
Bimo dan Gery sudah sepakat untuk melakukan DP rumah, setelah itu akan dilakukan pembayaran cash bertahap. Sebagian akan dibayar Bimo, sebagian lagi setelah rumah sudah siap lengkap beserta isinya.
Bimo juga harus ke bank untuk mengurus pemindah bukan rekeningnya. Pembayaran dengan jumlah yang besar harus mengikuti prosedur perbankan.
Setelah selesai mengurus administrasi rumah tersebut Bimo mengajak Reni untuk pulang.
"Sudah selesai semua Mas Gery?" tanya Bimo santun membuat Gery jadi serba salah.
"Su.. sudah Mas" jawab Gery cepat.
"Gimana Dek Reni, kita pulang?" tanya Bimo.
"Oke Mas, kan semua sudah selesai. Jadi kita bisa langsung pulang" jawab Reni.
"Kalau begitu kami pamit pulang Mas Gery" ucap Bimo pamit
"Baik Mas, hati - hati di jalan" sambut Gery.
"Ger, kami cabut ya... " ujar Reni.
"Yoi Ren, good luck. Semoga berhasil menggaet Mamas tampan" bisik Gery.
"Ih kamu bisa aja" refleks Reni memukul lengan Gery.
Membuat Bimo kembali melirik interaksi antara Reni dan Gery.
Lagi - lagi hatiku panas melihat mereka sedekat itu. Apakah aku cemburu? Jangan.. jangan.. aku belum membuka hatiku untuk wanita manapun. Batin Bimo.
Bimo dan Reni keluar dari kantor pemasaran perumahan yang mereka datangi. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area perumahan yang tadi mereka tuju.
"Ren, kamu buru - buru mau pulang?" tanya Bimo.
"Nggak Mas. Emang kenapa?" tanya Reni bingung.
"Aku mau ngajak kamu makan malam. Kamu kan udah bantuin Mas cari rumah. Sebagai ucapan terimakasih Mas, kamu mau kan Mas ajak makan malam?" tanya Bimo.
"Oke Mas tapi kita shalat maghrib dulu ya sudah adzan soalnya" jawab Reni mengingatkan.
"Iya Dek Reni, Mas juga lagi cari Mesjid ni" balas Bimo.
Begitu melihat Mesjid Bimo langsung memasukkan mobilnya ke pekarangan Mesjid. Mereka singgah untuk melaksanakan shalat maghrib.
Setelah selesai shalat mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah Restoran. Walau komplek rumah Refan sudah dekat tapi akhirnya mereka memutuskan untuk menjauh dari situ karena mencari Restoran yang asik untuk tempat makan.
Bimo memilih sebuah Restoran yang terletak tak jauh dari wilayah rumah Refan. Mereka turun dan memilih menu makanan yang akan mereka pesan. Sambil menunggu makanan datang, mereka sempat berbincang sebentar.
"Dek Reni sudah lama kenal sama Gery?" tanya Bimo.
"Sudah Mas sejak SMU. Dia teman sekolahku" jawab Reni.
__ADS_1
"Gery itu pernah suka sama Dek Reni ya?" tebak Bimo.
"Gery?" tanya Reni terkejut.
"Iya, siapa lagi? Kan cuma ada Gery di sana?" Bimo balik bertanya.
Reni tersenyum mendengar pertanyaan Bimo.
"Gery itu cuma teman Mas, dia gak pernah suka sama aku. Mas ini aneh - aneh aja tanya begitu" jawab Reni.
"Ya karena aku ini laki - laki Dek Reni, aku bisa tau dia suka sama Dek Reni dari tatap matanya, dari perharinya dan dari senyumannya" Bimo merasa sangat yakin.
"Hahaha... Gery itu punya pacar lho Mas Bimo" bantah Reni.
"Punya pacar kan bisa saja masih tetap suka sama kamu" desak Bimo.
"Hahaha... Mas Bimo ini kayak orang yang lagi cemburu, wajahnya kesal gak jelas" goda Reni.
Sontak Bimo terdiam karena ucapan Reni barusan.
Eh apa kelihatan begitu ya? Aku cemburu? Apa benar aku cemburu? Aku hanya gak suka lihat cara Gery menatap Reni dan gerak tubuhnya yang suka manja sama Reni. Batin Bimo.
"Aku cemburu, ngapain coba aku cemburu?" tanya Bimo.
"Makanya wajahnya jangan kesal seperti itu dan jangan maksa juga donk. Aku kan udah jelasin kalau Gery itu sudah punya pacar. Lagian ngapain kita seperti pasangan yang lagi berantem sih gara - gara ada yang cemburu? Kita ke sini kan mau makan? Soal Gery suka padaku atau tidak itu mah haknya Gery Mas. Aku gak bisa ngelarang dia" jawab Reni.
Bimo terdiam tersadar dengan kata - kata Reni barusan. Untung aja pelayanan datang menyelamatkan keadaan dan perasaan Bimo yang canggung. Reni juga tampak senang dengan datangnya makanan pesanan mereka. Karena dia sudah sangat lapar.
Pelayanan langsung menghidangkan makanan ke meja mereka. Reni langsung menarik makanan yang dia pesan mendekat kearahnya.
"Selamat makan Mas" ucap Reni ceria.
Bimo memperhatikan tingkah Reni. Tidak ada perubahan wajahnya, dia tampak ceria sambil menikmati hidangan makan malam mereka. Bimo pun mulai memakan makanannya. Sesekali mereka berbincang - bincang sambil menikmati makan malam mereka.
"Mas" panggil Reni.
"Ya, Dek Reni" jawab Bimo.
"Bisa gak aku pinta sesuatu pada Mas Bimo?" pinta Reni.
"Dek Reni mau pinta apa?" tanya Bimo balik.
"Bisa gak Mas Bimo panggil namaku saja, jangan pakai embel - embel dek lagi?" ucap Reni.
"Kenapa kamu gak suka ya aku panggil Dek?" tanya Bimo.
"Iya, aku kan bukan adeknya Mas Bimo. Lagian sama Bela, Mas Bimo juga gak panggil Dek. Langsung namanya aja. Aku risih kalau Mas Bimo panggil aku Dek. Gimana gitu jadinya" protes Reni.
Bimo tersenyum tipis melihat wajah Reni yang cemberut.
__ADS_1
"Ya sudah mulai sekarang aku akan panggil nama kamu saja, Reni" jawab Bimo.
"Nah gitu donk. Kan lebih enak di dengarnya" sambut Reni.
Satu jam kemudian mereka selesai makan dan kembali ke rumah Refan. Karena letak Restorannya tidak jauh dari rumah Refan, mereka sampai dengan cepat.
"Kalian dari mana? Kok pulangnya bareng?" tanya Bela ketika melihat Reni dan Bimo pulang bersama - sama.
"Aku dan Mas Bimo tadi janjian mau tunjukin rumah dekat - dekat sini. Ketepatan ada teman aku yang kerja di developer perumahan. Jadi tadi Mas Bimo jemput aku ke kantor dan setelah itu kami langsung berangkat menuju lokasi" jawab Reni.
"Mas Bimo serius mau cari rumah? Udah ketemu rumah yang cocok?" tanya Bela semangat.
"Alhamdulillah sudah. Rumah yang dikelola oleh developer temannya Reni. Letaknya gak jauh kok dari sini. Paling saru kilometer jaraknya dari sini. Jadi kalau kita kangen Salman bisa main ke sini karena dekat. Bapak dan Ibu juga kalau datang ke sini kan bisa tinggal di rumah kita dan bisa main ke sini lihat Salman" jawab Bimo.
"Waaah asiiiiik... Kapan kita pindah Mas?" tanya Bela semangat.
"Mereka lagi rancang perabotannya. Biar semua lengkap dulu baru kita pindah" jawab Bimo.
Mereka duduk di ruang keluarga.
"Gimana Bel pengalaman pertama kamu bekerja?" tanya Reni.
"Asik, seru.. walau aku masih repot karena mengenal banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan dan tidak boleh lupa" jawab Bela ceria.
"Oh iya Ela mana?" tanya Reni.
"Ela ada tuh dia panjang umur baru turun dari atas" jawab Bela.
Ela berjalan menuju arah mereka dan duduk disamping Bela.
"El tadi dikantor aku sudah ketemu sama para sahabatnya Mas Refan dan aku sudah sampaikan pada mereka kalau ada teman aku yang lagi cari kerja. Mungkin sebentar lagi kamu akan dipanggil, bersiap ya" ucap Reni.
Ela tampak ceria begitu mendengar laporan Reni.
"Kamu minta batuan Reni untuk buat lamaran malam ini. Mas juga sudah bicara sama teman - teman Mas. Kamu akan bekerja di Perusahaan Romi. Besok kamu datang ke kantornya temui Pak Agus bagian HRD bilang kalau kamu disuruh Romi datang untuk menemuinya" ucap Refan yang baru keluar dari kamarnya bersama Kinan.
"Serius Mas?" tanya Ela tak percaya.
"Serius donk, masak Mas mau main - main" jawab Refan.
"Alhamdulillah... Makasih ya Mas" jawab Ela dengan ceria.
"Wah selamat El kamu juga langsung dapat kerja. Nanti aku temani deh surat lamarannya" sambut Reni.
"Iya, aku juga ya.. Yuk langsung aja kita buat" ajak Bela.
Reni, Bela dan Ela segera melangkah ke kamar di atas meninggalkan Bimo, Refan dan Kinan di ruang keluarga.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG