
"Bel ada Rizal tu" ujar Ela kepada Bela.
Bela menatap ke arah Rizal teman kuliahnya yang juga ikut wisuda hari ini. Rizal tampak berjalan mendekati Bela yang terlihat salah tingkah.
"Bel.. foto bareng yuk" ajak Rizal.
"Boleh. Yuk El" sambut Bela.
Akhirnya Bela, Ela dan Rizal foto bertiga.
"Ren tolong fotoin donk, pleasee.... " pinta Bela.
"Okey" Reni menerima handphone Bela yang baru saja Bela berikan kepadanya
Jepreeeet... Jepret...
Reni mengambil beberapa foto. Aril tampak cemburu dengan kehadiran Rizal didekat Bela.
"Mbak tolong ambilkan foto berdua" pinta Rizal kepada Reni.
"Ba.. baik" Reni melirik ke arah Aril. Aril tampak tidak suka.
Rizal berdiri tepat disamping Bela dan terlihat sangat mesra. Reni mengambil foto mereka sekali lagi.
Jepreeet....
"Nih Bel handphone kamu" ujar Reni sambil menyerahkan ponselnya.
Tampak Bela, Rizal dan Ela sedang ngobrol sambil tertawa.
"Kenalin donk" goda Reni pada Bela sambil memainkan matanya.
"Eh iya, Zal kenalin nih saudaraku dari Jakarta" ujar Bela pada Rizal.
Rizal melirik Reni dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Rizal" ujar Rizal.
"Reni" sambut Reni.
Rizal melanjutkan ke arah Bimo dan Aril.
"Nih Kakak aku Zal" lanjut Bela.
"Bimo" sambut Bimo.
"Saya calon Bosnya, Aril" ujar Aril.
Bela tertawa.
"Setelah wisuda aku akan kerja di perusahaan Mas Aril di Jakarta Zal" sambung Bela.
Rizal tersenyum menyambut uluran tangan Aril. Setelah itu Rizal menjabat tangan Bapak dan Ibu Akarsana dan Bapak dan Ibu Ela.
"Yuk kita makan di luar. Ajak aja Rizal dan Ela" ajak Bimo.
"Iya, bareng aja Bel. Ajak Bapak Ibu mereka juga" sambung Bu Ajar sana.
"Yuk El, Zal kita makan bareng sekalian merayakan hari bahagia kita" ajak Bela
__ADS_1
"Buk Pak" Ela menatap kedua orang tuanya.
"Ya sudah kita bareng aja. Kita ajak Mbak kamu juga" sambut Bapaknya Ela.
"Kamu Zal?" tanya Bela.
"Bentar ya aku panggil Bapak dan Ibuku" ujar Rizal.
Rizal memanggil Bapak dan Ibunya untuk bergabung bersama keluarga Bela dan Ela. Setelah mereka berkumpul dan saling berkenalan akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
Semua masuk ke dalam mobil masing - masing. Mobil meluncur menuju Restoran besar di Surabaya. Mereka segera mengambil meja yang panjang untuk tiga keluarga.
Aril tampak lebih banyak diam sejak kedatangan Rizal. Dia memilih duduk di samping Bimo dan Reni yang tak jauh dari Bapak dan Ibu Akarsana.
"Kamu jangan jauh - jauh. Aku merasa jadi seperti orang asing di sini" bisik Aril pada Reni.
"Bilang aja jealous" sambut Reni.
"Ngapain coba aku jealous. Aku itu lebih segalanya dari pria itu. Aku lebih tampan, lebih mapan, lebih pintar dan lebih berpengalaman" ujar Aril.
"Tapi lebih tua hahaha" ejek Reni.
"Cih main fisik. Kena mental gua" umpat Aril.
"Hahaha rasain kamu Mas, kena batunya. Kamu kira semua wanita di dunia ini akan bertekuk lutut di hadapan kamu. Cinta itu misteri dan banyak sekali kisah cinta yang tak terbalad di dunia ini Mas. Bersiaplah mungkin cinta kamu salah satunya" ejek Reni bahagia. Baru kali ini dia melihat Aril merasa punya saingan.
Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bimo melirik interaksi Aril dan Reni dan dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap Aril.
"Apa ada masalah?" tanya Bimo kepada Aril.
"Ha.. eh nggak Bim. Aku hanya sedang membicarakan temanku pada Reni. Temanku itu sudah lama suka sama Reni dan dia sering kirim salam" jawab Aril.
Bimo terdiam sesaat mendengar Aril bercerita. Dan diam - diam dia melirik ke arah Reni yang terlihat ceria.
Apakah Reni sesenang itu mendapat salam dari seorang pria? tanya Bimo dalam hati.
Diam - diam Aril juga melirik ke arah Bimo, dia tau kalau Bimo mencuri pandang kearah Reni.
Hahaha.. penasaran kan? Panas juga kan? Hahaha bukan aku sendiri yang sedang kepanasan. Aku punya teman sekarang. Tawa Aril dalam hati.
"Setelah tamat aku juga akan ke Jakarta. Omku kemarin sudah janji mau kasih aku pekerjaan" ujar Rizal.
"Wah enak banget kalian" sambut Ela.
"Kamu mau ikut ke Jakarta El, temannya Mas Aril banyak lho pengusaha mungkin bisa sekalian minta carikan kerja buat kamu" sambut Bela
"Benarkah?" tanya Ela
"Iya. Mas Aril bisa carikan Ela kerja juga gak?" tanya Bela.
"Mmm.. nanti coba aku tanya Romi dan Riko ya" jawab Aril.
"Kamu kerja dimana Ren?" tanya Ela.
"Aku masih magang di perusahaan Kakak aku. Aku juga kan baru wisuda beberapa bulan yang lalu" jawab Reni.
"Eh kita sebaya rupanya" sambut Rizal.
"Iya sebaya" balas Reni ceria.
__ADS_1
Bimo masih tetap melirik ke arah Reni dan Aril mengetahui itu. Aril tersenyum dan sedang menyusun siasat.
"Eh Bim, besok kan minggu. Jalan kemana kita mumpung liburan?" tanya Aril.
"Aku sudah lama gak pulang jadi sudah gak tau lagi dimana tempat - tempat yang asik buat jalan. Tanya Bela aja" jawab Bimo.
"Gimana Bel?" Aril melirik ke arah Bela.
"Kalau be Bromo jauh gak? Aku pengen ke sana" pinta Reni.
"Gak jauh Ren, mumpung masih siang juga. Gimana Mas kita kesana aja kalau gak, Reni pengen tuh" ajak Bela.
"Boleh, Mas juga udah lama banget gak kesana" sambut Bimo.
"Ya sudah kita ke sana aja" ujar Aril.
"Kalian ikut yuk. Kan asik kalau kesana rame - rame" ajak Bela kepada dua temannya.
"Aku sih gak masalah, mulai hari ini kan resmi jadi pengangguran" sambut Ela.
"Iya benar juga kamu El" jawab Bela.
"Kamu gimana Zal?" tanya Ela.
"Gak masalah, aku juga masih santai. Minggu depan baru ke Jakarta. Ya sudah kita jalan ke sana aja" jawab Rizal.
Cih aku gak pengen ajak kamu. Umpat Aril dalam hati.
Tatapan Aril terlihat sinis ke arah Rizal dan Reni mengerti apa arti tatapannya.
"Ada yang panas" Bisik Reni mengejek.
"Dasar setan kecil" balas Aril.
"Aku punya kenalan Mas yang biasa urus Trip Surabaya - Bromo. Kita berangkat nanti malam aja sekitar jam sembilan malam" ujar Rizal.
"Boleh juga tuh. Gimana Ril?" tanya Bimo.
"Oke, aku gak masalah" jawab Aril.
"Ya sudah kalau begitu nanti malam kita kumpul di rumah aku aja ya Zal, La" ujar Bela.
"Oke Bel" sambut Ela.
"Asiiik akhirnya aku ke bromo juga" Sorak Reni senang.
"Eh setan kecil kesenangan" Aril mengelus lembut kepala Reni penuh kasih sayang membuat Bimo kembali melirik.
Panas gak? Panas gak? Ya panas donk pastinya. Hahahahaha.... tawa Aril dalam hati.
Aril mempunyai misi ke Surabaya ini. Selain ingin berdekatan dengan Bela dia juga ingin mendekatkan Bimo kepada Reni. Rencananya kalau berjalan lancar, Bimo naksir Reni dan dia membantunya penuh harapan Aril, Bimo akan mendukungnya untuk mendekati Bela. Dan Bimo rela dirinya menjadi adik ipar Bimo.
Aril tersenyum penuh siasat saat berdekatan dengan Bimo dan Reni setelah itu tatapannya terhenti karena melihat keakraban Bela dengan Rizal.
Huh anak kemarin sore, mau bersaing denganku. Kamu harus banyak - banyak berguru dulu baru kedudukan kita seimbang. Ujar Aril dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG