
"Aku mau pulang" jawab Naila.
Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam lift dan langsung turun ke lantai dasar. Setelah bertemu dengan Febri, Naila diam membisu membuat Jeta jadi serba salah.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju arah pulang ke rumah Refan.
"Nai.. apa yang terjadi?" tanya Jeta penasaran.
"Maaf Bang, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Nanti saja setelah di rumah ya" jawab Naila memohon.
Jeta hanya bisa membalasnya dengan diam. Sepertinya Naila memang butuh ketenangan. Jeta hanya bisa berdoa dalam hati semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk antara Naila dan wanita yang tak lain adalah mantan istri Papa kandungnya Naila.
Sesampainya di rumah Refan, Naila segera keluar dari mobil dan berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Bahkan sampai dia tidak mengucapkan salam saat membuka pintu.
Saat itu Refan sedang berbincang - bincang bersama Kinan dan kedua orang tua Jeta. Refan dan Kinan terkejut dengan kedatangan Naila dan Jeta. Mereka tidak menyangka Naila dan Jeta sudah pulang dari kantor secepat ini.
"Sayang.. kamu sudah pulang?" tanya Kinan.
Naila segera menghampiri kedua orang tuanya dan menatap keduanya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan oleh Refan dan Kinan.
Naila langsung duduk lemas di lantai tepat di hadapan Refan dan Kinan.
"Pa.. Ma.. mengapa kalian berbohong kepadaku? Mengapa masih ada rahasia? Berapa banyak lagi rahasia masa lalu tentang hidupku Ma.. Pa?" tanya Naila sambil terisak.
Refan dan Kinan saling tatap dan sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada Naila saat ini. Jeta, Jelita dan Tagor juga tak kalah terkejutnya menyaksikan pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Apa maksud kamu sayang?" tanya Refan mulai bertanya.
"Hiks... hiks... Mengapa Papa dan Mama tidak cerita kalau.. kalau ternyata Papa kandungku lah yang membunuh Opa dan Omaku.. Hiks.. hiks... " tangis Naila pecah.
Kinan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menutupi rasa terkejutnya.
"Ada apa ini Jeta?" bisik Jelita kepada putranya.
"A.. aku tidak tau Ma. Aku tidak tau apa yang Naila tanyakan" jawab Jeta bingung.
Apakah ini yang membuat Naila diam seribu bahasa setelah keluar dari kantor wanita itu? Apa sebenarnya yang terjadi? tanya Jeta dalam hati.
Jeta menarik rambutnya yang tak gatal. Dia sungguh sangat bingung harus berbuat apa saat ini. Dia tak sanggup melihat gadis pujaan hatinya menangis histeris dan putus asa seperti itu.
__ADS_1
"Maaaas" ucap Kinan.
"Sayaaaang tenangkan diri kamu dulu" ucap Refan berusaha menenangkan Naila.
Refan berjongkok dihadapan Naila dan memegang pundak Naila.
"Benarkah semua Pa? Benarkah apa yang aku dengar? Papa kandungku lah yang membunuh Opa dan Oma?" tanya Naila lagi.
Kinan kini juga sudah duduk dihadapan Naila saat ini. Dia langsung memeluk erat tubuh putrinya. Mencoba untuk memberikan kekuatan kepada Naila.
"Benar sayang.... " jawab Refan.
"Tidaaaaaaaaaak" teriak Naila, tangisnya semakin kencang.
"Ya Allah" ucap Jeta ketika mendengar jawaban Refan. Jeta duduk lemas diatas sofa ruang keluarga rumah Refan.
"Sayaaaang" panggil Kinan.
"Aku anak pembunuh Ma... Aku anak seorang pendosa. Aku anak haraaaam Maaaaaaa" ucap Naila histeris.
"Sayaaaang tidak ada yang mengatakan kamu seperti itu. Siapa yang sudah berkata seperti itu kepada kamu, siapa sayang?" tanya Refan marah.
"Sayang tidak sayang... kamu anak yang baik.. kamu juga anak dari orang yang baik. Setiap manusia punya kesalahan sayang. Bukan kesalahannya yang harus kita hakimi tapi hargailah taubatnya.. Papa kamu sudah menjalani hukuman nya sebagai seorang manusia yang berbuat salah di dunia ini sayang. Saat dia sedang menjalani hukumannya dia mendapatkan hidayah tapi Allah sangat sayang padanya sehingga dia tidak merasakan hukuman itu dalam waktu yang lama. Allah memanggilnya sayang untuk kembali ke sisi-Nya. Papa kamu orang yang baik, begitu juga Mama kamu sayang" ujar Kinan berusaha menenangkan.
Refan memegang kedua bahu Naila.
"Tatap mata Papa sayang... " bujuk Refan lembut.
Naila masih terus menangis. Refan mengangkat dagu Naila.
"Seburuk apapun kesalahan seseorang bukan itu yang Allah pandang sayang. Allah akan menilai bagaimana orang tersebut menyesali semua kesalahannya. Papa kamu sudah menyesali perbuatannya dan sudah bertaubat. Papa kamu sudah meminta maaf kepada kami semua, meminta maaf kepada Allah. Papa kamu meninggal dengan tenang dan InsyaAllah husnul khotimah " ungkap Refan.
"Hiks.. hiks... " Naila masih menangis sesegukan.
"Sayang.. tolong bawa Naila ke kamar. Dia butuh istirahat agar bisa tenang. Nanti kalau kamu sudah tenang, kamu sudah siap. Papa akan cerita semuanha ya.. " bujuk Refan.
"Ayo saya kita ke kamar" ajak Kinan.
Kinan menarik tubuh Naila dan membantunya berdiri. Kemudian menuntun Naila berjalan menuju kamarnya. Kini hanya tinggal Refan, Jeta, Jelita dan Tagor yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
Jelita langsung menatap putranya.
"Sekarang ceritakan pada kami semua Jeta. Apa yang terjadi dengan Naila? Mengapa begitu tiba di rumah Naila jadi seperti itu?" tanya Jelita.
"Ta.. tadi aku dan Naila bertemu dengan Tante yang kemarin kita temui di Restoran Om. Tante Febri yang tak lain adalah mantan istri dari Papa kandung Naila" jawab Jeta.
"Apa? Jadi Naila bertemu dengan Febri tadi? Mengapa kamu tidak cerita pada Om, Jeta?" tanya Refan terkejut.
"Ma.. maaf Om, Naila meminta bantuanku untuk mempertemukan dia dengan Tante Febri. Kata Naila ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan Tante Febri Jadi aku membawanya ke kantor Tante Febri" ungkap Jeta.
"Jadi kamu mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Jelita penasaran.
Jeta menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau Ma, aku hanya menunggu diluar. Naila meminta untuk berbicara empat mata saja dengan Tante Febri, jadi aku tidak menemaninya masuk menemui Tante Febri di ruangannya" jawab Jeta.
Kini Jeta merasa bersalah telah mengabulkan permintaan Naila kemarin. Kalau tau begini akhirnya tentu dia tidak akan mau menyanggupi permintaan Naila kemarin.
Naila benar - benar putus asa tadi, dia kembali terluka atas kesalahan kedua orang tuanya. Melihat Naila menangis seperti tadi rasanya Jeta ingin sekali memeluknya dan menenangkan Naila.
Jeta benar - benar menyesal sudah membawa Naila bertemu dengan Febri.
"Aku minta maaf Om, seharusnya aku tidak membawa Naila bertemu Tante Febri" ucap Jeta dengan rasa bersalahnya.
Refan segera meraih ponselnya dan menghubungi nomor Febri. Untung kemarin Refan segera menyimpan nomor Febri.
"Assalamu'alaikum" ucap Refan.
"Wa'alaikumsalam. Maaf ini siapa ya?" tanya Febri.
"Ini Refan. Maaf Feb aku mengganggu waktu kerja kamu. Aku ingin bertanya sesuatu kepada kamu. Apa yang kamu bicarakan dengan Naila tadi saat kalian bertemu?" tanya Refan langsung tanpa basa - basi.
Deg.... ternyata perasaan aku tidak salah... Ya Allah.. apakah kata - kataku tadi sudah menyakiti gadis itu? tanya Febri dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1