
"Kinaaaaaan.... Kamu sama siapa?" sapa seorang wanita.
"Anita... anu.. ini aku sama Refan" jawab Kinan tergagap.
Seketika Kinan jadi salah tingkah dan gugup. Anita baru melihat pria yang ada di belakang Kinan.
Iya benar ini kan Refan. Ngapain mereka datang ke sini barengan dah cuma berdua? Apa mereka sengaja datang berdua ke sini? Tapi kan mereka belum muhrim? tanya Anita dalam hati.
"Nan... " ucap Anita dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Nit, nanti aku cerita ya sama kamu. Aku harus cepat karena kami tidak bisa lama - lama. Kami harus segera mencari dan membeli sesuatu untuk Naila" jawab Kinan.
"Siapa Naila Nan?" tanya Anita bingung.
"Anaknya Mas Refan" jawab Kinan.
Apa, Kinan memanggilnya Refan dengan sebutan Mas, bukannya selama ini dia hanya memanggil nama Refan saja? Anita semakin bingung.
Anita masih bengong menatap sahabatnya itu.
"Nit maaf ya kami harus segera pergi. kami duluan ya Nit" Kinan memeluk dan mencium pipi Anita cepat setelah itu dia pergi berlalu dari hadapan Anita.
Sedangkan Refan menundukkan kepalanya kepada Anita sedangkan wajahnya tanpa ekspresi.
Refan tidak mengenal wanita yang sedang berbicara dengan istrinya itu. Tapi sepertinya mereka sangat dekat sehingga mereka saling berpelukan.
Refan hanya berusaha menghargai kenalan istrinya itu agar dia terlihat seperti suami yang baik.
Refan segera mengikuti istrinya ke meja kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka. Setelah semua selesai di hitung Kinan mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.
"Biar aku saja yang bayar" ucap Refan kepada Kinan. Kinan segera menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Refan membayar semua belanjaan mereka.
Setelah selesai di bayar, Refan segera membawa beberapa bungkusan belanjaan mereka ke dalam mobil dan mereka kembali menuju ke arah Rumah Sakit.
"Gak ada lagi yang ingin kamu cari?" tanya Refan.
"Nggak ada" jawab Kinan datar.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Sambil membawa beberapa bungkusan mereka masuk ke dalam ruangan rawat inap Naila.
"Kok cepat banget perginya?" tanya Suci, Mamanya Refan.
__ADS_1
"Kami ke baby shop yang dekat jaraknya dari Rumah Sakit Ma" jawab Refan.
"Banyak sekali belanjaannya? Beli apa aja Nan?" tanya Suci kepada menantunya.
"Beli susu Naila dan beberapa keperluan Naila Ma" jawab Kinan.
Kinan mencuci beberapa perlengkapan yang akan segera dipakai Naila kemudian meletakkan nya rapi di atas nakas dekat tempat tidur.
Dengan telaten Kinan mempersiapkan semua yang diperlukan Naila. Kinan melakukannya agar mempermudah dia mengurus Naila.
Tak lama datang seorang dokter dan seorang perawat untuk mengecek keadaan Naila.
"Gimana keadaan putri saya Dok?" tanya Refan.
"Keadaannya sudah jauh lebih baik Pak. besok sudah boleh pulang" ungkap Dokter setelah selesai memeriksa Naila.
"Alhamdulillah" sambut mereka yang ada di ruangan itu.
"Terimakasih Dok" jawab Refan.
Tak lama Dokter dan perawat keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana rencana kalian besok? Kalian kan baru menikah, mau tinggal dimana?" tanya Suci kepada anak dan menantunya.
"Pulang ke rumahku Ma" jawab Refan.
"Nan... " panggil Suci sambil menatap Kinan.
"Kalau keputusan Mas Refan seperti itu, saya ikut saja Ma. Tapi aku harus jemput Salma dulu dan ambil beberapa barang - barangku di rumah" jawab Kinan.
"Ya sudah kalau begitu besok Naila pulang ke rumah sama Mama saja. Kalian setelah dari rumah sakit langsung jemput Salman di rumah Mama Kinan dan ambil barang - barang Kinan ke rumahnya" perintah Suci.
"Iya Ma" jawab Refan.
"Apa gak lebih baik ke rumah Mas Refan dulu Ma antarin Mama dan Naila. Setelah itu baru jemput Salman dan ambil barang - barang kami ke rumahku?" tanya Kinan.
"Memakan waktu yang lama Nan. Mending besok Mama diantar Reni pulang ke rumah Refan, kalian langsung jemput Salman dan sekalian ke rumah kamu. Biar cepat, Naila juga kalau sudah sehat gak rewel kok. Tadi aja dia tidur aja di tempat tidur" jawab Suci.
"Ya sudah kalau begitu mau Mama" balas Kinan.
******
__ADS_1
Keesokan harinya sesuai dengan rencana mereka hari sebelumnya. Hari ini waktunya Naila pulang dari Rumah Sakit. Suci sudah datang dari tadi bersama Reni adiknya Refan.
Mereka akan membawa Naila pulang ke rumah Refan. Sedangkan Refan setelah dari Rumah Sakit akan langsung berangkat menuju rumah orang tua Kinan untuk menjemput Salma, putranya Kinan.
Semua barang - barang Naila sudah selesai di susun Kinan. Refan dan Kinan sudah mengangkat semua tas dan perlengkapan Naila dan membawanya ke dalam mobil.
Sedangkan Suci sudah menggendong Naila yang sedang tidur dengan lelapnya. Suci masuk ke dalam mobil Reni dan mereka melaju menuju rumah Refan.
Sementara Refan dan Kinan kini sedang menuju rumah orang tua Kinan untuk menjemput Salma.
"Mamaaaa...... " teriak Salman begitu melihat Kinan. Salman segera berlari menghampiri Kinan.
Kinan menyambut putranya, dia menggendong dan menciumi wajah putranya penuh kasih sayang.
"Mama kemana aja, kok aku di tutup di rumah Oma? aku kan kangen Mama" ucap Salman.
"Mama kan tidur di rumah sakit sayang jagain adik Naila" jawab Kinan.
"Adik Naila? Yang kemarin aku jenguk di Rumah Sakit?" tanya Salman.
"Iya, ounter banget anak Mama. Masih ingat sama adik Naila" Kinan mencubit lembut hidung Salman.
Kinan kembali menurunkan Salman dari gendongannya.
"Salim Papanya dulu sayang" perintah Kinan.
Salman menatap ke arah Refan.
"Aku pernah lihat Papa dalam mimpiku. Mama ingat gak waktu aku cerita aku bermimpi bertemu Papa di dalam mimpi terus aku dibawa sama Om - Om. Kini aku ingat Ma, Om itu adalah Papa aku sekarang" ungkap Salman dengan polosnya.
Ya Allah... ternyata semua memang sudah menjadi petunjuk untuk kami. Aku bermimpi bertemu dengan seorang anak perempuan yang memanggilku Mama dan dia meminta tolong padaku. Aku yakin anak perempuan itu pasti Naila. Walau dalam mimpiku anak perempuan itu sudah besar. Kini Salman yang bercerita kalau sebelumnya dia pernah melihat Mas Refan di dalam mimpinya. Semoga semua ini adalah jalan yang terbaik untuk kami, kuatkan kami ya Allah.. Doa Kinan dalam hati.
"Berarti Papa kamu memang sudah menitipkan kamu pada Papa ini sekarang" sambut Kinan sambil melirik Refan.
"Salim Papanya nak" perintah Kinan.
Salman segera menghampiri Refan dan mencium tangan Refan. Refan membalasnya dengan mengusap lembut kepala Salman. Bagaimanapun lima tahun menikah dengan Istrinya dulu dia sudah sangat lama mengharapkan anak, sebenarnya dia berharap mendapatkan anak laki - laki tapi ternyata Naila yang lahir. Tak apalah yang penting dia sudah mempunyai anak.
Tapi kini dia mempunyai seorang anak lagi dan anak itu seorang anak laki-laki. Entah mengapa ada rasa senang yang terselip di balik perasaan Refan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG