Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 329


__ADS_3

Salman sedang duduk di teras belakang sambil santai dan memainkan ponselnya. Naila berjalan mendekati Salman dan duduk di sofa tepat di sebelah Salman.


"Kak" panggil Naila.


"Heeem... " jawab Salman.


Salman menghentikan aktivitasnya bermain game di ponselnya kemudian melirik adiknya.


"Ada apa Nai?" tanya Salman.


"Kakak suka sama cewek yang kemarin kita ketemu pas lagi makan di restoran?" tanya Naila penasaran.


"Aisyah maksud kamu?" tanya Salman.


"Iya, si Ai.. Ai.. itu" jawab Naila kesal.


Salman tersenyum melihat sikap adiknya.


"Hahaha... gimana menurut kamu? Dia cantik kan dan lembut, seperti Mama kita" tanya Salman.


Wajah Naila semakin cemberut.


"Biasa aja" jawab Naila kesal.


"Kenapa, kamu gak suka sama dia?" tanya Salman mulai serius.


Naila hanya bisa diam.


"Apa yang tidak kamu suka darinya?" selidik Salman.


Naila berpikir dan mencari apa yang membuat dia tidak suka dengan Aisyah. Dari wajah Salman benar, Aisyah gadis yang cantik dan lemah lembut, dia juga terlihat solehah dan mempunyai nilai yang tinggi sebagai gadis baik - baik.


Aisyah juga mandiri karena seusia itu dia berhasil punya usaha sendiri. Aisyah juga sopan dan pinter menjaga dirinya. Tidak ada cacatnya sebagai wanita, tapi mengapa dia tidak suka.


Naila hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Dan Salman tersenyum lembut sambil mengelus lembut puncak kepala Naila yang tertutup hijab.

__ADS_1


"Kamu gak suka melihat Aisyah harus punya alasan donk. Masak gak suka gitu aja?" ucap Salman.


Salman menarik nafas panjang.


"Kakak sudah lama mengenalnya, selama tiga tahun satu kelas di SMU kakak sering memperhatikan keseharian Aisyah. Dia gadis yang baik, pintar dan solehah. Tapi dulu kami masih sangat muda, dan seperti pesan Papa dan Mama dalam Islam tidak ada pacaran. Kakak hanya bisa mengaguminya dari jauh. Sampai tamat SMU kami berpisah, kakak sibuk dengan kuliah lalu melanjutkan S2 ke luar negeri. Kakak lupa dengan gadis itu. Tapi kemarin Allah mempertemukan kami lagi dalam suasana berbeda. Disaat usia Kakak sudah dewasa dan Kakak sudah mapan untuk menikah. Kakak berpikir kali ini lah waktu yang tepat. Sepertinya dia juga masih sendiri" ungkap Salman.


"Dari mana Kakak tau, yakin banget?" tanya Naila.


"Di jari manisnya belum ada cincin nikah. Itu yang membuat Kakak yakin dia masih sendiri" jawab Salman.


"Tapi Kak, kalau Kakak nanti menikah, Kakak pasti gak sayang sama aku lagi" ungkap Naila sedih.


"Naila.. Naila.. " Salman mengacak jilbab Naila.


"Iiih Kak Salmaaaan" protes Naila.


"Kamu ini adek Kakak Naila.. Walau kita saudara tiri tapi kamu tetap akan menjadi adek Kak Salman sampai kapanpun. Kita sudah menjadi saudara sejak kamu lahir, tidak ada yang bisa merubah itu dan percayalah kakak akan tetap menyayangi kamu bahkan kakak paling sayang sama kamu dari pada Khansa dan Khalid" ungkap Salman.


"Itu kan karena kakak gak tau kalau aku..." Naila langsung menutup mulutnya. Hampir saja dia keceplosan dan membongkar rahasia tentang dirinya sendiri.


"Kalau aku kesal banget sama Kakak. Ngapain coba balik ke Jakarta bawa - bawa Bang Jeta. Ngeselin banget" ucap Naila mengalihkan pembicaraan.


"Hahaha.. itu toh masalahnya. Kalau kakak kasih tau satu rahasia kamu mau gak?" tanya Salman serius.


"Rahasia apa?" Naila terlihat sangat penasaran.


Salman pura - pura melihat ke kanan dan ke kiri. Lalu mendekati Naila dan berbisik di samping Naila.


"Jeta suka sama kamu" ungkap Salman.


"Apa, bang Jeta? Gak mau" tolak Naila.


"Hahahaha... sudah aku duga kamu pasti terang - terangan menolaknya. Hei dengar ya adikku yang cantiik... Jeta itu pria yang baik dan setia, walau kadang suka iseng dan terkesan nakal. Tapi percayalah, cuma pada kamu dia bisa sedekat itu. Selama aku mengenalnya dan hidup bersamanya bertahun - tahun dia paling menjaga kedekatannya pada semua wanita. Bahkan boleh dibilang dia sangat dingin pada semua wanita. Dia sudah menyukai kamu dari sejak lama. Kamu ingat dua belas tahun yang lalu dia pulang ke Jakarta? Sejak itu dia suka pada kamu" lanjut Salman.


"Tapi aku benci dia Kaaaak" Naila tetap menolak.

__ADS_1


"Awal benci nanti pasti bucin. Benci sama bucin itu sodaraan lho.. Kalau kamu bisa menerima hatinya Kakak bisa jamin kamu pasti akan dia jadikan ratu. Percayalah... Dia hanya seorang laki - laki yang tidak pandai menunjukkan rasa sukanya. Padahal dia ingin sekali mengungkapkan isi hatinya Tapi ujung - ujungnya dia malah godain dan isengin kamu sampai kamu marah - marah. Hingga akhirnya dia merasa bahagia dengan kemarahan dan wajah cemberut kamu" ujar Salman


"Pria sinting" umpat Naila.


"Dia memang sinting Nai.. sinting karena mencintai kamu" goda Salman.


"Gak mau aaah.. aku tetap gak suka. Aku benci dia" elak Naila.


"Mulai sekarang coba deh kamu perhatiin sikap Jeta di rumah dan di kantor. Lalu kamu bandingkan, bila perlu kamu perhatikan sikapnya pada wanita - wanita di kantor dan kepada kamu. Nanti kamu pasti akan tau bahwa kamu itu istimewa di hatinya" pesan Salman.


Naila terdiam dengan ucapan Salman terakhir.


"Sebentar lagi usiaku dua puluh delapan dan kamu akan genap dua lima. Umur segitu bagi kita sudah pantas untuk menikah. Ingat pesan Papa dan Mama, jangan pacaran karena dosanya banyak dan besar. Mulai berpikiran dewasa dan realistis. Apalagi kamu itu wanita, kata Mama dan Papa dalam rumah tangga itu lebih baik prianya yang lebih besar cintanya agar sang wanita terlindungi dan merasa penuh cinta dengan begitu rumah tangga akan tentram dan bahagia. Kita bisa lihat kan gimana Papa dan Mama. Padahal mereka dulu bertemunya Duda dan Janda tapi cintalah yang menyatukan mereka hingga kita anak - anaknya semua bahagia tanpa ada perbedaan siapa anak tiri siapa anak kandung. Saat kenal Papa usiaku tiga tahun, aku sudah lupa bagaimana dulu Papa kandungku. Dalam ingatanku Papa Refanlah Papaku. Gak tau apakah kamu juga menganggap Mama juga seperti itu" ungkap Salman.


"Iya Kak, aku juga menganggap Mama lah Mama kandungku. Aku sangat sayang sama Mama" sambut Naila dengan mata yang berkaca - kaca.


Mama sudah mengasuh dan menyayangi aku sejak kecil seperti anak kandung nya sendiri walau dia tau aku adalah anak orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Mama dan Papa segalanya bagiku. Batin Naila.


"Carilah suami yang mendekati sosok Papa. Ingat mendekati karena tidak akan ada orang yang sama persis dengan Papa. Hanya ada satu orang seperti Papa tidak ada orang lain yang bisa. Saat ini aku juga sedang mencari wanita yang mendekati sosok Mama. Mudah - mudahan Aisyah wanita yang tepat" ungkap Salman penuh semangat.


"Eh iya kakak mau minta tolong sama kamu" ujar Salman.


"Minta tolong apa?" tanya Naila penasaran.


"Tolong bantuin donk biar kakak bisa lebih dekat dengan Aisyah. Kamu kan cewek punya alasan tepat untuk bisa bertemu dengannya. Apalagi Aisyah punya butik. Kan bisa kita buat alasan, aku temani kamu cari gaun gitu atau apalah" pinta Salman.


"Gak mau, aku gak sudi" jawab Naila sambil berdiri. Dia langsung pergi meninggalkan Salman duduk sendirian di teras belakang.


"Cieee... adik aku cemburu nih ye.. takut gak kebagian kasih sayang lagi" ledek Salman.


"Bodooooo" balas Naila.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2