Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 238


__ADS_3

Dua bulan kemudian..


Refan dan Kinan sedang duduk santai di ruang TV.


"Sebentar ya Mas aku mau ke dapur dulu ambil minum" ujar Kinan kepada Refan.


Kinan berdiri dan berjalan ke arah dapur tapi baru lima langkah dia berjalan tiba - tiba Salman berteriak.


"Mama... Mama kok ngompol" ucap Salman.


Sontak Refan, Bu Suci, Pak Ardianto, Bu Dhisti dan Reni melihat ke arah Kinan.


"Nan ketuban kamu pecah" teriak Bu Dhisti.


"Cepat Fan siapkan mobil" teriak Bu Suci.


Seketika wajah Refan memucat. Bayang bayang Renita saat ingin melahirkan muncul dalam ingatannya. Tubuhnya berkeringat dan bergetar.


"Mas... " panggil Reni panik.


"Sepertinya Refan trauma saat Renita melahirkan Mas" ucap Suci kepada Papanya Kinan.


"Ma tolong ambilkan tasku di kamar" pinta Kinan lembut.


Kinan tampak tenang, mungkin karena dia sudah berpengalaman dalam hal melahirkan. Ini adalah kehamilan keduanya. Karena ini anak kedua dan kembar dokter memang sudah memprediksi kalau Kinan akan lebih cepat lahirannya dari waktu yang telah di tentukan.


Kinan berjalan menuju suaminya dan menyentuh wajah suaminya.


"Maaas... nasibku tidak akan sama dengan Renita. Kamu harus kuat karena aku butuh kamu yang akan menemaniku melahirkan. Anak - anak kita juga membutuhkan kamu Mas" ucap Kinan penuh kasih sayang.


"I.. iya sa.. yang" balas Refan.


Semua bersiap untuk mengantarkan Kinan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Refan tak henti - hentinya berdoa agar Allah melancarkan persalinan Kinan.


Mereka beriringan dua mobil menuju rumah sakit. Di mobilnya ada Kinan, Salman dan Bu Suci. Sedangkan di mobil Reni ada Papa dan Mama Kinan.


Bu Dhisti segera menghubungi Bela.


"Assalamu'alaikum Tante" sahut Bela.


"Wa'alaikumsalam.. Bela Ibu mau kasih kabar kalau Kinan mau lahiran, saat ini kami sedang menuju Rumah Sakit" ungkap Bu Dhisti.


"Oh iya Bu, aku dan Mas Bimo juga akan segera menyusul ke sana" jawab Bela.


Telepon terputus Bela dan Bimo segera bersiap menyusul ke Rumah Sakit. Sekitar tiga puluh menit perjalanan Kinan langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa.


"Sudah bukaan tiga Dok" ucap perawat.


"Karena ini kelahiran anak kedua biasanya prosesnya lebih lancar dari anak pertama dan melihat ciri - cirinya juga seperti itu. Mari kita pindahkan pasien ke ruang bersalin" perintah Dokter.


"'Baik Dok" jawab perawat.


Seluruh keluarga menunggu di luar sedangkan Refan menemani di dalam.

__ADS_1


"A.. apakah saya boleh masuk Dok?" tanya Refan.


"Tentu saja kalau Bapak kuat, silahkan. Terkadang ada pria yang tidak kuat melihat darah" sambut Dokter.


"Sa.. saya sanggup Dok. Saya kuat" jawab Refan.


Kinan segera dibawa ke rumah bersalin, sebelum masuk Refan menghampiri keluarganya.


"Kata Dokter proses melahitkan Kinan lebih cepat, sudah pembukaan tiga Ma" ucap Refan pada Mamanya.


Bu Suci langsung menggenggam tangan putranya untuk memberikan semangat.


"Kamu harus kuat dan harus bisa menemani Kinan sampai anak kamu lahir. Yakinlah tidak ada peristiwa yang terjadi dua kali bersamaan secara ketepatan. Nasib Kinan berbeda tidak akan sama dengan Renita. Ayo kamu beri semangat pada istri kamu sana, agar dia juga lebih kuat melahirkan anak - anak kamu" sambut Bu Suci.


"Iya Ma.. Pa.. Ma.. semuanya. Doakan Kinan ya. Sayang doa kan Mama ya" ucap Refan kepada Salman.


"Iya Papa" jawab Salman.


Refan berjalan menuju ruang bersalin dan siap menemani Kinan melahitkan. Refan melihat Kinan sudah mulai meringis karena menahan sakit.


Doa - doa tak berhenti Kinan ucapkan sepanjang proses persalinan. Refan dapat melihat perbedaan proses lahiran Renita dan Kinan.


Renita dulu hanya menjerit menahan sakit sambil menangis sedangkan Kinan tampak lebih tabah, sabar dan kuat. Selalu nama Allah dan RasulNya yang Kinan ucap.


Itu membuat Refan semakin kuat dalam menemani proses lahiran Kinan. Dibelainnya kepala Kinan dan dihapusnya keringat yang ada di dahi Kinan.


Refan mengecup kening Kinan dengan mesra.


"Berjuanglah sayang, ada aku disamping kamu yang akan selalu siap menemani kamu. Kamu harus kuat demi aku dan anak - anak kita" ucap Refan kepada Kinan.


Refan terkejut sekaligus takut dengan ucapan Kinan.


"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang. Aku tidak mau mendengarnya" bantah Refan.


Refan takut itu menjadi kata - kata terakhir Kinan untuk pamitan.


"Maaas.. Melahirkan itu adalah proses perjuangan seorang wanita, itu adalah jihadnya seorang wanita. Umur kita tidak ada yang tau Mas. Aku pasrahkan diriku kepada Allah, kalau memang harus berakhir di sini aku ikhlas oleh sebab itu aku ingin meminta maaf kepada kamu" ungkap Kinan.


Air mata Refan langsung menetes di sudut matanya.


"Tidak sayang jangan tinggalkan Mas. Mas tidak kuat kalau harus kehilangan kamu. Masih ada Salman dan anak - anak kita yang akan lahir ini yang masih membutuhkan kamu" ujar Refan.


Kinan tersenyum sambil meringis.


"Ini sudah jadi kebiasaanku Mas setiap mau melahirkan. Kata orang ini akan mempermudah dan memperlancar proses lahiran kalau suami sudah ridho. Aku bukan hanya ingin mengucapkan kata perpisahan pada kamu" balas Kinan.


Kinan menghapus air mata suaminya.


"Aku ridho sayang tapi kamu harus selamat" ujar Refan.


Kinan tersenyum sambil mengangguk.


"Aaaw... oh Ya Allah.... " Kinan terus melantunkan doa - doa yang baik untuk melancarkan proses persalinannya.

__ADS_1


Refan dengan setia menggenggam tangan Kinan dan tetap berada di samping Kinan. Refan juga tak henti - hentinya mengucapkan doa - doa agar proses bersalin istrinya lancar dan anak - anaknya lahir dengan selamat dan sehat begitu juga dengan istrinya.


Proses lahiran Kinan terus berlanjut, bukaan demi bukaan terus bertambah. Hingga akhirnya Kinan merasa sakit yang sangat luar biasa di bagian pinggangnya serta ada dorongan menyertainya.


"Sus.. perut saya mules banget, saya sudah tidak tahan" ucap Kinan pada perawat.


"Sebentar ya Bu saya periksa" jawab perawat.


Perawat langsung memeriksa bagian bawah Kinan.


"Dok sudah bukaan sempurna" ucap perawat kepada Dokternya.


Dokter mulai bersiap untuk menyambut kelahiran anak - anak Kinan.


"Nanti kalau ibu merasakan ada dorongan, tarik napas yang dalam kemudian mulai ngeden ya Bu" intruksi Dokter.


"Baik Dok" jawab Kinan.


Tak lama berselang.


"Oh ya Allah mulai datang Dok" teriak Kinan.


"Iya Bu tarik nafas dalam lalu yaaaa.... " perintah dokter.


Kinan mulai tarik nafas dan menekan..


"Allaaaaaah.... " Kinan terus tak berhenti mengucap doa.


"Kamu harus kuat sayang" sambut Refan sambil membelai kepala istrinya.


"Oeeeek..... oeeeek... " tangisan bayi.


"Alhamdulillah... bayi laki - laki Pak, Bu" teriak Dokter.


"Alhamdulillah... " sambut Refan dan Kina.


Dokter segera membersihkan anak Refan dan Kinan setelah itu mulai bersiap untuk menunggu persalinan satunyaagi.Tak lama kemudian Kinan merasakan lagi dorongan itu datang.


"Dooook mulai lagi.. ya Allah... " teriak Kinan.


"Ayo Bu dorong... " perintah Dokter.


"Oeeeek... oeeeek... " suara tangis bayi yang kedua.


"Alhamdulillah baby girl" teriak sang Dokter.


"Alhamdulillah... kamu hebat sayang. Kamu hebat.. terimakasih, terimakasih atas pejuangan kamu" Refan menciumi wajah istrinya.


"Alhamdulillah ya Allah..... " ujar Kinan tak lama kemudian Kinan tak sadarkan diri.


"Sayang.. sayang... Kinaaaan... Dokteeeeer.... "


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2