Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 254


__ADS_3

Tibalah akhir pekan..


Bapak dan Ibu Akarsana sudah sampai di Jakarta. Bimo dan Bela menjemput mereka ke Bandara setelah Bela pulang kerja. Kini mereka semua sudah berada di dalam mobil Bimo menuju rumah.


Tetapi di perjalanan Bimo mengajak mereka makan malam di salah satu restoran mewah. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang Bimo dan keluarganya sibuk berbincang - bincang.


"Alhamdulillah.. Ibu senang sekali ketika mendapat kabar kamu sudah melamar Reni" ucap Bu Akarsana.


Bimo tersenyum tipis sambil menatap wajah Ibunya.


"Sudah waktunya memang kamu melupakan masa lalu dan terus berjalan menatap masa depan. Kamu butuh seseorang yang bisa menemani hidup kamu. Tidak mungkin selamanya kamu sendiri. Kamu juga butuh penerus. Memilih Reni adalah keputusan yang tepat, dia adalah gadis yang baik dan solehah" sambut Pak Akarsana.


"Jadi kapan kita akan datang ke rumah Refan? Mereka masih tinggal di sana kan?" tanya Bu Akarsana.


"Masih Bu, besok kita ke sana ya. Aku juga sudah bilang sama Refan akan membawa Bapak dan Ibu untuk melamar Reni secara kekeluargaan" jawab Bimo.


Tak lama pelayan datang dan menghidangkan makanan untuk mereka. Bimo dan keluarganya mulai menikmati makan malam mereka.


"Kamu gimana kerjanya?" sambung Pak Akarsana bertanya pada Bela.


"Alhamdulillah baik Pak" jawab Bela.


"Nak Aril baik pada kamu?" tanya Pak Akarsana lagi.


"Baik Pak" balas Bela.


"Yang bagus kerjanya, kalau orang sudah baik sama kita jangan sampai kita kecewakan" nasehat Pak Akarsana.


"Iya Pak" sambut Bela.


Mereka melanjutkan makan malam bersama. Satu jam kemudian mereka sudah melanjutkan perjalanan menuju rumah Bimo tapi mereka melewati komplek perumahan rumah Refan dan Kinan.


"Untung kamu cari rumahnya yang gak jauh dari rumah mereka ya" ujar Pak Akarsana.


"Tujuannya kemarin ya memang begitu Pak. Agar Bapak dan Ibu kalau ke Jakarta tidak jauh - jauh lagi jenguk Salman" jawab Bimo.


"Iya, nanti kamu menikah dan punya anak juga. Kami bisa lihat cucu setiap hari karena jarak rumahnya dekat" sambut Bu Akarsana.


Aamiin.... sahut Bimo dalam hati sambil Bimo tersenyum lembut.

__ADS_1


********


Keesokan harinya Refan sengaja mengundang Bimo dan keluarganya dari siang hari dan mengajak mereka makan siang bersama.


Refan juga mengundang para sahabatnya untuk menghadiri acara lamarannya Bimo dan Reni. Semua menyambut gembira kabar berita ini.


Bapak dan Ibu Akarsana saling bercengkrama dengan seluruh keluarga Refan dan Kinan dan juga para teman - teman Refan dan Bimo yang sudah dikenal baik oleh Bapak dan Ibu Akarsana.


"Duh si kembaaaaar... Maaf ya Eyang baru bisa datang sekarang" ujar Bu Akasana ketika melihat Khalid dan Khansa untuk pertama kali.


"Langsung sepasang ya dapatnya. Bapak dan Ibu dulu dua - duanya laki - laki" sambut Pak Akarsana.


"Iya Pak, alhamdulillah banget" sahut Refan.


Bu Akarsana langsung menggendong Khansa.


"Siapa namanya cucu Eyang ini?" tanya Bu Akarsana.


"Itu adek Khansa Eyang... Yang ini adek Khalid" jawab Salman bijak.


"Waaah... cakep - cakep ya nama adeknya Kakak Salman" puji Bu Akarsana.


"Iya donk Eyang, aku kan juga cakep.. Semua deh cakeeeep" balas Salman.


"Eyang ada bawa oleh - oleh nih Sal untuk kamu dan adek kembar" ujar Bela sambil membawa bingkisan untuk anak - anak Kinan.


"Makasih Tante Bela" sahut Salman sambil menerima bingkisan yang dikasih Bela dan langsung membukanya.


"Waaaah mobil - mobilaaan" teriak Salman senang.


"Sana sayang ajak main Yoga dan Bagyu gih di kamar kamu" perintah Kinan.


"Oke Mama.." sambut Salman.


Salman bersama dua temannya langsung masuk ke kamarnya untuk bermain. Sedangkan para orang dewasa akan membicarakan hal penting tentang rencana pernikahan Bimo dan Reni.


"Apakah acaranya sudah bisa kita mulai?" tanya Refan kepada para orang tua.


"Sudah.. " jawab semua yang ada di ruang keluarga Refan.

__ADS_1


Reni duduk di dekat Mamanya dan juga Kinan. Dengan gamis berwarna pink muda dan riasan sederhana tapi tetap membuat Reni tampak sangat cantik hari ini.


Dari sejak mereka datang, Bimo tak henti - hentinya melirik ke arah Reni yang sering menundukkan wajah karena malu.


"Baik lah.. saya mulai ya" sambut Pak Akarsana.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... " ucap Pak Akarsana memulai pembicaraan inti mereka siang ini.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.. " jawab semua yang mendengar.


"Kedatangan keluarga kami ke rumah tercinta ini mungkin semua sudah pada tau ya, beberapa hari yang lalu Putra sulung saya Bimo Akarsana sudah melamar adik bungsunya Refan yaitu Reni Adinata secara pribadi dan Reni juga menerima lamaran putra Kami tersebut. Namun hal ini harus segera kita perjelas. Niat baik mereka harus segera kita selenggarakan mengingat usia dan kesempatan yang ada dan tidak ada lagi alasan untuk menunda - nundanya. Jadi begitu Bimo mengabarkan berita bahagia ini kepada saya dan Istri saya. Kami segera terbang ke Jakarta untuk menemui Reni dan keluarga semua di sini. Ingin melamar Reni Adinata secara resmi di hadapan seluruh keluarga di sini. Jadi... apakah kehadiran kami dapat di terima oleh keluarga Adinata?" tanya Pak Akarsana.


"Baik Pak, saya selaku pengganti Almarhum orang tua saya merangkap wali dari adik saya Reni akan menjawab niat baik keluarga Bapak datang ke rumah kami yang berbahagia ini. Setelah melamar Reni beberapa hari yang lalu, Bimo langsung bertemu dengan saya dan meminta izin langsung kepada saya selaku wali Reni untuk melamar Reni kepada keluarga. Saya priabadi tidak keberatan dan sangat menyambut niat baik Bimo tersebut. Namun... di sini Reni kan masih mempunyai orang tua. Sesampainya di rumah niat baik Bimo langsung saya sampaikan kepada Mama dan Mama juga sudah bertanya tentang keputusan Reni maka dengan ini saya katakan kami keluarga Adinata menerima dengan senang hati lamaran dari keluarga Akarsana" jawab Refan tegas.


"Alhamdulillah... Terimakasih Refan dan seluruh keluarga sudah menerima niat baik putra saya untuk melamar Reni. Setelah selesai proses lamaran ada baiknya kalau kita langsung saja merencanakan rencana pernikahan mereka. Karena tahap awal menuju pernikahan yaitu lamaran sudag dilalui sebaiknya kira segerakan niatan mereka menuju jenjang pernikahan" sahut Pak Akarsana.


"Silahkan saja Pak, kami tidak keberatan. Memang sebaiknya niat baik ini harus segera kita selenggarakan. Silahkan tentukan saja langsung waktunya" ucap Refan dengan sopan.


"Mengingat tempat tinggal kami jauh yaitu di Surabaya. Rasanya sulit untuk bulak balik Jakarta - Surabaya. Bagaimana kalau pernikahan mereka kita laksanakan saja bulan depan?" tanya Pak Akarsana.


Suasana di ruang keluar Refan sedikit riuh menyambut permintaan dari Bapaknya Bimo.


"Apa gak terlalu cepat Pak? Karena kan kita butuh banyak persiapan?" tanya Refan.


"Mmm.... maaf kalau saya boleh kasih saran. Bagaimana kalau acaranya kita adakan saja di labuhan bajo? Saya punya hotel di sana. Ada juga team WO yang bisa menyiapkan segala sesuatunya dalam waktu yang singkat?" tanya Bimo.


"Bagaimana Ma?" tanya Refan kepada Bu Suci Mamanya.


"Tapi undangan kan sangat terbatas. Mengingat lokasi pestanya sangat jauh" sambut Bu Suci.


"Kalau begitu undang keluarga dan sahabat dekat saja Jeng, nanti kalau ingin resepsi yang lebih mewah dan besar lagi bisa menampung keluarga besar dan relasi bisa kita adakan resepsi di Jakarta tiga atau empat bulan lagi" sambut Bu Akarsana.


"Gimana Fan?" tanya Pak Akarsana.


Refan melirik Mama dan istrinya. Mereka berdua mengangguk setuju.


"Kami setuju Pak" jawab Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2