Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
102. Di Pending


__ADS_3

Di sebuah restoran, Rayyan, Aiden, Andi dan Roni baru saja selesai makan malam bersama.


Sebenarnya Rayyan sudah buru-buru untuk pulang. Karena malam ini Aurora sudah ada di rumah. Namun tiba-tiba Aiden menghubungi dirinya dan mengajaknya berkumpul sambil makan malam bersama.


"Apa ada yang penting? Kenapa kita mendadak harus bertemu di sini?"tanya Rayyan yang sudah tidak sabar untuk segera pulang.


"Ada pergerakan dari papa Natalie, Tuan. Sepertinya dia mengawasi Tuan. Saat ini, Natalie sedang bersama dengan Tuan Hendrik. Saya rasa, mereka pasti akan menghabiskan malam bersama,"sahut Andi.


"Kenapa mereka tidak menikah saja? Malah suka menjalani hubungan tanpa ikatan. Dia sama saja seperti Dila. Dila menjalin hubungan dengan aku, tapi tidur dengan kakakku. Dan Natalie mengejar-ngejar aku, tapi tidur dengan kakakku. Wanita seperti itu yang ingin dijodohkan mama dengan aku? Wanita jalangg. Menjijikkan sekali. Jangankan menikahi dia, bahkan untuk menyentuh tubuhnya saja aku jijik,"gerutu Rayyan merasa kesal,"Jika mereka memang menghabiskan malam bersama, cari bukti-bukti nya! Aku ingin menunjukkan pada mama, siapa sebenarnya perempuan yang diagung-agungkan mama sebagai menantu idaman itu,"titah Rayyan.


"Baik, Tuan,"sahut Andi.


"Ten..ten.."


"Brak "


"Tender semakin dekat dan banyak orang yang sepertinya mengawasi Tuan Aiden dan Tuan Rayyan,"ucap Roni cepat, setelah Aiden menggebrak meja.


Aksi spontan Aiden menggebrak meja itu sempat membuat Andi dan Rayyan terkejut karena suara gebrakan meja dan peralatan makan yang terangkat kemudian jatuh lagi itu cukup keras.


"Apa kalian tidak bisa mencari tahu, siapa sebenarnya orang-orang itu?"tanya Aiden membuang napas kasar.


"Mereka semua dari perusahaan pesaing dan saya takut akan ada pembunuh bayaran yang akan bertindak. Mengingat beberapa waktu yang lalu ada menyusup profesional di rumah Tuan Rayyan dan juga rumah Tuan Aiden,"sahut Andi.


Heh.. mereka ingin membunuh kamu? Besar sekali nyi mereka?"ujar Aiden tersenyum miring.


"Awasi pergerakan semua perusahaan pesaing kita! Pastikan semua anggota keluarga kita baik-baik saja!"ujar Rayyan.


"Baik, Tuan,"sahut Andi.


"Roni, kamu tahu, 'kan, jika keluarga Rayyan adalah keluarga ku juga?"tanya Aiden.


"I.. i.. iya, tu..tuan. Sa. sa.."

__ADS_1


"Plak"


"Saya akan membantu Andi menjaga semua orang,"ujar Roni setelah Andi memukul lengannya.


"Oh, ya, Ray, aku ingin membicarakan soal bisnis kita,"ujar Aiden.


"Ck, apa tidak bisa di pending saja? Kita bicarakan lain kali saja,"ujar Rayyan kemudian beranjak dari duduknya. Rayyan sudah tidak sabar lagi untuk pulang dan bertemu dengan Aurora. Rasanya Rayyan sudah sangat rindu pada istrinya itu.


"Hei! Ini penting! Malah mau kamu pending. Kenapa, sih, kamu dari tadi seperti buru-buru sekali ingin pergi? Ragamu di sini, tapi sepertinya hatimu tidak berada di sini. Aku ingin bicara penting,"gerutu Aiden yang sedari tadi melihat Rayyan seperti ingin cepat-cepat pergi.


"Tuan sudah dua hari berpisah dengan Nyonya, karena nyonya balik kampung. Dan hari ini Nyonya pulang. Tuan pasti sudah tidak sabar bertemu dengan Nyonya,"sahut Andi yang ceplas-ceplos. Kemudian menyengir bodoh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat Rayyan menatap tajam pada nya.


"Pantesan. Sudah kangen ternyata. Tapi kita harus bicara sekarang, Ray. Ini penting,"ujar Aiden menghela napas panjang.


"Ya, sudah! Cepatlah! Apa yang ingin kamu bicarakan?"ucap Rayyan dengan suara datar.


Akhirnya, mau tak mau, Rayyan pun kembali duduk dan membicarakan masalah bisnis bersama Aiden. Mereka membahas beberapa hal yang penting hingga pembicaraan mereka baru selesai saat malam sudah semakin larut.


Setelah pembahasan mereka selesai, Rayyan akhirnya bisa pulang juga. Pria itu bergegas keluar dari restoran diikuti oleh Andi.


"Ka.. Ka.. "


"Brak"


"Kapan Tuan menjadi bucin akut seperti Tuan Rayyan?"tanya Roni cepat setelah Aiden menggebrak meja.


"Jangankan bucin akut. Bahkan aku belum pernah merasakan benar-benar mencintai seseorang,"gumam Aiden tersenyum kecut.


"Tu.. tu.. "


"Brak"


"Tuan harus mencari pasangan agar tuan memiliki alasan untuk pulang seperti Tuan Rayyan,"ucap Roni cepat setelah Aiden menggebrak meja.

__ADS_1


Aiden memiliki rumah warisan dari kedua orang tuanya yang besar dan mewah seperti milik Rayyan. Tapi Aiden jarang pulang ke rumah karena pulang ke rumah hanya akan mengingatkan dirinya akan kematian kedua orang tuanya dan kehilangan adik satu-satunya yang sampai saat ini tidak diketahui Aiden di mana rimbanya dan juga tidak tahu apakah masih hidup ataukah sudah meninggal.


"Aku belum bisa memikirkan soal itu. Aku belum merasa tenang sebelum mengetahui di mana adik ku,"ujar Aiden yang selalu merasa sedih jika mengingat adiknya.


Roni menghela napas panjang menatap wajah sendu majikannya itu. Selama ini Roni sudah berusaha keras untuk mencari adik dari majikannya itu, tapi belum ada titik terang sama sekali. Tidak mengetahui dimana terakhir kali keberadaan Aira karena waktu itu sedang di culik. Hanya berbekal foto gadis kecil berusia tiga tahun yang jika saat ini masih hidup, usianya dua puluh satu tahun. Dapat dipastikan jika wajah nya akan jauh berubah dan pasti akan sulit untuk mengenalinya.


Lalu, apakah Aira yang berusia tiga tahun bisa mengingat kakaknya yang sangat menyayangi dirinya? Jawaban nya adalah tidak. Kita tidak dapat mengingat peristiwa sehari-hari secara fisik sebelum usia 3-4 tahun karena ingatan episodik yang belum muncul saat kecil.


Karena itulah, mencari Aira sama seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Sangat sulit. Apalagi Aira tidak memiliki tanda lahir yang bisa di kenali secara fisik.


"Tu.. tu.."


"Brak"


"Kita tidak tahu kapan bisa menemukan Nona Aira lebih baik Tuan juga memikirkan diri tuan sendiri Nona akan merasa bersalah jika mengetahui anda tidak memikirkan diri anda sendiri untuk mencari nona,"ujar Roni setelah Aiden menggebrak meja.


"Aku belum menemukan wanita yang bisa menarik hati ku, apalagi wanita yang bisa membuat aku mencintainya. Aku pernah merasa tertarik pada Aurora, tapi ternyata dia sudah menjadi istri sahabat ku sendiri,"ujar Aiden tersenyum kecut saat mengingat pertama kalinya dirinya tertarik pada seseorang wanita dan dirinya begitu penasaran pada wanita itu. Namun kenyataan pahit harus di telannya saat mengetahui wanita yang membuatnya tertarik dan penasaran itu, ternyata adalah istri sahabatnya sendiri.


"Ja.. ja.. ja.."


"Brakk"


"Jangan bilang Tuan masih tertarik pada Nyonya Aurora dan berniat menjadi pebinor,"ucap Andi cepat setelah Aiden menggebrak meja. Lalu Roni dengan cepat menutup mulutnya sendiri karena merasa salah bicara.


"Kamu pikir aku ini apa? Aku bukanlah orang yang tidak tahu terimakasih dan tidak tahu membalas budi. Aku tak akan melukai orang-orang yang selalu mendukung dan selalu ada di saat aku terpuruk. Aku tidak akan pernah mengambil apa yang dimiliki orang yang sudah seperti saudara bagiku. Jasanya dan jasa papanya sangat besar bagi ku. Aku tidak akan menjadi seperti sekarang jika tidak ada mereka,"ujar Aiden yang merasa tidak akan pernah bisa membalas apa yang dilakukan papa Rayyan dan Rayyan untuk dirinya.


"Syu.. Syu.. syukurlah ka..Ka..kalau begitu,"ucap Roni merasa lega.


...🌟"Tidak semua hutang bisa kita bayar dengan uang. Salah satunya adalah hutang budi."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2