
Rumah Refan dan Kinan sudah mulai sepi. Semua penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamar mereka masing - masing dan sudah beristirahat.
Refan dan Kinan juga sedang beristirahat di kamar mereka sambil saling berpelukan. Refan mengelus lembut perut Kinan yang semakin membesar. Refan bisa merasakan kalau bayinya sedang menendang perut Mamanya.
Refan menggeser kepalanya sejajar dengan perut Kinan.
"Sayang Papa semua.. kalian yang akur ya di dalam. Jangan main - main terus, ini sudah malam. Kasih Mamanya di tendang nak" ujar Refan.
Kinan tersenyum mendengar ucapan Refan.
"Gak sakit kok Mas. Itu tandanya anak - anak kita sehat - sehat" jawab Kinan.
Refan mengecup lembut perut istrinya dengan penuh kasih sayang. Kemudian dia kembali ke posisi semula memeluk Kinan.
"Besok kamu aku antar ke kantor tapi janji jangan kemana - mana ya sampai pulang kerja aku jemput lagi. Kalau mau makan siang minta tolong Fadlan aja belikan sesuatu. Jangan pesan makan pakai jasa ojol ya. Aku gak mau mereka memanfaatkan kelemahan kita. Kita harus waspada" ucap Refan sambil membelai rambut Kinan.
"Iya Mas" jawab Kinan sambil membalas perlakuan lembut Refan dengan senyuman manisnya.
"Terimakasih ya Mas kamu udah mau repot - repot ikut menyelesaikan permasalahan kecelakaan Mas Bima" ujar Kinan.
"Ssst.. sayang semua aku lakukan demi keselamatan kamu dan Salman. Aku tidak mungkin tinggal diam melihat kalian dalam bahaya ataupun dicelakakan orang" tegas Refan.
Kinan membalas pelukan Refan.
"Aku ternyata gak salah kan jatuh hati pertama kali pada kamu. Hanya saja di awal aku kurang beruntung belum bisa mendapatkan hati kamu. Tapi setelah kesempatan kedua aku berhasil, ternyata kamu menjadikan aku sebagai ratu di dalam hati kamu Mas. Aku sangat bahagia" ungkap Kinan.
Refan mengecup lembut kening istrinya.
"Sekarang kamu tau kan sifat asli ku. Sekali aku mencintai seseorang aku tidak akan pernah setengah - setengah sayang. Hanya saja dulu rasa cintaku dimanfaatkan Renita sehingga aku terlihat jadi pria bodoh bertahun - tahun di khianati dari belakang. Tapi aku yakin kamu tidak akan melakukan semua itu kepadaku. Karena kamu adalah wanita yang baik yang Allah titipkan kepadaku sebagai istri dan ibu dari anak - anakku. Kamu tau tadi saat kami ngobrol panjang dengan Bimo saat makan siang. Dia dengan jujurnya berkata kalau niat awal dia mendekati kamu ingin menjaga kamu dan Salman dan ingin menggantikan Bima" ungkap Refan.
Kinan menatap wajah Refan tak percaya.
"Mas Bimo bilang begitu?" tanya Kinan.
"Yup, dia ingin menjaga kalian, kamu mengerti kan apa maksudnya. Untung aku lebih dulu menikahi kamu. Kalau tidak, aku tidak tau bagaimana hidupku lagi. Menjalani masalahku dengan Naila tanpa ada kamu disisiku" jawab Refan.
Kinan tampak sedang berpikir.
__ADS_1
"Kalau aku dan Bimo datang di saat bersamaan mungkin dia lebih berpotensi dan menjadi calon paling kuat sebagai Papanya Salman" ujar Refan.
Kinan tersenyum sambil membelai lembut rambut Refan bagian depan.
"Kamu belum tentu benar Mas. Kamu tidak percaya dengan kekuatan jodoh? Kalau Allah sudah menggariskan kamu sebagai suamiku, tidak ada lagi yang bisa menghalangi. Walaupun Mas Bimo saudara kembarnya Mas Bima dan wajah mereka sangat mirip. Semakin lama aku mengenalnya aku semakin menyadari perbedaan mereka. Mas Bimo bukan Mas Bima Mas. Mereka orang yang berbeda" ungkap Kinan.
"Apa bedanya?" tanya Refan.
"Mas Bima itu orangnya lebih serius, lebih berhati - hati dalam berkata - kata sedangkan Mas Bimo lebih to the point dan suka bercanda. Masih banyak lagi perbedaan mereka. Dari cara berjalan, selera makan dan cara bicaranya semakin lama semakin kentara perbedaannya" jawab Kinan.
"Kamu memperhatikan sampai sedetail itu?" tanya Refan tak percaya.
"Jujur Mas.. aku gak mau bohong sama kamu. Saat Mas Bimo muncul aku ingin meyakinkan diriku apakah dia benar - benar Mas Bimo atau Mas Bima. Makanya aku perhatikan sampai hal - hal yang paling kecil. Kalau perbedaan fisiknya sepeti yang Bapak katakan. Mas Bimo punya tanda lahir di tangan sebelah kanannya. Itu perbedaan fisik mereka Mas. Kalau perbedaan sifat banyak lagi bedanya" jawab Kinan.
Kinan menatap wajah suaminya kemudian tersenyum lembut.
"Kamu jangan khawatir, seandainya kalian datang di waktu yang sama aku tidak akan memilih dia. Karena kamu adalah cinta pertamaku" ungkap Kinan meyakinkan suaminya.
"Tapi kan cinta kamu itu sudah padam sejak kamu menikah dengan Bima" jawab Refan.
Kinan tersenyum mengingat kalau di awal pernikahannya dia masih sering bermimpi tentang Refan. Tapi lebih baik tidak dia katakan untuk menghormati almarhum suaminya Bima.
Refan langsung memeluk Kinan dengan erat.
"Aku tidak meragukan kamu sayang. Aku yakin Allah memang mengirim kamu hanya untuk aku" jawab Refan.
"Aaaw... " pekik Kinan.
"Kenapa yank?" tanya Refan khawatir setelah mendengar Kinan menjerit.
"Mereka terlalu keras menendangku Mas" jawab Kinan sambil mengelus lembut perutnya.
Refan tersenyum lega, dia pikir Kinan mengalami kontraksi padahal kan usia kandungannya baru lima bulan.
"Mungkin putra kita suka main bola nanti" jawab Refan.
Kinan membalas senyuman Refan.
__ADS_1
"Biar Kakak Salmannya punya teman nanti" jawab Kinan.
"Waaah seperti kita harus cari calon nama buat mereka sayang" ujar Refan.
"Iya Mas, bisa nih kita mulai mengumpulkan nama - nama baik untuk anak - anak kita" sambut Kinan.
Mereka kembali berpelukan.
"Kamu dan anak - anak kita harus kuat ya.. Yang penting kamu sehat, yang lainnya serahkan padaku. Masalah kecelakaan Bima kamu sudah bisa mengikhlaskannya kan?" tanya Refan.
"Sudah Mas, sejak awal. Saat Mas Bima meninggal aku sudah mengikhlaskannya" jawab Kinan.
"Kalau begitu aku berharap semua proses hukum ini tidak akan mengganggu kamu dan anak - anak kita. Biar aku, Bimo dan Bapak yang akan berjuang untuk mencari keadilan buat Bima. Juga membantu Bimo agar bisa hidup tenang lagi sebagai Bima Akarsana kembali. Dia pria yang baik, nasib kami hampir sama. Mencintai orang yang salah sehingga kami sempat salah jalan. Kami juga melawan perkataan orang tua. Dan akhirnya juga hampir sama, pasangan kami sama - sama meninggal. Hanya bedanya Bimo berjalan terlalu jauh untung saja Allah masih memberikan petunjuk untuk dia kembali. Aku harap nanti dia juga akan menemukan kebahagiaannya kembali. Seperti aku bahagia bertemu dengan kamu. Semoga Bimo juga menemukan pendamping hidupnya yang bisa membuatnya lebih bersemangat menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan" ujar Refan.
"Aaamiin... " sambut Kinan.
"Mungkin kamu punya calon untuk Bimo?" tanya Refan.
Kinan mencubit pinggang suaminya.
"Aaaw... sakit yank" protes Refan.
"Kamu kira aku biro jodoh. Mas Riko aja gak berhasil dijodohin eh ini mau cariin jodoh buat Mas Bimo lagi. Aku gak punya stok cewek lagi" jawab Kinan cemberut.
"Hahaha... gemes lihat kamu cemberut. Bibir kamu menggoda" Refan mencubit lembut bibir istrinya. Tapi Kinan malah berusaha menggigit jari Refan dengan jahil.
"Eits... hampir saja kena gigitan maut" ujar Refan.
Refan segera mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan lalu mengecup lembut bibir istrinya.
"Kalau diginiin gak bakal di gigit malah di sambut" goda Refan.
Kinan kembali mencubit pinggan Refan gemas.
"Aaaw.. ampun yank.. aku kalah...menyeraaah" aku Refan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG