
Jeta semakin gencar mendekati Naila di kantor. Ada saja alasannya agar bisa selalu bertemu dengan Naila. Salman sampai salut dengan ide - ide Jeta. Dia saja tidak punya keberanian seperti itu dalam mendekati Aisyah calon bidadari surganya.
Diam - diam Naila memperhatikan sikap Jeta. Dia ingat pesan Salman sebelumnya. Saat dikantor Naila sering melihat Jeta memang suka menghindar dekat dengan para pegawai wanita. Bahkan dia mengganti sekretaris wanitanya menjadi laki - laki.
Dalam bertemu client, Jeta juga memilih - milih dan kalau dengan terpaksa harus bertemu dengan client wanita Jeta pasti mengajak Naila untuk ikut serta.
Lama kelamaan hubungan Naila dan Jeta juga semakin dekat. Naila sudah tidak membenci Jeta lagi walau dia juga belum bisa mencintainya.
Jeta juga sudah berkurang isengnya pada Naila. Dan sekarang lebih perhatian dan sering bersikap lemah lembut kepada Naila.
Perlahan - lahan Naila mulai merasa nyaman jalan bersama Jeta. Hal itu tidak luput dari pantauan Refan dan Kinan. Walau tidak terlihat tapi sebenarnya mereka turut ikut serta membantu kedekatan Naila dengan Jeta.
Suatu malam Jeta dan Refan sedang duduk berdua di gazebo rumah Refan. Mereka terlibat pembicaraan santai tapi serius.
"Jet, Om bukan ingin mengusir kamu lho dari rumah ini. Om hanya ingin tau sampai berapa lama kamu berada di sini? Papa sama Mama kamu udah bulak balik telepon Om dan menyuruh Om bujukin kamu agar kamu secepatnya kembali pulang. Papa dan Mama kamu butuh kamu untuk melanjutkan Perusahaan disana" ungkap Refan.
Jeta melirik Omnya dengan serius. Ini adalah pembicaraan yang sangat penting. Dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Walau dia belum mengutarakannya langsung kepada calon bidadari surganya tapi gak ada salahnya kalau dia lebih dulu dia meminta izin kepada calon mertuanya terlebih dahulu.
"Kan sudah aku ucapkan sejak awal Om. Kedatangan aku ke Jakarta mempunyai misi. Aku ingin mencari calon istri yang nantinya akan aku bawa pulang" jawab Jeta.
"Terus sudah sejauh ini kamu sudah menemukannya?" pancing Refan.
"Alhamdulillah sudah Om dan mudah - mudahan dia bisa menerima aku" jawab Jeta.
Refan tersenyum penuh kasih sayang kepada ponakannya.
"Kalau sudah ketemu kenapa gak disegerakan. Om akan bantu kamu" ujar Refan.
"Serius Om? Kalau aku jujur kepada Om siapa calon bidadari surgaku. Apakah Om akan tetap mendukungku?" tanya Jeta berharap.
"Selama tujuan kamu baik dan calon kamu itu juga gadis yang baik, InsyaAllah Om akan dukung kamu" jawab Refan.
Jeta tersenyum lega karena melihat raut tulus dari wajah Refan.
__ADS_1
"InsyaAllah dia gadis yang baik Om karena dia punya keluarga yang baik, di didik dengan baik dan penuh kasih sayang" sambut Jeta.
Refan tersenyum mendengar jawaban Jeta.
"Boleh Om tau siapa gadis itu?" tanya Refan pura - pura. Walau sebenarnya dia sudah tau siapa yang dimaksud.
Jeta tampak sedang menarik nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya.
"Naila Om" jawab Jeta.
"Naila? Naila mana?" pancing Refan.
"Naila anak Om lah" jawab Jeta jujur.
"Naila? Kamu serius?" tanya Refan.
"Serius donk Om, mana mungkin aku main - main" jawab Jeta mencoba meyakinkan Refan.
"Yakin bisa terima Naila apa adanya?" tanya Refan.
Refan menepuk bahu Refan dengan lembut.
"Kamu belum tau apa - apa Jet. Mungkin kalau Om cerita semuanya kamu akan mundur" ucap Refan.
"Maksud Om apa?" tanya Jeta penasaran. Jeta adalah anak yang pintar, dia tau makna kata - kata yang baru saja Refan katakan.
Refan menarik nafas panjang dan menatap dalam tepat di mata Jeta untuk memastikan keseriusan Jeta dan mencoba mencari keyakinan bahwa Jeta tidak akan mundur setelah Refan mengungkapkan kebenaran selama ini yang Refan dan Kinan simpan tentang rahasia hidup Naila.
"Sebenarnya Naila bukan anak kandung Om, Jet" ungkap Refan
"Om serius? Jangan main - main Om" tanya Jeta terkejut. Dia sangat tidak menyangka Refan akan berkata seperti itu.
"Tapi di Kartu Keluarga Om jelas tertulis Papa Naila itu adalah Om. Naila kan anak Om dan almarhumah Tante Renita beneran kan bukan adopsi. Tante Renita kan meninggal setelah melahirkan Naila?" tanya Jeta memastikan.
__ADS_1
"Naila bukan anak adopsi, dia benar - benar anak Renita. Dan kenyataannya Renita memang meninggal setelah melahirkan Naila. Tapi bukan Om Papa kandung Naila" jawab Refan.
"Jadi siapa Om dan bagaimana bisa? Kan sudah jelas kalau Naila itu anak Om. Di akte lahir Naila juga begitu?" tanya Jeta tak percaya.
"Secara administrasi Naila memang benar anak Om dan Tante Renita. Karena dia lahir dalam pernikahan kami. Tapi Om bukan Papa kandungnya. Saat menikah dengan Om, Tante Renita selingkuh dengan Bos tempat dia bekerja hingga akhirnya Tante Renita hamil dan melahirkan. Setelah Naila lahir dan sakit Om baru tau kalau Naila itu bukan putri kandung Om. Secara negara dia anak Om tapi secara agama dia bernasabkan Mamanya. Om tidak akan bisa menikahkan dia saat dia menikah nanti. Dia haru dinikahkan oleh wali hakim" ungkap Refan.
Jeta terdiam sambil menatap Refan tak percaya. Dia tidak tau harus berkata apa lagi.
"A.. apa Papa dan Mamaku tau Om?" tanya Jeta.
Refan menganggukkan kepalanya.
"Papa Mama kamu dan keluarga kita tau, empat tahun Om menikah dengan Tante Renita dan Om sangat mengharapkan seorang anak. Hingga saat Om tau Tante Renita hamil, kamu bisa bayangkan bagaimana bahagianya hati Om. Begitu Naila lahir, Om sangat menyayanginya. Om mengurus Naila sendiri sebelum menikah dengan Tante Kinan. Rasa sayang Om yang besar membuat Om bisa menerima kenyataan dan tidak membencinya" jawab Refan.
"Apa Naila tau rahasia ini Om?" tanya Jeta.
"Tidak semuanya. Saat dia berusia tiga belas tahun dan dia sudah baligh. Om dan Tante Kinan membuka rahasia hidup Naila. Agar dia bisa menjaga auratnya di rumah. Bagaimanapun Om, Salman dan Khalid tidak punya hubungan darah dengan Naila. Kami bukan mahromnya jadi dia harus jaga aurat. Om kasih tau siapa Papanya tapi Om tidak pernah mengatakan bagaimana dia bisa menjadi anak Om dan dia juga tidak pernah menanyakannya pada Om. Biarlah ini jadi rahasia. Tapi Om sadar tidak bisa menyimpan rahasia ini seterusnya. Saat Naila menikah nanti Om harus mengatakan kebenarannya. Karena dia pasti akan bertanya mengapa Om tidak bisa menikahkannya" ungkap Refan.
"Ja.. jadi Naila itu anak haram Om?" ucap Jeta.
Prang ..... $@$##-(_) /@&_@
Tiba - tiba Refan dan Jeta terkejut mendengar suara pecahan kaca. Mereka langsung mencari dari mana sumber suara.
Refan dan Jeta melihat didepan mereka Naila tampak berdiri terpaku dengan wajah pucat dan air mata mengalir deras di pipinya. Dan dibelakang Naila ada Salman berdiri dengan tak kalah terkejutnya.
Tubuh Naila bergetar dahsyat dan seketika Naila pingsan dan jatuh hampir menyentuh tanah. Untung ada Salman yang siap menangkapnya.
"Naila..... " teriak Refan, Salman dan Jeta.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG