Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 157


__ADS_3

Refan segera mengirimkan pesan berupa gambar Bima kepada orang yang Refan tugaskan untuk mencari informasi mengenai sosok Bima atau apapun yang berhubungan dengan Bima.


Refan memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Kepalanya sungguh sangat berat saat ini, memikirkan apa yang sedang terjadi. Semua ini seperti teka - teki yang memang harus bisa Refan pecahkan karena ini menyangkut keselamatan istri dan anak - anaknya.


Refan menarik nafas panjang, dia berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Bagaimanapun masalah yang sedang dia hadapi, pekerjaan kantornya harus selesai. Agar dia bisa segera pulang untuk menjemput Kinan ke kantornya setelah itu mereka akan ziarah ke makan Bima seperti janji Refan kemarin kepada Salman.


Refan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda dan segera menyelesaikannya. Hingga sampai sore hari Refan segera bergegas menuju kantor Kinan.


Seperti biasa Kinan sudah menunggu di depan kantornya saat mobil Refan memasuki halaman kantor Kinan. Dengan wajah yang sebisa mungkin Refan atur sebiasa dan senormal mungkin Refan menyambut kedatangan Kinan dan naik ke mobilnya.


"Kamu sudah lama menunggu di situ?" tanya Refan.


"Belum kok Mas. Aku baru keluar dari ruanganku saat Mas kasih kabar sudah dekat" jawab Kinan.


Refan segera melajukan mobilnya keluar dari area kantor Kinan dan sekarang mereka sudah menuju arah pulang ke rumah.


"Coba hubungi Mama, tanya apakah Salman sudah siap? Sudah sore, aku tidak mau kita kesorean sampai ke makam. Sebelum maghrib kita sudah harus keluar dari pemakaman" perintah Refan.


"Iya Mas, sebentar aku telepon Mamanya dulu" sambut Kinan.


Kinan segera meraih ponselnya di dalam tas kemudian mencari nomor telepon mertuanya dan menghubunginya.


"Assalamu'alaikum Ma" ucap Kinan.


"Wa'alaikumsalam Nan" jawab Suci.


"Ma kami sudah arah pulang ke rumah, sebentar lagi sampai. Salman sudah siap belum Ma?" tanya Kinan.


"Sudah Nan, Salman sudah siap. Ni dia lagi nungguin kalian sampai" jawab Suci.


"Oke Ma, sebentar lagi kami sampai ya.. Tolong suruh Salman siap - siap" ujar Kinan.


"Iya Nan, hati - hati ya" sambut Suci.


Telepon pun terputus. Tak lama kemudian mobil Refan sudah memasuki halaman rumahnya. Salman dan Suci keluar dari rumah.

__ADS_1


"Ma kami gak turun lagi ya biar gak kesorean" ucap Kinan.


"Iya, kalian hati - hati ya" jawab Suci.


"Kami pergi dulu ya Ma" ujar Refan.


"Iya" balas Suci.


"Daaah Omaaaa" Salman naik ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Suci.


"Daaaa sayaang" balas Suci.


Mobil Refan kembali melaju ke arah pemakanan umum dimana Bima dimakamkan. Mereka keluar dari mobil bersamaan kemudian berjalan menuju makam Bima.


Saat mereka tepat di makam Bima alanhkah terkejutnya Kinan dan Refan melihat di atas makam Bima ada taburan bunga. Dan dilihat dengan seksama bunga - bunga tersebut baru saja di tabur karena kelopak bunga itu terlihat masih segar.


"Ma.. Maaas... " Kinan menatap wajah Refan.


Hampir saja tubuh Kinan bergoyang dan kehilangan kesimbangan, Refan segera menangkap tubuh Kinan dan memegangnya.


Wajah Kinan tampak pucat melihat keanehan di makam Bima. Refan juga sangat penasaran dengan semua yang terjadi.


"Siapa ya yang datang ke sini? Nanti saat kita sudah sampai di rumah coba kamu tanya orang tua Bima. Siapa tau mereka yang datang ke sini" perintah Refan.


"Kalau mereka datang pasti ngabari aku Mas. Mereka kan biasa nginap di rumah" jawab Kinan.


"Ya siapa tau mereka sudah datang ke rumah lama kamu tapi gak ketemu siapapun karena rumah itu kan sudah kosong" ujar Refan.


"Benar juga. Ya sudah nanti aku telepon Bapak setelah sampai di rumah" balas Kinan.


"Ya sudah, sekarang kita kirim doa dulu untuk Bima biar gak kesorean" perintah Refan.


Refan, Kinan dan Salman kini berdoa di depan makam Bima.


Maaaas... Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku tidak mengerti apa yang sedang aku dan Salman alami. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu, apakah pesan yang aku terima itu benar. Tapi siapa yang tega melakukan itu pada kamu Mas? Aku tidak menyangka ternyata meninggal karena di.. bunuh. Benarkah itu Mas, berilah petunjuk kepada kami. Apa yang harus aku lakukan untuk melindungi anak kita Mas. Apakah orang yang sudah membunuh kamu juga mengintai aku dan Salman? Batin Kinan.

__ADS_1


Tanpa Kinan sadari air matanya jatuh mengalir di pipinya. Refan merangkul bahu Kinan dari samping untuk memberikan kekuatan.


Dia mengerti apa yang sedang Kinan rasakan saat ini. Kinan pasti sedih sekali kalau seandainya kematian Bima benar - benar karena di bunuh.


Seseorang yang sangat kita sayangi di renggut paksa dari kita dan harus pergi selamanya dengan cara yang sangat menyedihkan seperti itu. Wajar kalau Kinan menangis saat ini, dia pasti teringat kembali bagaimana kejadian saat Bima meninggal dunia. Batin Refan.


"Pa.. Papa bobok yang tenang ya di surga. Salman janji gak akan nakal dan Salman janji akan jaga Mama" tiba - tiba Refan dan Kinan mendengar suara Salman.


Kelihatannya Salman sangat sedih sekali karena merindukan Papanya.


"Walau kata Mama orang yang Salman lihat kemarin mirip Papa, Salman senaaaaang sekali sudah bisa melihat Papa lagi" ucap Salman sambil tertunduk.


Tangis Kinan semakin pecah karena mendengar suara hati Salman yang ternyata dia keluarkan saat ini. Kinan segera memeluk putranya dan mereka menangis bersama.


"Sayaaang doain Papa ya.. teruslah mendoakan Papa. Papa pasti sangat bangga melihat Salman sudah besar dan sepintar sekarang" puji Kinan.


Hati Refan juga terasa sangat sedih melihat kedua orang yang kini sangat berarti dalam hidupnya larut dalam kesedihan mengingat orang yang sangat berarti dalam hidup mereka.


Tidak ada rasa sakit atau marah ataupun cemburu di hati Refan. Sebaliknya Refan berjanji di dalam hati akan mencari tau dan segera menyelesaikan teka - teki kematian Bima.


Bim.. aku janji akan menjaga Kinan dan Salman. Ini janjiku sebagai seorang laki - laki di depan makam kamu. Aku akan membahagiakan mereka. Aku juga berjanji akan mencari tau dan membuka kembali rahasia yang tersembunyi dibalik kematian kamu. Tenang lah di sana, biar aku yang menggantikan kamu menjaga mereka dan aku juga yang akan menggantikan kamu untuk mencari siapa sebenarnya orang yang sudah membunuh kamu. Kini aku sangat yakin, pasti ada sebuah rahasia di balik kematian kamu. Tegas Refan dalam hati.


Setelah mereka selest berdoa, Refan mengajak Kinan dan Salman pulang. Karena waktu sudah hampir petang, apalagi saat ini Kinan sedang hamil. Tak baik berada di tempat seperti ini sampai larut malam.


"Yuk kita pulang, sudah mau maghrib" ajak Refan.


"Iya Mas. Sayaaang kita pulang ya. Nanti kalau Salman kangen Papa lagi, Salman jangan lupa doa untuk Papa ya nak" ujar Kinan.


"Iya Ma" jawab Salman.


Refan, Kinan dan Salman meninggalkan makam Bima dan kembali ke mobil Refan. Setelah itu Refan menyalakan mobilnya dan menjalankannya pergi meninggalkan area pemakaman dan kembali ke rumah.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2