
"Lho Mas kalian mau kemana? Sepertinya mau bepergian jauh?" tanya Reni yang baru saja sampai di rumah Refan dan baru pulang dari kantor
"Kami mau ke Surabaya" jawab Aril.
"Semuanya?" tanya Reni.
"Cuma aku dan Bimo" jawab Aril.
"Ngapain? Kan masalah kecelakaan Almarhum Mas Bima di sini bukannya di Surabaya" tanya Reni penasaran.
"Aku ada urusan kantor seminggu di sana sedangkan Bimo besok mau menghadiri wisudanya Bela jadi kami bareng berangkatnya" jawab Aril.
Reni mengecilkan matanya menatap Aril, dia mencium maksud terselubung Aril ke Surabaya.
"Ssst... " Aril memberi kode dari jauh.
Untung aja Reni lagi gak iseng dan mau diajak kerjasama saat itu. Reni langsung diam dan tidak banyak bertanya lagi.
"Dek Reni mau ikut? besok kan weekend. Bela pasti senang kalau Dek Reni datang?" ajak Bimo.
Aril dan Refan saling lirik.
"Mmm... gimana yaaaa" Reni tampak sedang berpikir.
"Udah Ren, yuk ikut bareng kami. Kita kan perginya bertiga pasti Refan kasih izin kamu ikut" sambut Aril.
"Jam berapa berangkatnya?" tanya Reni.
"Pesawat jam delapan malam" jawab Aril.
Reni menatap Refan dengan tatapan bertanya.
"Boleh Mas?" tanya Reni kepada Refan.
"Kamu kan sudah dewasa.. ya terserah kamu. Lagian juga perginya gak berdua aja. Silahkan saja kalau kamu mau" jawab Refan.
"Mmm... baik deh, hitung - hitung liburan dan menghadiri Bela wisuda. Mas aku cuti seminggu aja deh kalau begitu" ujar Reni.
"Ya sudah nanti Mas bilang ke bagian HRD. Enak banget ya anak magang pakai istilah cuti" sindir Refan.
"Tuh kan Maaaas... tadi dukung aku, sekarang malah buat aku serba salah" protes Reni.
"Iya.. iya... kamu gak cuti tapi permisi aja. Anak magang mana ada jatah cuti" balas Refan.
"Siap Bos" Reni mengangkat tangannya memberi hormat kepada Refan.
__ADS_1
Aril, Refan dan Bimo tersenyum melihat sikap Reni.
"Aku pamit sama Mama dan Mbak Kinan dulu ya dan langsung siap - siap" ujar Reni.
Reni langsung bergegas ke kamarnya dan menyusun beberapa pakaiannya selama seminggu di Surabaya.
"Kamu mau kemana Ren, kok nyusunin baju ke dalam koper?" tanya Bu Suci.
"Aku mau ke Surabaya Ma" jawab Reni.
"Ngapain? Sama siapa?" tanya Bu Suci bingung.
"Mau jalan - jalan sekalian besok wisudanya Bela. Aku pergi sama Mas Aril dan Mas Bimo. Mas Refan dah kasih izin kok Ma" jawab Reni.
"Hati - hati Ren, Mama khawatir kalau kamu deket - deket sama Bimo. Nanti bisa kena serangan salah sasaran lagi dari keluarga almarhum istrinya Bimo. Bisa saja kan mereka mengira kamu dan Bimo ada sesuatu makanya Bimo dituduh mereka membunuh istrinya. Ih Mama kok seraaam bayanginnya " pesan Bu Suci.
"Kami kan gak pergi berdua Ma, ada Mas Aril juga. Lagian aku gak akan dekat - dekat Mas Bimo. Aku deketnya sama Mas Aril aja deh" ujar Reni.
"Tapi sama Aril juga jangan terlalu dekat. Dia kan playboy, nanti kamu kena rayuan gombalnya bisa bahaya" ungkap Bu Suci.
"Mamaaa... Mamaaa... dekat Mas Bimo gak boleh, dekat Mas Aril juga gak boleh. Kalau begitu aku boleh dekat sama siapa aja? Ma.. aku kan sudah besar, sudah dewasa. Bahkan sudah pantas waktunya aku menikah. Mama do'ain aja ya semoga secepatnya aku dapat jodoh yang bisa membimbingku dunia dan akhirat " jawab Reni.
"Aamiin.. iya sayang. Yang penting kamu harus selalu waspada kepada mereka" ujar Bu Suci mengingatkan.
"Iya Mam... " Reni melanjutkan menyusun pakaiannya di dalam koper.
"Lho Ren mau kemana?" tanya Kinan heran melihat adik iparnya bawa koper keluar dari kamar.
"Anu Mbak, mau ikut sama Mas Aril dan Mas Bimo ke Surabaya. Bela besok wisuda jadi mau ketemu dia sekalian liburan" jawab Reni senang.
"Eh iya ya, Mbak lupa kalau besok Bela wisuda. Titip salam untuk Bela. Semoga ilmu yang di dapat barokah" sambut Kinan.
Kini mereka sudah sampai di ruang tamu bergabung bersama Refan, Aril, Bimo, Pak Ardianto dan Bu Dhisti.
"Lho Reni mau ikutan juga rupanya" ujar Bu Dhisti.
"Iya Tante hehehe.. sekalian liburan" jawab Reni.
"Iya gak apa deh sekali - sekali. Toh kan masih magang. Lagian perusahaan Kakak sendiri kok pasti langsung di kasih izin sama pemilik perusahaannya" ucap Bu Dhisti tersenyum.
"Ril, Bim.. Tanter titip Reni ya. Tolong di jagain anak gadis Tante paling bontot" ujar Bu Suci kepada Aril dan Bimo.
"Iya Tante, tenang aja pasti aku jagain kok" jawab Aril.
"Jangan digodain terus. Malu ah di rumah Mas dan Mbak yu Akarsana, kalian bertengkar terus" pesan Bu Suci.
__ADS_1
"Nggak akan tante. Kami udah baikan kok. Malah sudah saling dukung sekarang" balas Aril sambil mengedipkan matanya kearah Reni.
Cih.. pasti minta dukungan buat deketin Bela. Batin Reni.
"Ya sudah kalian cepat berangkat, nanti kejebak macet bisa ketinggalan pesawat" perintah Refan.
"Iya iya.. sini Ren koper kamu Mas bawakan" pinta Aril.
"Makasih Mas Aril" sambut Reni senang.
Reni memberikan kopernya ke tangan Aril kemudian dia berpamitan kepada semua yang ada di rumah untuk pergi ke Surabaya bersama Aril dan Bimo.
Setelah mereka saling berpelukan dan berpamitan, Aril, Bimo dan Reni keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil Aril.
Mobil langsung meluncur menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
"Ren kirimkan fotocopy KTP kamu biar Mas pintar sekretaris Mas pesankan tiket kamu" pinta Aril.
"Oke Mas" jawab Reni.
Reni segera membuka ponselnya dan mengirimkan foto copy KTPnya ke nomor Aril. Aril segera menghubungi sekretarisnya.
"Maya tolong pesankan satu tiket lagi ke Surabaya. Penerbangan yang sama dengan punya saya dan teman saya Bimo. Barusan saya kirimkan ke kamu foto copy KTPnya" perintah Aril lewat telepon.
"Baik Pak" jawab sekretaris tanggap.
"Ih sadis amat Pak Bos, sekretaris lagi hamil besar masih di suruh kerja" oceh Reni dari arah belakang.
"Dia sudah pulang dari tadi Reni... Dia kan bisa pesan tiket kamu dari rumah. Udah kamu tenang aja duduk diam di belakang. Tinggal duduk manis aja susah. Nih Bim yang buat aku gak bisa nahan emosi untuk bertengkar dengan setan kecil ini. Adaaaa aja komentarnya" curhat Aril ke Bimo.
"Cih ngadu minta dukungan" oceh Reni di belakang.
Bimo tersenyum melihat tingkah dua orang yang bersamanya di dalam mobil.
Mereka memang tak pernah akur tapi suasana jadi rame karena ada Reni di sini. Coba kalau aku dan Aril saja berdua yang pergi pasti gak seseru ini. Batin Bimo.
Bimo memperhatikan wajah Reni dari balik kaca spion mobil. Terlihat Reni sangat senang diajak pergi ke Surabaya. Wajah belia khas anak remaja yang senang kalau diajak liburan dan jalan - jalan seperti ini. Bela adiknya juga tak jauh beda dengan Reni.
Tapi Bela kan adik kandungnya sedangkan Reni adiknya Refan tapi mengapa lama kelamaan Bimo mulai suka memperhatikan sikap maupun perubahan wajah Reni entah itu saat sedang bertengkar dengan Aril atau saat sedang diam seperti ini sambil tersenyum kesenangan karena sebentar lagi akan liburan.
Bimo merasa ada yang aneh dengan dirinya tapi sudahlah... dia tidak mau terlalu jauh memikirkannya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG