
Setelah selesai shalat maghrib Refan dan Kinan pergi ke dokter. Mereka diantar oleh supir karena Refan tidak sanggup menyetir mobil dalam kondisi mual seperti sekarang sedangkan Kinan tidak diizinkan Refan juga orang tua mereka untuk membawa mobil.
"Sayang Mama pergi dulu ya" Kinan pamit kepada Salman.
"Ma aku ikuuuut" pinta Salman.
"Lain kali ya sayang, Papa lagi sakit sekarang. Nanti kalau Papa sembuh Mama janji akan ajak kamu ke dokter untuk lihat adek di layar monitor komputer ya" jawab Kinan sambil mencium kedua pipi Salman.
Refan yang sedari tadi hanya bisa memegang minyak angin tak bisa berkata - kata lagi. Karena setiap dia mencium wangi yang lain otomatis dia akan berlari ke kamar mandi dan berakhir dengan muntah - muntah. Membuat tubuhnya menjadi lemas.
"Waaah parah juga mabuk kamu Fan" komentar Pak Ardhianto Papanya Kinan sambil menepuk bahu Refan.
Refan hanya mengangkat tangannya ke arah mertuanya yang mengisyaratkan kalau dia tidak apa - apa dan dia masih kuat.
"Ma.. Pa.. kami pergi dulu. Yuk Mas" ajak Kinan.
Kinan menggandeng lengan Refan dan menariknya pergi keluar rumah dan naik ke dalam mobil. Begitu sampai di dalam mobil Refan langsung bersandar pada kursi penumpang dan memejamkan matanya. Mencoba untuk menahan gejolak mualnya.
Kinan terus menggenggam tangan suaminya untuk memberikan semangat kepada Refan.
"Yank kamu bilang dulu waktu hamil Salman kamu juga mabuk seperti ini?" tanya Refan.
"Iya, parah banget sampai harus opname di Rumah sakit. Aku gak bisa makan, setiap mencium bau makanan perutku mual dan muntah. Perut tidak bisa di isi malah isinya dikuras habis Mas. Sampai keluar cairan kuning pahiiiit banget. Akhirnya aku hanya bisa terbaring di tempat tidur" jawab Kinan.
"Alhamdulillah kamu tidak merasakan itu lagi. Biar aku saja, walau ini sangat menyakitkan tapi aku bersyukur kamu tidak merasakan apa - apa. Makan yang banyak agar anak kita gemuk di dalam sana dan setelah besar dia akan jadi anak yang pintar" ujar Refan.
Kinan tersenyum, dadanya terasa hangat mendengar ucapan Refan barusan.
"Ternyata seperti ini perjuangan wanita saat mengandung. Benar kata Mama seandainya semua pria di dunia ini merasakan hal seperti ini tentu mereka tidak akan sembarangan menabur benih mereka. Renita dulu walau tak separah ini tapi dia merasakan ngidam, kemudian saat melahirkan dia harus meninggal saat melahirkan. Begitu sudah perjuangan dia untuk melahirkan Naila tapi mengapa pria bajingan itu tidak mencari putrinya. Apakah dia tidak merasa bersalah?" ungkap Refan.
__ADS_1
Kinan jadi ikut memikirkan apa yang saat ini sedang Refan pikirkan. Benar kata Refan, mengapa sampai saat ini sudah hampir enam bulan kematian Renita dan lahirnya Naila tapi Papa kandungnya tidak pernah mencari bahkan mencoba untuk bertemu Naila. Seandainya dia tau betapa sulitnya mengandung seorang anak di dalam perut selama sembilan bulan. Selain mabuk darat, mual, muntah, tak selera makan, punggung pegal, kaki sering naik betis, tubuh melar, perut sakit saat melahirkan bahkan harus mengorbankan nyawa.
"Benar Mas, aku juga pernah berpikiran seperti itu. Bahkan binatang sekalipun mau melindungi anaknya mengapa dia yang seorang manusia, yang telah diberikan akal dan pikiran oleh Allah tidak berpikir dan merindukan anaknya" ujar Kinan.
"Eh tapi kan kata Bapak penjaga makam dia sering datang ke makam. Mengapa hanya kemakam ya.. kamu tau info mengenai pria itu Mas?" tanya Kinan.
"Aku hanya tau dia pengusaha sukses pemilik perusahaan besar makanya dulu Renita mengincar untuk kerja di perusahaannya. Tapi kalau data pribadinya dia sangat tertutup. Aku tidak tau mengenai itu semua" jawab Refan.
"Apakah dia sudah menikah? makanya dia tidak mencari Naila?" tanya Kinan.
"Aku tidak tau dan tidak mau tau lagi. Urusanku dengan masa lalu telah usai. Tapi aku punya satu keyakinan. Apa yang kita tanam itu juga nanti yang kita panen. Kalau kita tanam kebaikan maka hasilnya akan baik tapi kalau keburukan yang di tanam hasilnya juga akan buruk. Dia hanya tinggal menunggu waktu, suatu saat dia pasti akan menyesal. Dan mungkin saja saat ini dia sudah sangat menyesal makanya dia sering datang ke makam Renita. Kalau dia memang tidak ada perasaan pada Renita, apakah itu rasa suka, penyesalan atau rasa bersalah pasti dia tidak akan mau datang mengunjungi makam Renita yang beresiko aku akan bertemu dengannya dan mengetahui hubungannya dengan Renita " Jawab Refan.
"Gimana kalau seandainya dia datang kepada Mas dan meminta untuk bertemu dengan Naila?" tanya Kinan.
"Aku akan jawab yang sebenarnya, Naila dibawa Opa dan Omanya dan aku tidak tau kemana mereka membawanya. Dia sudah terlambat mencari anaknya, nikmati saja karmanya. Allah tidak tidur, dia pasti akan mendapatkan balasannya" jawab Refan.
Kinan menghela nafas sedangkan Refan menarik nafas panjang. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Tapi karena mikirin dia kamu jadi gak mual Mas, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" sambut Kinan sambil tersenyum.
Refan sempat terkejut ketika mobil sudah memasuki area rumah sakit. Dan mobil terparkir tepat di depan rumah sakit.
Refan dan Kinan berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam Rumah Sakit. Mereka langsung masuk ke ruang praktek dokter kandungan. Untung saja mereka sudah daftar terlebih dahulu sehingga mereka tidak perlu berlama - lama menunggu.
"Ibu Kinan Adhisti" panggil seorang perawat.
"Ya saya" sambut Kinan.
"Silahkan masuk Bu" ujar perawat.
__ADS_1
Refan dan Kinan segera masuk ke dalam ruang praktek. Dan duduk tepat di depan Dokter kandungan.
"Selamat malam Bapak Ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter tersebut dengan ramah.
"Malam Dok, begini Dokter tadi siang kami baru pulang dari Bali. Saat di Bandara istri saya pingsan dan saya membawanya ke Rumah Sakit. Saat di UGD istri sayadiperiksa. Kata dokter yang memeriksa, istri saya saat ini sedang hamil dan kami di rujuk untuk datang ke sini" jawab Refan.
"Begitu ya.. baiklah kalau begitu silahkan Ibu naik ke atas tempat tidur agar saya bisa memeriksanya" sambut Dokter.
Kinan berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berbaring di atas tempat tidur. Dokter mulai mempersiapkan alat pemeriksaan.
"Kapan terakhir datang bulan?" tanya Dokter.
"Lima minggu lalu Dok" jawab Kinan.
"Mmm.. memang sudah telat ya" Dokter mengoleskan gel ke atas perut Kinan dan mulai melakukan pemeriksaan.
Dokter tersenyum sambil menatap ke layar monitor.
"Selamat Bapak.. Istri anda memang sedang hamil saat ini" ujar Dokter penuh dengan ceria.
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers.. semoga kalian semua diberikan kesehatan untuk bisa terus membaca karya - karyaku. Jangan lupa ya setelah kalian membaca tolong beri komentar, like dan votenya ya...
Agar aku lebih semangat untuk menyalurkan inspirasiku.
__ADS_1
Selamat baca dan terimakasih..