
"Nan aku sudah dengar cerita tentang almarhumah Renita. Katanya Naila bukan anaknya Refan dan saat ini Naila sudah di asuh sama Papa dan Mamanya almarhumah Renita ya?" tanya Ayu.
Kinan menganggukkan kepalanya di hadapan Ayu istri Bagus.
"Benar Yu, rasanya sedih sekali saat berpisah dengan Naila kemarin" jawab Kinan.
"Kamu baik sekali Nan, walau Naila bukan anak kamu. Kalau aku gimana ya... Apalagi saat tau Naila itu anak Renita dari hasil perselingkuhan.. Aku benar - benar tidak menyangka Renita bisa berbuat seperti itu kepada Refan" ujar Ayu.
"Naila itu tidak salah Yu, justru aku kasihan melihat nasibnya. Dia hanya korban keegoisan dan bujuk rayu setan Papa dan Mama kandungnya yang berbuat salah hingga dia terlahir ke dunia ini. Seandainya kita coba yang jadi Naila, kita juga gak akan mau kan dilahirkan seperti itu. Bayangin coba nanti saat Naila besar dia akan bertanya siapa Papa dan Mamanya dan seandainya dia tau bagaimana kisah hidupnya sampai dia ada di dunia ini. Dia pasti sangat sedih sekali" ungkap Kinan sedih.
Ayu terdiam mencerna semua perkataan Kinan.
"Iya juga ya Nan.. aku hanya emosi mendengar cerita Renita mengkhianati Refan. Padahal kami semua tau lho bagaimana Refan yang sangat mencintai Renita. Tega - teganya Renita bermain serong di belakang Refan" sambut Ayu.
"Sudahlah Yu.. Renita sudah meninggal, tak baik kita menceritai orang yang sudah tiada. Semoga Allah mengampunkan semua dosa - dosanya dan dia juga tenang di sana. Semua sudah berakhir, aku dan Mas Refan memutuskan untuk memulai hidup yang benar - benar baru dan meninggalkan masa lalu. Kami sekarang sudah pindah rumah. Rumah lamanya Mas Refan akan dijual dan akan di waqafkan atas nama Renita. Mas Refan merasa bertanggungjawab kepada Renita sebagai seorang suami. Bagaimanapun dulu Renita adalah istri yang sangat dia cintai " ujar Kinan.
"Kalian hebat ya.. benar- benar hebat. Terlebih Mas Refan, masih bisa berpikiran seperti itu padahal dia sudah jelas - jelas tersakiti tapi masih memikirkan nasib Renita di sana" puji Ayu.
"Tak ada gunanya marah dang mengumpat orang yang sudah meninggal. Yang ada kita yang rugi terus larut dalam dendam yang tidak akan berkesudahan. Lebih baik ikhlas dan memaafkan pasti hidup akan lebih tenang" jawab Kinan.
"Eh kalian sekarang tinggal dimana?" tanya Ayu.
"Kami pindah di Perumahan Permata Abadi" jawab Kinan.
"Waah itu perumahan mewah Nan, setau aku rumah di komplek itu besar - besar dan ukuran tananya juga luas" sambut Ayu.
Kinan membalas ucapan Ayu dengan senyuman.
"Alhamdulillah Yu, semuanya Mas Refan yang ngatur. Aku hanya tinggal ikut saja kemanapun Mas Refan membawa kami. Kata Mas Refan dari situ sangat dekat ke kantor aku. Lumayanlah apalagi saat ini aku sedang hamil. Jadi gak terlalu capek juga kan kalau jarak rumah dan kantor berdekatan jaraknya " ujar Kinan.
__ADS_1
"Kamu hamil Nan?" tanya Ayu terkejut.
"Iya Yu, alhamdulillah Allah memberikan rezeki yang sangat besar kepada keluarga kami. Alhamdulillah anak yang ada di kandungan aku kembar. InsyaAllah sehat - sehat sampai lahiran" jawab Kinan.
"Aamiin... Selamat ya Nan. Mungkin karena kalian tulus menyayangi Naila, Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Wah pasti Mas Refan senang sekali ya saat mengetahui bakal dapat anak kembar. Pasti dia sangat protek sama kamu Nan. Dulu aja pas Renita hamil dia perhatian banget. Apalagi sekarang setelah dia tau anaknya Renita bukan anak dia. Mas Refan sudah lama sekali pengen punya anak dan sekali punya anak langsung dua, pasti dia sangat senang" ujar Ayu.
"Iya Yu, Alhamdulillah sekali.. Mas Refan sangat senang. Dia juga sangat perhatian dan protek, bahkan rela - relain dia yang ngidam dan mabuk darat" balas Kinan sambil tertawa.
"Benarkah.. itu karena Mas Refan cinta banget sama kamu Nan. Kata orang gitu lho.. kalau istrinya yang hamil suaminya yang ngidam itu karena lebih besar perasaan cinta suaminya dari pada istrinya" oceh Ayu.
"Aamiin.. " sambut Kinan. Kinan tersenyum mendengar ucapan Ayu.
Benarkah Yu apa yang kamu katakan? Saat ini aku tidak tau bagaimana sebenarnya perasaan Mas Refan padaku. Karena dia tidak pernah mengatakannya kepadaku. Yang aku tau memang hubungan kami sekarang sudah lebih meningkat dari seorang teman menjadi pacar. Tapi apakah dia memang sudah mencintaiku? Batin Kinan.
Kinan melirik ke arah Refan dan ternyata Refan juga sedang melirik ke arahnya. Sesaat mereka saling tatap dan Refan tersenyum sangat manis kepada Kinan.
"Kapan - kapan undang kami donk ke rumah kalian. Kami kan belum pernah datang dan melihat rumah kalian yang sekarang?" pinta Ayu.
"Gak perlu repot - repot Nan, kamu kan lagi hamil sekarang. Apalagi anak kamu kembar jangan terlalu lasak dan capek Nan. Ingat keadaan kamu sekarang" cegah Ayu.
"Hahaha... gak apa - apa kok. Nanti aku cari menu makanan yang simple buatnya tapi tetap enak" balas Kinan.
Bagus, Refan dan teman - teman yang lain masuk ke dalam ruang keluarga. Sebelumnya mereka asik ngobrol sambil merokok di teras belakang rumah Bagus.
"Makan yuk.. udah selesai kan ngasapnya?" ajak Ayu.
"Udaaah... Yuk " sambut Bagus.
"Yang banyak makannya ya Nan, kata Refan kamu lagi hamil anak kembar ya" ujar Aril.
__ADS_1
"Alhamdulillah iya.. " jawab Kinan tersenyum.
"Mas Refan gak mual kan makan makanan yang aku sajikan?" tanya Ayu.
"Kenapa kamu malah bertanya pada Refan yank, harusnya pertanyaan itu kamu katakan kepada Kinan. Kan Kinan yang sedang hamil muda?" tanya Bagus kepada istrinya.
"Karena Kinan bilang yang mabuk itu Mas Refan, Maaaas" jawab Ayu.
"Benar bro?" tanya Romi sambil menyenggol lengan Refan.
Refan tersenyum sambil mengangguk.
"Benar, ternyata kata Mamaku ini mungkin turunan dari Papa. Dulu waktu Mama hamil Papaku juga seperti itu. Dia yang mual dan muntah - muntah" jawab Refan.
"Wah hahaha... kasihan banget nasib kamu bro" sindir Aril.
"Gak apa - apa bro, justru aku sangat bersyukur Allah membuat aku seperti ini. Coba bayangin kalau Kinan yang mabuk gak bisa makan enak. Sementara anakku di dalam ada dua, mereka gak bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup kan karena Kinan muntah - muntah terus. Saatnya bagi tugas bro, Kinan yang hamil biar aku yang mabuk darat. Aku rela dan ikhlas asalkan anak - anakku dan juga istriku sehat terus" ungkap Refan bangga.
"Ciee.. yang bucin.. apa aja deeeh akan dilakakuan" sindir Romi.
"Haha... " Refan hanya bisa tertawa mendengar ledekan teman - temannya.
Mereka menikmati makan siang bersama di rumah Bagus. Hidangan sederhana tapi mampu mempererat silaturahmi diantara mereka.
Suasana seperti ini terkadang sangat penting asal yang dibicarakan semuanya tentang kebaikan dan saling mengingatkan untuk melakukan hal - hal yang lebih baik. Dari pada hanya bergibah dan bergosip yang ada malah menambah dosa.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG