Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 265


__ADS_3

"Mamaaaaa...... " panggil Refan.


"Refan.. Kinan.. " balas wanita yang dipanggil Mama oleh Refan.


Refan dan Kinan segera menghampiri wanita itu.


"Mama ngapain di sini?" tanya Refan.


"Sedang membawa Naila jalan - jalan" jawab wanita itu.


"Naila? Mana Naila Tante?" tanya Kinan antusias.


Rasa rindunya pada gadis kecil itu akhirnya bisa terobati tanpa sengaja di pulau kecil ini.


"Itu sama Om sedang berjalan - jalan" jawab Thalita sambil menunjuk kearah pria tua dan anak kecil yang sedang menggendong gadis kecil.


"Pa.. Papa... sini" panggil Thalita sambil berteriak.


Pak Reno mempercepat langkahnya karena seperti melihat dua orang yang dia kenal.


"Kalian? Mengapa kalian bisa ada di sini?" tanya Pak Reno terkejut.


"Adik saya Reni menikah di sini Pa, dan saat ini kami keluarga besar sedang piknik. Tuh mereka ada di sana" Refan menunjuk ke arah keluarga mereka.


"Naila.... boleh saya gendong Om?" pinta Kinan.


"Boleh... Nak ini Mama kamu" ucap Pak Reno.


Hati Kinan terasa terharu dengan ucapan Papa Almarhumah Renita dan Kinan meneteskan air matanya.


"Naila sayang... ini Mama Nak" ucap Kinan.


Naila kini sudah pindah ke dalam gendongan Kinan. Kinan dan Refan bergantian mencium wajah Naila untuk melepaskan kerinduan mereka.


"Ka.. kamu bukankah kemarin hamil?" tanya Bu Thalita.


"Alhamdulillah sudah lahiran Tante" jawab Kinan.


"Mana anak kalian?" tanya Bu Thalita.


"Disana sama Mama" jawab Kinan.


"Yuk kita kesana Ma, Pa bertemu Mamaku sebentar saja" ajak Refan.


"Fan gak usah, Papa gak enak ganggu acara kalian" jawab Pak Reno.


"Ah tidak mengganggu Pa. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi" Refan melirik jam tangannya.


"Tapi kami Fan... " ucap Bu Thalita.


"Ayolah Tante.. Salman pasti sangat senang bertemu Naila lagi. Dia sering bilang kangen sama adek Naila" potong Kinan.


Pak Reno dan Bu Thalita saling tatap.


"Ayo Pa.. Ma... " ajak Refan lagi.


Akhirnya dua orang tua itu mau juga diajak Refan bertemu dengan keluarganya yang lain.


Sesampainya mereka langsung disambut oleh Bu Suci.


"Mas Reno.. Jeng Lita?" sapa Bu Suci.


"Jeng Suci... " sambut Bu Thalita.


"Senang bertemu kalian lagi" mereka saling berpelukan.


"I.. ini Naila?" tanya Bu Suci yang melihat gadis kecil yang sedang di gendong Kinan.

__ADS_1


"Iya Jeng, ini Naila" jawab Bu Thalita.


"Mirip banget sama Renita y" ucap Bu Suci.


"I.. iya.. " jawab Bu Thalita gugup.


"Salmaaan" panggil Refan.


"Ya Pa..." jawab Salman kemudian berlari menghampiri Papa dan Mamanya.


"Sayang kamu masih ingat gak sama adek Naila?" tanya Refan.


"Masih" jawab Salman.


"Ayo sayang coba tebak ini siapa?" tanya Kinan sambil mendekatkan Naila yang ada di gendongannya kepada Salman.


"Siapa Mama?" tanya Salman polos.


"Ini adek Naila sayang" jawab Refan.


"Kok adeknya sudah besar? Dulu kan adek Naila sekecil Khalid dan Khansa?" tanya Salman bingung.


"Siapa Khalid dan Khansa?" tanya Pak Reno.


"Anak kami Pa" jawab Refan.


"Anak kalian kembar?" tanya Bu Thalita terkejut.


"Iya Tante Alhamdulillah.. " jawab Kinan ramah.


"Oh Alhamdulillah benget ya" sambut Bu Thalita tulus.


"Bik sini baw Khalid dan Khansa" panggil Refan.


Bik Mar dan Bik Nah mendekat kepad mereka dan menjabat tangan Ibu dari mantan majikan merek dulu.


"Lho kalian masih kerja sama Refan dan Kinan rupanya" sambut Bu Thalita.


"Iya Bu, betah" jawab Bik Mar.


"Waah cakep banget anak - anak kalian" puji Bu Thalita sambil mendekati si kembar.


"Bapak dan Ibu lagi liburan atau bagaimana?" tanya Refan penasaran.


"Kami tinggal di sini Fan. Kota yang sangat jauh dari Jakarta dimana tidak ada yang tau asal usul Naila. Kami hidup tenang di sini" jawab Pak Reno.


"Boleh saya minta nomor handphone kalian?" tanya Refan.


"Boleh.. ini nomor handphone saya. 081*********" jawab Pak Reno.


Refan langsung mencatat nomor Pak Reno.


"Tapi tolong Fan, siapapun yang bertanya tentang kami tolong jangan kasih tau. Termasuk Papa kandungnya Naila dan maaf Fan, Nan.. kami masih memakai nama kamu sebagai orang tua Naila secara administrasi negara" ungkap Pak Reno.


"Tidak apa Pak saya mengerti dan saya akan berjanji menjaga rahasia ini" tegas Refan.


"Naila... " ucap Riko dari belakang.


Semua menoleh ke arah Riko.


"Iya Mas ini Naila" sambut Kinan.


"Bo.. boleh aku menggendongnya? Dia semakin mirip Renita ya" ujar Riko.


"Iya nak Riko" jawab Bu Thalita.


Riko mengambil Naila dari gendongan Kinan.

__ADS_1


Senang melihat kamu sehat nak.. jadilah anak yang solehah ya agar bisa menolong Mama kamu di sana. Doa Riko dalam hati.


Dini melihat dari jauh sikap Riko yang penuh kasih sayang pada anak - anak, membuat hati Dini jadi menghangat.


Mas Riko memang sayang sama anak - anak. Pada Salman, Bayu dan Yoga juga dekat. Nih sama gadis kecil itu kelihatan sayang banget. Batin Dini.


Bimo dan Reni juga mendekat ke arah mereka.


"Siapa mereka yank?" tanya Bimo penasaran.


"Itu mantan anaknya Mas Refan" jawab Reni.


"Mantan anak? Mana ada mantan anak yank?" tanya Bimo bingung.


"Itu anak dari almarhumah istri Mas Refan. Awalnya Mas Refan mengira itu anaknya tapi ternyata bukan" jelas Reni.


"Oh itu anak yang dulu kamu ceritakan?" tanya Bimo.


"Iya Mas, kita ke sana sebentar ya Mas" pinta Reni.


"Reni... " sambut Bu Thalita ramah


"Tante.. " mereka saling berpelukan.


"Selamat ya atas pernikahan kamu. Semoga menjadi keluarga yang Samawa dan segera mendapatkan momongan" ucap Bu Thalita.


"Aamiin... " sambut Reni.


Bimo juga ikut berjabat tangan dengan kedua opa dan oma Naila.


"Tolong ya semua... jangan kasih tau siapapun kalau kami ada di pulau ini. Kami ingin hidup tenang bersama Naila tanpa ada gangguan dari masa lalu Almarhumah Renita" pinta Pak Reno sekali lagi.


"Iya, kami mengerti Pa. InsyaAllah akan kami jaga. Tapi kalau ada apa - apa dengan kalian jangan lupa kabari kami ya Pa. Bagaimanapun Naila tetap anak saya secara negara" sambut Refan.


"Iya Fan, Papa mengerti. Terimakasih kamu masih bersedia menjadi Papa Naila walau hanya sebatas administrasi negara" balas Pak Reno.


"Demi masa depan Naila Pa, nantikan dia sekolah gak sulit jadinya. Tapi perlahan - lahan kita harus kasih tau dia tentang orang tuanya. Agar saat dia besar dia tidak bertanya tentang aku dan saat dia menikah juga dia tidak terkejut kalau aku tidak bisa menikahkannya" pinta Refan.


"Iya perlahan - lahan Papa dan Mama akan kasih tau Naila kalau dia sudah besar kelak" jawab Pak Reno.


Naila yang kini sudah berumur lebih satu tahun tampak semakin cantik dan menggemaskan. Pipinya yang tembem memperlihatkan kalau dia hidup dengan baik disini bersama Opa dan Omanya.


"Gimana Fan, waktunya sudah hampir habis. Apakah kita sudah bisa berangkat sekarang?" tanya Bimo.


"Bisa.." jawab Refan.


Naila yang sudah kembali dalam gendongan Kinan perlahan dikecup Refan dengan lembut.


"Kamu anak yang hebat sayang... sehat terus, Papa dan Mama menyayangi kamu sampai kapanpun" ujar Refan.


Kinan juga membelai lembut kepala Naila yann tertutup jilbab anak kecil dan mengecup puncak kepalanya.


"Anak cantik dan solehah.. baik - baik sama Opa dan Oma ya di sini. Lain waktu nanti kita ketemu lagi" sambung Kinan.


"Pa, Ma, kami pamit pergi dulu ya.. Nanti sebelum kembali ke Jakarta, InsyaAllah kami akan menghubungi kalian dan kita akan bertemu lagi. Rasanya sangat singkat sekali kalau kita bertemu seperti sekarang ini" ujar Refan.


"Iya Fan, Papa mengerti. Kalian semua hati - hati ya" sambut Pak Reno.


Semua rombongan akhirnya naik ke kapal dan kemudian berlayar melakukan perjalanan dengan kapal pesiar.


Honeymoon untuk pengantin baru dan pengantin lama pun di mulai dengan versinya masing-masing.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2