Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 174


__ADS_3

Malam harinya di rumah Refan dan Kinan, Refan menceritakan tentang Bimo kepada Mamanya dan kedua mertuanya. Setelah selesai makan malam mereka duduk santai di ruang keluarga.


"Pa, Ma.. ada yang aku dan Kinan ingin ceritakan" ujar Refan.


"Tentang apa Fan? Apakah ada perkembangan tentang kecelakaan Bima?" tanya Pak Ardianto.


"Ada Pak, tadi siang Bimo kembaran Bima datang ke kantor Kinan" ungkap Refan.


"Benarkah Nan?" tanya Bu Dhisti terkejut.


"Iya Ma, Mas Bimo bercerita tentang rumah tangganya. Ternyata istrinya Mas Bimo sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan dan keluarganya menyalahkan Mas Bimo atas meninggalnya istrinya dan selama dua tahun ini dia lari dari keluarga istrinya yang terus mengejarnya. Di hari meninggalnya Mas Bima mereka janjian bertemu di Sukabumi dan pada saat itu keluarga dari istri Mas Bimo melihat Mas Bima keluar dari Restoran itu dan mereka salah sasaran. Mereka mengira Mas Bima adalah Mas Bimo dan mereka membunuhnya Ma" Kinan kembali menangis.


Refan segera memegang bahu istrinya agar Kinan lebih tenang.


"Astaghfirullah.. jadi Bima korban salah sasaran?" tanya Suci.


"Ya gak tau juga Ma. Aku belum bisa sepenuhnya percaya dengan semua omongan Bimo. Bisa saja dia pintar membuat kita percaya kalau Bima meninggal karena kecelakaan untuk maksud tertentu. Kita belum mengetahui bagaimana karakter aslinya. Bukankah dia sudah lama tidak diakui sebagai anak di keluarga Bima?" tanya Refan.


"Iya, kamu benar Fan. Kita harus hati - hati kepadanya. Papa takut Kinan dan Salman dalam bahaya" jawab Pak Ardianto.


"Tapi gimana Mas tentang keinginannya bertemu Salman. Bukankah Mas berjanji padanya akan mempertemukan dia dengan Salman?" tanya Kinan.


"Kamu berjanji seperti itu Fan?" tanya Suci tak percaya.


"Iya Ma, saat itu aku merasa dilema. Di satu sisi dia adalah saudara kandung Bima wajar kalau dia ingin bertemu dengan anak dari saudara kandungnya yang sudah meninggal di tambah lagi mereka kan kembar. Wajah mereka sangat mirip, aku pikir tadi saat Salman bertemu dengannya bisa melepas kerinduan Salman pada sosok Bima" ungkap Refan.


Semua terdiam mendengar jawaban Refan.


"Mmm... Fan, lebih baik kita hubungi dulu keluarga Mas Akarsana dan diskusikan hal ini dengan beliau. Bagaimanapun Bimo itu anaknya juga. Dia pasti tau karakter Bimo" nasehat Pak Ardianto.

__ADS_1


"Itulah Pak maksud saya tadi siang. Saya ingin malam ini Kinan kembali menghubungi keluarga almarhum Bima di Surabaya" sambut Refan.


"Ayo Nan coba hubungi lagi Papanya Bima" desak Bu Dhisti.


"Iya Ma, sebentar ya" Kinan segera meraih ponselnya dan mencari nama mantan mertuanya dan segera menghubunginya.


"Assalamu'alaikum Pak" sapa Kinan di awal.


"Wa'alaikumsalam Kinan. Ada apa Nduuuk kamu menghubungi Bapak lagi. Apa ada berita penting?" tanya Pak Akarsana langsung.


"Begini Pak, aku mau cerita kejadian tadi siang di kantor aku" jawab Kinan.


"Ada apa dengan kamu tadi siang?" tanya Pak Akarsana sangat khawatir.


"Tadi siang Mas Bimo menemui saya di kantor" jawab Kinan.


"Apa? Bimo datang ke kantor kamu dan menemui kamu?" tanya pria itu tak percaya.


"Dia cerita apa Nan?" desak Pak Akarsana ingin tau.


"Kemungkinan yang menyebabkan Mas Bima kecelakaan adalah keluarga dari almarhumah istrinya Mas Bimo. Di hari Mas Bima kecelakaan mereka sempat bertemu di Sukabumi. Mas Bimo menduga kalau mereka melihat Mas Bima dan mengira itu adalah Mas Bimo sehingga terjadilah kecelakaan itu" jawab Kinan


"Astaghfirullah... anak itu memang benar - benar.. sudah tidak mau mendengarkan nasehat orang tua sekarang jadi penyebab kematian saudaranya. Puas dia sekarang? Gara - gara dia Bima yang kena getahnya" ucap Pak Akarsana penuh emosi.


"P.. paaak.. Mas Bimo ingin bertemu dengan Salman. Katanya dia ingin bertanggung jawab kepada kami atas kematian Mas Bima" lapor Kinan.


"Mau tanggung jawab apa dia ha? Gara - gara dia ponakannya sudah menjadi anak yatim. Salman kehilangan Papanya karena Dia. Sekarang dia mau bertanggung jawab setelah satu tahun Bima meninggal? Sudah terlambat.. Kamu juga sudah menikah dengan Refan. Sudah ada suami dan Papa untuk Salman yang bisa menjaga dan melindungi kamu dan Salman. Kita tak butuh lagi pertanggungjawabannya" larang Pak Akarsana.


"Tapi aku.. aku ingin sekali mempertemukan Salman dengan Mas Bimo Pak. Mungkin kalau Salman melihat wajah Mas Bimo dia bisa melepaskan kerinduannya pada Mas Bima" ujar Kinan dengan suara bergetar menahan tangis.

__ADS_1


Pak Akarsana terdiam mendengar perkataan Kinan barusan. Tampaknya dia sedang berpikir.


"Tahan dulu Kinan. Balak minta waktu satu minggu. Bapak akan mengurus dan menyelesaikan semua pekerjaan Bapak di sini setelah itu Bapak dan Ibu akan ke sana menemui kalian. Jangan biarkan Bimo dan Salman bertemu dulu. Dan kamu juga sebaiknya hati - hati kepada Bimo. Bimo itu orangnya keras. Kalau dia sudah punya keinginan dia pasti akan berusaha mendapatkannya. Bahkan sampai melepas semua yang dia punya akan dia lakukan. Seperti sepuluh tahun yang lalu dia menikah dengan istrinya. Dia melawan larangan dari Bapak dan tetap menikahi istrinya. Dia rela meninggalkan agama dan keluarganya demi apa yang dia inginkan" tegas Pak Akarsana.


Perkataan Pak Akarsana tadi membuat Kinan merinding. Itu adalah sebuah pesan sekaligus peringatan kepada Kinan agar Kinan lebih berhati - hati menghadapi Bimo.


Seketika ada rasa takut di dalam diri Kinan untuk bertemu dengan Bimo lagi. Mereka tidak tau jelas apa tujuan Bimo muncul dan bertemu dengan mereka. Bisa jadi apa yang Bimo ceritakan hanyalah akal - akalan saja dan dia mempunyai rencana di balik semua ini.


"Iya Pak, aku maksudnya ... kami akan lebih berhati - hati lagi jika bertemu dengan Mas Bimo. Kami tunggu kedatangan Bapak satu minggu lagi ya Pak" jawab Kinan.


"Iya Nan. Kalian baik - baik saja ya.. dan ingat pesan Bapak tadi" ulang Pak Akarsana.


"Baik Pak. Kalau begitu udah dulu ya Pak. Aku akak berdiskusi lagi dengan Mas Refan tentang semua ini" pamit Kinan kepada Bapak Almarhum Bima suami Kinan yang pertama.


"Kalian hati - hati ya. Sampai ketemu minggu depan" balas Pak Akarsana.


"Assalamu'alaikum Pak" Kinan menutup teleponnya.


"Wa'alaikumsalam" jawab dari seberang.


Telepon terputus, Kinan menatap wajah Refan. Refan terlihat juga sedang berpikir keras sama seperti dirinya.


"Bagaimana Mas?" tanya Kinan pada Refan.


Refan menarik nafas panjang.


"Seperti pesan eyangnya Salman. Kita harus berhati - hati kepada Bimo dan tunggu sampai kedatangan mereka dari Surabaya baru setelah itu kita bicarakan lagi bagaimana kita menghadapi Bimo. Untuk sementara lebih baik kita menjauhi dan menjaga jarak dari Bimo. Kita tidak tau apakah dia sudah lepas dari pantauan keluarga almarhumah istrinya. Kalau ternyata dia masih di cari - cari oleh mereka itu artinya kita juga ikut dalam masalah besar. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan Salman" tegas Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2