Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 91


__ADS_3

"Salmaaaaan" panggil Refan begitu sampai di rumahnya.


"Papaaaaaaa.... " Salman keluar dari kamar dan berlari mengejar Refan.


Refan memeluk Salman. Kini hatinya sudah bisa menerima Salman sepenuhnya. Apalagi Salman anak yang baik budi dan penurut. Salman juga di didik Kinan mandiri walau usianya baru tiga tahun lebih.


"Kamu sudah siap?" tanya Refan.


"Sudah Pa" jawab Salman.


"Bik, mana tas kelengkapan Salman?" tanya Refan..


"Ini Den" Bik Nah menyerahkan tas perlengkapan Refan, pakaian ganti, snack dan susu Salman.


Refan mengambil tas tersebut dari tangan bik Nah.


"Gimana kamar Naila Den?" tanya Bik Nah..


"Alhamdulillah sudah lebih baik Bik, tapi dia harus istirahat dan opname dulu selama tiga hari" jawab Refan.


Refan menggenggam tangan Salman dan membawanya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


"Kami pergi dulu ya bik" ucap Refan pamit.


"Iya Den, hati - hati" balas Bik Nah.


Refab melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak. Sesampainya dia di sana ternyata Mama mertuanya sudah datang di Rumah Sakit.


"Assalamu'alaikum.. " ucap Refan sambil membawa Salman.


"Wa'alaikumsalam.. eh anak Mama udah datang" jawab Kinan dengan senang melihat Refan datang bersama Salman.


"Mamaaaa.... " Salman langsung memeluk Kinan.


"Ssssst... jangan ribut ya sayaaang, adek Nailanya baru aja bobok" ujar Kinan memperingatkan putrnya..


Salman melihat keadaan Naila yang sedang tertidur di rumah sakit dengan tangannya yang di balut perban karena dia sedang di infus.


"Tangan adek kenapa Ma?" tanya Salman penasaran.


"Adeknya lagi di infus sayang, dikasih obat biar cepat sembuh" Jawab Kinan.


"Di cucuk jarum?" tanya Salman ingin tau.


"Iya" balas Kinan singkat.


"Adek nangis gak Ma?" Salman terlihat kasihan melihat Naila seperti itu.

__ADS_1


"Nggak, adek kan kuat seperti Kakak Salman nya. Ya kaaan?" goda Kinan.


Salman tersenyum mendengar Kinan memujinya.


"Mama sudah lama datang?" tanya Refan pada mertuanya.


"Sudah tiga puluh menit" jawab Mama Kinan.


"Kok Mama tau Naila sakit?" tanya Refan tak enak hati.


"Tadi Mama telepon Kinan, Mama kira dia di kantor tapi katanya izin karena Naila masuk rumah sakit. Mama mau ke rumah dulu jemput Salman baru ke sini tapi Kinan bilang Salman sudah kamu jemput. Akhirnya Mama langsung ke sini" jawab Mamanya Kinan.


"Oooo... " balas Refan.


"Salman Oma ada bawa cake kesukaan kamu lho" ujar Dhisti.


"Benar Oma?" tanya Salman.


"Iya, yuk cuci tangan dulu baru setelah itu makan cake" Dhisti membawa cucunya untuk membersihkan tangannya di kamar mandi.


Refan segera mengambil kesempatan untuk mendekati Kinan dan berkata pelan kepada Kinan.


"Nan.. soal Naila, tolong jangan kasih tau Mama kamu ya" pinta Refan.


Kinan langsung mengerti, mungkin Refan tidak mau cerita Naila bukan putra Refan di ketahui oleh keluarganya. Kinan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, aku tidak akan bilang pada siapapun" jawab Kinan.


Tak lama Mama Kinan keluar toilet bersama Salman. Setelah itu memberikan cake yang dia bawa kepada Salman. Mereka makan cake di sofa.


"Kamu mau Fan?" ujat Dhisti menawarkan kepada Refan.


"Iya Ma, nanti aja" jawab Refan.


Dhisti dan Salman menemani mereka menjaga Naila di Rumah Sakit, siang harinya Mamanya Renita datang kembali.


"Assalamu'alaikum" ujar Talita.


"Wa'alaikumsalam. Mama..? Mama dataaaaang ...." Kata - kata Refan terpotong.


"Iya donk, Mama kan mau jenguk cucu Mama. Kenapa, kamu keberatan?" tanya Talita. Dia melirik ke arah Dhisti.


"Orang lain datang melihat Naila kamu gak masalah, kenapa Mama yang secara darah punya hubungan yang sangat kental dengan Naila kamu keberatan?" sindir Talita.


Kinan segera menghampiri Mamanya.


"Ma, aku minta tolong antarin Salman pulang ke rumah" ujar Kinan.

__ADS_1


Dhisti mengerti isyarat yang diberikan Kinan.


"Sal kita pulang yuk, adek Nailanya belum bisa di ajak main lama nanti dia kecapean. Kamu Oma antar pulang ya" bujuk Dhisti.


"Iya Oma.. " jawab Salman.


"Mama pulang dulu ya Fan, Nan" ujar Dhisti kepada kepada Refan dan Kinan.


"Mama, Papa, Salman pulang dulu ya" sambung Salman.


"Iya sayang.. baik budi di rumah ya sama Bibik" jawab Kinan.


"Hati - hati ya Ma" sambut Refan.


Refan mencium tangan mertuanya dan mencium kening Salman sebelum keduanya pulang. Talita melirik semua sikap Refan kepada Mama dan anaknya Kinan. Dia terlihat tidak suka


"Huh.. anak orang di sayang - sayang, anak sendiri malah di tes DNA" sindir Talita begitu Dhisti dan Salman keluar dari ruang rawat inap Naila.


"Salman memang bukan anak kandungku tapi sejak awak aku sudah mengetahuinya, sementara Naila aku kira anak kandung tapi ternyata... " jawab Refan.


"Kamu masih curiga, Mama kira kamu akan membatalkan tes DNA itu rupanya kamu tetap meneruskannya" ungkap Talita dengan emosi.


"Itu harus Ma, agar semuanya jelas. Aku tidak mau berprasangka buruk pada almarhumah Renita. Lebih baik aku tau kebenarannya jadi aku bisa memikirkan masa depan Naila kemudian" jawab Refan.


"Kamu sudah menuduh Renita Fan, tega sekali kamu. Setelah kamu mendapatkan penggantinya kamu malah menjelekkan Renita. Bagaimanapun Renita itu istri kamu Fan, wanita yang pernah sangat kamu cintai. Tega sekali kamu menuduhnya berselingkuh. Ini pasti karena hasutan istri kamu itu kan? Dia ingin menyingkirkan Naila dari hidup kamu agar dia bisa memiliki kamu seutuhnya " tuduh Talita.


"Ma.. jangan bawa - bawa Kinan dalam masalah ini. Kinan tidak bersalah, dia tidak tau apa - apa" bantah Refan.


"Halaaaah wajahnya saja yang sok suci di belakang dia pasti sudah meracuni pikiran kamu sehingga kamu berani mengatakan hal yang buruk tentang Renita" jawab Talita.


Kinan berulang kali mengucap istighfar mendengar tuduhan Mamanya Renita kepadanya. Sampai - sampai tubuh Kinan bergetar karena tuduhan yang dilontarkan kepadanya.


"Cukup Ma.. Mama jangan menuduh sembarangan. Harusnya malah Mama bersyukur Kinan menyayangi Naila cucu Mama apapun hasil pemeriksaan Naila nanti. Kinan akan tetap mengurus Naila dan menganggap Naila sebagai anak kandungnya sendiri" bela Refan.


"Munafik... aku tau dalam hatinya pasti sangat senang kamu bisa terhasut bujuk rayunya dan melakukan tes DNA kepada Naila" sambung Talita.


"Ma... sekarang tujuan Mama datang kesini untuk apa? Mama ingin buat keributan?" tanya Refan.


"Aku mau menjenguk cucuku" Jawab Talita.


"Kalau Mama memang ingin menjenguknya silahkan, kami tidak melarangnya. Tapi kalau Mama datang ke sini untuk ribut, dengan sangat menyesal aku akan mengusir Mama dari sini demi kesehatan Naila dan demi kenyamanan ruangan ini" tegas Refan.


"Mama masih tidak terima Fan, kamu menuduh Renita anak Mama melakukan hal yang tidak - tidak. Kamu menuduh tanpa bukti" ujar Talita.


"Aku punya dua bukti Ma, pertama golongan darah Naila berbeda dengan aku dan Renita. Kedua, aku menemukan fakta baru, walau aku belum tau secara pasti siapa orangnya. Yang jelas ada dua orang pria yang selalu berkunjung ke makan Renita selain aku. Hahaha.. hebat bukan, bukan hanya satu tapi dua pria Ma. Dua pria yang aku yakin salah satunya dari mereka adalah orang tua kandung Naila bukan aku. Hanya tinggal menunggu waktu Ma, semua akan terbongkar. Dan saat itu tiba aku harap Mama tidak terkejut mendengar semua kebenarannya. Putri yang selama ini Mama bangga - banggakan ternyata punya rahasia besar dalam hidupnya yang dia bawa sampai mati" ujar Refan dengan tegas.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2