
Setelah selesai menelepon keluarga almarhum Bima dan berbincang - bincang dengan Papa dan Mama Kinan juga Mamanya Refan.
Kinan dan Refan pamit istirahat ke kamar. Refan menuntun Kinan sampai ke kamar karena Kinan tampak sangat letih sekali.
Refan mengiring Kinan sampai ke tempat tidur setelah itu dia mulai memberikan pijitan di kaki Kinan.
"Kamu pasti pegal kan, apalagi bayi kita di dalam sana semakin besar" ujar Refan lembut.
Kinan tersenyum penuh kasih sayang.
"Itukan sudah tugas aku Mas. Kita gak boleh mengeluh apalagi untuk sesuatu yang memang sangat kita harapkan dan inginkan. Bukankah dulu Mas meminta anak dariku, setelah Allah mengabulkan permintaan kita apa pantas kita mengeluh? Itu namanya kita gak tau bersyukur Mas.. Diluar sana masih banyak orang yang tidak dikasih kesempatan untuk mempunyai anak. Contohnya Mas Bimo, sembilan tahun menikah dia belum juga dikaruniai anak, bahkan sampai istrinya meninggal" balas Kinan panjang.
"Nan.. bisa tidak kamu gak usah sebut - sebut nama Bimo?" pinta Refan.
Wajah Refan tampak serius sehingga Kinan merasa bersalah.
"Ke.. kenapa Mas?" tanya Kinan.
"Kita belum mengenalnya Nan, benar dia memang saudaranya Bima Papanya Salman tapi dia mereka sudah lama berpisah bahkan sudah diusir oleh keluarganya. Kita tidak tau maksud dan tujuannya muncul dan juga dia bukan siapa - siapa. Dia orang lain Nan yang ketepatan mempunyai hubungan darah dengan Salman. Kita juga gak tau pasti apakah dia baik atau jahat" jawab Refan.
"Ma.. maaf Mas. Aku gak akan sebut nama dia lagi" balas Kinan.
Aku cemburu Nan.. Mengapa kamu harus menyebut namanya. Aku tau, tatapan kamu pada Bimo adalah tatapan penuh kerinduan kepada Bima, almarhum suami kamu. Hatiku sakit Nan, dia adalah orang asing dalam rumah tangga kita. Kamu istriku, kamu milikku Nan.. Batin Refan.
"Kapan jadwal kita ke dokter?" tanya Refan.
"Lusa Mas" jawab Kinan.
Refan membelai lembut perut Kinan.
"Anak - anak Papa yang sehat ya di dalam. Jangan nakal nanti perut Mamanya sakit" ujar Refan.
"Iya Papa" balas Kinan dengan menirukan suara anak - anak.
Refan tersenyum menatap wajah Kinan. Kinan Refan mensejajarkan wajahnya dengan Kinan dan mengecup lembut kening Kinan.
"Kalau kamu sudah tidak letih mau gak aku ajak olahraga?" tanya Refan dengan senyum nakal.
"Hahaha... sudah aku duga Mas. Kamu pijitin aku modus. Pasti karena ada maunya" tawa Kinan.
"Gak jadi deh.. kamu kan masih lemas karena kejadian tadi siang. Aku gak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak - anak kita" ujar Refan
Kinan berisik ke telinga Refan.
__ADS_1
"Aku mau" ujar Kinan.
Seketika mata Refan melotot, beberapa detik kemudian bibirnya melengkung dan tersenyum. Refan jadi bersemangat mengecup wajah istrinya.
Pertarungan yang santai pelan tapi pasti membuat mereka sama - sama berpeluh keringat. Pelepasan yang sangat indah dan keduanya akhirnya saling menyebutkan nama di akhir permainan mereka.
********
Keesokan harinya Refan janjian dengan para sahabatnya untuk bertemu. Mereka sengaja bertemu di sebuah Restoran saat makan siang. Maklum dua diantara mereka sudah menikah. Jadi tidak punya waktu lagi untuk pulang malam. Kecuali mereka membawa istrinya turut serta
Tapi kondisi Refan saat ini tidak memungkinkan mengingat Kinan, istrinya Refan sedang hamil. Apalagi ada masalah besar dalam rumah tangganya sehingga Refan tidak ingin meninggalkan istrinya berlama - lama.
Refan sudah sampai di Restoran tempat mereka janjian bertemu tak lama kemudian muncul Bagus di susul Romi dan Aril.
"Mana Riko?" tanya Refan.
"Katanya masih OTW" jawab Aril.
"Gimana kabar ta'arufnya?" tanya Bagus penasaran.
"Katanya gagal" jawab Romi.
"Gagal? Lho kok bisa?" tanya Refan terkejut.
"Kinan mau di tanya Rooom.. Room.. Kinan lagi asik nostalgia sama kembaran Almarhum suaminya" sambar Aril.
"Maksudnya?" tanya Romi tak mengerti.
"Ternyata Almarhum suami Kinan punya kembaran yang mirip banget dengan Almarhum suami Kinan. Terus mereka ketemuan jadi deh Kinan nostalgia dan lepas kangen sama Kakak iparnya. Lumayan kan lihat wajahnya mirip banget sama Almarhum suaminya" jawab Aril.
Refan tampak sedih mengingat hal itu.
"Serius Fan?" tanya Bagus meyakinkan.
"Iya benar, Kakak kembar Almarhum Bima datang namanya Bimo. Wajah mereka sangat mirip dan kemarin dia menemui Kinan di kantor" jawab Refan.
"Dimana posisi kamu belum menyatakan cinta pada istri kamu?" tanga Bagus lagi.
Refan menundukkan wajahnya.
"Iya Gus" jawab Refan.
"Wah bahaya masa depan lo Fan. Bisa bubar rumah tangga lo saingan berat datang" sambut Romi.
__ADS_1
"Apalagi Kakak iparnya Kinan udah duda" potong Aril.
"Waaah bisa gulung tikar itu namanya" ujar Romi.
"Semprul... ganti tikar atau turun ranjang bukan gulung tikar" bantah Aril.
"Hahaha... " tawa Bagus saat mendengar perkataan Romi.
Refan tak menanggapi candaan teman - temannya.
"Lo harus secepatnya ngungkapin perasaan lo ke Kinan, sebelum Kinan dibawa lari bemo" ujar Romi.
"Bimo Rom bukan Bemo" protes Aril.
"Yah kalau Bimo susah bawa lari Kinan. Tapi kalau Bemo tinggal tarek gas langsung cuuuus... " sambut Romi.
"Hahaha... " Bagus kembali tertawa mendengar perkataan dua sahabatnya itu.
"Haruskan aku mengatakan cinta? Selama ini apa Kinan gak bisa merasakan kalau aku sudah mencintainya. Aku sudah sering panggil dia sayang, aku perhatian dengannya, aku memperlakukannya dengan penuh kasih sayang?" tanya Refan.
"Ada sebagian wanita yang bisa mengerti dengan perbuatan kamu. Tapi kebanyakan wanita membutuhkan ikrar bro. Kalau kamu sudah mencintainya seumur hidup kamu dan Kamu tidak bisa hidup tanpanya" jawab Bagus.
"Tumben kamu pintar tentang wanita" sindir Romi.
"Ya belajar dari kalian lah.. percuma punya tiga teman mantan playboy" jawab Bagus.
"Hahaha... " Kali ini Romi dan Aril yang tertawa.
"Apa benar seperti itu. Memang kalau dengan Renita dulu aku sering mengucapkan karena kami kan pacaran tapi dengan Kinan kami langsung menikah. Aku rasa tak perlu lagi aku ucapkan tapi aku harus melakukan suatu tindakan yang mengisyaratkan kalau aku mencintainya. Aku.. aku juga tak bisa pastikan kalau dia juga sudah mencintai aku. Apa lagi saat ini, bayang - bayang Bima hadir lagi dalam wujud Bimo. Aku takut kalau dia tidak mencintaiku dan aku terluka" ungkap Refan.
"Dia sudah bersedia mengandung anak - anak kamu Fan, apa coba namanya kalau tak cinta?" ujar Bagus.
"Kinan itu istri solehah. Bisa saja dia melakukan semua itu karena tugasnya sebagai seorang istri" jawab Refan.
"Justru karena dia solehah lah aku yakin dia itu mencintai kamu. Wanita solehah tidak akan berani mencintai orang lain sedangkan dia berstatus masih mempunyai suami orang lain" ucap Bagus meyakinkan.
Refan menarik nafas panjang. Seseorang menepuk bahu Refan dari belakang.
"Ucapkan lah kata - kata cinta saat orang yang kau cinta ada di hadapan kamu, itu lebih ringan dari pada kamu sudah saling mencintai tapi tak bisa mengucapkannya dan tak bisa bersatu. Itu lebih menyakitkan Fan" ujar Riko
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG