
Sesampainya keluarga Pak Akarsana di rumah Refan dan Kinan, mereka di jamu makan siang bersama.
"Kita makan dulu yuk Pak, Bu. Setelah itu baru kita bebas ngobrol" ajak Refan dengan ramah.
Sambutan Refan yang seperti ini membuat Bapak dan Ibu Akarsana jadi tidak canggung berada di rumah Refan dan Kinan.
Semula merasa tidak enak hati kalau harus mampir di rumah Kinan karena Kinan kan sudah menikah lagi. Sementara mereka adalah orang tua dari almarhum suami Kinan yang pertama.
Walau memang mereka masih mempunyai hak untuk melihat dan bertemu dengan cucu kesayangan mereka Salman.
Tapi setelah sampai di rumah Refan dan Kinan Bapak dan Ibu Akarsana merasa betah dan seperti datang ke rumah anak sendiri.
Refan menyambut mereka dengan sangat baik. Pak Akarsana melihat Refan adalah pria yang baik dan bertanggungjawab, dia pantas menjadi Papa sambung untuk Salman setelau putra mereka meninggal karena kecelakaan.
Saat ini mereka sudah duduk di meja makan untuk menikmati hidangan makan siang bersama. Aril juga ikut serta di dalamnya.
"Jadi Nak Kinan dan Refan ini di jodohkan toh?" tanya Bu Akarsana.
"Iya Mbak Yu.. sebenarnya mereka sudah lama di jodohkan oleh Almarhum suami saya hanya saja jodoh berkata lain. Refan menikah dengan istrinya sedangkan Kinan menikah dengan Almarhum suaminya. Setelah dua bulan kematian Almarhumah istri Refan saya merasa amanah Almarhum suami saya harus dijalankan. Mungkin jodoh mereka baru sekarang setelah sama - sama kehilangan pasangan masing-masing. Akhirnya mereka bisa saling menyembuhkan luka karena kehilangan orang yang mereka sayangi" jawab Suci.
__ADS_1
"Iya benar itu. Kami sebagai orang tua dari Almarhum Bima tidak keberatan kok. Kinan kan masih muda, masih butuh bimbingan dan perlindungan seorang suami apalagi Salman masih kecil. Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya. Saat Kinan meminta izin kami langsung memberi izin asalkan suami Kinan bisa menerima Salman dan menyayanginya seperti anak sendiri" sambut Pak Akarsana.
Seketika Refan merasa malu mendengar perkataan Pak Akarsana barusan. Karena di awal - awal pernikahan mereka, dia lebih banyak menyakiti Kinan dari pada membimbing dan melindungi Kinan. Syukurnya itu tidak berlangsung sama.
Seiring berjalannya waktu ternyata Kinan tipe wanita yang menyenangkan di tambah lagi kenyataan Renita mengkhianatinya. Refan merasa nyaman hidup bersama Kinan dan lama kelamaan akhirnya dia mencintai Kinan hanya dalam waktu empat bulan lamanya.
"Kami bertetangga dengan Papanya Refan sejak dulu hanya saja mereka sempat pindah keluar kota karena Papanya pindah tugas. Tapi saat Kinan dan Refan kuliah keluarga Refan pindah kembali ke sini. Sejak itulah Almarhum Papa Refan berniat ingin menjodohkan Refan dengan Kinan" ungkap Pak Ardianto.
"Yah jodoh rahasia Allah ya. Kalau pada saat itu mereka berjodoh, Kinan pasti tidak bertemu dengan putra Kami dan akan lain ceritanya. Salman tidak akan ada di dunia ini. Tapi ternyata Allah menunda jodoh mereka sampai pada waktu yang sudah ditentukan Allah" sambut Pak Akarsana.
"Iya Pak" jawab Refan hormat.
"Sebelumnya saya meminta maaf kepada Dek Ardi dan Refan sekeluarga. Kalau kehadiran Bimo membuat kita semua resah. Walau dia memang sudah lama pergi meninggalkan kami tapi dia tetaplah anak kami. Sungguh tidak ada rencana keluarga kami hingga semua ini terjadi" ucap Pak Akarsana.
Acara makan siang sudah selesai, mereka melanjutkan obrolan di ruang keluarga agar suasananya terasa lebih santai.
Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga dan sedang duduk di sofa.
"Saya akan cerita semuanya tentang kedua putra saya" ucap Pak Akarsana memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Bimo dan Bima adalah kembar identik. Wajah mereka sangat mirip sekali hanya kalau diperhatikan lebih teliti kulit Bimo sedikit lebih gelap dari Bima. Dan Bimo memiliki tanda lahir di lengan kanannya. Sejak kecil mereka selalu bersama - sama, kemanapun dan kapanpun. Tetapi seiring berjalannya usia dan sekolah yang semakin tinggi. Bimo dan Bima mempunyai hobby dan cita - cita yang berbeda. Bimo hobbynya dalam hal seni sedangkan Bima bermain bola. Saat mereka kuliah, mereka memilih jurusan dan universitas yang berbeda. Bimo kuliah di Bali sedangkan Bima di kota ini. Bimo yang mempunyai hobby seni membuat hidupnya lebih bebas sedangkan Bima lebih suka belajar akademik dan kuliah jurusan teknik di Universitas sini. Dua - duanya mempunyai sifat yang keras tetapi Bima masih mau mendengarkan saran orang di sekitarnya sedangkan Bimo tidak. Bimo dengan kehidupan bebas yang dia inginkan dan idamkan sejak SMU kuliah di Bali dan berkenalan dengan seorang wanita dari daerah Timur. Sepuluh tahun yang lalu dia pulang ke Surabaya untuk meminta restu menikahi wanita Non Muslim. Saat itu saya sangat murka. Tapi saya tau putra saya itu sangat keras kepala. Segala cara telah saya lakukan termasuk saya menerima pernikahan mereka dan menerima wanita itu di keluarga saya asalkan dia bersedia ikut agama kita. Tapi Bimo bilang itu tidak mungkin. Saya suruh tinggalkan wanita itu, Bimo jawab itu lebih tidak mungkin. Akhirnya saya membuat pilihan dia memilih kami keluarganya atau wanita yang akan dia nikahi. Kalau dia memilih wanita itu dan berpindah agama maka sejak saat itu juga saya tidak akan menganggap dia ak sebagai anak saya" ungkap Pak Akarsana dengan raut wajah sedih mengingat kedua putranya.
"Ternyata Bimo lebih memilih wanita itu dan pergi meninggalkan kami. Saya sangat murka dan mengatakan kalau sejak saat itu dia bukan anak saya lagi. Saya tidak mau siapapun membicarakan atau menyebut namanya lagi di depan saya. Siapapun saya pasti akan sangat marah jika mendengar namanya disebut. Makanya sampai kemarin Kinan tidak mengenal Bimo karena Bima pasti tidak pernah bercerita tentang kembarannya " sambung Pak Akarsana.
"Iya Pak, Mas Bima hanya pernah mengatakan kalau sebenarnya dia punya seorang Kakak yang pergi dari rumah karena menikah dengan wanita non muslim dan tidak ada orang yang boleh menyebut atau membicarakan kakak nya itu" sambut Kinan.
"Yah benar.. sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi dengannya dan kami juga tidak tau dimana di berada. Makanya saat kalian menghubungi Bapak kemarin, Bapak sangat terkejut mengapa dia bisa kembali ditambah lagi tentang kabar kematian Bima yang katanya bukan karena kecelakaan tapi karena dibunuh" lanjut Pak Akarsana.
"Maaf Pak saya ingin menanyakan sesuatu kepada Bapak" ujar Refan.
"Kamu mau bertanya apa Fan, silahkan tanya saja gak usah sungkan. Kita saat ini sudah menjadi satu keluarga. Kamu sudah kami anggap sebagai suami dari anak kami Kinan. Bukan begitu Dek Ardi?" tanya Pak Akarsana kepada Papa Kinan.
"Iya benar, Kinan tetap anak kita bersama Mas. Walau Bima sudah meninggal tapi hubungan kita tidak akan pernah putus karena masih ada Salman" sambut Pak Ardianto.
"Monggo Nak Refan, bertanyalah" perintah Pak Akarsana.
"Apakah Bima dan Bimo sebelumnya selama ini sering bertengkar?" tanya Refan kepada Bapak Almarhum Bima.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG