
Sudah ada celah untuk menyibak teka - teki kematian Bima dan siapa pria yang mereka curigai mirip dengan Bima. Ada sebuah kelegaan di dada Refan dan Kinan.
Mereka berkeyakinan kalau Bimo tidak ingin menyakiti Kinan dan Salman. Dia mungkin ingin bertemu dengan mereka tapi tidak tau bagaimana caranya.
Mungkin pria tersebut mempunyai firasat atas kematian Bima karena mereka adalah saudara kembar yang mempunyai ikatan batin yang sangat kuat Atau sesuai dengan tebakan Refan, Bimo mengetahui sesuatu tentang kematian Bima.
Tapi Refan tetap menyuruh Kinan waspada karena Kinan belum pernah bertemu dengan Bimo sebelumnya. Kinan belum tau jelas karakter Bimo yang sebenarnya.
Kecurigaan tetap ada tapi setidaknya mereka sudah mendapatkan secercah penerang dalam masalah ini.
Pagi ini seperti biasa Kinan berangkat ke kantor di antar oleh Refan. Sedangkan Salman sesuai dengan permintaan Refan, untuk sementara Salman diantar dan di temani Opa Ardianto selama di sekolah sampai masalah ini selesai.
Refan mengantar Kinan sampai di depan gedung kantornya dan saat mobil Refan memutar di halaman kantor tanpa sengaja mobilnya berpapasan dengan mobil Fadlan. Refan dan Fadlan saling menyapa dengan menyalakan klakson mobilnya.
Sejak acara syukuran empat bulan kehamilan Kinan hubungan Refan dengan Fadlan tidak begitu buruk lagi. Refan dan Fadlan sudah sering saling sapa setiap mereka bertemu kalau Refan sedang mengantar dan menjemput Kinan di kantor.
Kini Kinan yang sedang hamil lima bulan, perutnya sudah tampak semakin besar karena di dalam kandungannya ada bayi kembar. Kinan berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Hari ini ada pekerjaan yang harus Kinan selesaikan sehingga dia tidak sempat makan siang keluar bersama teman - teman kantornya.
Tiba saatnya makan siang, Kinan memilih memesan makanan secara online.
Tok.. tok.. tok..
"Ya.. " jawab Kinan dari dalam ruangannya.
Tak lama kemudian muncul kepala Fadlan dari balik pintu ruang kerja Kinan.
"Ya Fad" ujar Kinan.
"Kamu gak makan?" tanya Fadlan.
"Iya aku sudah pesan makanan pakai aplikasi" jawab Kinan.
"Oh ya sudah, jangan terlalu asik kerja Nan sampai lupa waktu" nasehat Fadlan.
"Iya, kalau makanannya sudah datang aku akan makan" balas Kinan.
"Ya sudah kalau begitu aku makan keluar ya. Tadinya aku mau ngajak kamu makan diluar tapi tadi kamu bilang kamu udah pesan makanan. Yuk Nan aku tinggal" ujar Fadlan.
"Daaaaah" Kinan melambaikan tangannya.
Fadlan pun keluar meninggalkan Kinan sendirian di ruangannya. Saat Fadlan hendak keluar kantor tiba - tiba dia berpapasan dengan seorang pria. Fadlan tampak berfikir keras siapa pria itu, sepertinya wajahnya gak asing lagi. Dia seperti pernah melihat pria itu.
__ADS_1
Fadlan melirik kemana pria itu pergi, ternyata menuju ruangan kerja Kinan. Seketika mata Fadlan terbelalak.
"Ya Tuhan bukankah pria tadi Mas Bima suami Kinan yang sudah meninggal? Apa dia masih hidup? Gak mungkin kan hantu keluar siang - siang" ujar Fadlan.
Fadlan langsung teringat Refan. Untung saja nomor Refan sudah dia simpan karena kemarin sempat ngobrol dengan Refan di parkiran dan Refan titip Kinan siapa tau ada apa - apa dengan Kinan di Kantor.
Tak disangka ternyata inilah kegunaannya.
"Apa Mas Refan punya indra ke enam ya makanya dia titipin Kinan padaku, ternyata saat inilah waktunya" ujar Fadlan.
Dia segera meraih ponselnya dan mencari nama Refan. Refan yang saat itu sedang bekerja di kantornya terkejut melihat nomor Fadlan yang muncul.
Perasaan Refan langsung tak enak, apakah terjadi sesuatu dengan Kinan? Refan segera mengangkat telepon dari Fadlan.
"Assalamu'alaikum" ucap Refan.
"Wa'alaikumsalam Mas. Mas Refan cepetan ke sini, Mas Bima masih hidup" pekik Fadlan.
"Apa maksud kamu Fad?" tanya Refan tak percaya.
"Barusan ada pria yang mirip banget sama Mas Bima datang ke kantor dan masuk ke ruangan Kinan" ungkap Fadlan.
Refan sangat terkejut mendengar laporan dari Fadlan. Pantas saja tadi perasaannya sudah tidak enak.
"Fad sekarang kamu dimana?" tanya Refan.
"Fad tolong jangan tinggalkan Kinan. Tolong kamu jagain dia. Itu bukan Bima, Bima sudah meninggal. Kemungkinan itu kembaran Bima. Tolong jagain Kinan Fad takut dia kenapa - kenapa. Aku akan segera ke sana" balas Refan.
"Baik Mas, aku akan jagain Kinan" ujar Fadlan.
Telepon terputus. Fadlan kembali berjalan ke arah ruangan Kinan dan menunggu di luar. Dia mendengar sayup-sayup suara Kinan yang sedang berbincang dengan seseorang tapi Fadlan tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Ternyata ada gunanya juga bersaudara jauh dengan Fadlan. Walau awalnya dia ingin menjadi saingan tapi akhirnya dia sadar kalau Kinan hanyalah milik Refan. Bahkan saat ini Fadlan seperti tak rela kalau Kinan kembali bersama Bima seandainya pria tadi menang Bima. Makanya Fadlan menghubungi Refan secepatnya.
Refan segera meraih handphone dan kunci mobilnya kemudian dia berlari menuju keluar kantor dan menuju parkiran mobil.
Refan segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya kemudian melaju menuju kantor Kinan.
Ya Tuhan... tolong lindungi istriku. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya dan anak - anakku. Tolong aku Ya Allaaaah.. aku tidak bisa kehilangan dia. Dia adalah hidupku. Jangan kau rampas lagi dariku orang - orang yang aku sayangi. Doa Refan dalam hati.
Refan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Bahkan beberapa kali dia hampir saja menabrak orang - orang di jalan.
Sepanjang perjalanan Refan terus melantunkan doanya kepada Allah meminta perlindungan. Bahkan rasanya Refan ingin menangis saat ini sangking takutnya dia terlambat untuk menyelamatkan Kinan sehingga berakibat dia akan kehilangan Kinan untuk selamanya.
__ADS_1
******
Sementara di ruangan kerja Kinan.
Tok.. tok.. tok..
"Apa lagi Faaaad?" tanya Kinan. Kinan mengira kalau yang mengetuk pintu kantornya adalah Fadlan.
"Maaf boleh saya masuk?" tanya seorang pria.
Sontak Kinan melihat langsung ke arah suara yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Seketika pulpen yang ada di tangan Kinan langsung jatuh di atas meja.
"M.. ma.. maaaas Bi.. maaaaa" ucap Kinan terbata.
Pria masuk ke dalam ruang kerja Kinan.
"Maaf mengganggu waktu kamu. Kenalkan aku Bimo saudara kembar Bima" pria itu mengulurkan tangannya.
Kinan masih terkejut dan tak bisa berbuat apa - apa. Tubuhnya terasa kaku tak bisa bergerak. Tanpa sadar air mata Kinan mengalir di pipinya.
"Ma.. maaf ma.. maas.. aku tak percaya. Kalian sangat mirip sekali" Kinan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sejadi - jadinya.
Bimo hanya terdiam dan membiarkan Kinan menangis agar hatinya lebih ringan. Mungkin Kinan sedang merindukan suaminya Bima.
Setelah bisa menguasai dirinya Kinan mulai berhenti menangis dan menghapus air matanya.
"Si.. silahkan du.. duk Ma.. maas" Kinan terus menatap wajah Bimo.
Dia benar - benar seperti melihat suaminya hidup kembali. Mereka sangat mirip bahkan suara mereka juga terdengar sama.
Bimo segera duduk di sofa yang ada di ruang kerja Kinan. Kinan memperhatikan semua gerak - gerik Bimo.
Oh Ya Allaaaah.. bahkan semua gerak - geriknya sama. Mas Bimaaaa aku kangen kamu. Teriak Kinan dalam hati. Dia kembali menangis lagi.
Bimo dengan sabar menunggu Kinan bisa menguasai dirinya. Tak lama kemudian Kinan berhenti menangis. Kinan menarik nafas panjang dan mulai mengatur nafasnya.
"Ada apa Mas datang ke sini mencari saya?" tanya Kinan.
"Aku ingin memberitahu kepada kamu tentang kematian Bima. Bima meninggal bukan murni karena kecelakaan tetapi dia di bunuh" ungkap Bimo.
"Apa... itu tidak mungkin?"....
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG