Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 236


__ADS_3

"Aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini Ril. Aku masih bingung" ucap Bimo.


"Itu karena kamu masih membentengi hati kamu dan masih mengunci rapat - rapat perasaan kamu. Coba kamu mulai terbuka dan tanya hati kamu. Biarkan dia memilih kemana arahnya kelak dia akan berlabuh. Masalah kematian Bima sudah hampir selesai. Pelakunya sudah di tangkap dan kita hanya tinggal menunggu proses hukum. Sudah waktunya kamu memikirkan masa depan. Kamu mau terus hidup menyendiri? Sayang nih rumah dibeli cantik - cantik dan besar. Nanti kalau Bela menikah tinggal kamu sendiri di rumah besar ini. Rumah akan terasa sepi" sindir Aril.


Bimo terdiam.


"Jangan kelamaan berpikir, mumpung si bocah tengil itu belum apa - apain Reni. Entar Reninya udah hilang dibawa kabur baru kamu menyesal" sambung Aril.


Bimo menatap kembali ke arah Reni dan Gery. Dan dia mulai bertanya pada hatinya sendiri. Bimo memang sudah lama tertarik dengan Reni, perlahan - lahan senyuman Reni mulai mengisi kesepiannya. Tawa Reni yang ceria apalagi kalau Reni sedang bertemu dengan para sahabat Refan.


Pembicaraan mereka selalu seru dan Bimo nyaman berada diantar mereka. Sambil tersenyum tipis mendengar dan melihat mereka saling bully. Bimo sudah tertarik bahkan sudah lama, beberapa bulan yang lalu dia sudah tertarik pada Reni.


Sejauh mana ketertarikan itu? Apakah sudah berkembang menjadi cinta? itu yang masih membuat Bimo bingung. Tapi melihat Reni bersama Gery hatinya merasa panas.


Entah apa sebabnya, padahal Bimo sering melihat Reni sedang berbincang dengan laki - laki lain. Tapi kalau Reni berdekatan dengan Gery rasanya berbeda. Bimo melihat tatapan Gery ke Reni penuh arti. Itu yang membuat Bimo merasa panas dan takut... takut Reni membalas tatapan Gery dengan tatapan yang sama.


Bimo dikejutkan dengan sentuhan Aril di bahunya.


"Mulailah serius tanyakan pada hati kamu sudah sejauh mana nama Reni tersimpan. Apakah memang sudah dalam atau hanya sebatas simpati saja" pesan Aril.


Aril pergi meninggalkan Bimo yang sedang menatap Reni dari kejauhan. Dia mencoba menyelami isi hatinya. Benar kata Aril, sudah sejauh mana Reni mengisi hatinya. Tiba - tiba perhatian Bimo teralihkan dengan suara gaduh dari arah depan.


"Rizaaaaal" panggil Ela.


"Akhirnya aku sampai juga ke rumah ini" jawab Rizal.


"Jauh gak ke sini?" tanya Ela.


"Jauh banget, untung Bela kirim lokasinya jadi supir taxinya gak sulit mencarinya" jawab Rizal.


Tak jauh dari mereka..


"Siapa pria itu, apa kamu mengenalnya?" tanya Romi kepada Aril.


"Oh bocah tengil itu, namanya Rizal. Dia teman kuliah Bela dan Ela dari Surabaya" jawab Aril.


Tak lama kemudian Riko pun sampai ke rumah Bimo.


"Lho Mas Riko..... " ucap Rizal.


"Kamu? Ngapain kamu ke sini?" tanya Riko terkejut.

__ADS_1


"Ini rumah temanku. Aku diundang datang ke sini, Mas sendiri?" Rizal balik bertanya.


"Ini juga rumah temanku" jawab Riko.


"Ka.. kalian kok bisa saling kenal?" tanya Bela.


"Dia kakak sepupuku Bel" Jawab Rezal.


"Kalian saling kenal?" tanya Riko pada Bela.


"Rizal teman kuliahku Mas" jawab Bela.


"Oalaaah dunia ini kecil ya" sambut Bimo.


"Bimo adalah temanku" ucap Riko kepada Rizal.


"Ya ampuun... benar kata Mas Bimo dunia ini sempit. Ternyata gak jauh - jauh" sambut Rizal.


Riko bergabung dengan Romi, Aril, Refan dan Bagus.


"Ternyata bocah tengil itu sepupu kamu. Bagus deh, aku lebih tenang" ucap Aril pada Riko.


"Emang krnapa?" tanya Riko gak mengerti.


"Lantas apa hubungannya dengan aku?" tanya Riko bingung.


"Kalau kamu sepupunya. Aku bisa titip pesan melalui kamu. Suruh dia mundur secara teratur. Bela akan menjadi milikku" ucap Aril.


"Gak bisa maksa gitu Ril, jodoh siapa yang tau. Belum tentu Bela itu jodoh kamu. Bersaing secara adil donk? Kamu kok ketakukan gitu sih, udah sadar kalau kamu udah tua. Pesona kamu sudah pudar?" sindir Bagus.


"Justru karena dia masih muda dia cari aja cewek yang lebih muda dari dia. Biar Bela untukku saja" sambut Aril.


"Cinta gak bisa memilih kepada siapa dia akan berlabuh. Kalau Bela sendiri yang memilih dia gimana donk?" tanya Riko.


"Makanya dia jangan sering - sering muncul di hadapan Bela biar Bela gak melirik dia" jawab Aril.


"Hahaha.. teman kita udah hilang rasa percaya dirinya. Sama anak ingusan kalah saing" sindir Romi.


"Bukan aku gak percaya diri, masalahnya Bela dingin banget padaku di kantor. Walau aku ini bosnya tapi dia kan sudah kenal padaku sebelum dia bekerja di kantorku" ujar Aril.


"Itu namanya dia profesional Ril, harusnya kamu salut dengan Bela. Walau dia kenal sama kamu tapi dia masih menjaga tingkah lakunya di kantor. Gak sembarangan sama kamu. Dia masih sopan dan melayani kamu sebagai atasannya dan Bosnya" sambut Refan.

__ADS_1


"Benar itu" sambut Bagus.


"Aril mungkin pengen punya affair dengan sekretaris barunya" sindir Romi.


"Emangnya kamu gak pengen begitu juga dengan karyawan kamu yang baru masuk di bagian keuangan" balas Aril pada Romi.


"Halaaaaah kalian berdua sama aja. Modus banget sama bawahan" ejek Riko.


Aril dan Romi saling lirik dan salah tingkah, malu niat mereka sudah tercium sangat jelas oleh teman - temannya. Tak lama Bimo ikut bergabung bersama mereka.


Tak jauh dari mereka terlihat Reni dan Gery juga sudah bergaung bersama Bela, Ela dan Rizal.


"Lihat mereka sudah buat geng baru" ucap Aril kepada teman - temannya.


"Sirik bilang Bos" sindir Bagus.


"Hahaha... ada yang panas" sambut Refan.


"Bukan hanya aku, Bimo juga tuh" Aril gak mau di bully sendirian.


"Lho kok aku diikutkan" ucap Bimo tak mengerti.


"Hahaha kalian bertiga ini lucu. Udah tua tapi selera sama daun muda. Umur kalian seumuran, umur target kalian juga sama" ujar Riko.


"Emangnya kamu nggak? kamu kan selamat karena Dini sekarang bekerja di Bandung, coba kalau dia ada di sini pasti dia juga ikut bergabung bersama Reni, Bela dan Ela" potong Aril.


Gleg.. Riko tak bisa membalas ucapan Aril karena yang diucapkan Aril memang benar adanya.


"Hahahah senjata makan tuan ya Ko" ejek Refan.


"Dasaaaaar.... " umpat Riko.


Refan dan Bagus tertawa melihat keempat teman mereka. Nasibnya memang tak jauh beda. Bedanya hanya Bimo yang berstatus duda, sedangkan yang tiga lainnya berstatus mantan playboy. Keempatnya sama - sama sudah bisa dibilang tidak muda lagi tapi seleranya masih saja daun muda. Yang lebih lucunya lagi masing - masing punya rintangan yang berbeda - beda dalam mendekati target mereka. Walah mereka sudah berpengalaman tapi tetap saja bingung sendiri dengan apa yang mereka hadapi.


Ini yang membuat Refan dan Bagus tertawa melihat wajah mereka satu persatu.


"Lihatlah wajah - wajah kalian ini.. wajah pria tua yang penuh derita hahahah..." tawa Refan dan Bagus saling bersahutan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2