Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
268. Pantas Saja


__ADS_3

Rayyan terbangun dan tidak menemukan Aurora dalam dekapannya. Namun pria itu tersenyum saat mendengar suara tawa Aurora dan putranya dari dalam kamar mandi.


Rayyan merasa tenggorokannya kering. Pria itu mengenakan baju piyama nya dan keluar dari kamarnya.


"Ray! Kamu sudah pulang?"tanya Naima yang melihat Rayyan sedang mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin.


"Hum,"sahut Rayyan, kemudian duduk di salah satu kursi meja makan dan meneguk air mineral dalam kemasan botol itu.


Naima mengernyitkan keningnya menatap penampilan Rayyan yang kembali terlihat seperti dulu. Rambut yang sebelumnya panjang, kini sudah di potong rapi. Bulu yang dulu hampir menutupi seluruh wajahnya sudah tidak ada lagi. Terlihat tampan walaupun rambut putranya itu terlihat acak-acakan. Namun yang membuat Naima terkejut adalah kiss mark yang cukup banyak menghiasi leher putranya.


"Apakah.. Apakah Rayyan berselingkuh? Ataukah Rayyan tidur dengan wanita penghibur? Apakah Rayyan sudah putus asa mencari Aurora dan memilih menjalin hubungan baru dengan wanita lain?"gumam Naima dalam hati.


Wanita paruh baya itu diam mematung di tempatnya berdiri dengan tatapan yang tertuju pada putranya.


"Kenapa mama melihat aku seperti itu?"tanya Rayyan yang merasa heran melihat mamanya yang terpaku melihat dirinya.


"Eh, itu..."


"Pa.. Pa.. Pa. Pa.. Akhh.."


Suara celotehan bayi itu membuat Naima nampak terkejut dan tidak melanjutkan kalimatnya. Naima yang belum sempat menjawab pertanyaan Rayyan pun langsung membalikkan tubuhnya. Naima sangat terkejut melihat Aurora yang sedang berjalan ke arahnya dengan menggendong bayi yang terlihat lucu.


Sedangkan Rayyan nampak tersenyum melihat putranya yang tersenyum, menatap dirinya.


"A.. Aurora?"gumam Naima yang merasa tidak percaya melihat Aurora.


"Apa kabar, ma?"sapa Aurora seraya mencium pipi Naima yang masih tertegun itu kanan dan kiri.


"I.. Ini cucu mama?"tanya Naima dengan mata yang berkaca-kaca menatap Zayn. Tangan wanita paruh baya itu terulur mengambil Zayn dari gendongan Aurora dan menciumi Zayn dengan penuh rasa haru.


"Iya, ini cucu mama."


"Eh, kenapa dia tidak memakai anting?"tanya Naima setelah mengamati cucunya.


"Dia seorang jagoan, ma,"sahut Aurora penuh senyuman.


"Jadi, mama memiliki cucu laki-laki?"tanya Naima terlihat bahagia.

__ADS_1


"Iya, ma. Hasil USG nya waktu itu keliru,"sahut Aurora.


"Terimakasih, Tuhan. Tuhan begitu baik pada mama. Mama diberikan cucu laki-laki dan perempuan,"ucap Naima dengan rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu. Wanita itu tanpa terasa menangis karena merasa bahagia. Sedangkan Zayn hanya terdiam menatap Naima. Bayi itu seolah berusaha mengenali wanita yang sedang menggendongnya itu.


Rayyan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri istrinya.


"Pa..pa .pa..pa.."celoteh Zayn mengulurkan tangannya pada Rayyan.


Rayyan tersenyum melihat putranya yang sepertinya ingin di gendongnya itu. Rayyan mengambil Zayn dari gendongan Naima. Pria itu menciumi putranya beberapa kali. Dan seperti biasanya, Zayn selalu terkekeh jika di ciumi Rayyan. Rayyan mengusal kepalanya di perut Zayn, hingga bayi itu tertawa karena geli. Naima yang melihat kedekatan Rayyan dengan cucunya itupun semakin merasa terharu.


"Zayn sama Oma dulu, ya? Papa akan membersihkan diri,"ucap Rayyan, kemudian mengecup pipi Zayn dan memberikannya pada Naima.


"Sama Oma ya? Oma sudah lama ingin menggendong dan memeluk mu,"ucap Naima seraya mengusap kepala Zayn penuh kasih sayang.


"Sayang, ayo, siapkan pakaian ku,"ucap Rayyan seraya memeluk pinggang Aurora dan membawa wanita itu ke dalam kamar mereka.


"Akhirnya aku melihat Rayyan kembali bahagia. Pantas saja penampilannya berubah drastis, ternyata sudah ketemu sama pawangnya,"gumam Naima menatap anak dan menantunya yang keluar dari ruangan makan itu penuh senyuman.Tatapan wanita paruh baya itu kemudian beralih pada bayi dalam gendongannya.


"Andai saja papa masih hidup. Papa pasti juga bahagia memiliki cucu laki-laki dan perempuan,"gumam Naima seraya mengusap kepala Zayn penuh kasih sayang.


Rayyan dan Aurora masuk ke kamar dan Rayyan pun menutup pintu kamar itu.


"Ray!"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan mendorongnya ke arah dinding di sebelah pintu, lalu menghimpit Aurora.


"Mana morning kiss ku?"tanya Rayyan menatap lekat wajah Aurora dengan senyuman tipis di bibirnya.


Aurora menghela napas mendengar perkataan suaminya itu. Wanita itu meraih tengkuk Rayyan dan mencium bibir Rayyan sekilas. Namun Rayyan malah meraih tengkuk Aurora dan mencium bibir dengan lembut. Aurora yang tidak ingin membuat Rayyan kecewa pun membalas ciuman Rayyan dengan lembut.


Beberapa saat kemudian, Aurora mendorong dada Rayyan. Tidak ingin hasraat suaminya kembali naik karena ciuman itu dan berakhir mengeksekusi dirinya lagi.


"Sudah. Kamu akan pergi ke kantor, 'kan?"ujar Aurora seraya mengelus pipi Rayyan dengan ibu jarinya. Tidak ingin pria itu tersinggung karena dirinya mendorong dada pria itu agar suaminya itu menghentikan ciumannya.


"Hum. Pekerjaan ku menumpuk karena aku tinggalkan beberapa hari ini,"sahut Rayyan seraya meraih jemari Aurora yang mengelus pipinya, lalu mengecupnya.


"Bersihkanlah dirimu! Sebentar lagi, Andi pasti sudah menunggu mu,"ujar Aurora yang hafal betul dengan sifat Andi yang selalu menunggu Rayyan untuk berangkat bekerja.


"Okey. Kita sarapan bersama, ya?"sahut Rayyan yang masih enggan meninggalkan istrinya.

__ADS_1


"Hum,"sahut Aurora tersenyum tipis.


Rayyan mencium bibir Aurora beberapa kali, lalu beranjak ke kamar mandi. Aurora tersenyum tipis menatap punggung suaminya, kemudian menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Beberapa menit kemudian, Rayyan sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Dada bidang dan perut sixpack pria itu terpampang jelas di mata Aurora, karena Rayyan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Aurora selalu saja terpesona melihat penampilan suaminya yang bertelanjang dada seperti itu. Apalagi dengan rambut yang terlihat basah.


"Semalam aku sudah puas menggerayangi dada dan perutnya. Tapi, tetap saja aku ingin menyentuhnya saat aku melihatnya,"gumam Aurora dalam hati.


Aurora membantu Rayyan mengeringkan rambutnya dan memakai pakaiannya dengan telaten. Namun setelah selesai, Rayyan malah memeluk pinggang Aurora.


"Semalam nikmat sekali. Aku ingin mengulanginya lagi,"ucap Rayyan seraya mengusap bibir Aurora dengan ibu jarinya. Semalam, Rayyan sangat menikmati percintaannya dengan Aurora.


"Tidak sekarang, Ray,"sahut Aurora dengan suara sedikit manja saat menyebut nama Rayyan.


"Semua orang memanggil aku dengan panggilan, Ray. Tapi, panggilan itu terdengar berbeda, jika kamu yang memanggilnya. Ada nada sedikit manja jika kamu yang memanggilnya. Dan aku menyukainya,"ujar Rayyan jujur adanya.


"Kamu tidak ingin aku merubah panggilan ku padamu?"tanya Aurora memastikan. Mengingat sekarang mereka sudah memiliki seorang putra.


"Panggil aku papa saat ada putra kita saja,"


"Okey. Aku akan melakukannya sesuai keinginan mu. Tapi, sebaiknya sekarang kita sarapan dulu. Apa kamu lebih suka sarapan roti bakar di dalam mobil dari pada sarapan bersama di meja makan?"


"Sebenarnya aku ingin sarapan yang lain, yang lebih nikmat dan bikin ketagihan,"sahut Rayyan penuh senyuman.


"Apa?"tanya Aurora seraya memicingkan sebelah matanya.


"Sarapan kamu. Kamu semakin pintar memanjakan aku di atas ranjang. Walaupun kamu sudah melahirkan seorang putra untuk ku, tapi kamu malah semakin membuat aku jadi ketagihan untuk memakan mu,"bisik Rayyan di telinga Aurora dengan suara sensuall.


"Sudah, jangan membahas soal ranjang lagi,"ucap Aurora seraya mendorong dada Rayyan pelan agar pria itu tidak menempel pada dirinya,"Ayo, kita sarapan bersama di ruangan makan,"ajak Aurora yang tidak ingin lagi membahas masalah ranjang. Takut suaminya kembali menerkamnya.


"Nanti malam, ya?"


"Kita bicarakan soal itu nanti. Ayo, sarapan,"ajak Aurora seraya menarik lengan suaminya untuk keluar dari kamar itu.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2