
Seminggu kemudian...
Laporan Pak Akarsana dan Bimo yang di kawal oleh pengacara Refan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian bekerja sana dengan pihak kepolisian Papua.
Pak Akarsana akan pulang kembali ke Surabaya bersama istri dan putri bungsunya. Mereka pulang dengan menggunakan pesawat yang akan berangkat sekitar jam sebelas pagi.
Setelah sarapan pagi bersama mereka berpamitan dengan keluarga Refan. Aril juga datang pagi - pagi sekali dan sudah janjian akan mengantar Bapak Akarsana beserta keluarganya ke Bandara bareng Bimo.
"Bapak pulang dulu ya Nak Refan, Kinan. Kalau ada kabar terbaru segera kabari Bapak. InsyaAllah setelah Bela wisuda kami akan kembali ke sini sekalian mengantar Bela yang akan bekerja di perusahaan Aril. Terimakasih atas sambutan kalian yang luar biasa kepada kami" ucap Pak Akarsana.
"Aaah Bapak justru kami yang memohon maaf jikalau ada sambutan kami yang kurang berkenan di hati Bapak" sambut Refan.
"Tidak ada Nak Refan. Kamu dan keluarga sangat baik menyambut kedatangan kami. Saya selalu Eyang Salman memohon kepada Nak Refan. Tolong jaga dan didik cucu kami dengan baik ya. Begitu juga dengan menantu kami ah tidak anak kami Kinan. Tolong lindungi mereka" pesan Pak Akarsana sebelum pulang.
"Sudah menjadi kewajiban saya Pak, selalu suami dan Papa bagi Kinan dan Salman. Jangan sungkan untuk datang lagi ke rumah kami ya Pak" jawab Refan.
"Iya kami pastikan kami akan datang lagi ke rumah kalian" balas Pak Akarsana.
"Mo.. Bapak pulang dulu ya. Kamu hati - hati dan tetap waspada. Jangan gegabah dan jangan sampai kamu mencelakakan keluarga Refan" pesan Pak Akarsana kepada putranya.
"Iya Pak. Aku akan selalu waspada dan melindungi semuanya. Bagaimana pun hal ini terjadi kan karena aku asal mulanya" jawab Bimo.
"Le.. jangan tinggalkan shalat ya" pesan Bu Akarsana.
"InsyaAllah Bu" jawab Bimo.
"Mas aku pulang dulu ya. Nanti kalau aku sudah kembali dan bekerja di sini baru kita cari rumah ya buat kita tinggal. Kan gak enak terus - terusan numpang di rumah Mas Refan dan Mbak Kinan" ujar Bela.
"Iya deek" jawab Bimo sambil mengelus puncak kepala adiknya.
"Salman Eyang pulang dulu ya" ucap Pak Akarsana sambil memeluk erat tubuh cucunya.
Sangat berat berpisah dengan cucu satu - satunya ini. Apalagi hanya Salman lah penerus Almarhum putra mereka Bima.
"Hati - hati ya eyang dan jaman lupa datang lagi" jawab Salman.
"Iya sayang" sambut Bu Akarsana sambil bergantian memeluk cucu mereka.
"Nan hati - hati ya, jaga kandungan kamu. Jangan terlalu banyak pikiran. Serahkan saja masalah kecelakaan Bima ini kepada Refan dan Bimo" pesan Bu Akarsana.
__ADS_1
"Iya Bu" jawab Kinan
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan untuk berpamitan. Setelah pamit kepada seluruh keluarga mereka masuk ke dalam mobil Aril.
Mereka sengaja naik ke mobil Aril karena berjaga - jaga dan waspada kalau ada yang mengincar Bimo.
Aril dan Bimo duduk di depan sedangkan Bapak dan Ibu Akarsana juga Bela duduk di belakang.
Mobil keluar dari halaman rumah Refan dan bergerak menuju Bandara.
"Bel kapan wisuda kamu?" tanya Aril.
"Dua minggu lagi Mas" jawab Bela.
"Kamu gak pulang Bim di acara wisudanya Bela?" tanya Aril.
"Belum tau" jawab Bimo.
"Kita berangkat ke Surabaya yuk. Ketepatan dua minggu lagi aku juga akan ke Surabaya lagi ketemu client yang kemarin aku temui di sana. Mau ngelanjutin kerjasama lagi" ajak Aril.
Walau memang benar apa yang Aril katakan tapi tentu saja dia menyesuaikan waktunya ke Surabaya dengan moment wisudanya Bela.
Dia tidak ingin melewatkan hari penting calon bidadari surganya. Pasti Bela akan sangat cantik saat itu.
"Boleh juga Ril. Kalau tidak ada panggilan dari kantor polisi aku akan pulang. Lagian sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Ya kan Bu?" ujar Bimo.
"Iya Nak.. kamu sudah lama sekali tidak pulang. Bulek dan Paklek juga saudara yang lain pasti sangat senang mendengar berita kepulangan kamu" sambut Bu Akarsana.
Bimo tersenyum sambil menatap ke belakang.
Mobil meluncur dengan lancar menuju Bandara. Mungkin karena hari libur jalanan tidak begitu macet sehingga mereka tidak perlu berlama - lama di jalan.
Aril memarkirkan mobilnya tepat di parkiran terminal keberangkatan pesawat Bapak dan Ibu Akarsana. Setelah itu Aril membantu Bela menurunkan koper milik Bapak dan Ibu Akarsana.
"Aku jadi ingat kejadian dua minggu yang lalu saat nurunkan koper ini di rumah Mbak Kinan. Saat itu aku salah menduga siapa kamu" ucap Aril membuka pembicaraan.
Bapak, Ibu Akarsana dan Bimo sudah lebih dahulu jalan di depan meninggalkan Aril Bela yang berjalan di belakang sambil mendorong koper pakaian mereka.
Bela tersenyum mengingat kenangan itu. Jujur saat itu dia juga sangat terkejut ketika Aril mengatakan kalau dia adalah seorang pembantu di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf ya Bel. Aku sudah salah menduga sejak awal pertemuan kita" ungkap Aril.
"Tidak apa Mas, santai aja. Jangan sungkan begitu. Aku sudah menganggapnya sebagai gurauan Mas Aril saja" jawab Bela dengan senyum manisnya.
Duh Beeeel manisnya senyum kamu. Imron kenakalanku mulai berontak ingin keluar. Batin Aril.
"Aku tunggu lamaran kamu dua minggu lagi di kantorku. Aku sudah tidak sabar bekerja dengan gadis cantik yang fresh graduate seperti kamu. Pasti lebih enerjik dan cekatan dari pada sekretaris tua" ujar Aril.
"Tapi yang tua lebih berpengalaman Mas. Aku malah ragu apakah aku bisa bekerja dengan baik atau tidak" sambut Bela.
"Kamu pasti bisa. Aku tau kamu gadis yang pintar. Melihat latar belakang keluarga kamu saja aku sudah bisa menilai cara kerja kamu Bel" jawab Aril.
"Semoga Mas Aril tidak kecewa" balas Bela.
"Nanti saat kamu wisuda aku boleh datang kan?" tanya Aril.
"Kalau Mas Aril tidak sibuk silahkan saja datang. Aku punya banyak teman wanita yang cantik - cantik lho. Kan kata Reni Mas Aril suka lihat yang cantik - cantik" sambut Bela
"Siapa sih pria yang gak suka lihat cewek cantik Bel? Semua pasti suka tapi sekarang aku sudah berubah. Sekarang Mas lebih suka melihat wanita yang cantik dari dalam. Bukan hanya tampilan luarnya saja tapi hati dan imannya juga cantik" jawab Aril.
"Mmm... nanti aku kenalin sama teman aku yang sesuai dengan yang Mas Aril cari ya. Aku punya banyak stok di kampus" jawab Bela sambil bercanda.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan ruang tunggu. Bimo saling berpelukan dengan kedua orang tuanya dan adiknya untuk berpamitan.
"Hati - hati ya Pak, Bu. Bela jaga Bapak dan Ibu kita ya" pesan Bimo pada Bela.
"Oke Mas" jawab Bela ceria.
Aril tersenyum melihat senyuman Bela.
"Nak Aril terimakasih ya udah antarin kami sampai ke sini. Di tunggu kedatangannya dua minggu lagi di Surabaya" ujar Pak Akarsana.
"Iya Pak, sampai ketemu lagi di Surabaya" balas Aril.
Aril dan Bimo melambaikan tangan mereka sambil menatap kepergian Bapak, Ibu Akarsana dan juga Bela.
Tunggu aku dua minggu lagi Bel.. aku pasti sangat merindukan kamu. Teriak batin Aril.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG