
Keesokan harinya akhirnya Salman, Naila dan Jeta pergi ke Butik milik Aisyah. Sebenarnya Salman dan Naila aja yang mau pergi berdua tapi Jeta merengek dan sibuk mempengaruhi Naila.
Dengan alasan nanti kalau Salman dan Naila bertemu dengan Aisyah. Maka Naila akan menjadi setannya karena dia orang ke tiga. Kalau ada Jeta mereka akan pergi berempat, tidak akan ada yang menjadi setan diantara mereka berempat.
Alasan yang aneh, tapi bukan karena alasan itu akhirnya Salman dan Naila mau mengajak Jeta. Melainkan karena telinga mereka udah panas mendengar rengekan Jeta.
Mereka tiba di Ai - Ai Butik tepat jam makan siang. Saat itu suasana di dalam Butik Aisyah sedang sepi.
"Assalamu'alaikum.. Mbak Aisyahnya ada?" tanya Naila pada salah satu pegawai Butik.
"Ada Mbak di ruangannya" jawab wanita itu.
"Bisa ketemu gak?" Pinta Naila.
"Maaf dengan Mbak siapa ya?" tanya pegawai Ai - Ai Butik.
"Bilang aja Naila adiknya Salman" jawab Naila.
"Baik Mbak, tunggu sebentar ya" balas wanita itu.
Beberapa menit kemudian...
"Assalamu'alaikum.. " sapa Aisyah yang baru keluar dari ruangannya.
"Wa'alaikumsalam. Eh Mbak Aisyah" sambut Naila.
"Waaah sepertinya saya kedatangan pelanggan baru" ujar Aisyah ramah.
Salman hanya bisa diam, dia tidak tau harus berbuat apa.
"Iya Mbak, Kak Salman mau cari baju" ucap Naila.
Salman mendelikkan matanya bulat sempurna ke arah Naila.
"Lho di Butik kami tidak menjual pakaian pria" sambut Aisyah.
"Mau cari baju buat Mama Mbak" potong Naila langsung karena diam - diam Salman udah mencoleknya dari belakang.
"Oo... bisa - bisa. Silahkan dipilih baju yang sesuai dengan Mamanya" perintah Aisyah ramah.
"Tapi aku gak tau baju yang bagaimana Mama suka" ucap Naila.
"Jadi gimana donk?" tanya Aisyah bingung.
"Tunggu sebentar ya Mbak. Aku telepon Mama dulu" jawab Naila.
Salman merasa pembicaraan Naila semakin aneh. Karena tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.
Kenapa jadinya semakin ribet ya... Batin Salman.
Naila meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Mamanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Ma" ucap Naila.
Salman hanya bisa pasrah, karena kini Mamanya sudah ikut dalam sandiwara mereka.
"Mama dimana sekarang? Apa sudah dekat? Ya sudah aku tunggu ya" sambung Naila.
Seketika lutut Salman lemas.
Mati aku, mengapa sekarang Mama ikutan bekerja sama dengan Naila. Dan apa tadi kata Naila? Mama sudah dekat? Itu artinya Mama akan datang ke sini. Ya ampun ada apa dengan mereka? Teriak batin Salman.
"Nah itu Mamaku Mbak Aisyah" Naila menunjuk ke arah pintu dan Kinan terlihat masuk bersama suaminya Refan.
"Mama siniiii" panggil Naila.
Wajah Salman semakin pucat, dia saat ini benar - benar mati gaya, sedangkan Jeta yang berdiri disampingnya tersenyum mengejek dan berbisik disamping Salman.
"Mati kamu Sal" ledek Jeta.
Kinan dan Refan segera menghampiri Naila, Salman dan Jeta. Dengan wajah ramah dan terus tersenyum mereka melirik Aisyah.
"Ma kenalin ini Mbak Aisyah, pemilik Butik ini dan dia teman sekolahnya Kak Salman" ucap Naila memperkenalkan Aisyah kepada kedua orang tuanya.
"Ah iya saya Mamanya Salman dan Naila" sambut Kinan ramah.
"Aisyah Tante" jawab Aisya tak kalah ramah.
"Ketepatan kami lagi jalan dekat sini jadi sekalian singgah. Mau cari gaun untuk acara minggu depan. Naila bilang ada temannya Salman punya butik yang gak jauh dari kantor letaknya. Jadi Tante minta tolong dicarikan. Ternyata Naila gak tau selera Tante" sambut Kinan.
Naila, Kinan dan Aisyah berjalan mengelilingi Butik untuk mencari gaun yang mereka inginkan. Sedangkan Salman, Jet dan Refan duduk di sofa menunggu para wanita.
"Cantik Sal, Papa suka" ucap Refan.
"Papa aja suka apalagi aku" jawab Salman spontan.
"Ehm... " sindir Jeta.
"Mmm.. maksud aku suka di sini Pa. Sofanya empuk, Butiknya sejuk dan nyaman" ucap Salman.
"Ya nyaman donk wong ada pujaan hati di sini" goda Jeta.
"Papa sama Mama ngapain sih ke sini. Aku kan malu datangnya rame - rame gini?" protes Salman.
"Papa dan Mama kan mau lihat calon mantu. Pengen tau aja, gimana sih selera kamu? Ternyata selera anak Papa bagus juga" alasan Refan.
"Iya tapi kan gak perlu ramai - ramai gini? Udah kayak ngantar anak sekolah aja" ujar Salman sedikit kesal.
"Ngambek dia Om" potong Jeta.
"Ini karena Papa dan Mama terlalu bahagia mendengar kalau kamu suka sama cewek. Bangga banget punya anak cowok normal" ucap Refan.
"Wah berarti selama ini kamu abnormal Sal" sindir Jeta.
__ADS_1
"Tapi gak gini juga Pa caranya. Aku kan malu" protes Salman.
"Nggak juga. Cara kita normal dan sah - sah aja. Wajar kok kalau Papa dan Mama ke sini. Alasan Naila bagus banget tadi, siapa yang kasih ide dia seperti itu?" tanya Salman.
"Jeta donk Om" jawab Jeta.
"Ooh jadi tadi kamu merengek termehek - mehek di kantor ternyata semua sandiwara? Begok banget aku di kibulin" ujar Salman kesal pada Jeta.
"Sorry Sal, sengaja untuk mengulur waktu biar Om dan Tante sampai tepat waktu" jawab Jeta.
"Udah.. sekarang kita semua udah di sini. Dinikmati aja, tuh lihat sana si Ai.. Ai.. kamu pinter banget ngadepin Mama dan Naila. Secara mereka berdua kan paling cerewet di rumah, bisa - bisanya si Aisyah buat mereka kalem begitu" ucap Refan sambil menunjuk ketiga wanita yang sedang mereka perhatikan.
Terlihat Aisyah sedang memilihkan gaun untuk Kinan dan juga Naila. Aisyah memberikan sedikit ilmu memilih gaun yang bagus baik model ataupun bahannya. Sepertinya Aisyah memang sangat ahli di bidangnya.
Tak lama kemudian mereka kembali ke bagian depan Butik dengan membawa beberapa potong gaun yang akan dibeli.
"Sudah pilih - pilih gaunnya sayang?" tanya Refan lembut pada istrinya.
"Udah Mas. Aisyah pinter banget pilih gaun untuk aku dan Naila. Naila yang paling tidak suka memakai gaun jadi beli sampai dua lagi" jawab Kinan puas.
"Itu artinya Aisyah pinter banget marketingnya. Gaunnya jadi banyak yang laku. Bagus itu, pantas saja Butiknya bisa sebesar ini" puji Refan.
"Ah Om bisa aja. Saya memang ketepatan kuliah dibidang tata busana. Jadi saya memang suka merancang busana agar yang memakainya terlihat cantik. Sebenarnya Tante dan Naila udah cantik jadi tinggal sedikit polesan gaun - gaun ini sudah membuat mereka sangat cantik" balas Aisyah.
"Ah kamu pinter banget mujinya, Tante jadi terbang nih" potong Kinan tertawa.
Salman sangar senang, sepertinya Mama dan Papa nya setuju dengan pilihannya. Membuat Salman semakin yakin dengan rencananya.
Kinan dan Naila segera membayar gaun - gaun yang mereka beli.
"Eh sudah siang banget nih, aku laper. Makan yuk" ajak Jeta sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Salman.
"Iya Papa juga laper. Kita makan bareng - bareng aja, seru kalau ramai" sambut Refan.
"Baik Pa" jawab Salman.
"Aisyah ayuk makan bareng kami. Tempatnya gak jauh kok dari sini. Anggap saja ucapan terimakasih Tante karena kamu tadi sudah ajari Tante trik - trik memilih gaun" ujar Kinan.
"Duh aaku jadi gak enak Tante" elak Aisyah.
"Udah Ai gak apa - apak kok. Yuk ikut makan bareng kami" ajak Salman penuh harap.
Aisyah sempat berpikir sejenak.
"Baiklah kalau begitu" jawab Aisyah.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1