
"Aku memang pernah mendengar seperti yang kamu katakan tadi dengan Salman. Di dunia ini ada setidaknya lima orang yang mirip dengan wajah kita tapi berbeda dengan kejadian kamu dan Salman. Aku rasa ini bukan satu kebetulan atau halusinasi kalian. Ditambah lagi dengan pesan yang kamu terima kemarin, menurut Mas ada sesuatu dibalik ini semua" ucap Refan.
Kinan kembali duduk di atas tempat tidur.
"Maas.. entah mengapa aku juga berpikiran sama. Hanya saja aku tidak berani berspekulasi atau menyimpulkan sesuatu tapi karena Mas sedang membicarakan hal ini baru aku berani bilang. Beberapa hari ini aku juga berpikir. Apakah benar Mas Bima di bunuh? Setau aku Mas Bima gak punya musuh Mas karena dia selalu baik pada siapapun. Apa tujuan mereka membunuh Mas Bima? Trus siapa pria yang aku dan Salman lihat itu?" tanya Kinan.
"Yank lain kali kalau kamu melihat orang yang mirip Bima katakan padaku, walau aku pernah melihat wajahnya di foto keluarga kalian saat pertama kali dulu datang ke rumah kamu dan Bima tapi aku sudah lupa kembali bagaimana wajahnya" pesan Refan.
"Iya Mas, kalau aku melihat pria itu lagi aku akan mengasih tau Mas" jawab Kinan.
Refan mengelus lembut perut Kinan.
"Bagaimana keadaan anak - anak kita? Kamu gak capek kan tadi banyak jalan?" tanya Refan.
"Alhamdulillah nggak Mas" jawab Kinan.
"Ya sudah kita istirahat yuk. Kamu jangan banyak pikiran. Kasihan anak - anak kita di dalam sini" ujar Refan.
"Iya Mas aku juga sudah ngantuk" balas Kinan.
Akhirnya Kinan kembali berbaring di samping Refan. Refan menarik Kinan masuk dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman sekali.
Tak lama kemudian mata mereka mereduo dan perlahan-lahan tertutup. Kini Refan dan Kinan sudsh tertidur pulas.
*******
Esok harinya seperti biasa Kinan ke kantor diantar oleh Refan. Setelah itu baru Refan melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.
Sesampainya di kantor Refan sudah ada seseorang yang menunggu Refan di dalam ruang kerja Refan. Dia adalah orang suruhan Refan untuk mencari indot mengenai si pengirim pesan ke nomor handphone Kinan kemarin.
"Selamat pagi Pak Refan" ucap Pria itu begitu Refan masuk ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, apa informasi yang kamu temukan?" tanya Refan.
Refan duduk di sofa ruang kerjanya tepat di hadapan pria itu. Sang pria mengeluarkan beberapa kertas bukti penyelidikannya. Pria itu kemudian menyerahkan berkas yang dia bawa.
"Ini Pak, silahkan Bapak baca" ucap pria itu.
Refan menerima kertas yang diberikan pria itu kepadanya kemudian dia membaca satu persatu informasi yang ada di dalamnya.
"Jadi nomor tersebut di duga di daftarkan dengan nama dan alamat yang salah?" tanya Refan.
"Iya Pak, karena kami mengecek nomor NIK untuk mendaftarkan nomor tersebut saat pengaktifan di isi sembarangan. NIKnya tidak terdaftar Pak jadi sulit melacaknya. Alamat yang tertera di situ sudah kami lacak tapi tidak ada orang yang bernama sama di tempat itu. Kami juga sudah lacak lokasi pemakaian nomor tersebut berasal dari kota ini tapi nomornya tidak sering aktif. Sementara nomor itu di pakai hanya pada saat ingin mengirim pesan kepada istri anda saja Pak" jawab pria itu.
Refan menghembuskan nafasnya kesal.
Semuanya jadi sia - sia dan hasilnya nol. Dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang si pengirim pesan itu.
Ya Tuhaaaan.. apa yang harus aku lakukan. Ini sudah mengancam keselamatan istri dan anakku. Juga mengancam keselamatan rumah tanggaku. Apa maksud isi pesan itu dan mengapa orang yang mirip Bima sekarang semakin sering muncul di hadapan Kinan ataupun Salman. Aku sangat takut dia merencanakan sesuatu kepada Kinan dan Salman. Batin Refan.
"Terus pantau nomor tersebut, begitu kamu menemukan titik lokasi dia kembali mengaktifkan nomor tersebut segera lacak tempatnya dan temukan dia. Ada satu lagi yang akan aku perintahkan pada kamu. Tapi saat ini aku belum memiliki fotonya. Nanti kalau aku sudah mendapatkannya akan aku kirim segera kepada kamu. Cari dan lacak dimana kita bisa menemukan orang tersebut " perintah Refan.
"Baik Pak, saya akan menunggu fotonya setelah itu secepatnya saya akan mencari keberadaan orang tersebut" jawab Pria itu sigap.
"Baik, ini untuk kamu dan tunggu perintah saya selanjutnya" Refan memberikan sebuah amplop coklat kepada pria itu.
"Terimakasih Pak. Kalau begitu saya pamit dulu" ucap pria itu.
"Baik, silahkan" balas Refan.
Pria itu berdiri kemudian segera meninggalkan ruang kerja Refan. Refan langsung meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada istrinya.
Refan
__ADS_1
Nan.. bisa kamu kirimkan foto Bima secepatnya?
Kinan
Tunggu sebentar ya Mas
Tak lama kemudian masuk kembali pesan ke handphone Refan. Refan membukanya dan melihatnya. Ternyata Kinan yang mengirim pesan barusan dan isinya berupa foto wajah Bima.
Refan memandangi foto itu dengan seksama dan teliti.
Pria yang tak kalah tampan dan gagah. Aku merasa tubuh dan wajah kami seimbang. Aku tak bisa mengatakan kalau wajahku lebih tampan darinya. Seandainya kamu masih ada, bagaimana bisa aku bersaing dengan kamu. Wajah kamu juga tampan tubuh kamu gagah dan kamu memiliki sifat dewasa dan bisa melindungi Kinan. Di tambah lagi mungkin saat ini Kinan juga masih mencintai kamu. Satu - satunya yang membuat aku menang dari kamu adalah anak yang saat ini aku titipkan di rahim Kinan. Tak mungkin Kinan meninggalkanku dan kembali pada kamu.
Huuuuuufh... Refan menghela nafas panjang.
Untung saja kamu sudah meninggal. Aku yakin pria yang Kinan dan Salman lihat itu bukan kamu. Tapi kalau seandainya pria itu benar - benar hadir di hadapan Kinan dan Salman apakah mereka akan meninggalkanku? Apakah mereka akan tergoda dengan wajahnya yang mirip dengan Bima? Refan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Tidak... tidak.. mengapa aku jadi merasa putus asa seperti ini. Apakah aku harus segera mengungkapkan perasaanku pada Kinan agar aku bisa mengunci hatinya hanya untukku seorang?
Refan mengalami perang batin yang sangat berat. Saat ini dia tau Kinan menyerahkan seluruh hidup dan tubuhnya hanya untuk Refan seorang tapi apakah hatinya juga seperti itu? Apakah Kinan sudah mencintainya? Mencintai Refan yang kini sudah menjadi suami dan ayah dari anak - anak yang Kinan kandung?
Refan merasakan perang batin yang sangat berat. Dia menutup matanya dan membayangkan wajah Kinan. Tanpa Refan sadari air matanya mengalir dari sudut matanya.
Naaaan... aku tidak bisa kehilangan kamu.. aku tidak sanggup Nan. Kamu kini sudah menjadi pemilik hatiku satu - satunya Nan. Mungkin kalau kalian pergi meninggalkan aku, aku akan hancur. Karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk bertahan hidup.
Oh Tuhaaan.. tolong aku kali ini. Tolong jangan biarkan aku sendiri lagi karena aku tidak akan sanggup kali ini Tuhan. Aku benar - benar mencintai Kinan istriku.. Istri yang sangat aku cintai dengan segenap hatiku. Dengarkanlah jeritan hatiku ini. Aku meminta padaMU.
Doa Refan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG