"Yaaah hal itu sudah kami jalankan dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan" ungkap Bimo.
"Syukurlah semoga proses bisa cepat dan semoga pelakunya segera ditemukan" ujar Riko tulus.
"Aamiin... terimakasih atas perhatian kalian" jawab Bimo.
Bimo menatap satu persatu teman - teman Refan. Mereka adalah pria - pria gagah dan mapan. Wajar kalau mereka dulu sempat menjadi mantan playboy seperti yang Aril ceritakan tadi.
Tapi sepertinya mereka semua memang sudah berubah, Bimo bisa melihat mata mereka tidak lagi jelalatan ketika melihat wanita sexy berjalan di hadapan mereka.
"Tadi Aril bercerita sedikit tentang kalian. Katanya kalian membuat kelompok kecil untuk rutin melakukan pengajian?" tanya Bimo.
"Iya, kami sama - sama sedang merubah hidup dan memperbaiki tingkah laku kami yang jauh dari ajaran agama. Kami sepakat membuat jadwal pengajian dan mengundang seorang guru atau ustadz" jawab Bagus yang terlihat lebih dewasa dari yang lainnya.
__ADS_1
"Boleh aku bergabung dengan kalian? Aku juga ingin memperdalam ilmu agamaku, dan menghapus dosa - dosaku dimasa lalu dan membayarnya. Aku dulu sempat murtad tapi alhamdulillah aku kembali dalam agama ini" pinta Bimo.
Sontak tiga pria di hadapan Bimo dan Aril terkejut. Aril menganggukkan kepalanya memberikan kode kalau apa yang dikatakan Bimo memang benar adanya.
"Bo.. boleh silahkan saja. Jika ada seseorang yang mau bersama - sama menuju kebaikan mengapa kami cegah. Bukankan lebih banyak teman lebih baik, sehingga jika kita tanpa sengaja khilaf masih banyak teman yang mau memperingatkan" jawab Riko bijak.
Bimo tersenyum mendengar jawaban Riko.
"Terimakasih kalian bisa menerima keberadaanku di tengah - tengah kalian" ujar Bimo.
"Kita sama - sama masih sedang dalam pencarian.. kami juga sedang mencari ilmu untuk bekal hidup kami di dunia dan akhirat" sambut Romi.
"Nanti kalau jadwal baru sudah terbit kamu akan kami kabari. Tempat dan waktunya segera menyusul. Kita juga sengaja cari ustadz yang berbeda - beda biar gak bosan dan bisa mendapatkan wawasan yang luas" potong Aril.
"Oke aku tunggu. Aku suka punya teman seperti kalian. Bukan hanya teman untuk bersenang - senang tapi juga saudara dalam mencari ilmu agama" ujar Bimo.
Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Dan mereka mulai makan sambil ngobrol santai.
"Kamu pengusaha Bim?" tanya Bagus.
"Iya di bidang perhotelan dan beberapa penginapan di Papua" jawab Bimo.
"Gak punya tambang emas di sana?" tanya Romi.
"Aku kalah modal" jawab Bimo santai.
"Jadi selama kamu disini siapa yang jalani bisnis kamu di sana?" tanya Bagus.
"Ada asistenku dan juga beberapa sahabat" balas Bimo.
"Kamu beneran sedang di kejar dari keluarga almarhum istri kamu?" tanya Riko.
"Yaaah begitulah, padahal seluruh harta istriku yang dia dapatkan dari keluarganya sudah aku kembalikan. Sejak awal aku memang tidak mau memakainya. Aku tidak mau dianggap mencintainya karena hartanya" ungkap Bimo.
"Yaaah mereka gak lihat cinta kamu sampai rela meninggalkan diri kamu yang dulu dan juga keluarga" timpa Riko.
"Begitulah... ternyata jika strata ekonomi terlalu jauh sangat sulit untuk menyatukannya. Pasti akan banyak kekhawatiran atau tuduhan - tuduhan yang tak jelas. Di tambah lagi dengan restu orang tua. Aku ingatkan kalian sejak awal. Jangan menikah tanpa restu orang tua. Sangat sulit untuk membangun rumah tangga seperti itu, contohnya aku. Lagian restu orang tua itu adalah ridho Allah juga kan. Cukuplah aku yang merasakan beratnya hidup tanpa restu orang tua. Hidup seperti sebatang kara" ungkap Bimo.
"Rumah tangga Refan yang pertama juga berakhir mengenaskan tanpa restu orang tua" sambung Bagus.
"Itu juga yang membuat aku saat ini patah hati. Aku tidak tau bagimana cara mendapatkan restu orang tuanya" ungkap Riko.
Semua menatap Riko dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Kamu masih memikirkan Dini Ko?" tanya Aril.
"Yaaah.. jujur aku akui wajahnya sudah lebih dulu mencuri hatiku saat pertama kali bertemu" jawab Riko.
"Ada apa dengan kamu?" tanya Bimo penasaran.
"Kinan mengenalkan Riko dengan adik dari salah satu sahabatnya. Gadis itu bernama Dini. Riko dan Dini sudah sempat menjalani ta'aruf. Sampai Riko berniat untuk melamar Dini pada kedua orang tuanya tapi ternyata orang tua Dini keberatan dengan latar belakang kehidupan Riko. Yaaah you know lah Bim.. kami kan mantan playboy Bim. Papanya Dini khawatir anaknya akan dipermainkan daaaan... Riko mengidap sebuah penyakit karena kebiasan buruknya " jawab Aril.
Riko diam saat Aril membicarakan tentang hidupnya, karena memang benar seperti itulah yang terjadi.
"Lantas apa kamu tetap diam seperti ini?" tanya Bimo.
"Ilmu agamaku masih terlalu dangkal. Masih sangat sedikit, apa yang bisa aku banggakan di hadapan orang tuanya. Rencanaku saat ini aku ingin memperbaiki hidupku dulu. Setelah itu baru aku akan datang kembali di hadapan orang tuanya" ungkap Riko.
"Berapa lama waktunya?" tanya Bimo.
"Aku tidak tau" jawab Riko sambil mengangkat bahunya.
"Kamu yakin Ko Dini masih sendiri saat kamu akan datang kembali melamarnya? Kalau dia sudah keburu di lamar pria lain gimana?" tanya Romi.
"Berarti kami tidak berjodoh" jawab Riko.
"Itu namanya kamu pasrah Ko? Kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus memperjuangkan cinta kamu untuk mendapatkan bidadari surga" sambung Aril.
Riko terdiam.
"Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak percaya diri untuk bertemu dengan Papanya. Kalau dia menanyakan tentang ilmu agamaku aku harus jawab apa? Aku lihat mereka dari keluarga yang mempunyai ilmu agama yang tinggi" ujar Riko.
"Justru karena itu, kalau kamu katakan keluarganya punya ilmu agama yang tinggi harusnya mereka tidak boleh menghakimi kamu seperti itu. Harusnya mereka melihat ketulusan dan keseriusan kamu untuk menikahi Dini. Allah saja mau memaafkan hambanya dan memberi kesempatan kedua buat kamu. Masak mereka tidak? Apa mereka merasa lebih hebat dari Tuhan?" tanya Bagus.
Riko terdiam mencoba mencerna kata - kata teman - temannya.
Aril menepuk bahu Riko.
"Perjuangkan Dini Ko. Kalau kamu kembali dengan membawa yang kamu punya, walau menurut kamu apa yang kamu punya tidak ada apa - apanya di mata keluarganya. Dini pasti akan lebih senang karena melihat kamu benar - benar menginginkannya. Mungkin dia akan membantu kamu dengan doanya" ucap Aril.
"Berjuanglah Riko yakinlah kalau perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Aku yakin Allah akan membantu kamu karena niat kamu menikah adalah untuk membangun rumah tangga yang lebih baik bersama Dini untuk mencari ridho Allah" sambung Bagus.
Bimo tersenyum melihat para lelaki yang bersahabat yang duduk di sekitarnya. Mereka sudah seperti saudara saling memberi semangat untuk yang lainnya. Beruntungnya dia bisa bertemu dengan mereka di kota ini.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG