
Keesokan harinya.
Reni sangat semangat bekerja dari pagi. Semua pekerjaannya sudah ia selesaikan dengan cepat karena siang ini Reni tak ingin Bimo menunggunya lama di parkiran.
Bimo
Aku sudah sampai di parkiran
Reni
Iya Mas, aku akan segera keluar.
Tepat jam setengah dua belas Reni sudah siap - siap keluar dari ruangannya. Reni meraih ponsel dan tasnya kemudian berjalan menuju pintu keluar kantornya.
"Mau kemana kamu?" tanya Refan yang baru saja masuk ke kantor karena ada pertemuan dengan client diluar.
"Mau makan siang di luar Mas sama teman" jawab Reni sedikit ragu.
"Teman apa teman?" selidik Refan.
"Teman" jawab Reni.
"Tapi temannya sudah tua ya. Malah lebih tua dari umur Mas" sindir Refan.
Reni terkejut sambil ragu - ragu melirik ke arah Reni.
"Ma.. Maaas kok tau?" tanya Reni gugup.
"Tadi Mas bertemu sama teman kamu di depan" jawab Refan.
Byuuur... lutut Reni rasanya lemas. Rencana makan siangnya diketahui oleh Kakaknya.
"Mas.. jangan bilang siapa - siapa ya.. please... " wajah Reni memelas.
"Kenapa kamu takut diketahui orang lain. Kan cuma teman? Katanya cuma temankan?" goda Refan.
"Iya cuma teman, tadi malam Mas Bimo sangat terpukul dan sedih setelah pulang dari kantor polisi kemarin. Jadi aku berusaha memghiburnya trus dia ajak aku makan siang. Udah itu aja, gak ada apa - apa" elak.
"Justru itu ngapain takut diketahui orang lain?" tanya Refan.
"Aku gak mau Bela atau Mas Aril tau, nanti mereka akan membully aku" jawab Reni.
"Kamu kan cuma mau makan siang bareng kan? Sebagai teman? ngapain takut. Kecuali ada sesuatu diantara kalian? Atau kamu ada perasaan lain kali? Makanya takut ketahuan" goda Refan.
"Mas Refaaaaan.. aku cuma mau menghibur Mas Bimo karena sedih mengingat kematian istrinya" ujar Reni.
"Mas dulu juga sempat kehilangan istri, tapi kamu gak segitunya menghibur Mas" jawab Refan.
"Maaaaas.. udah ah. Nanti Mas Bimo kelamaan nunggu. Aku pergi dulu ya Mas" Reni mencium pipi Refan untuk memberi sogokan.
Refan hanya bisa tersenyum menatap kepergian adiknya. Refan bisa mengerti apa yang dirasakan adiknya saat itu. Reni terlihat sangat ceria dan bahagia. Persis seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Seandainya memang Bimo lah kebahagiaan Reni, mungkin Refan akan memberikan restunya.
__ADS_1
Reni setengah berlari keluar dari kantornya dan langsung menghampiri mobil Bimo.
"Maaf ya Mas.. Mas jadi menunggu lagilagi" ucap Reni merasa bersalah.
"Nggak apa - apa Ren. Sudah biasa" jawab Bimo sambil tersenyum tipis.
"Ih tuh kan, nyindir. Tadi waktu aku mau keluar dari kantor, ketemu sama Mas Refan. Di ajak ngobrol sama dia" jawab Reni dengan bibir manyun karena kesal mengingat Refan
"Iya tadi saat aku sampai dia juga baru turun dari mobil sepertinya baru pulang meeting di luar. Sempat ngobrol sebentar" ungkap Bimo.
"Lho udah sempat ngobrol berarti Mas sudah lama sampai kantornya donk?" jawab Reni.
"Setelah selesai ngobrol dengan Refan baru aku hubungi kamu" ujar Bimo.
Bimo mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya keluar dari area gedung kantor Reni.
"Kemana kita makan siang ini?" tanya Bimo.
"Mmm... kita jadi cari menu es krim kan?" tanya Reni.
"Jadi donk" sambut Bimo.
"Kalau begitu kita ke Cafe Latteria Gelato di Ruko Crown Golf, Blok D No. 39, Bukit Golf Mediterania Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara Mas" ajak Reni.
"Kamu aktifkan mapsnya ya, Mas kurang tau jalan di Jakarta ini" ujar Bimo.
"Oke Mas" sambut Reni ceria
Latteria Gelato adalaha salah satu tempat makan es krim di Jakarta ini menawarkan ice cream gelato ala italia, disajikan dalam cup dan isinya sangat banyak hingga menumpuk. Kamu bisa memilih dua varian dalam satu cup sehingga ada kombinasi dua rasa ice cream bisa kamu nikmati dalam satu kali pemesanan. Kelebihan ice cream di sini adalah memiliki butir-butir perasa yang sangat nikmat, misalnya choco chips pada rasa cokelat, esktrak krim mangga, dan taburan buah beri yang melekat pada gelato.
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai di Cafe tersebut.
Bimo menatap sekeliling Cafe itu. Cafenya memang cocok banget untuk para remaja, but it's oke. Bimo merasa nyaman ada di situ.
Sekali - sekali tak apalah aku kembali jadi anak remaja demi nyenangin hati Reni. Dia sudah banyak membantu aku selama ini. Batin Bimo.
"Yuk Mas masuk" ajak Reni.
Bimo mengikuti Reni melangkah masuk ke dalam Cafe dan memilih tempat duduk mereka yang nyaman.
Tak lama pelayan datang membawa buku daftar menu dan memberikannya kepada Reni dan Bimo.
"Mas mau pesan apa?" tanya Reni.
"Apa saja, kamu saja yang pesan. Terserah kamu" jawab Bimo.
"Kalau begitu steak ini ya, dua" Reni menunjuk ke arah sebuah gambar.
"Baik Mbak" pelayan mencatat pesanan Reni.
"Minumnya apa Mas?" tanya Reni lagi kepada Bimo.
"Kopi" jawab Bimo.
__ADS_1
"Kopi yang ini Mbak, saya yang ini" Reni kembali menunjuk ke sebuah gambar.
"Dessertnya Mbak?" tanya pelayan itu.
"Mmm.. dragon fruit dan gandalf the grey.
Gandalf the grey apa aja rasanya?" Tanya Reni.
"Itu campuran dari earl grey tea, sponge cake green tea dan mango coulis, Mbak" jawab pelayan.
"Seperti enak, itu aja deh" pinta Reni.
"Baik, tunggu sebentar ya Mbak, Mas" jawab Pelayan.
Sang pelayan pergi meninggalkan Reni dan Bimo. Reni tampak sangat senang sekali saat ini.
"Kamu sering ke sini?" tanya Bimo.
"Beberapa kali Mas" jawab Reni.
"Bareng?" tanya Bimo.
"Bareng? Oooh... bareng teman - teman aku" jawab Reni segera.
"Oh kirain" sambut Bimo.
"Pacar?" tebak Reni.
Bimo mengangguk.
"Belum sempat jadi pacar cuma naksir - naksir doank, tapi gak jadi. Lama kelamaan cowoknya ngatur. Belum jadi siapa - siapa" ujar Reni.
"Emangnya kalau sudah jadi siapa - siapa bisa ngatur?" tanya Bimo.
"Ya kalau jadi suami bisa donk tapi bukan berarti merubah aku jadi pribadi yang asing. Aku sih pengennya dapat suami yang bisa terima aku apa adanya. Sebaiknya dia tidak mengatur tapi lebih cocok kalau disebut membimbing. Tugas suami kan memang itu. Membimbing istrinya bukan mengatur istri" jawab Reni.
"Sudah pengen di bimbing nih?" goda Bimo.
"Ha.. aku Mas?" tanya Reni bingung.
Bimo tersenyum tipis.
"Iya kamu, siapa lagi? Kan cuma kita berdua yang ada di meja ini?" tanya Bimo segera.
"Yah kalau sudah ketemu yang cocok dan jodohnya sudah datang kenapa nggak? Tujuan akhir wanita kan menikah dan punya keturunan. Sekolah udah, bekerja udah, kejar cita - cita udah. Tinggal yang tadi yang belum" jawab Reni.
Senyum tipis terpancar dari sudut bibir Bimo. Seperti mendengar sebuah kabar gembira. Tiba - tiba saat mereka sedang asik mengobrol, mereka di kejutkan suara seseorang.
"Reni???... Bimo??... kalian ngapain di sini?"
Bimo dan Reni terkejut melihat siapa orang yang menyapa mereka.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG