Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 8


__ADS_3

"Maaf Tante.. aku tidak bisa. Aku tidak mendapatkan sebuah alasan yang membuat aku bisa menerima perjodohan ini?" jawab Kinan.


"Nan banyak kata yang bisa dirangkai untuk menjadi alasannya Nan. Kalian bisa saling menyembuhkan luka atas kelebihan hidup yang kalian jalani. Kalian bisa saling menyokong dan saling membantu untuk melupakan masa lalu. Kalian bisa bekerjasama untuk menyusun masa depan bersama anak - anak kalian. Mereka sama - sama saling membutuhkan Nan. Putri Refan membutuhkan seorang Ibu sedangkan Putra kamu membutuhkan seorang ayah. Tidakkah itu bisa kamu jadikan alasan?" tanya Suci.


Ada rasa sakit yang seperti mencubit bagian dalam hati Kinan.


"Tapi kami sama - sama belum bisa melupakan masa lalu itu Tan, pernikahan butuh satu alasan kuat agar bisa terus berlanjut Tan.. Akan lebih banyak lagi nanti yang akan menjadi korbannya. Anak - anak kami" jawab Kinan.


"Tante sangat yakin kalian bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak - anak kalian. Refa yang sudah lama mengingkan seorang anak, selama ini sangat peduli dan sayang pada anak - anak Nan. Kamu juga penuh kelembutan dan kesabaran dalam membesarkan anak - anak kamu. Tante yakin kalian bisa menjadi orang tua pengganti. Dan kalau kamu bertanya pernikahan butuh alasan yang kuat untuk bisa bertahan. Tante tau apa maksud kamu Nan. Cinta.. Cinta bisa hadir karena keterbiasaan, cinta bisa hadir karena kalian saling membutuhkan dan cinta datang karena sebuah hubungan yaitu pernikahan Kinan. Tante yakin kamu adalah wanita solehah. Yang mana jika sudah di ikat dalam tali pernikahan kamu akan setia, bagi kamu suami adalah ladang ibadah. Mencintai dan melayaninya akan menjadi tujuan hidup kamu setelah menikah Nan" Suci mencoba meyakinkan Kinan.


"Tante... a.. aku sudah memberi keputusan" tolak Kinan.


"Tolong rubah keputusan kamu Kinan. Tante mohon.. Saat ini memang Refan sangat rapuh karena kepergian istrinya untuk selamanya. Dia butuh tempat bersandar yang membuatnya kembali kuat. Tante sadar kalau Tante egois, seolah - olah memaksa kamu demi hidup putra Tante yang pernah melukai perasaan kamu. Tapi kali ini Tante memilih untuk egois Kinan. Tolonglaaaaah" Suci duduk di lantai untuk memohon kepada Kinan.


"Tante jangan seperti ini" Kinan menarik tubuh Suci untuk kembali duduk di atas sofa.


"Tolong Kinan.. maafkan keegoisan Tante. Hanya kamu satu - satunya harapan Tante" ulang Suci.


Kinan berada di dalam dilema. Dia seperti berada di depan dua persimpangan. Bingung untuk menentukan jalan mana yang akan dia tempuh.


Sungguh berat memilih diantara keduanya. Dia tidak tau apa yang ada di depan matanya, bisa saja sesuatu yang indah di depannya belum tentu indah jika dia sudah menjalaninya begitu juga sebaliknya belum tentu apa yang dia lihat buruk akan tetap buruk kedepannya.


Hanya Allah satu - satunya pemilik kehidupan ini. Selayaknya dia berpasrah diri kepada Allah.


Memang sejak perjodohan untuk yang kedua kalinya dimulai dia belum melakukan shalat istikharah. Karena Kinan merasa sangat yakin di awal untuk menolak tawaran perjodohan ini.


Tapi dia benar - benar bimbang kali ini. Apalagi melihat Suci memohon dengan sangat memelas seperti ini. Hati kecil Kinan menolak untuk membalasnya dengan sebuah kata - kata yang menyakitkan


"Tante... maaf kalau aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Sebenarnya aku sudah menolaknya di awal tapi karena Tante melakukan semuanya sampai seperti ini, aku akan mencoba mempertimbangkannya kembali. Tolong kasih waktu aku sampai minggu ini. Aku akan meminta petunjuk dari Allah. Tapi Tante... tolong.. apapun nantinya keputusanku, jangan pernah Tante halangi lagi. Kalau seandainya aku tetap pada pendirianku sebelumnya aku mohon tolong terima dan hargai keputusanku" tegas Kinan.


Suci menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Setidaknya putranya masih mempunyai kesempatan. Semoga Allah berpihak pada Putranya kali ini. Setidaknya cucu kecilnya itu bisa bahagia setelah kehilangan Ibunya. Harapan Suci.


"Terimakasih Kinan, kamu mau mempertimbangkannya keputusan kamu kembali. Setidaknya Refan masih mempunyai kesempatan lagi untuk bahagia dalam hidupnya" ucap Suci.

__ADS_1


Kinan hanya diam mendengar ucapan Suci.


"Kalau begitu Tante pamit ya Nan. Maaf kalau perbuatan Tante membuat kamu jadi merasa sungkan untuk menolaknya. Dan sekali lagi, terimakasih atas segalanya" ucap Suci.


"Sama - sama Tante" jawab Kinan


Suci menjabat tangan Kinan dengan erat kemudian memeluk Kinan dengan hangat setelah itu dia pamit dan pergi dari ruangan Kinan.


Kinan duduk kembali di sofa ruangannya. Lututnya lemas dan rasanya dia tak kuat untuk berdiri lagi.


Dia sungguh tidak menyangka Suci akan berbuat seperti itu, dia kira masalah perjodohan sudah selesai tadi malam tapi ternyata tidak semudah itu. Kini hatinya kembali galau mengingat bagaimana tadi Suci memohon sampai Suci hampir saja berlutut di hadapannya.


Kinan meminum air yang ada di dalam gelas di atas mejanya. Rasanya dia benar - benar sangat dahaga setelah semua yang terjadi.


Setelah kedatangan Suci ke kantornya Kinan jadi tidak konsentrasi bekerja. Akhirnya dia permisi dan pulang cepat dari kantornya.


Saat ini Kinan butuh istirahat untuk mendinginkan kepalanya. Berbagai fikiran - fikiran yang terus terlintas dalam kepalanya.


"Lho Non kok tumben cepat pulangnya?" tanya Bik Ijah saat Kinan sampai di rumahnya.


"Mau Bibik buatkan teh hangat" ucap Bik Ijah menawarkan.


"Boleh Bik" jawab Kinan.


"Mamaaaaa... Mama udah pulang?" Salman berlari dari ruang TV menyambut kedatangan Kinan.


"Sudah sayang.. Anak Mama sudah makan?" tanya Kinan.


"Sudah Mama tadi di suap sama Bik Ijah" jawab Salman.


"Pinter anak Mama" balas Kinan.


Tak lama Bik Ijar sudah kembali dengan membawa secangkir teh hangat dan menghidangkannya untuk Kinan.

__ADS_1


"Makasih ya Bik" ucap Kinan.


"Iya Non" balas Bik Ijah.


"Salman bobok siang yuk" ajak Bik Ijah.


Kinan meminum tehnya sampai kandas.


"Biar aku saja Bik yang menemani Salman tidur. Aku juga pengen istirahat sebentar" ujar Kinan.


"Baik Non" jawab Bik Ijah.


"Yuk sayang bobok sama Mama. Di kamar Mama aja ya, sekalian Mama juga mau bobok juga temani kamu" ajak Kinan.


"Hore.. hari ini bobok sama Mama" teriak Salman senang.


Kinan membawa Salman ke kamarnya. Setelah dia bersih - bersih dan berganti baju, Kinan berbaring di tempat tidur dimana Salman sudah menunggunya dari tadi.


"Sekarang kita bobok ya, jangan lupa baca doa tidur dulu sayang" ucap Kinan mengingatkan putranya.


"Iya Ma" jawab Salman.


Mereka membaca doa mau tidur bersama - sama setelah itu Kinan mulai mengelus punggung Salman sampai Salman tidur dengan nyenyak.


Kinan memandang wajah putranya itu dengan perasaan yang tidak bisa di lukiskan.


Ya Allah apa yang harus aku lakukan untuk membuat masa depan putraku ini kembali sempurna. Apakah aku memang harus menikah dengan Refan sehingga bisa membuat hidup seorang anak yatim dan seorang anak piatu kembali sempurna. Memiliki keluarga yang lengkap tapi bisakah kami bahagia?


Mata Kinan semakin berat, akhirnya dia juga ikut tertidur disamping Salman.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2