Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 99


__ADS_3

Deg.... bruuuuk...


Ponsel Renita jatuh dari genggaman tangan Refan.


"Maaaaaas" panggil Kinan.


Refan terduduk lemas dan Kinan segera meraih ponsel Renita yang jatuh di atas meja kerja Refan. Kinan melihat layar ponsel tersebut terpampang jelas foto Renita bersama seorang pria. Mereka sedang berpelukan mesra dan tersenyum bahagia. Sepertinya mereka sedang berada di dalam hotel.


"Astaghfirullah... " ujar Kinan lagi.


Refan segera berdiri dan melangkah keluar ruang kerjanya. Kinan segera mencoba menyusulnya. Refan terus berjalan menuju pintu keluar.


"Maaas kamu mau kemana?" tanya Kinan.


"Aku mau pergi dulu Nan" jawab Refan.


"Kemana Mas?" tanya Kinan penasaran.


"Nanti akan aku kasih tau kamu, aku harus pergi sekarang juga" jawab Refan.


Dia berjalan menuju mobilnya.


"Mas tolong jangan lakukan sesuatu yang berbahaya" cegah Kinan.


"Kamu tidak perlu khawatir Nan, aku tidak akan bertindak gegabah. Aku hanya butuh tempat untuk menenangkan diri" balas Refan.


"Perlu aku temani?" tanya Kinan memberikan tawaran.


"Tidak usah, kamu di rumah saja istirahat. Dan tolong jaga anak - anak" pesan Refan.


"Iya Mas, kamu hati - hati ya" ujar Kinan.


Refan segera menyalakan mobilnya dan mobilnya bergerak menuju keluar halaman rumahnya. Refan membujuk stir mobil dengan sangat kuat.


"Brengsek kamu Ren... Aku tidak perduli kamu sudah meninggal. Kamu benar - benar brengseeeeeek" teriak Refan.


Refan tanpa sadar menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga hampir saja menabrak mobil yang berhenti di depannya.


Ciiiiiii... iiiit... suara bunyi rem mobil di atas jalan beraspal.


Untung saja Refan sigam menekan rem kalau tidak mungkin dia sudah menabrak mobil tersebut. Jantung Refan berdetak sangat kencang.

__ADS_1


Refan menepikan mobilnya dan menangis di dalam mobilnya.


"Tega sekali kamu Ren... kamu tegaaaaa.... Apa kekuranganku... Aku sehat, aku kuat, aku kaya dan aku juga tampan. Aku punya semua yang dimiliki pria itu. Mengapa kamu bermain di belakangku" ujarnya sambil menangis.


Hatinya sangat hancur, semakin hancur ketika dia benar - benar menemukan bukti - bukti pengkhianatan istrinya.


Kini hanya tinggal isak tangisnya yang terdengar. Refan mengangkat kepalanya dan bersandar di kursinya. Matanya terpejam memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus dia lakukan.


Perkataan Kinan tadi terngiang di dalam ingatannya. Benar kata Kinan, apakah aku sanggup menerima semua kenyataan Renita mengkhianati aku? Apakah aku kuat? Baru melihat satu fotonya saja aku sudah semurka ini? Batin Refan.


Refan tidak menemukan jawabannya. Dia kembali menyalakan mobilnya tapi dia bingung mau kemana. Tiba - tiba Refan mendapatkan sebuah ide.


Mobil melaju menuju pemakaman Renita. Refan memarkirkan mobilnya di area parkir pemakaman. Dia keluar mobil dan berjalan menuju makan istrinya.


Lagi - lagi Refan menemukan buket bunga mawar merah di dekat nisan Renita. Refan mengambilnya dengan kasar dan membuangnya juga dengan sangat kasar ke tong sampah yang tak jauh dari makan Renita.


"Brengsek kalian semua" umpat Refan.


Refan memandang batu nisan Renita.


"Sebesar apa rahasia yang kau sembunyikan padaku Renita.. Kamu sudah merasa hebat berhasil membohongiku selama ini. Bahkan kamu meninggalkan seorang anak yang ternyata bukan anak kandungku" ujar Refan dengan nada emosi. Tangannya mengepal sangat kuat.


"Hebat kamu Ren... kamu sangat hebat berhasil membuat aku merasa sangat bodoh. Hahaha.... Mungkin saat ini kamu sedang tertawa melihat aku hancur seperti ini Ren? Kamu berhasil, benar - benar berhasil" ujar Refan kembali menangis.


"Tidak Ren. Hatiku memang sakit tapi aku tidak akan hancur lebur karena sekarang ada Kinan di sisiku yang selalu setia menemaniku apapun yang terjadi padaku. Dia yang dengan semua kebaikannya dengan ikhlas mengurus anak kamu, anak dari hasil perselingkuhan kamu dengan pria itu" ujar Refan lagi.


"Kinan benar - benar tulus menyayangi Naila, dia wanita yang sangat baik Ren. Jauh banget dengan kamu" Refan tersenyum ketika mengingat wajah Kinan.


Refan teringat Kinan dan dia ingat bagaimana Kinan memberikan semangat kepadanya. Refan tidak mau kalah dengan wanita yang sudah berada di dalam kubur.


Refan melirik ke kiri dan ke kanan mencari sosok pria yang ingin dia temui. Di ujung makam dia melihat pria itu sedang berjongkok sambil membersihkan sebuah makam. Refan segera berjalan menghampiri pria itu.


"Assalamu'alaikum Pak" sapa Refan hormat.


"Wa'alaikumsalam" jawab Pria penjaga makam.


"Masih ingat kan Pak sama saya?" tanya Refan sopan.


"Nak Refan kan? Suaminya Almarhumah Renita?" tanya Pria itu.


"Iya Pak" jawab Refan.

__ADS_1


Pria itu berdiri dan duduk dibangku jalan di pinggir makam yang memang disediakan sebagai fasilitas makam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pria itu sambil menarik nafas panjang dan mencoba beristirahat.


"Saya ingin menanyakan sesuatu Pak" jawab Refan.


"Silahkan" balas pria tua itu.


"Tadi saya menemukan lagi buket bunga di makam istri saya" ungkap Refan.


"Maaf, kalau itu saya tidak melihatnya. Pria yang mana yang datang Bapak tidak tau karena Bapak tidak melihatnya" jawab Pria itu jujur.


Refan menarik nafas panjang dan melirik ke arah pria tua penjaga makam.


"Aku harus menemukan kedua pria itu Pak. Karena istriku meninggal setelah melahirkan seorang anak perempuan yang ternyata baru aku ketahui beberapa hari ini kalau dia bukan anakku" ungkap Refan.


"Astaghfirullah... " sambut pria itu.


"Walau baru tes golongan darah dan menunggu hasil tes DNA keluar tapi aku sangat yakin kalau anak itu bukan anakku. Tapi aku sudah terlanjur menyayanginya Pak. Bayi mungil yang tidak berdosa dan tidak tau apa - apa. Dia hanya korban dari nafsu manusia dewasa. Karena alasan bayi itu juga aku menerima di jodohkan keluargaku dengan wanita lain dan kini aku sudah menikah. Alhamdulillah dia wanita yang baik dan karena dorongan darinya membuat aku ingin mengetahui semua kebenarannya. Aku ingin memperjuangkan nasib bayi mungil itu, aku ingin mengetahui siapa Bapak kandungnya agar masa depan dan hidupnya jelas. Dia anak perempuan, kalau nanti dia dewasa aku tidak akan bisa menjadi wali dan mahramnya. Makanya aku ingin memperjelas semuanya" ungkap Refan lirih.


"Tindakan kamu benar. Bayi itu berhak tau siapa orang tua kandungnya dan itu sangat penting untuk hidupnya kelak" sambut pria penjaga makam.


Refan menundukkan wajahnya. Pria tua itu menepuk baju Refan.


"Kamu pria yang baik, pria yang kuat. Walau kamu sudah tahu kamu dibohongi oleh istri kamu dan kamu juga sudah di khianati bahkan sampai dia melahirkan anak yang bukan dari benih kamu tapi kamu masih mau tetap membantu bayi itu menemukan orang tua kandungnya" puji pria itu.


"Semua juga karena dukungan dari istri saya Pak" ujar Refan jujur.


Tiba - tiba Refan teringat dia punya sesuatu yang harus dia tunjukkan kepada pria tua sang penjaga makam. Refan meraih ponselnya dan membuka alplikas galeri di ponselnya.


Refan segera memperlihatkan wajah Bosnya Renita yang tadi dia dapatkan dari ponsel Renita.


"Pak, apakah salah satu pria yang datang ke makam Renita adalah pria ini?" tanya Refan sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan pria tua itu.


Pria itu melihat gambar yang ada di ponsel Refan dan matanya terbelalak membesar. Kemudian dia menatap mata Refan. Pria tua itu menganggukkan kepalanya sambil berkata.


"Iya..."


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2