
"Eh Mas Refan.. masuk Mas" sambut Kinan.
"Ini aku mau mengantarkan berkas kamu yang tinggal" ujar Refan sambil menyerahkan berkas Kinan yang tadi di berikan Bik Mar kepadanya.
Kinan langsung menyambutnya dan menerimanya.
"Terimakasih ya Mas" jawab Kinan.
"Ketemu lagi ya Mas" ucap Fadlan.
Refan tersenyum membalas sapaan Fadlan. Mereka saling berjabat tangan kembali.
"Aku langsung ya Nan takut telat sampai di kantor. Yuk Fad" ujar Refan.
"Oke Mas" balas Fadlan.
Kinan mengantar Refan sampai ke depan.
"Makasih ya Mas udah repot - repot ngantarin ke kantor. Hati - hati di jalan" jawab Kinan.
"Kan searah dengan arah kantorku jadi sekalian aja aku singgahkan" jawab Refan dingin. Hatinya masih panas dengan apa yang barusan saja dia lihat di ruangan Kinan.
Refan masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi meninggalkan area parkir kantor Kinan. Kinan menatap ke arah mobil Refan sampai mobil itu menghilang.
Perasaan tadi malam dan tadi pagi sebelum aku pergi Mas Refan baik - baik saja. Malah sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Aku kira dia mau menebus kesalahannya tapi ternyata dia tetap saja tak berubah kembali ketus dan dingin. Ucap Kinan dalam hati.
Kinan kembali berjalan menuju ruangannya. Sementara Refan yang masih panas dengan apa yang dia saksikan tadi di ruangan kantor Kinan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih kencang.
Mengapa aku jadi seperti ini? Dulu pada Renita aku tidak pernah merasa seperti ini. Padahal Renita memakai pakaian terbuka dan banyak dekat dengan banyak lelaki.
Tapi dengan Kinan yang melihat dari tampangnya aku sangat yakin kalau dia tidak akan berbuat hal - hal yang aneh di belakangku tapi mengapa hatiku panas melihatnya. Batin Refan.
Sesampainya Refan di kantor dia masih teringat perkataan Kinan tadi malam sebelum mereka tidur.
Nan aku tidak pernah menganggap kamu sebagai patner tidurku. Awalnya jujur aku memang tergoda dengan bentuk tubuhmu. Maklum tiga bulan hidup tanpa seorang istri membuatku harus menahan hasratku. Saat aku berpikir bahwa melakukannya tidak berdosa karena kamu adalah istriku. Bukan pengasuh anakku. Maafkan aku Nan, kalau apa yang aku katakan melukai perasaan kamu membuat kamu merasa rendah di hadapanku. Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai wanita jalan* pemuas nafsuku. Tapi entah mengapa setelah aku melakukannya sekali padamu aku terus merasa dahaga dan ingin terus terpuaskan. Sudah seminggu lebih aku merasa panas dingin karena tidak bisa menyentuh kamu Nan. Menyentuh tubuh istriku yang halal bagiku.
Aku seorang laki - laki Nan yang bisa mengesampingkan hati dengan nafs*. Aku bisa menekan cintaku tapi tidak bisa menahan nafs*ku. Aku sangat tau wanita selalu melakukan apa yang dia lakukan dengan hatinya. Di kepala seorang pria itu berbeda.
Sekretaris Refan masuk ke ruangannya untuk menyampaikan jadwal Refan hari ini.
"Pak saya mau ingatkan kalau nanti malam kita ada pertemuan dengan Bapak Suwiryo. Beliau mengundang istri Bapak juga karena nanti malam beliau juga akan mengajak istrinya turut serta. Kalau tidak salah beliau hadir dalam pesta syukuran pernikahan Bapak yang lalu" ujar sekretaris Refan.
"Baiklah saya akan bilang sama istri saya" jawab Refan.
"Baik kalau begitu saya keluar dulu ya Pak" balas sang sekretaris.
Refan mendapatkan ide untuk membalas rasa bersalah nya pada Kinan sejak tadi malam. Refan segera mengirim pesan ke nomor Kinan.
Refan
Hari ini kamu pulang kerja jam berapa?
__ADS_1
Lima menit Refan menunggu tapi pesannya belum juga di balas. Refan menunggunya dengan resah. Sampai sepuluh menit tidak kunjung mendapatkan balasan. Refan semakin uring - uringan dan tidak konsentrasi bekerja.
Satu jam kemudian ponsel Refan bergetar tanda pesan masuk.
Kinan
Aku usahakan sore sudah sampai rumah. Ada apa Mas?
Refan langsung cepat membalas pesan dari Kinan.
Refan
Nanti malam ada undangan makan dengan client aku dan dia berpesan kalau aku harus membawa istriku serta karena dia juga membawa istrinya. Kamu bisa kan ikut denganku?
Kinan
Jadi karena hal itu kamu baru menganggapku istriku?
Duh Nan, kamu masih marah karena pembicaraan kita tadi malam? Refan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Refan
Kamu kan memang istriku? Kamu mau aku membawa wanita lain dan mengaku kalau dialah istriku sebenarnya?
Kinan
Ya sudah lakukan saja apa mau kamu
Refan
Bukan begitu Nan, kamu kan memang istriku dan beri aku kesempatan untuk merubah diriku.
Kali ini pesan Refan lebih lama di balasnya. Refan menunggunya dengan perasaan campur aduk.
Kinan
Ya sudah nanti malam aku akan ikut.
Yess... akhirnya dia mau. Lihatlah Nan, kali ini aku akan mengenalkan kamu sebagai istriku. Batin Refan.
Refan
Terimakasih
Refan jadi lebih semangat kerja karena mendapatkan moodbooster berupa balasan pesan dari Kinan yang merubah harinya jadi lebih berwarna.
Sore harinya Refan lebih cepat pulang dari kantor. Sebelum dia pulang ke rumah terlebih dahulu Refan singgah di Butik. Awalnya Refan bingung karena Butik yang biasa Renita datangi tidak sesuai dengan busana Kinan. Pakaian Renita dan pakaian Kinan sungguh berbeda.
Refan bertanya kepada sekretarisnya sebelum dia pulang.
"Tolong cari referensi Butik yang menjual busana muslimah?" perintah Refan pada sekretarisnya melalui interkom kantornya
__ADS_1
"Baik Pak, tunggu sebentar" jawab sang Sekretaris.
Tak lama kemudian Sekretaris mengirimkan alamat Butik muslimah yang terkenal di kota itu dan alamatnya juga tak jauh dari kantor mereka. Disinilah Refan sekarang berada.
Refan sudah masuk ke dalam Butik tapi bingung mencari gaun yang sesuai untuk Kinan.
"Tolong carikan aku gaun terbaru dan terbagus di Butik ini" pinta Refan kepada pelayan Butik.
"Tunggu sebentar ya Pak" jawab mereka.
Refan duduk di sofa yang disediakan di ruang tunggu. Tak lama kemudian para pelayan Butik membawa beberapa gaun muslimah kekuatan terbaru Butik mereka.
Ada beberapa pilihan warna tapi karena acaranya malam hari dan dalam acara yang tidak resmi Refan memilih gaun sederhana tetapi terlihat elegan.
Refan tersenyum melihat gaun ini.
"Saya pilih yang ini, bisa sekalian sesuaikan dengan jilbabnya agar istri saya bisa langsung memakainya" ucap Refan.
Refan tersenyum saat dia mengatakan kalau gaun ini untuk istrinya. Yah.. Kinan memang istrinya.
"Baik Pak, kita akan cari jilbab yang sesuai dengan gaun ini" jawab pelayan.
Tak lama kemudian gaun beserta jilbabnya sudah di bungkus rapi. Refan membayarnya dan membawanya ke dalam mobil. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah dia melihat mobil Kinan sudah terparkir di garasi mobilnya. Senyum terbit di sudut bibirnya. Ternyata istrinya itu menepati janjinya untuk pulang lebih awal dari biasanya.
Refan masuk dengan membawa bungkusan gaun yang baru dia beli tadi dan meletakkannya di atas tempat tidur. Tak lama Kinan yang baru selesai memandikan Naila dan Salman di kamar sebelah masuk ke kamar dari pintu penghubung.
"Lho Mas sudah pulang? " tanya Kinan.
"Sudah barusan saja, kamu dari mana?" tanya Refan pura - pura.
"Baru mandiin Naila dan Salman Mas" jawab Kinan. Kinan menyiapkan pakaian ganti untuk Refan dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Kinan melihat bungkusan yang terletak di atas tempat tidur mereka.
"Apa ini Mas?" tanya Kinan penasaran.
"Aku tadi mampir ke Butik langgananku dan membeli gaun untuk kamu pakai nanti malam. Aku tidak mau kamu sampai salah kostum di acara nanti malam" jawab Refan dingin dalam hati dia berharap Kinan menyukai gaun pilihannya.
Kinan membuka bungkusan itu dan mengeluarkan gaun dan jilbab yang ada di dalamnya.
Aku harus bahagia atau bersedih ya di beliin gaun sama Mas Refan seperti ini? Dia beliin aku gaun ini apa dia takut kalau nanti malam penampilanku akan membuatnya malu di hadapan clientnya? tanya Kinan dalam hati.
"Terimakasih ya Mas" jawab Kinan singkat.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG