Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 123


__ADS_3

Sore ini Naila sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Hanya saja karena Kinan dan Refan masih kerja, Reno dan Talita sengaja menunggu mereka pulang kerja baru Naila dibawa pulang ke rumah.


Kinan dan Refan sengaja pulang kantor lebih cepat karena tidak enak kalau Mama dan Papanya Renita menunggu mereka lama datangnya.


Semua barang - barang Naila sudah disusun rapi dan sudah masuk dalam koper. Begitu juga barang - barang Refan dan Kinan selama mereka menginap di rumah sakit.


"Sudah siap semuanya Ma?" tanya Reno.


"Sudah Pa" jawab Talita.


"Kita tunggu Refan dan Kinan ya.. Sekalian pamit untuk berpisah" ujar Reno.


"Iya Pa" Balas Talita.


Naila sedang bermain di atas tempat tidur. Suasana haru sudah mulai terasa di kamar Naila. Reno dan Talita lebih banyak diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.


Tak lama Refan dan Kinan sampai.


"Lho Ma, Pa.. sudah siap - siap?" tanya Refan.


"Sudah Fan" jawab Reno.


Kinan langsung menghampiri Naila yang sedang asik bermain dengan mainan bayi yang ada di tangannya.


"Anak Mama... sudah mau pulang ya sayang" sapa Kinan sedih.


Kinan mencium pipi Naila dan dia langsung merasa sedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah.


Refan juga ikut menghampiri Naila di samping Kinan.


"Anak Papa yang kuat ya tinggal sama Opa dan Oma. Jangan membuat mereka sedih, kamu harus baik budi. Suatu saat kalau kamu datang ke kota ini cari Papa ya biar kita bisa bertemu lagi" ujar Refan.


Talita tak dapat membendung air matanya. Dia merasa sangat sedih harus memisahkan Naila dengan Kinan dan Refan.


Kinan menggendong Naila dengan perasaan sedih.


"Sayang baik - baik sama Oma ya, Naila harus jadi anak yang solehah biar bisa do'ain Mama Renita di sana ya. Mama dan Papa juga akan selalu mendoakan Naila, agar Naila senantiasa sehat dan kuat" ujar Kinan dengan berurai air mata.


Kinan dan Refan bergantian mencium kedua pipi Naila seolah enggan berpisah.


"Fan sudah sore, kita harus keluar dari Rumah Sakit ini. Kasihan Naila kalau kami kemalaman sampai rumah" ujar Reno mengingatkan.


"Iya Pa" jawab Refan sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Nan.. " Refan memegang bahu Kinan.


"Berikan Naila pada Mama" perintah Refan.


Kinan memandang wajah Refan dengan tatapan sedih, seolah - olah meminta waktu sebentar saja untuk bisa tetap menggendong Naila.


"Maaf ya Kinan kami harus pergi" ujar Reno.


"Ba.. baik Om" Jawab Kinan pasrah.


Kinan menyeka air matanya dan memberikan Naila kepada Talita.


"Maaf Kinan Tante harus bawa Naila sekarang" ujar Talita.


"Iya Tante, aku mengerti. Jaga Naila dengan baik - baik ya Tante. Kalau ada apa - apa jangan segan - segan untuk kabari kami" sambut Kinan.


"Iya. Tante pasti akan menjaga Naila dengan baik" jawab Talita.


"Sudah bisa kita pergi?" tanya Reno.


"Sudah Pa" jawab Talita.


"Kami pamit ya Fan, Kinan. Selamat tinggal dan sampai jumpa di lain waktu. Mudah - mudahan saat kita bertemu lagi kita semua sudah bahagia dan sudah bisa melupakan masa lalu" ujar Reno kepada Kinan dan Refan.


Kinan dan Refan mencium tangan orang tua Renita dengan hormat. Refan juga membantu mereka untuk membawakan barang - barang mereka sampai ke mobil.


Naila yang tidak mengerti apa - apa hanya diam di dalam gendongan Talita. Kondisinya sudah membaik dan sudah mau minum susu. Naila juga sudah mulai terbiasa dan sudah mulai mengenal Opa dan Omanya.


Walau terkadang masih rewel mencari keberadaan Naila dan Kinan saat mereka pergi ke kantor tapi Reno dan Talita yakin lambat laun Naila akan terbiasa dan juga akan segera melupakan sosok Kinan dan Refan.


Talita dan Naila sudah masuk ke dalam mobil sedangkan Reno masih memasukkan koper ke dalam bagasi mobil di bantu oleh Refan.


"Hati - hati ya Pa di jalan. Dan kalau ada apa - apa tolong kabari aku. Papa dan Mama jangan canggung, bagaimanapun kalian tetaplah orang tuaku" ujar Refan.


Reno menepuk bahu Refan.


"Iya Fan, untuk permulaan mungkin Papa tidak akan menghubungi kamu dulu. Biarlah kamu tata dulu rumah tangga kamu. Papa dan Mama juga menata hidup baru di tempat yang baru bersama Naila. Disana Tidak akan ada yang mengenal Renita jadi kami bisa membesarkan Naila tanpa bayang - bayang masa lalu Renita. Itu labih baik untuk perkembangan hidup Naila" ungkap Reno.


"Iya Pa, aku mengerti" jawab Refan.


"Kami pamit ya Fan, Kinan" ucap Reno.


"Iya Pa" sambut Refan.

__ADS_1


Reno naik ke dalam mobilnya. Talita membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Kinan dan Refan.


Refan merangkul istrinya yang sedang menangis. Mencoba untuk menguatkan perpisahan ini walau dia sendiri pun merasa sangat sedih. Mereka membalas lambaian tangan Talita.


Baik Talita ataupun Kinan sama - sama meneteskan air mata. Rasanya sangat berat sekali untuk berpisah seperti ini. Tatapan Kinan dan Refan tak lepas dari wajah Naila.


Mobil mulai bergerak dan melaju meninggalkan parkiran Rumah Sakit. Refan merangkul istrinya dan berjalan menuju mobil mereka. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan kemudian menyusul Reno meninggalkan Rumah Sakit.


"Nan.. singgah sebentar ke makam Renita ya. Aku mau pamit, Naila sudah tidak dalam pengasuhanku" pinta Refan.


"Iya Mas" jawab Kinan.


Refan menjalankan mobilnya menuju makam Renita dan tak lama kemudian meraka sudah sampai di area pemakaman. Mobil berhenti tepat di area parkiran TPU.


"Kamu di sini saja ya" ujar Refan.


"Iya Mas" jawab Kinan.


Refan turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalanan di area pemakaman. Dari kejauhan Refan melihat Bapak penjaga makan sedang membersihkan beberapa makam yang sudah mulai tumbuh rumput.


"Assalamu'alaikum Pak" sapa Refan.


"Wa'alaikumsalam Nah Refan. Mau ke makam istrinya?" tanya pria itu ramah.


"Iya Pak, mari Pak" jawab Refan.


"Silahkan.. silahkan" balas pria itu.


Refan kembali melanjutkan perjalanannya menuju makan istrinya. Dah dia berhenti tepat di depan pusaranya.


"Assalamu'alaikum Ren.. aku datang lagi. Aku cuma mau bilang sama kamu. Naila sudah aku serahkan kepada Papa dan Mama karena mereka meminta merekalah yang akan mengasuh Naila. Rumah juga akan aku jual untuk bekal kamu di sana. Ren.. mungkin kisah kita sudah berakhir. Mulai saat ini aku akan fokus pada keluarga kecilku. Mungkin.. aku tidak akan datang menemui kamu lagi di sini" ungkap Refan.


Refan menghela nafasnya dan kemudian menarik nafasnya dalam.


"Selamat tinggal Ren... aku berharap semoga kamu tenang di sana. Aku sudah memaafkan semuanya dan semoga kamu juga sudah memaafkan semua salah dan khilafku" Refan menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.


Setelah selesai beroda Refan beranjak pulang. Dia segera membalik badannya tapi alangkah terkejutnya dia saat berbalik dan melihat ke arah depan, ada sosok pria yang sangat dia kenal.


"Refaan?"....


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2