Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 306


__ADS_3

Bimo dan Refan pulang dengan mobil yang sama. Karena Bimo diminta Refan untuk membantunya memperbaiki Perusahaan Pak Reno sejak itu Reni selalu di titip di rumah Refan setiap kali Bimo dan Refan berangkat kerja.


Jadi secara otomatis Refan dan Bimo berangkat dan pulang bareng ke rumah. Begitu juga sore itu, mereka pulang dengan memakai mobil Bimo.


Bimo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sembari mereka ngobrol disepanjang perjalanan. Bimo memperhatikan mobil yang ada di belakang mereka.


"Fan coba deh kamu perhatikan mobil yang di belakang kita. Dari tadi aku perhatiin mobil itu ngikutin kita" ungkap Bimo.


Refan segera melirik ke spion mobil.


"Coba kamu tambah kecepatan" perintah Refan.


Bimo mengikuti perintah Refan. Dia menginjak gas dan mobil mulai melaju.


"Rem Bim" perintah Refan.


Bimo mengurangi kecepatan mobilnya tapi mobil di belakang mereka tetap berjalan dengan sangat kencang.


"Fan sepertinya mereka ingin mencelakakan kita" ujar Bimo.


"Cepat Bim, tekan gas lagi dan cari kantor polisi terdekat" perintah Refan.


Bimo kembali menekan gas dan mobil melaju kencang hingga sampailah mereka di kantor polisi terdekat. Saat mereka masuk ke dalam pagar kantor polisi mobil yang mengikuti mereka langsung menjauh dan melarikan diri.


"Gimana Fan? Apa yang kita lakukan sekarang? Apa kita benar - benar akan melaporkan kejadian tadi ke polisi?" tanya Bimo.


Refan tampak sedang berfikir.


"Mmm.. kita menunggu saja di mobil sementara biar mereka yang mengejar kita berfikir kalau kita sedang membuat laporan. Aku rasa setelah itu mereka pasti akan lebih berhati - hati dalam bertindak" ujar Refan.


"Kita harus memperketat penjagaan keluarga kita Fan, aku takutnya mereka tidak bisa menyentuh kita tapi mereka mencari titik lemah kita yaitu orang - orang yang sangat kita sayang" pesan Bimo.


"Iya tapi kamu tenang aja Bim, sejak Naila kembali dalam pengasuhan kami. Aku sudah menambah dan memperketat penjagaan. Dari sejak awal aku sudah memprediksi hal ini terjadi" jawab Refan.


"Syukurlah gimana sekarang, apa kita bisa berangkat?" tanya Bimo.


"Sudah, yuk kita berangkat. Mudah - mudahan mereka sudah pergi" jawab Refan.


Bimo kembali menyalakan mobilnya dan perlahan mereka bergerak meninggalkan area parkiran kantor polisi. Sepanjang jalan mereka tetap waspada hingga akhirnya mereka sampai ke rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang.


Refan dan Bimo shalat berjamaah dengan seluruh keluarga mereka di ruang shalat rumah Refan.


"Mas kita pulangnya sebentar lagi ya. aku pengen makan disini. Mama dan Mbak Kinan masak enak tadi. Air liu*ku sudah mau keluar saja dari tadi" rengek Reni.


"Ya sudah kalau itu mau kamu" sambut Bimo.


"Aku khawatir dengan kejadian tadi Bim, apa sebaiknya kalian gak tidur di sini saja?" tanya Refan.


"Aku rasa target mereka adalah kamu. Kalau aku kan orang lain dalam masalah ini" jawab Bimo.

__ADS_1


"Emangnya ada kejadian apa tadi?" tanya Kinan penasaran.


"Tadi di jalan pulang ada mobil yang mengikuti kami dari belakang dan saat Bimo mengurangi kecepatannya tiba - tiba mobil itu ingin menabrak kami dari belakang" ungkap Refan.


"Jadi gimana keadaan Mas dan Mas Bimo?" tanya Kinan khawatir.


"Alhamdulillah Bimo langsung melajukan kecepatan mobilnya sehingga kami terhindar dari tabrakan" jawab Refan.


"Ih serem banget Mas. Jadi gimana nanti kita pulang? Mereka pasti udah mengenali mobil Mas. Aku takut kita diikutin dari belakang" sambut Reni.


"Ya sudah kalau memang mau pulang kita pinjam mobil Mama saja. Mereka pasti tidak kenal karena mobil Mama kan jarang banget di pakai. Lagian rumah kita kan dekat" ujar Bimo.


"Kalian yakin mau pulang? Gak nginap di sini aja?" tanya Bu Suci.


"Gak deh Ma. Aku kangen pulang. Belakangan ini aku cuma numpang tidur aja di rumah. Aku kangen pengen pulang. Besok kan Bela dan Ela libur, jadi bisa jalan - jalan bareng mereka" jawab Reni.


"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu yuk" ajak Kinan.


Refan dan seluruh keluarganya makan makan malam bareng.


"Gimana sekolahnya tadi Sal?" tanya Refan pada Salman.


Refan mengelus lembut kepala putranya.


"Baik Pa, sebentar lagi aku akan wisuda" jawab Salman


"Siap Pa" sambut Salman.


"Trus anak Papa yang cantik ini ngapain aja nih di rumah?" Refan mencubit geram pipi gembul Naila.


"Ain.. oneka pappaaaaa" jawab Naila.


Refan tersenyum memandang anak - anaknya. Sikembar lagi di gendong Bik Nah dan Bik Mar saat itu.


"Mari makan Mas" ajak Kinan.


Mereka makan bersama malam itu. Setelah makan Bimo dan Reni pamit pulang dengan mengendarai mobil Bu Suci.


Kinan sudah menyiapkan pakaian santai untuk Refan di rumah. Sedangkan Refan sedang mandi di kamar mandi. Sambil menunggu Refan selesai, Kinan mengecek anak - anaknya di kamar.


Si kembar sudah tidur dengan nyenyak sedangkan Naila dan Salman masih bermain di atas tempat tidur Naila.


"Lho Kak Salman dan adek Naila masih belum tidur?" tanya Kinan.


"Iyuum Mammaaa... " jawab Naila.


"Kami masih main Mama" sambut Salman.


Rupanya Salman sedang menemani Naila bermain boneka. Naila memegang boneka Elsa sedangkan Salman memang robot Spiderman. Kinan tersenyum melihat kedua anaknya itu akur.

__ADS_1


Salman memang sejak dulu sangat menyayangi Naila. Dia tidak pernah usil dan membuat Naila menangis. Malah sebaliknya Salman sangat melindungi adiknya itu.


"Tataaaak... au injem emmeen" ujar Naila.


"Adek mau pinjam ini? Nih kakak kasih" jawab Salman.


Mereka saling bertukar boneka.


"Kakak Salman sesekali boleh pinjamim robot Kakak untuk adik Naila. Tapi Kak Salman gak boleh main boneka frozen. Kak Salman kan udah besar. Sudah tau kalau boneka ini untuk anak perempuan. Jadi adeknya aja yang main boneka, Kak Salmannya mendingan jagain adiknya saja" pesan Kinan lembut.


"Gitu ya Ma?" tanya Salman bijak.


"Iya kalau adek Naila kan masih kecil, diam belum mengerti kalau boneka untuk anak perempuan sedangkan robot untuk anak laki - laki" jawab Kinan memberi Salman pengertian.


"Iya deh Ma" jawab Salman.


Tiba - tiba Refan masuk ke kamar anak - anaknya dan melihat Kinan, Salman dan Naila masih bermain.


"Lho anak - anak Papa yang dua ini kok belum tidur?" tanya Refan.


"Iyum antuk" jawab Naila.


"Haha... " Refan langsung duduk diatas tempat tidur Naila.


"Boleh main tapi jangan sampai larut malam sayang. Gimana kalau Papa bacain dongeng saja?" Refan memberikan penawaran kepada kedua anaknya.


"aaauuu... "sambut Naila


"Boleh Pa" jawab Salman.


"Kalau begitu kak Salman kembali ke tempat tidurnya. Dan Naila bobok sini disamping Papa" ajak Refan.


Salman dan Naila mengikuti perintah Refan sedangkan Kinan sedang menyusui si kembar secara bergantian.


Refan mengambil buku cerita islami untuk anak - anak di rak buku yang ada di kamar anak - anaknya. Kemudian dia kembali ke tempat tidur Naila.


Naila dan Salman mengambil posisi untuk bersiap - siap tidur. Refan mulai membuka buku ceritanya dan tak lama kemudian mulai bercerita tentang kisah Nabi Yunus dalam perut ikan paus.


Hampir setiap hari begitulah keseharian di rumah Refan dan Kinan sekarang. Mereka sedang menikmati menjadi orang tua yang memiliki banyak anak. Karena sejatinya anak adalah rezeki.


Jangan sampai kita menyakiti perasaan anak - anak, karena itu bisa akan menjadi trauma bagi mereka yang akan mereka bawa sampai mereka besar kelak.


.


.


BERSAMBUNG


Miris dengan kisah seorang ibu di brebes yang tak sanggup melihat kekerasan pada anak - anaknya. Karena stres dan trauma masa kecilnya akhirnya beliau memilih untuk mengakhiri hidup ketiga anaknya dengan harapan ingin membebaskan mereka dari kekerasan dunia. Semoga Allah mengampuni dosanya karena aku yakin dia pasti sangat mencintai anak - anaknya itu 😭😭

__ADS_1


__ADS_2