Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 214


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Reni dan Aril berada di Surabaya. Kalau Aril sedang pergi karena urusan bisnis, Bimo dan Bela membawa Reni berjalan - jalan keliling kota Surabaya.


Sudah seminggu juga Bapak dan Ibu Akarsana memperhatikan pribadi Reni. Mereka sangat senang dengan sikap Reni yang sopan dan baik juga solehah. Mereka juga memperhatikan bagaimana hubungan Reni dengan Bimo.


Sesekali mereka mendengar Aril dan Bela suka menggoda keduanya hingga Reni dan Bimo tersenyum malu bahkan wajah Reni sampai merah merona.


Bapak dan Ibu Akarsana sangat senang melihat putra mereka sepertinya mempunyai perhatian khusus kepada Reni walau memang tidak begitu kentara tapi mereka bisa merasakannya.


Malam ini Bela dan Ela janjian untuk membawa Reni keliling kota. Di rumah hanya tinggal Bimo dan Bapak juga Ibu Akarsana. Sedangkan Aril belum pulang dari urusan bisnisnya.


Saat ini Bapak, Ibu Akarsana dan Bimo sedang duduk santai di ruang TV sambil ditemani pisang rebus dan kopi favorit Bapak Akarsana.


Pak Akarsana sedang menikmati kopinya sedangkan Bimo seperti biasa kalau dia punya waktu senggang dia akan memijit kaki Ibunya. Inilah hal yang paling dirindukan Bu Akarsana kepada putranya ini.


Bimo selalu mempunyai tempat khusus di hati Ibunya. Bimo yang paling dekat dengan Ibunya. Oleh karena itu kepergian Bimo yang lalu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Bu Akarsana.


Tapi kini semua sudah berlalu, keluarga mereka saat ini sudah berkumpul kembali, walau tidak akan pernah lengkap lagi karena Bima sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.


Bu Akarsana menatap putranya yang sedang asik memijit kakinya.


"Le... apa kamu ingin terus seperti ini?" tanya Bu Akarsana dengan hati - hati.


"Terus seperti ini bagaimana maksud Ibu?" Tanya Bimo tak mengerti.


"Maksud Ibu, istri kamu kan sudah meninggal. Kamu juga sudah kembali kepada agama dan keluarga kita. Usia kamu semakin bertambah. Apa kamu akan terus menjalani hidup kamu seperti ini? Seperti tidak punya arah dan tujuan hidup?" tanya Bu Akarsana.


Bimo terdiam mendengar pertanyaan Ibunya.


"Moo... Kini hanya tinggal kamu anak Bapak laki - laki satu - satunya. Benar memang Bapak udah mempunyai cucu laki - laki dari anak laki - laki Bapak. Memang Bapak sudah punya penerus keluarga tapi apakah hanya Salman saja penerus keluarga kita? Kalau Bela menikah nanti dia akan dibawa oleh suaminya kelak dan garis keturunannya akan ikut kepada suaminya. Setelah kamu pulang dan kembali lagi, terus terang Bapak dan Ibu mempunyai harapan baru untuk cucu - cucu kami nanti. Dan harapan kami hanya tinggal kepada kamu nak" ungkap Pak Akarsana.


Bimo sangat mengerti kemana arah tujuan pembicaraan Bapak dan Ibunya. Mereka pasti akan bertanya masalah menikah dan berumah tangga.


"Apa kamu tidak ingin menikah lagi le?" tanya Bu Akarsana.


Bimo menghentikan sesaat pijitannya di kaki Ibunya.


"Ya kalau ketemu yang cocok, mungkin aku akan menikah lagi Bu" jawab Bimo hati - hati lalu melanjutkan pijitannya.

__ADS_1


"Kalau kami menemukan calon yang cocok untuk kamu gimana?" selidik Bu Akarsana.


"Ya silahkan Bu, siapa tau calon yang kalian tawarkan cocok denganku. Gak ada salahnya kan?" balas Bimo.


"Mmm... kalau Reni gimana le?" tanya Bu Akarsana lagi.


Kembali Bimo menghentikan kegiatannya.


"Dek Reni jauh Bu usianya di bawah aku" elak Bimo.


"Ya gak masalah toh.. Tidak ada patokan usia dalam pernikahan. Kalau jodoh pasti akan nyambung Lee... " ujar Bu Akarsana.


"Dia masih gadis Bu, sedangkan aku sudah duda" balas Bimo.


"Kenapa emangnya kalau kamu duda? Kamu juga dudanya masih keren" potong Pak Akarsana.


"Hahaha Bapak bisa aja. Dek Reni itu masih muda, cantik, pintar, baik dan solehah. Pasti banyak Pak pria - pria di luar sana yang suka sama dia" elak Bimo lagi.


"Apa kamu gak mau menjadi salah satu pria yang ada di luar sana yang juga menyukainya?" tanya Pak Akarsana.


"Aku pria nakal yang penuh masalah Pak. Urusanku dengan mantan mertuaku saja belum selesai. Malah bisa dibilang hubungannya sangat membahayakan. Aku takut kalau aku dekat dengan seorang gadis mereka akan berpikiran macam - macam Pak. Dan mengaitkannya dengan kematian almarhum istriku" jawab Bimo.


"Tapi istri kamu kan sudah lama meninggal" balas Pak Akarsana.


"Pak kalau sudah salah dimata orang sulit sekali merubahnya menjadi benar. Mereka sudah membenciku dan menuduhku membunuh istriku karena menginginkan hartanya. Sekarang mereka dengar aku dekat dengan seorang gadis, aku takut mereka berpikir kalau aku memang sudah merencanakan semua ini. Satu lagi, aku tidak mau gadis itu juga terancam nyawanya Pak. Cukup aku dan Almarhum Bima saja yang jadi korbannya. Lagian Reni kan berasal dari keluarga yang baik dan mereka adalah keluarga Kinan sekarang. Aku tidak mau merusaknya" ungkap Bimo.


"Apa yang kamu rusak Mo? Mereka kan sudah tau masalah kamu? Mereka sudah mengenal kamu? Bapak rasa kita bisa meminta bantuan Kinan untuk meyakinkan keluarga mereka?" tanya Pak Akarsana.


Bimo menarik nafas panjang.


"Atau kamu gak tertarik dengan Reni? Sehingga kamu membuat alasan seperti ini?" tanya Pak Akarsana.


"Seperti yang aku bilang tadi Pak, dia gadis yang cantik, pintar, baik dan solehah. Sulit untuk menolak pesonanya" jawab Bimo.


"Nanti keburu di rebut Nak Aril lho le" potong Bu Akarsana.


Bimo tersenyum ketika mendengar ucapan Ibunya.

__ADS_1


"Aril sudah menganggap Reni sebagai adiknya sendiri Bu. Dia sudah mengenal Reni sejak Reni kecil. Lagian Aril menyukai gadis lain" jawab Bimo sambil tersenyum.


"Aaah syukurlah, Ibu takut sekali mereka punya hubungan khusus. Lihatlah Aril datang ke sini aja sampai Reninya ikut" ujar Bu Akarsana.


"Reni ikut karena memang kami ajak dan Aril ke sini selain memang karena urusan bisnis, sepertinya dia menyukai Bela" ungkap Bimo.


"Apa? Aril menyukai Bela? Aduh bagaimana ini Pak?" tanya Bu Akarsana khawatir.


"Bagaimana apanya?" tanya Pak Akarsana kepada istrinya.


"Aku pernah dengan dari Reni kalau Aril itu seorang playboy. Suka gonta - ganti cewek" jawab Bu Akarsana.


"Itu semua masa lalunya Bu dan sekarang dia sudah berubah. Dia sudah taubat Bu dan serius sedang mencari calon istri" sambut Bimo.


"Tapi jangan adik kamu le, dia anak Ibu perempuan satu - satunya" ujar Bu Akarsana khawatir.


"Kalau Ibu menilai Aril dari masa lalunya, jadi bagaimana lagi aku Bu dinilai oleh keluarga dari gadis yang ingin aku taksir? Dosaku lebih banyak Bu?" tanya Bimo.


Bu Akarsana terdiam mendengar pertanyaan putra sulungnya.


"Bimo benar Bu, jangan nilai seseorang dari masa lalunya. Setiap manusia pasti pernah khilaf dan melakukan dosa. Yang terpenting masa sekarang dan masa depan. Dia sudah mengakui dan menyadari kesalahannya dulu, memperbaiki diri dan menjauhinya agar terhindar dari kesalahan dimasa lalu. Sejauh ini Bapak lihat Nak Aril pria yang baik, pekerja keras dan bertanggungjawab. Walau memang ilmu agamanya masih sedikit tapi setidaknya dia sudah berusaha hidup lebih baik lagi dari sebelumnya " sambut Pak Akarsana.


"Kalau soal ilmu agama dia dan teman - temannya sedang menimba ilmu lho Pak, Bu. Mereka para sahabat Refan membuat satu group pengajian yang rutin mereka lakukan. Bahkan aku diajak oleh mereka" ungkap Bimo.


"Nah bagus itu. Berarti mereka memang serius ingin merubah hidup. Kamu juga Bapak sarankan bergabung saja dengan mereka" ujar Pak Akarsana.


"Iya Pak, aku memang akan ikut pengajian dengan mereka" jawab Bimo.


"Tapi kok Ibu belum rela ya Bela dideketin Nak Aril?" ucap Bu Akarsana.


"Ibu tenang saja dan lihat aja apa yang terjadi dengan mereka. Kita bebaskan Bela yang menilai dan memilih. Kalau mereka berjodoh ya syukur, kalau tidak juga gak masalah. Mungkin nanti ada pria yang lebih baik menjadi penjaga putri kita" tegas Pak Akarsana.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2