
"Tan! Tante mau kemana?"tanya Natalie yang melihat Naima langsung bangkit dari duduknya dengan wajah penuh kebencian dan amarah.
"Tante.mau menyeret wanita jalangg itu keluar dari rumah Tante. Tante tidak mau rumah Tante di kotori oleh perempuan jalangg itu,"sahut Naima penuh tekad.
""𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙃𝙚𝙣𝙙𝙧𝙞𝙠 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙟𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙘𝙞? 𝘿𝙞𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙠𝙤𝙩𝙤𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪. 𝘽𝙚𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙠𝙤𝙩𝙤𝙧 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠. 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙟𝙖 𝙞𝙩𝙪, 𝙠𝙤𝙩𝙤𝙧, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙗𝙞𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙪𝙖𝙣𝙜,"gumam Natalie dalam hati.
"Apa tidak sebaiknya kita mencari bukti dulu, Tan?"tanya Natalie, menghentikan langkah kaki Naima.
"Bukti apa? Bagaimana caranya?"tanya Naima seraya mengernyitkan keningnya.
"Kita tanya pada para pria yang pernah menjadi pelanggan istri Rayyan, apa benar mereka pernah tidur dengan istri Rayyan. Kita rekam pengakuan mereka,"ujar Natalie antusias.
"Ya ampun Natalie! Kamu polos banget, sih! Mana ada laki-laki yang mau mengaku jika mereka di tanya apa mereka pernah tidur dengan kupu-kupu malam? Pasti mereka tidak akan mengaku, Nat! Apalagi direkam,"sahut Naima menghela napas panjang, tidak habis pikir dengan cara berpikir Natalie.
"Ya enggak di tanya secara langsung juga, lah, Tan! Kita jebak mereka. Kita pura-pura jadi germoo nya istrinya Rayyan yang baru. Kalau mereka memang langganan istrinya Rayyan, mereka pasti tertarik jika kita menawarkan istrinya Rayyan,"ujar Natalie antusias.
Natalie baru sadar jika idenya untuk bertanya pada para mantan pelanggan Aurora itu ide
bodoh dan konyol. Untung saja Natalie langsung punya ide yang lain secara spontan. Sehingga Naima tidak menganggapnya bodoh dan konyol.
"𝙔𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙣𝙣.. 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙙𝙚 𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙤𝙣𝙮𝙤𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣? 𝙐𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙙𝙚 𝙙𝙖𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡,"gerutu Natalie dalam hati.
"Iya, juga, ya? Tapi, kata kamu, perempuan jalangg itu kupu-kupu malam dengan tarif termahal. Jadi, langganan nya pasti orang-orang berdompet tebal. Dan pastinya mereka bukan orang biasa yang mudah kita temui,"ujar Naima menghela napas panjang. Tidak mengerti cara berpikir Natalie.
"Iya juga, ya. Bagaimana kalau kita tanya pada germoo nya yang sekarang berada di jeruji besi? Kita tidak mungkin, 'kan, menuduh tanpa bukti,"ujar Natalie.
"Kamu sebenarnya dapat informasi tentang istri Rayyan adalah kupu-kupu malam itu dari mana?"tanya Naima kembali mengernyitkan keningnya.
"Em.. itu, Tan. Kemarin aku bertemu dengan temanku yang suka pergi ke klub malam tempat istri Rayyan bekerja. Dia nunjukin foto istrinya Rayyan akan check in ke sebuah hotel dengan pelanggannya,"dusta Natalie.
Tidak mungkin, 'kan, Natalie mengatakan bahwa dirinya menyuruh papanya menyelidiki istrinya Rayyan?
"Yakin, dia benar-benar kupu-kupu malam?"tanya Naima penuh selidik.
"Yakin, Tan. Tapi kita, 'kan, harus punya bukti, Tan. Rayyan tidak akan terima kalau Tante mengusir perempuan itu tanpa alasan dan bukti yang kuat,"sahut Natalie yang terdengar masuk akal.
__ADS_1
"Baiklah. Kita coba menemui germoo itu,"ujar Naima setuju dengan ide Natalie.
Akhirnya kedua perempuan itu pergi ke tempat Mami di tahan. Untuk mencari informasi tentang Aurora yang pernah bekerja sebagai kupu-kupu malam. Dan di sinilah saat ini mereka berada. Duduk berhadapan dengan Mami.
"Siapa kalian?"tanya Mami menelisik penampilan dua orang wanita beda usia di depannya. Dua wanita yang terlihat dari kalangan atas.
"Kami ingin bertanya sesuatu pada kamu. Kamu tahu, 'kan dengan wanita yang bernama Aurora?"tanya Mami.
"Wanita yang mengaku sebagai Kenanga di klub malam kamu,"imbuh Natalie.
𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙u𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙪𝙧𝙤𝙧𝙖 𝙞𝙩𝙪? 𝙂𝙖𝙧𝙖-𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙡𝙪𝙗 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙪 𝙧𝙖𝙩𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙪𝙧𝙤𝙧𝙖 𝙞𝙩𝙪,"gumam Mami dalam hati.
"Kenanga sudah lama berhenti dan aku tidak tahu di mana dia sekarang. Dan aku tidak tahu nama aslinya,"sahut Mami jujur.
"Lihatlah ini! Wanita ini, 'kan, yang bernama Kenanga?"tanya Naima menunjukkan foto Aurora yang dimintanya dari pelayan di rumahnya, saat Naima setuju dengan ide Natalie untuk bertemu dengan Mami. Lalu mencetak foto dari handphone di tempat percetakan foto yang mereka lalui.
Setiap hari, tak lama setelah makan siang, Aurora selalu keluar rumah untuk pergi ke toko kue dan kafenya. Saat itulah, pelayan kepercayaan Naima memotret Aurora secara diam-diam.
"Bukan,"jawab Mami cepat.
"Kamu yakin?"tanya Natalie tidak percaya.
"Jika kalian ke sini hanya untuk menanyai aku seperti penyidik, lebih baik kalian pergi! Tidak ada untungnya bertemu kalian,"ujar Mami beranjak dari duduknya.
"Tunggu! Kami akan memberikan mu uang, agar kamu bisa membeli apa yang kamu inginkan. Tapi, tolong, berikan informasi tentang Kenanga yang bekerja padamu!"ucap Natalie.
Wanita itu langsung mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu menunjukkannya pada Mami.
"𝙇𝙪𝙢𝙖𝙮𝙖𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙖𝙣𝙜. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣,"gumam Mami dalam hati.
Wanita paruh baya itu kembali duduk, dan langsung mengambil uang di tangan Natalie. Naima dan Natalie yang melihat itu pun saling melirik, kemudian tersenyum. Berharap Mami bisa memberikan informasi yang mereka inginkan.
"Lihatlah lagi! Apa benar ini adalah Kenanga yang bekerja di klub malam milik mu sebagai kupu-kupu malam?"tanya Mami kembali menunjukkan foto Aurora.
"Kenanga memang mirip dengan wanita yang ada di foto itu,"sahut Mami.
__ADS_1
"Jadi ini benar-benar Kenanga yang berkerja padamu?"tanya Naima.
"Aku tidak tahu. Kenanga berambut pirang dan selalu berbicara dengan gaya dan nada menggoda,"sahut Mami jujur.
"Siapa saja pelanggan Kenanga?"tanya Natalie.
Mami menyebutnya semua pelanggannya Kenanga tanpa kecuali. Natalie pun menulis semua yang di katakan oleh Mami. Karena di larang membawa handphone saat berkunjung.
"Rasanya sia-sia datang ke sini. Dia hanya mengatakan mirip,"gerutu Naima.
"Tapi aku yakin, jika Aurora itu adalah Kenanga, Tan,"sahut Natalie.
"Ya sudah kita pulang sekarang. Kita tunggu jalangg itu pulang. Setelah itu, aku akan menyeret dia keluar dari rumah Tante,"ujar Naima terlihat serius.
Akhirnya Naima dan Natalie memutuskan untuk pulang ke rumah Naima. Menunggu Aurora pulang. Begitu sampai di rumah, Naima langsung menuju kamar Rayyan. Tapi saat akan membuka pintu kamar itu, ternyata pintu kamar itu terkunci.
"Sial! Kamarnya di kunci!"umpat Naima kesal.
"Memangnya kita mau ngapain ke kamar Rayyan, Tan?"tanya Natalie.
"Tante ingin mengeluarkan semua barang -barang wanita jalangg itu dari kamar Rayyan,"jawab Naima.
"Bagaimana kita mengeluarkan barang-barang wanita itu, jika pintunya saja terkunci seperti ini, Tan?"tanya Natalie.
"Pelayan itu pasti memiliki kunci kamar Rayyan. Mastuti! Mastuti!"panggil Naima pada pelayan kepercayaan Rayyan.
"Ada apa nyonya?"tanya Mastuti setelah berada di depan pintu kamar Rayyan, menghadap Naima.
"Berikan kunci kamar Rayyan!"pinta Naima seraya menadahkan tangannya pada Mastuti.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1