
"Halo Pak.. bisa cepat datang ke Rumah Sakit? Dari tadi kami melihat ada seseorang yang mencurigakan sedang memantau kamar rawat inap anak Bapak" ucap si penelepon.
"Apa? Baik.. saya akan segera ke sana" jawab Refan.
"Ada apa Fan?" tanya Riko.
"Kamar Naila ada orang yang mencurigakan sedang memantau kamar Naila, kita harus segera kembali ke Rumah Sakit" jawab Refan.
"Yok sebelum terlambat" sambut Riko.
Mereka segera berangkat menuju ke Rumah Sakit. Bimo meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tolong kamu jaga Naila dengan baik. Kunci saja ruangannya, selain perawat dan dokter jangan ada yang boleh masuk. Saya sebentar lagi akan sampai ke Rumah Sakit" perintah Bimo.
Refan juga menghubungi pihak Rumah Sakit.
"Tolong saya minta dua orang bagian keamanan untuk menjaga pintu kamar rawat inap putri saya. Saya sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, sebentar lagi akan sampai" ujar Refan.
Setelah mereka selesai bertelepon Riko segera mengingatkan Refan.
"Fan, Kinan sudah tau kabar terbaru Naila?" tanya Riko.
"Astaghfirullah... aku lupa, tadi subuh aku mau kabari Kinan tapi aku ingat ada perbedaan waktu di sana, Kinan pasti masih tidur. Setelah itu aku lupa karena sibuk ngurusin pemakaman Papa dan Mama" jawab Refan.
Refan segera menghubungi istrinya.
"Assalamu'alaikum Mas" sambut Kinan dari seberang.
"Wa'alaaikumsalam sayang.. Maaf tadi subuh aku mau hubungi kamu tapi disana kan masih malam jadi aku batalkan. Setelah itu aku sibuk mengurus pemakaman Papa dan Mama, aku jadi lupa hubungi kamu. Baru ini aku ingat lagi" ungkap Refan.
"Om dan Tante meninggal Mas?" tanya Kinan terkejut.
"Iya sayang, mereka sudah meninggal dunia tadi malam" jawab Refan.
"Innalillahi.... ya Allah... Naila gimana keadaannya Mas?" tanya Kinan.
"Naila alhamdulillah tidak apa - apa sayang, dia hanya luka ringan. Kamu siap - siap ya, kalau Naila sudah diperbolehkan pulang Mas akan secepatnya pulang membawa Naila" jawab Refan.
"Alhamdulillah... iya Mas, bawa saja Naila pulang. Kita bisa mengasuhnya, biar kita saja yang mengasuh Naila. Aku bersedia Mas, aku mau" ujar Kinan.
"Iya sayang. Udah dulu ya sayang aku lagi dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Tadi kami baru selesai dari pemakaman" ungkap Refan.
"Mas hati - hati ya di sana" ucap Kinan khawatir.
"Iya sayang, udah dulu ya. Assalamu'alaikum.. " Refan mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Wa'alaaikumsalam" jawab Kinan.
Refan menghembuskan nafasnya lega. Dan fokus kembali pada permasalahan yang sedang dia hadapi sekarang.
"Sebaiknya kita amankan Naila dulu setelah itu kita buat laporan ke polisi Fan" ujar Riko.
"Iya Ko, aku pun berpikir seperti itu, kalau hari ini Naila sudah bisa dibawa. Hari ini juga akan aku bawa ke Jakarta. Lebih aman kalau Naila ada di dalam penjagaan kita" jawab Refan.
"Tapi kalau Naila sudah berada di Jakarta kamu juga harus memperketat penjagaan di rumah kamu Fan, aku takut bukan hanya Naila saja yang bahaya. Takutnya semua keluarga kamu juga dalam bahaya. Apalagi kalau sampai orang yang mengincar Naila tau kalau seluruh harta kekayaan Pak Subrata jatuh kepada Naila. Takutnya mereka mengincar Naila dan kamu. Karena saat ini kamu adalah wali Naila sampai nanti dia berumur dewasa" pesan Bimo.
"Iya Bim, terimakasih kamu sudah mengingatkan aku" jawab Refan.
Tak lama kemudian Refan, Bimo dan Riko sudah sampai di Rumah Sakit. Mereka berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai di kamar rawat inap Naila.
Saat mereka hendak menuju kamar Naila mereka sempat melihat pria bertopi hitam memakai pakaian serba hitam dan masker wajah berwarna hitam sedang berdiri tak jauh dari kamar Naila berada.
Riko dan Bimo hendak mengejarnya tetapi pria itu sadar kalau dia sedang dipantau sehingga dia lari dengan terburu-buru.
Refan berlari kencang menuju kamar Naila. Dan segera mengetuk pintu kamar rawat inap.
"Maaf Bapak siapa?" tanya petugas keamanan Rumah Sakit.
"Saya Refan Adinata, orang tua dari pasien di dalam, Naila Refanita Adinata" jawab Refan lantang.
"Tidak apa, saya mengerti. Terimakasih" sambut Refan.
Tok... tok.. tok..
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang ditugaskan Bimo untuk menjaga Naila di rumah sakit.
"Pap.. pap.. pa.... " ucap Naila.
"Sayaaaang.... " Refan langsung memeluk Naila.
Tak lama Riko dan Bimo juga tiba di kamar Naila.
"Gimana tadi?" tanya Refan pada Bimo dan Riko.
"Pria itu lari, dia tau kami sedang mengejarnya" jawab Riko.
"Sial... " umpat Refan.
"Fan sebaiknya kita urus administrasi Naila. Setelah itu kita buat laporan ke polisi" ujar Riko.
"Oh iya jangan sampai lupa. Minta rekaman CCTV Rumah Sakit, siapa tau pihak polisi bisa menemukan pelakunya. Ini pembunuhan Fan bukan murni kecelakaan" sambung Bimo.
__ADS_1
"Iya Bim, Ko tolong kamu jagain Naila di sini ya. Aku dan Bimo mau menemui pihak manajemen Rumah Sakit sekalian mau ketemu dokter tanya keadaan Naila. Setelah itu kami akan ke kantor polisi untuk buat laporan. Kalau semua siap hari ini, nanti sore atau malam kita berangkat ke Jakarta" perintah Refan.
"Baik Fan, aku akan jagain Naila di sini" sambut Riko.
Refan dan Bimo langsung pergi menemui Dokter yang menangani Naila. Alhamdulillah Naila bisa dibawa pulang hari ini karena memang dia hanya luka ringan. Setelah itu Refan mengurus semua administrasi di Rumah Sakit.
Kemudian Refan berbicara pada pihak Rumah Sakit mengenai rekaman CCTV Rumah Sakit, mereka membawa data itu ke Kantor Polisi.
Setelah melalui waktu yang panjang akhirnya semua selesai sekitar jam lima sore. Refan dan Bimo kembali ke Rumah Sakit.
"Gimana Fan?" tanya Riko ingin tau.
"Semua sudah selesai. Naila boleh pulang hari ini. Aku sudah menyelesaikan administrasinya. Laporan polisi juga sudah aku lakukan. Mereka akan melaporkan perkembangannya lewat telepon" jawab Refan.
"Sebaiknya kita bersiap - siap saja Fan, kita akan ke Bandara dan berangkat malam ini juga. Lebih cepat kita pergi dari kota ini, itu lebih baik" sambut Bimo.
"Iya tapi sebelumnya kita ke rumah Papa dulu ya, aku mau bawa beberapa perlengkapan Naila selama di perjalanan" jawab Refan.
"Surat - surat penting Naila bagaimana Fan?" tanya Riko.
"Sudah dibawa sama pengacara Papa, nanti akan diserahkan semua saat di Jakarta" jawab Refan.
"Baiklah, lebih baik begitu. Lebih terjamin keamanannya. Ayo kita berangkat" sambut Riko.
"Des, kami akan berangkat langsung ke Jakarta. Saya tidak sempat singgah ke Hotel. Terimakasih atas bantuan kamu ya. Sampaikan salam saya pada yang lainnya" ucap Bimo pada pegawai Hotelnya.
"Baik Pak, pesan Bapak akan saya sampaikan. Hati - hati di jalan" sambut pegawai Hotel Bimo.
Mereka berpencar di Rumah Sakit. Refan, Bimo, Riko dan Naila segera memasuki mobil dan berjalan menuju rumah Pak Reno Subrata.
Refan membawa beberapa perlengkapan yang Naila butuhkan. Untung saja selama ini dia aktif membantu Kinan mengurus si Kembar sehingga Refan sudah familiar dengan barang - barang anak bayi.
Refan membawa selimut, sepatu jaket tutup kepala, kaus kaki, pampers, susu dan dot untuk Naila selama di perjalanan. Refan juga bertemu dengan asisten rumah tangga yang selama ini membantu Bu Thalita.
"Saya turut berduka Pak atas meninggalnya Bapak Reno dan Ibu Thalita" ucap wanita separuh baya.
"Iya Bu, terimakasih. Saya akan membawa Naila ke Jakarta. Titip rumah ini tolong di rawat. Saya akan tetap memberikan biaya perawatan dan gaji untuk Ibu setiap bulannya" jawab Refan.
Refan meminta nomor ponsel wanita itu dan berpamitan dengannya. Setelah itu mereka pergi menuju Bandara dan sekitar jam sepuluh malam mereka berangkat dari Labuhan Bajo menuju Jakarta.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1