Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 88


__ADS_3

"Apa Naila sakit?" tanya Riko terkejut.


Seketika Refan tersadar dengan sikap Riko yang sedikit tak wajar. Mengapa Riko sangat terkejut seperti itu mendengar anaknya sakit.


Apakah...? Oh tidak.. tidak.. pikiranku jadi kotor seperti ini gara - gara hasil pemeriksaan darah Naila. Batin Refan.


"Iya demam panas, kata dokter karena kecapekan. Kemarin Naila dibawa mertua ke rumahnya ada acara keluarga" jawab Refan.


"Semoga Naila cepat sembuh ya Fan, nanti aku akan kabari yang lain buat jenguk Naila di Rumah Sakit. Oh iya Naila di opname di Rumah Sakit mana?" tanya Riko.


"Rumah Sakit Ibu dan Anak" jawab Refan.


Tak lama pelayan memberikan bungkusan pesanan Refan.


"Ko, aku langsung jalan ya.. udah mau maghrib kasihan Kinan sendirian jaga Naila di Rumah Sakit. Nanti dia susah mau shalat" ujar Refan.


"Iya Fan, hati - hati ya" ujar Riko.


Refan segera meninggalkan Riko yang menatapnya dari kejauhan. Kemudian Refan masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya ke Rumah Sakit.


Sesampainya di rumah sakit Refan melihat Kinan sedang menggendong Naila yang masih agak rewel. Refan meletakkan bungkusan yang dia bawa di atas meja yang ada di ruangan itu.


"Sayang... tuh Papa udah datang. Kenapa? Kamu kangen Papa ya sayaaaang" bujuk Kinan.


Refan menatap wajah Naila yang baru sedang menangis tapi begitu melihat wajah Refan tangisnya reda.


Dengan mata sayu Naila menatap wajah Refan. Sesaat tatapan Refan dan Naila bertabrakan. Refan tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Ada rasa sayang, kasihan tapi.. saat ingat Naila bukan putrinya hatinya sakit bagai teriris pisau.


Bersamaan dengan itu terdengar suara adzan maghrib.


"Mas shalat duluan aja. Baru setelah Mas kita gantian" ujar Kinan.


"Iya Nan.. " jawab Refan.


Refan segera melangkahkan kakinya ke toilet untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil wudhu setelah itu Refan keluar dan melaksanakan shalat maghrib.


Dalam doanya di akhir shalat Refan meminta kepada Allah.


Ya Allah kuatkanlah hatiku untuk menerima kemungkinan hasil yang paling buruk. Beri aku kelapangan kesabaran untuk tetap menyayangi Naila seperti dulu. Aku sadar dialah yang menjadi korban dalam masalah ini. Hapus rasa sakit dan dendam dalam hatiku. Jangan biarkan bujuk setan menguasai perasaanku. Tunjukilah jalan yang lurus dan berilah kepastian siapa Papa Naila yang sebenarnya. Hanya kepadaMU aku meminta dan memohon. Kabulkan ya Rabb... Ujar Refan dalam doanya.

__ADS_1


Refan menghapus air mata yang mengalir di sudut matanya. Kemudian segera melipat sajadahnya.


"Sudah selesai Mas?" tanya Kinan.


"Sudah, sini Naila aku gendong. Gantian kamu yang shalat sekarang" perintah Refan.


"Iya Mas" Kinan menyerahkan Naila ke dalam pelukan Refan dan Refan segera menggendongnya. Setelah itu Kinan melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai berwudhu Kinan melanjutkan shalat maghrib.


Refan meletakkan Naila di atas tempat tidur. Naila terlihat ingin mengajak Refan bermain. Dia mengoceh dan menyentuh wajah Refan sambil tersenyum.


Seketika hati Refan runtuh, tak bisa dia pungkiri hatinya sudah terlanjur mencintai bayi mungil ini.


Siapa Papamu sayang? Bagaimana hubungan kita nanti setelah hasil tes DNA keluar dan kamu memang terbukti bukan anak Papa? Apakah kita akan berpisah? Bisakah Papa tetap mempertahankan kamu untuk tetap tinggal bersama Papa? Mata Refan berkaca - kaca.


Sedangkan Naila tampak sedang memukul wajah Refan sambil tertawa.


Kinan selesai shalat dan melihat pemandangan yang mengharukan itu. Dia sangat tau bagaimana terlukanya perasaan Refan saat ini. Kinan melipat mukenanya dan mendekati Refan dan Naila yang sedang bermain di tempat tidur.


Kinan menyentuh bahu Refan mencoba untuk memberikan semangat kepada Refan.


"Naila senang ya main sama Papa" ujar Kinan.


"Sudah turun panasnya kan?" tanya Refan.


"Sudah Mas, syukurlah Naila gak kenapa - kenapa. Hanya kecapekan saja. Tapi kata dokter harus tiga hari opnamenya. Untuk memantau dan berjaga - jaga siapa tau ada penyakit lain. Mudah - mudahan gak ada ya sayang Mama... " jawab Kinan sambil menggoda Naila.


Naila tampak tersenyum lebar. Kinan melirik wajah Refan yang masih tampak sedih dan wajahnya tampak sedang banyak pikiran.


"Mas aku boleh tanya sesuatu?" tanya Kinan hati - hati.


"Kamu mau tanya apa?" tanya Refan.


"Mas tadi dari mana?" selidik Kinan.


Refan tampak menarik nafasnya panjang.


"Aku tadi ke makamnya Renita" jawab Refan.


Kinan hanya diam mendengarkan Refan bercerita.

__ADS_1


"Kamu tau Nan? saat aku tiba di sana aku melihat ada sebuah buket bunga mawar merah di depan batu nisan Renita. Bunga mawar merah adalah bunga kesukaan Renita. Dan hanya orang - orang dekat saja yang mengetahuinya" ungkap Refan.


Kinan melirik wajah Refan. Wajahnya terlihat sangat sendu sekali.


"Aku mencoba mencari tahu. Aku melihat ada seorang pria tua penjaga makan dan aku mendekatinya. Aku bertanya kepadanya. Kamu tau apa yang dia katakan?" tanya Refan.


Kinan mengangkat kedua bahunya memberi isyarat kalau dia tidak bisa menebaknya.


"Ada dua pria yang sering datang ke makam selain aku" wajah Refan terlihat sangat terluka. Tanpa bisa dia cegah air matanya mengalir ke pipi. Kinan segera meraih dan menggenggam tangan Refan mencoba memberi kekuatan.


"Bukan hanya aku Nan tapi ada dua pria yang sering datang ke situ. Bukan satu tapi dua. Kalau Naila memang bukan anakku lantas dia anak siapa? Apakah aku harus mencari ke dua pria itu dan meminta mereka bertanggung jawab terhadap Naila?" tangis Refan semakin deras.


"Kalau mereka tau Naila adalah putri salah satu dari kedua pria itu dah pria itu mengambil Naila dari sisiku. Aku bisa apa Nan? Apakah aku bisa melepasnya? Apakah kamu juga bisa melepas Naila?" tanya Refan sambil terisak.


Kinan menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu sekarang.


"Apa yang tersisa untukku? Aku tidak punya apa - apa Nan. Dulu kamu mau menikah denganku dengan alasan adanya Naila. Kalau dia pergi dari sisiku apakah kamu akan tetap mau hidup bersamaku. A.. aku.. aku.. mungkin pria lemah Nan.. Mungkin aku yang tidak bisa mempunyai keturunan" ujar Refan semakin terisak.


Kinan memeluk Refan dari belakang.


"Maaaas...." ujar Kinan. Refan masih menangis.


"Aku kan sudah bilang sama kamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri saat kita ijab kabul. Hanya maut yang bisa memisahkan kita" jawab Kinan.


"Tapi aku pria yang tidak beruntung Nan. Aku pria bodoh. Lima tahun aku menikah dengan Renita aku tidak tau kalau dia selingkuh" ungkap Refan.


"Itu karena kamu sangat mempercayai dan mencintainya Mas" jawab Kinan mencoba menenangkan Refan.


"Apakah benar aku mencintainya Nan? Kalau cinta seharusnya ada rasa cemburu yang aku rasakan. Benar kan Nan? Harusnya aku cemburu setiap melihat dia dekat dengan pria, harusnya aku cemburu saat dia sering pergi ke luar kota bersama Bosnya" Refan tiba - tiba melotot ketika mengingat sesuatu.


Kinan menatap perubahan wajah Refan yang sangat drastis. Dari sedih menjadi terkejut.


"Ada apa Mas?" tanya Kinan penasaran.


"Bosnya Nan? Bosnya Renita? Apakah dia salah satu dari dua pria yang datang ke makam?"...


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2