
"Maaaaas Bi.. mooooo" panggil Bela dengan mata yang berkaca - kaca menahan haru.
"Be.. Bela" sambut Bimo.
Bimo segera bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri adik bungsunya.
"Mas Bimo... " Bela langsung memeluk Bimo dan menangis.
"Bela.. " balas Bimo. Bimo juga membalas pelukan Bela.
"Mas kok lama banget sih pulangnya, aku kan kangen banget sama Mas Bimo. Di rumah sangat sepi sekali tanpa adanya Mas Bimo" ucap Bela sambil menangis terisak.
"Maafkan Mas Bimo deeek.. Mas Bimo sangat terlambat untuk pulang. Maafkan Mas yang gak bisa menjadi contoh yang baik bagi kalian adik - adiknya Mas. Mas Bimo juga gak bisa menjaga kamu dan Bima hingga.. hingga.. Bima harus meninggal gara - gara Mas" Bimo juga kembali menangis setiap mengingat tentang kematian Bima.
Dia merasa sangat bersalah karena dirinyalah Bima harus meninggal dunia. Tapi kematian Bima juga yang membuatnya kembali ke jalan semula. Bimo sangat terpukul dengan kematian saudara kembarnya sehingga dia sadar dia sudah sangat jauh melangkah. Sudah saatnya dia kembali pulang.
Kembali ke fitrahnya sebagai manusia ciptaan Allah. Bimo akhirnya kembali memeluk agama Islam dan bertaubat atas semua perbuatannya selama ini.
"Aku kangen Mas Bimo.. aku kira.. aku kira.. aku hanya tinggal sendirian setelah kepergian Mas Bimo dan Mas Bima hiks.. hiks.. " ucap Bela masih terisak.
"Cup.. cup.. adek Mas sayang jangan nangis lagi donk. Mas kan sekarang udah ada di sini dan akan selalu ada buat kamu. Kamu tidak sendirian lagi, ada Mas sekarang yang akan menjaga kamu" sambut Bimo.
Bapak dan Ibu Akarsana kembali menangis haru melihat pertemuan dua anak - anak mereka yang sudah berpisah sangat lama. Akhirnya keluarga mereka berkumpul kembali.
Hikmahnya memang sangat sulit kehilangan seseorang yang sangat mereka sayangi tapi ternyata dengan kepergiannya membuat sesuatu yang selama ini pergi bisa kembali pulang.
Bimo melirik ke arah Aril.
"Dia siapa dek? Suami kamu? Kamu sudah menikah?" tanya Bimo penasaran.
Pertanyaan Bimo sontak membuat hati Aril berbunga - bunga. Aril langsung tersenyum ke arah Bimo.
"Bu.. bukan Mas.. Dia Mas Aril sahabatnya Mas Refan. Tadi dia temani aku dulu ke suatu tempat" jawab Bela serba salah.
Duh kenapa kamu gak jawab kalau aku calok suami kamu Bela. Batin Aril berharap.
Aril menyodorkan tangannya ke arah Bimo.
"Kenalkan saya Aril" ucap Aril.
"Bimo" sambut Bimo.
"Ayo semua duduk bersama. Kita makan bersama dan kumpul keluarga saat ini" ajak Refan.
"Ayo Nak Aril ikut bersama kami" sambut Pak Akarsana.
__ADS_1
"Iya Pak, terimakasih" jawab Aril hormat.
Bimo duduk kembali diantara Bapak dan Ibunya sedangkan Bela mengambil tempat di samping Bapaknya dan Aril duduk di depan Bela tepat di samping Refan.
Refan memanggil pelayanan dan meminta pelayan tersebut menambah menu makanan untuk Aril dan Bela yang baru datang.
"Mas Bimo sekarang tinggal dimana?" tanya Bela.
"Mas menginap di hotel" jawab Bimo.
"Hotel? Apa kamu gak terlalu boros Mo. Kamu kan akan lebih lama tinggal di sini. Bukannya kita akan menuntut kebenaran tentang kematian Bima di sini?" tanya Pak Akarsana.
"Iya Pak, setelah ini aku berniat akan mencari rumah kontrakan untukku" jawab Bimo.
"Ngapain ngontrak Mas. Tinggal aja di rumah kami. Maksud aku rumah aku dulu bersama Mas Bima. Rumah itu kan gak ada yang tempati" potong Kinan.
"Apa tidak masalah Nan?" tanya Pak Akarsana.
"Gak masalah Pak, itu kan rumah keluarga kita. Silahkan saja Mas Bimo tinggal di sana" ulang Kinan.
"Kamu gak keberatan Nak Refan?" tanya Pak Akarsana.
"Tidak Pak, ngapain aku keberatan? Itukan rumah Kinan bersama Bima dulu jadi aku tidak berhak mengatur Kinan untuk mengelola rumah itu. Silahkan saja di tempati. Benar kata Kinan daripada rumahnya kosong kan lebih baik di isi" jawab Refan.
"Justru itu lebih baik, bukankah para penjahat itu akan berfikiran yang meninggal dalam kecelakaan itu memang benar - benar Bimo bukan Bima. Sehingga Bimo lebih leluasa bergerak" sambut Refan.
Bimo terdiam mendengar usul Refan.
"Benar juga Fan ide kamu. Kalau begitu aku setuju tinggal di sana" jawab Bimo.
"Yah semoga mereka tidak mengetahui kalau kalian itu saudara kembar" sambut Pak Akarsana.
"Aku berharap beberapa saat ini mereka tidak mencari tau lagi informasi tentang Bima Pak. Semoga mereka memang sudah menganggap aku mati. Setidaknya sampai kita melaporkan kecelakaan Bima kepada polisi" ujar Bimo.
"Semoga saja" balas Pak Akarsana.
Akhirnya selesai juga makan siang bersama. Bimo kembali berpamitan dengan keluarganya. Dia akan memastikan terlebih dahulu kalau kondisi dia saat ini aman tidak sedang dalam intaian keluarga almarhumah istrinya setelah itu baru Bimo pindah sementara di rumah Bima dan Kinan yang dulu.
"Pak, Bu doakan aku agar tetap istiqomah ya.. dan do'akan rencana kita untuk mencari keadilan kecelakaan Bima berhasil" ucap Bimo kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Iya nak, yang penting jangan pernah lagi kamu tinggalkan shalat dan terus minta ampun kepada Allah atas apa yang dulu pernah kamu lakukan. Ingat Nak, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Percayalah Allah pasti akan memaafkan kesalahan kita asalkan kita jangan melakukan kesalahan itu lagi dan benar - benar serius ingin bertaubat" pesan Pak Akarsana.
"Iya Pak, Bu. Sekali lagi maafkan aku dan ridhoi usahaku ya" Bimo memeluk Pak Akarsana dan Ibunya secara bergantian.
Bimo kembali melirik ke arah Salman. Dia berjongkok agar tubuhnya setara dengan tubuh Salman.
__ADS_1
"Uncle pergi dulu ya sayang... sekarang kamu sudah tau kan kalau kangen Papa Bima jangan lupaaaaa.... ??" tanya Bimo
"Telepon Uncle Bimo" jawab Salman bijak.
Bimo tersenyum dan mengacak rambut Salman karena gemas melihat tingkah Salman.
"Anak pintar...harus patuh pada Papa dan Mama ya sayang dan gak boleh nakal. Cukup Uncle aja yang pernah nakal. Jadi anak nakal itu gak enak, jauh dari Papa dan Mama dan kalau nakal pasti kena marah sama mereka" pesan Bimo.
"Iya seperti Uncle tadi kan di pukul Eyang" sambut Salman.
"Iya, makanya jangan Salman ikuti kesalahan Uncle. Janji" Bimo menyodorkan jari kelingkingnya kepada Salman.
Salman menyambut tangan Bimo.
"Iya Uncle" jawab Salman.
"Pinter anak Uncle" Bimo memeluk Salman penuh kasih sayang. Terlihat dia memang sayang kepada Salman.
Bimo berdiri dan menatap semuanya.
"Besok kita bertemu di kantor pengacara ya.. Nanti aku akan kirimkan alamatnya" ucap Refan.
"Oke Fan, aku tunggu" balas Bimo.
"Hati - hati ya Nak" pesan Ibu Akarsana.
"Iya Bu, Ibu juga sehat - sehat ya.. Bela kamu harus rajin pijitin Ibu. Mas kan sudah ajari kamu bagaimana cara pijitin Ibu yang baik" ujar Bimo.
"Iya Mas" sambut Bela.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Assalamu'alaikum.. " ucap Bimo sebelum masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam... " jawab semuanya.
Bimo masuk ke dalam mobilnya dan perlahan bergerak keluar dari area parkir. Bapak dan Ibu Akarsana melihat kepergiannya sampai jauh. Di hati mereka ada harapan baru kepada putra sulung mereka.
Putra pertama mereka kini sudah kembali, hati mereka sungguh sangat bahagia. Walau masih ada kesedihan dibalik kepulangannya tapi mereka tetap bersyukur atas keadaan saat ini.
Mereka juga kembali ke mobil masing - masing kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Refan dan Kinan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1