Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 342


__ADS_3

"Maaf Tante kalau saya lancang datang menemui Tante" ucap Naila.


"Ka.. kamu?" ucap Febri terkejut.


Untuk sesaat mereka saling tatap. Naila bingung harus bersikap bagaimana di hadapan Febri. Naila langsung berlutut di hadapan Febri dan menangis.


Febri sangat terkejut dan segera berdiri dari di belakang meja kerjanya.


"Maafkan kedua orang tuaku Tante" ucap Naila.


Febri langsung menghampiri Naila dan menarik Naila agar dia tidak berlutut lagi.


"Sudah.. sudah.. ayo berdiri" ucap Febri.


Naila menggelengkan kepalanya dan masih menangis.


"Maafkan kedua orang tuaku Tante.. mereka sudah menyakiti hati Tante" ucap Naila lagi.


"Semua sudah berlalu.. maaf siapa nama kamu?" tanya Febri.


"Naila Tante" jawab Naila.


"Naila.. ayo mari duduk sini" ajak Febri.


Febri menarik tangan Naila dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Mengapa kamu meminta maaf kepada Tante?" tanya Febri lembut.


"A.. aku.. aku tau kedua orang tuaku, terlebih Papa kandungku sudah sangat menyakiti perasaan Tante. Pasti Tante sangat terluka atas hubungan terlarang mereka yang mengakibatkan lahirnya aku ke dunia ini" jawab Naila.


Febri menarik nafas panjang.


"Ya, masa - masa itu sangat berat Naila.. sangat berat. Tante benar - benar hancur pada saat itu. Untung ada Refan yang selalu memberikan semangat kepada Tante setiap kali kami bertemu. Dan Mas Rendy adalah suami Tante sekarang. Mas Rendy adalah sepupu Mama kamu. Karena merasa tidak enak kepada Tante, Mas Rendy tidak pernah bercerita tentang kamu kepada Tante atau mengungkit masa lalu pernikahan Tante dengan Mas Arga dan hubungan Mas Arga dengan Renita. Refan juga benar - benar menjaga kamu dengan ketat. Dia tidak ingin orang lain merusak pertumbuhan kamu, sehingga dia tidak pernah hadir membawa kamu dalam setiap acara keluarga. Kemarin sepulang dari bertemu kamu di Restoran, Tante bertanya kepada suami Tante tentang kamu. Barulah Mas Rendy cerita semuanya" ungkap Febri.


Naila menatap Febri dengan tatapan penuh rasa bersalah. Air matanya masih terus mengalir.


"Mengapa kamu terus menangis?" tanya Febri.


"Aku merasa keberadaanku di dunia ini banyak menyakiti dan merusak hidup orang lain Tante. Mungkin kalau aku tidak ada... " jawab Naila.


"Sssst... kita tidak bisa menyesali apa yang sudah terjadi. Kamu tidak menyalahkan diri kamu atas kesalahan kedua orang tua kamu. Tante sangat yakin mereka berbeda dengan kamu. Kamu tumbuh menjadi gadis yang baik berkat didikan Refan dan Kinan. Tante sudah lama memaafkan Mas Arga. Setelah kematiannya Tante mendapatkan surat darinya. Dalam surat itu Mas Arga meminta maaf kepada Tante karena sudah menyakiti Tante. Lama sudah kami menikah tapi kami tidak mendapatkan keturunan. Tante tau, dalam hal ini Tante yang lemah. Tante sibuk dengan perasaan Tante sendiri sehingga Mas Arga mendapatkan kenyamanan bersama wanita lain hingga kamu lahir. Pasti saat itu Mas Arga sangat senang. Hanya Tante mengerti posisinya saat itu, Renita sudah meninggal, Mas Arga bekerja di perusahaan orang tua Tante. Tidak mungkin dia membongkar aib hidupnya sendiri. Rasa rindunya pada kamu yang membuat dia memberanikan diri untuk mencari dimana keberadaan kamu. Dia menyuruh orang untuk membuntuti Opa dan Oma kamu hingga tanpa sengaja kecelakaan itu terjadi. Opa dan Oma kamu meninggal dunia. Tante yakin tidak ada niat Mas Arga untuk membunuh kedua orang tua Renita " ungkap Febri.


"A.. apa kamu tidak tau ceritanya Naila? Apa Refan dan Kinan tidak menceritakan semuanya kepada kamu?" tanya Febri tak kalah terkejutnya.


Febri segera sadar kalau dia sudah sangat lancang berbicara. Dari sikap Naila Febri tau kalau Naila baru saja mengetahui kisah hidup orang tuanya. Mungkin selama ini Refan dan Kinan menyembunyikan kebenaran pahit tentang kisah Arga kepada Naila.


"Ma.. maafkan Tante Naila. Tak seharusnya Tanye berbicara semua ini. Tante terlalu lancang, mungkin Refan dan Kinan punya alasan kuat sehingga merahasiakan semua ini dari kamu" sambung Febri dengan rasa bersalah.


"Yang penting Tante sudah memaafkan Papa dan Mama kamu. Semua sudah berakhir dan sudah selesai. Tante juga sudah menikah lagi dan alhamdulillah Tante bahagia dengan rumah tangga Tante sekarang. Tante kemarin hanya sangat terkejut ketika bertemu kamu. Wajah kamu sangat mirip sekali dengan Renita tapi kamu memiliki mata Mas Arga Naila. Satu - satunya yang diturunkan Mas kepada kamu adalah mata kamu. Ya.. mata kamu sangat mirip dengan Mas Arga. Refan pernah berpesan kepada Tante, tidak ada gunanya memendam dendam kepada seseorang terlebih lagi orang tersebut sudah meninggal dunia. Memaafkan dan mengikhlaskan akan membuat hidup lebih tentram. Memang sangat sulit melakukannya tapi jika kamu berhasil kamu akan mendapatkan kedamaian. Sekarang Tante mengerti arti kata - kata Refan. Bagaimanapun Mas Arga pernah menjadi suami Tante. Orang yang sangat Tante cintai. Melihat kamu sekarang ini Tante merasa seperti menatap mata Mas Arga kembali. Mata seorang pria yang pernah menjadi hidup Tante. Tante merasa lega dan sangat senang sekali bisa bertemu kamu Naila. Anak dari pria yang pernah Tante cintai. Kamu manusia bebas Naila, kesalahan orang tua kamu bukanlah beban hidup kamu. Hiduplah dengan bahagia. Kamu sendiri juga harus belajar memaafkan mereka. Sebesar apapun kesalahan mereka maafkanlah dan doakanlah. Hanya kamu satu - satunya harapan mereka untuk menyelamatkan mereka di akhirat. Kamu harta yang tak ternilai Naila. Mereka beruntung telah memiliki kamu. Tante saja iri pada mereka karena sampai sekarang Tante tidak mempunyai anak. Kecelakan Tante dulu yang mengakibatkan anak Tante dan Mas Arga meninggal dunia membuat Tante tidak bisa mengandung lagi. Tapi Tante sudah ikhlaskan semua dan Mas Rendy juga mau menerima keadaan Tante apa adanya. Lupakan semua, mari kita bahagia" ucap Febri berusaha menebus kesalahannya tadi.


Naila hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Febri meraih tangan Naila dan menggenggamnya dan berusaha memberikan semangat kepada Naila.

__ADS_1


"Jangan pikirkan hal yang sudah berlalu Naila karena kamu tidak akan bisa merubah apapun yang sudah terjadi di masa lalu. Cukup doakan saja mereka, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik di sisiNYA untuk Papa dan Mama kamu" ucap Febri.


Naila tersentak dan langsung tersadar.


"Terimakasih Tante... Terimakasih Tante sudah mau memaafkan Mama dan Papa kandungku. Terimakasih Tante tidak marah atau membenciku" ujar Naila.


Febri menggelengkan kepalanya.


"Tante tidak berhak marah kepada kamu apalagi membenci kamu. Kamu tidak mempunyai kesalahan apapun" jawab Febri.


"Kalau bagitu aku pamit dulu ya Tante. Sekali lagi terimakasih Tante sudah mau menerima kedatanganku disini. Maaf kalau aku sudah mengganggu waktu kerja Tante. Aku balik Tante, assalamu'alaikum... " ucap Naila.


Naila mencium tangan Febri dan berdiri.


"Wa'alaikumsalam.. hati - hati Naila" jawab Febri.


Naila segera keluar dari ruang kerja Febri dan berjalan menuju lift tanpa melirik ke kanan dan ke kiri. Jeta yang menunggu Naila diluar terkejut melihat tingkah aneh Naila.


Jeta segera berdiri dan berjalan menghampiri Naila.


"Nai.. kamu mau kemana?" tante Jeta.


"Aku mau pulang" jawab Naila.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2