Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
86. Siapa Dia?


__ADS_3

Andi bergegas turun dari dalam mobil, kemudian Andi mendekati salah seorang warga yang berkerumun di sekitar mobil mereka.


"Maaf ibu-ibu, boleh numpang nanya?"ucap Andi pada kerumunan ibu-ibu yang tidak jauh dari kedua mobil Rayyan di parkir.


"Boleh.. boleh. Silahkan bertanya, nak!"sahut salah seorang ibu-ibu.


"Apa benar, rumah itu adalah rumah Bu Ella dan Pak Hamdan?"tanya Andi sopan.


"Benar, Nak,"sahut ibu-ibu itu bersamaan.


"Terimakasih, Bu,"sahut Andi.


"Sama-sama, nak,"sahut ibu-ibu itu kembali bersamaan, dan Andi pun bergegas kembali ke dalam mobil.


"Ganteng juga, ya?'


"Siapa, ya, kira-kira anak muda itu?"


"Mobilnya bagus-bagus sekali,"


"Tapi, yang keluar dari mobil cuma satu,"


Bisik-bisik para ibu-ibu itu dengan mata yang fokus pada dua mobil mewah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Bagaimana? Apa benar ini rumahnya?"tanya Rayyan saat Andi kembali masuk ke dalam mobil.


"Iya, Tuan. Benar ini rumah,"sahut Andi.


Sedangkan Aurora nampak mulai terbangun karena mendengar suara pintu mobil yang barusan di tutup Andi. Aurora mulai mengedip-ngedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya seraya menutup mulutnya karena menguap.


"Apa kita sudah sampai, Ray?"tanya Aurora yang menyadari jika mobil mereka sudah berhenti.


"Hum. Kita sudah sampai,"sahut Rayyan.


Aurora beranjak dari pangkuan Rayyan, dan Rayyan pun membantu Aurora untuk duduk. Aurora mengamati keadaan di luar mobil dan terlihat bingung. Sedangkan Rayyan nampak tersenyum tipis.


"Apa aku sedang bermimpi?"gumam Aurora seraya mengucek kedua matanya. Aurora masih merasa belum yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini,"Ibu?"gumam Aurora saat melihat ke arah rumah yang sangat di kenalinya dan melihat sosok seorang wanita paruh baya yang sangat di cintainya dan dirindukan nya.


Karena merasa sangat senang, tanpa berpikir panjang Aurora langsung membuka pintu mobil, bergegas keluar dari mobil itu dan berlari menghampiri Bu Ella yang baru keluar dari rumahnya.


"Hei! Hati-hati!"teriak Rayyan yang melihat Aurora keluar dari dalam mobil dengan cepat dan berlari menuju rumahnya. Rayyan hanya bisa menghela napas panjang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Dia bahkan tidak mengingat suaminya lagi,"keluh Rayyan yang ditinggalkan begitu saja oleh Aurora.


"Sabar, Tuan! Sabar itu memang sulit, tidak mudah. Karena kalau mudah, hadiahnya bukan surga. Tapi piring cantik,"celetuk Andi tanpa dosa.


"Berisik! Cepat! Suruh mereka mengeluarkan barang bawaan kita!"ketus Rayyan.


"Iya.. iya.. Tuan, sabar!"sahut Andi kemudian menghubungi orang yang berada di belakang mobilnya. Sedangkan supir yang ada di sebelah Andi pun turun untuk mengeluarkan barang bawaan Rayyan dari dalam bagasi.


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Dan mobil siapa itu?"gumam Bu Ella yang keluar dari rumah karena mendengar suara ramai dari luar rumah.


"Ibu!"teriak Aurora yang keluar dari kerumunan warga.


"Aurora!"pekik Bu Ella dengan tatapan tidak percaya, namun sesaat kemudian tersenyum lebar saat Aurora memeluk tubuhnya.


"Aku rindu sekali pada ibu,"ujar Aurora yang memang sudah lama tidak pulang.


Terakhir kali, Aurora pulang saat melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya dan juga membeli sawah dan kebun waktu itu. Setelah itu, Aurora enggan untuk pulang karena lewat telepon pun, kedua orang tuanya selalu menanyakan dari mana Aurora mendapatkan banyak uang. Apalagi kalau Aurora pulang. Kedua orang tuanya akan mencecar dirinya agar mengaku dari mana dirinya mendapatkan uang. Karena itu, Aurora enggan untuk pulang. Bahkan setiap kali kedua orang tuanya menelpon dan mulai membahas dari mana dirinya mendapatkan banyak uang, Aurora selalu menutup telepon dengan alasan ada sesuatu yang harus dikerjakan olehnya.


"Akhirnya kamu pulang juga,"ucap Bu Ella penuh syukur. Namun sesaat kemudian mata wanita paruh baya itu kembali tertuju pada dua buah mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya itu. Terlihat, ada tiga orang pria dan dan seorang wanita yang mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil.


"Ra, mobil siapa itu? Seperti orang yang mau lamaran. Barang-barangnya banyak sekali,"ujar Bu Ella yang masih memeluk Aurora.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Aurora pun mengernyitkan keningnya, kemudian melepaskan pelukannya pada ibunya. Aurora membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah dimana ibunya menatap.


"Eh, kamu mau kemana, Ra?"tanya Bu Ella yang tidak disahuti oleh Aurora.


Aurora menembus kerumunan warga yang mengitari mobil Rayyan. Melihat hal itu, Rayyan pun keluar dari dalam mobil menghampiri Aurora.


Semua mata pun tertuju pada pria tampan berkulit putih yang mirip dengan orang Turki itu. Pria dengan tubuh tinggi, tegap dan bentuk tubuh yang terlihat proporsional dengan balutan kemeja hitam yang di gulung hingga ke lengan yang dipadukan dengan celana kain berwarna hitam.


Para wanita yang ada di tempat itu pun berteriak histeris melihat sosok Rayyan yang begitu mempesona dan memanjakan mata. Walaupun wajahnya terlihat datar, tapi tidak sedikit pun mengurangi, ataupun melunturkan ketampanan pria itu.


"Awas! Mohon menepi!"teriak Andi berusaha memberi jalan untuk majikannya di bantu supir pribadi Rayyan.


"Auwh!"pekik Aurora dalam kerumunan saat kakinya terinjak oleh salah satu warga.


Semua orang menepi, karena Andi dan supir Rayyan. Hingga terlihat Aurora yang terhimpit oleh para ibu-ibu.


"Kau tidak apa-apa?"tanya Rayyan seraya menarik tangan Aurora pelan hingga semua mata tertuju pada keduanya.


"Ssstt.. kaki ku terinjak, Ray,"keluh Aurora meringis menahan sakit. Rayyan melihat kaki Aurora yang memerah.

__ADS_1


"Saya sudah bilang pada Tuan untuk membawa pengawal. Tapi Tuan tidak mau karena takut mengundang banyak perhatian. Sekarang malah jadi susah sendiri, 'kan,"gerutu Andi.


Tadinya Andi ingin membawa pengawal, tapi tidak diperbolehkan oleh Rayyan. Karena mereka hanya akan pulang ke kampung halaman Aurora saja. Tidak di sangka, mereka malah di kerumuni warga.


Tanpa menggubris gerutuan Andi, Rayyan langsung mengangkat tubuh Aurora dan menggendongnya menuju rumah Aurora. Semua orang pun menepi, memberi jalan pada pria tampan itu.


"Siapa pria tampan itu?"


"Aurora tadi keluar dari mobil pria itu,"


"Apa pria itu pacarnya Aurora?"


"Sepertinya pria itu orang kaya,"


"Aku mau jadi pacar halal nya,"


Bisik-bisik warga yang berkerumun di sekitar rumah Aurora.


Bu Ella menatap Rayyan yang berjalan menuju rumahnya dengan penuh tanda tanya.


"Ayo, masuk dulu!"ujar Bu Ella, membimbingnya Rayyan yang sedang menggendong Aurora masuk ke dalam rumah.


"Kakiku bengkak, Ray!"keluh Aurora terdengar sedikit manja, hingga membuat Rayyan tersenyum samar.


"Duduk dulu!"ucap Bu Ella menunjuk ke arah sofa, kemudian wanita paruh baya itu bergegas masuk ke dalam ruangan lain.


Rayyan mendudukkan Aurora di sofa, lalu ikut duduk di samping Aurora. Rayyan mengangkat kaki Aurora dan melepaskan sepatu Aurora. Meletakkan kaki Aurora di atas pahanya.


"Ini, Tuan,"ucap Andi menyodorkan sebuah kotak. Entah sejak kapan pria itu muncul.


"Ini, dibersihkan dulu,"ujar Bu Ella menyodorkan baskom dan handuk kecil pada Rayyan.


"Terimakasih!"ucap Rayyan pada Bu Ella.


Dengan telaten, Rayyan membersihkan kaki Aurora, kemudian mengoleskan salep di kaki Aurora. Aurora menatap Rayyan yang nampak serius mengobati kakinya itu. Aurora tersenyum tipis.


"Ra, dia siapa?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2