Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 111


__ADS_3

"Aku mencintainya Ma" ucap Refan.


Suci tersenyum mendengar jawaban putranya.


"Benarkah?" tanya Suci.


"Iya, aku sendiri juga tidak menyangka bisa secepat itu aku mencintainya" jawab Refan.


"Dulu nolak bahkan sampai dua kali, eh gak taunya sekarang bucin" goda Suci.


"Mungkin karena restu Papa dan Mama" balas Refan.


"Ya kamu sendiri gimana ngerasanya?" tanya Suci.


"Dia memang jauh berbeda dengan Renita. Dia membuat aku lebih berharga di rumah. Dia melayaniku dengan sangat baik, penuh kesabaran dan senyuman. Tidak ada keterpaksaan, tidak malas - malasan dan dia tulus. Dia mengajakku untuk hidup lebih baik, lebih dewasa dan bertanggung jawab. Dia juga sering menenangkan pikiranku tidak mau berburuk sangka dan selalu memandang sebuah persoalan dengan positif " jawab Refan dengan wajah bahagia.


"Mama juga lihat kamu sekarang lebih bahagia" sambut Suci.


"Dia membuat aku lebih berwarna Ma dan hidupku lebih lengkap dengan kehadiran Salman dan Naila. Tapi aku gak tau bagaimana kami nanti kalau Naila dibawa sama Papa dan Mama Renita" ujar Refan sendu.


"Mama yakin kalian kuat, untuk pertama - tama kalian pasti akan kehilangan tapi lama kelamaan akan terbiasa lagi" ucap Suci memberi semangat.


"Bagaimana Kinan dan Salman Ma.. Kalau aku dan Kinan kerja, Salman yang selalu bermain dengan Naila. Kinan juga udah sayang banget sama Naila. Tapi dari semua itu, bagaimana nasib Naila. Kemarin sehari aja tinggal di rumah Mama Talita dia udah sakit gimana kalau dia malah di asuh sama Mama Talita?" tanya Refan sedih.


"Naila itu kan cucunya Fan, gak mungkin dia akan menyakiti darah dagingnya sendiri. Apalagi cuma Naila cucunya satu - satunya pasti mereka akan menjaganya dengan sangat baik" jawab Suci.


"Tapi mereka pasti akan memanjakan Naila seperti Renita dulu Ma. Aku gak bisa membayangkan kalau Naila akan mereka didik seperti Renita juga. Oh ya Allah aku jadi merasa berdosa Ma" ujar Refan.


"Itu bukan tanggung jawab kamu lagi. Kamu bukan siapa - siapanya Naila. Serahkan saja sama Allah semuanya, InsyaAllah DIA akan menjaga Naila dan membimbingnya menjadi anak solehah. Do'akan terus Naila nya. Lagian Mama yakin Papa dan Mama Renita pasti akan belajar dari pengalaman mereka. Sebuah pelajaran dan pengalaman akan dibayar sangat mahal kan Fan kalau kita tidak benar - benar hidup di jalan Allah. Beginilah kalau mereka selalu mengajarkan kepada anaknya untuk mengejar dunia. Mama juga sempat merasa bersalah setiap melihat kamu. Kalau saja dulu Mama tetap memaksakan kamu menikah dengan Kinan pasti hidup kamu tidak akan seperti ini Fan" ungkap Suci.


"Tidak ada yang bisa disesali lagi Ma, semua sudah di lalui walau memang terasa sangat berat tapi InsyaAllah Allah menggantinya dengan lebih baik lagi" balas Refan.


Tak lama kemudian Refan dan Suci sampai di rumah Refan. Salman menyambut mereka dengan suka cita tapi Kinan menyambut dengan wajah khawatir dan penasaran.


"Gimana Mas?" tanya Kinan begitu Refan sampai di rumah.


"Kita bicarakan di dalam ya" jawab Refan.


Kinan mencium tangan mertuanya.


"Ma.. silahkan masuk" ajak Kinan.


Suci masuk ke dalam rumah bersama Kinan dan Salman di susul Refan di belakang mereka.


"Naila mana?" tanya Suci.

__ADS_1


"Naila tidur Ma di kamar" jawab Kinan.


Mereka duduk di sofa ruang keluarga.


"Bik tolong bawa Salman bobok di kamar ya, tolong temani dia dulu sampai dia tidur" perintah Kinan pada Bik Nah.


"Baik Non. Yuk Man kita ke kamar " ajak Bik Nah.


Salman masuk ke kamar bersama Bik Nah untuk tidur siang


"Bik tolong buatkan minum ya" Pinta Kinan pada Bik Mar.


"Iya Non" jawab Bik Mar dari arah dapur.


"Jadi gimana Mas?" tanya Kinan sudah tak sabar.


Wajah Refan terlihat kusut. Dia menghela nafas.


"Hasil tesnya sudah keluar" jawab Refan.


"Apa hasilnya Mas?" tanya Kinan penasaran.


"Seperti yang kita duga, Naila bukan anakku" jawab Refan sedih.


"Setelah dari rumah sakit aku dan Mama ke rumah orang tua Renita dan aku menjelaskan semuanya kepada mereka" ungkap Refan.


"Mereka mau menerima?" tanya Kinan.


"Awalnya mereka mengelak terlebih Mamanya Renita tapi aku menunjukkan semua bukti - bukti. Mereka melihat dan membaca semuanya akhirnya mereka percaya dan sangat terkejut. Papa Renita meminta maaf atas semua perlakuan Renita dan... " jawab Refan.


"Dan apa Mas?" tanya Kinan khawatir karena wajah Refan terlihat sedih.


"Dan mereka meminta Naila. Naila akan mereka asuh dengan alasan kalau mereka mempunyai hubungan darah dengan Naila sedangkan kita tidak" sambung Refan.


"Oh ya Allah, Naila.... " sambut Kinan sedih.


Suci mengelus punggung menantunya.


"Ini keputusan yang terbaik Nan. Kalian jadi bisa fokus dengan masa depan rumah tangga kalian tanpa gangguan dan bayang - bayang masa lalu rumah tangga Refan" ujar Suci.


"Tapi Ma.. " potong Kinan.


"Mama tau kalian sudah sangat menyayangi Naila, tapi biarkan dia berada dan di asuh oleh orang yang lebih berhak. Naila masih mempunyai keluarga, masih punya Oma dan Opa dan mungkin nanti dia juga akan bertemu dengan Papa kandungnya" sambung Suci.


Kini gantian Kinan yang menghela nafas.

__ADS_1


"Sudahlah Nan, apa yang Mama katakan benar. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik, kita harus mengikhlaskan Naila pergi dan diasuh oleh Opa dan Omanya. Itu lebih baik, kita juga minggu depan akan pindah, mari kita kita benar - benar buka lembaran baru rumah tangga kita. InsyaAllah nanti Allah akan memberikan pengganti Naila dari rahim kamu" ujar Refan sambil tersenyum lembut.


Kinan meneteskan air matanya.


"Bagaimana kalau nanti Naila besar Mas, apakah dia akan seperti... " ucap Kinan sedih.


"Itu bukan tanggung jawab kita lagi Nan. Biarlah kita serahkan kepada Oma dan Opanya. Terserah mereka mau mendidik Naila seperti apa. Kita do'akan saja semoga yang terbaik. Naila menjadi anak baik, anak soleha" potong Refan.


"Aamiin... " sambut Kinan.


Tak lama Bik Mar datang.


"Bik setelah ini tolong Bibik dan Bik Nah bereskan semua barang - barang Naila. Mulai besok Naila akan di bawa oleh orang tua Renita" perintah Refan.


"Lho kok gitu Den?" tanya Bik Mar bingung.


"Sekarang mereka yang lebih berhak mengurus Naila ketimbang aku Bik. Nanti lambat laun kalian akan tau apa alasannya" jawab Refan.


"Baik Den" jawab Bik Mar.


Bik Mar segera menghampiri Bik Nah di kamar Salman.


"Nah kita di suruh Den Refan membereskan semua barang - barang Naila. Besok Naila akan dijemput oleh Papa dan Mamanya Almarhumah Non Renita" ujar Bik Mar kepada Bik Nah.


"Lho kenapa begitu Mar?" tanya Bik Nah bingung.


"Saat aku bertanya kepada Den Refan dia bilang kalau sekarang orang tuanya Almarhum Non Renita lebih berhak mengurus Naila" jawab Bik Mar.


"Oh ya Tuhaaan.. berarti apa yang aku dengar benar Mar" sambut Bik Nah.


Dia menutup mulutnya karena tak percaya dan wajahnya terlihat sedih.


"Apa Nah? Apa yang sudah kamu dengar?" tanya Bik Mar penasaran.


"Aku kemarin tanpa sengaja mendengar pembicaraan Non Kinan dan Refan. Mereka mengkhawatirkan kalau Naila itu ternyata bukan anaknya Den Refan. Kalau Den Refan bilang seperti itu kepada kamu berarti benar, Naila bukan anak Den Refan sehingga Orang tua Almarhumah Non Renita lebih berhak mengurus Naila" jawab Bik Nah.


"Kok bisa begitu? Mengapa Naila bukan anak Den Refan? Apa itu artinya.... " tanya Bik Mar.


"Almarhumah Non Renita selingkuh dengan pria lain"...


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2